
Lima puluh anak angkat Bart bersekolah di sekolah yang sama dengan Adiba. Jika Adiba bersekolah tingkat Tsanawiyah, jika lima puluh adiknya itu berada di ibtidaiyah.
Madrasah Tsanawiyah lokasinya hanya berjarak dua puluh meter saja dari madrasah ibtidaiyah. Pesantren itu ada tiga tingkat madrasah, yakni ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah. Semua sekolah ada di satu halaman. Nama pesantrennya adalah pesantren Darrusalam.
"Kakak!" pekik Azlan ketika melihat kakaknya tengah berjalan membawa banyak buku.
"Sayang!" sahutnya sambil tersenyum.
Azlan berlari menuju Adiba. Bocah itu mengambil beberapa buku yang ada di tangan kakaknya itu.
"Terima kasih sayang," ujar Adiba.
"Mau dibawa ke mana Kak?" tanya Azlan.
"Ke ruang guru. Ayo!" ajak Adiba sekaligus mengajak Azlan.
Keduanya berjalan sambil bercanda. Usai meletakan buku di meja guru. Keduanya kini berjalan menuju kantin.
"Yang lain mana?" tanya Adiba.
Baru saja mereka melewati kelas empat. Ia melihat Deta tengah dipojokkan beberapa murid. Deta bersikeras mengelak dengan tuduhan teman-temannya itu.
"Bilang aja Det, kalo emang kamu mau. Kamu nggak usah nyuri!" ujar Doni tak habis pikir.
"Sumpah, bukan aku yang ambil!" teriak Deta.
"Ada apa ini?" tanya Adiba.
Gadis itu masuk ke kelas bersama Azlan.
Deta adalah salah satu anak angkat Bart. Usianya sama dengan Benua dan Domesh. Semua menoleh pada Adiba.
"Ini Kak, Deta mengambil uang lima ribu tanpa permisi," ujar Doni langsung melaporkan.
"Ada bukti?" tanya Adiba.
"Uang itu ada di sakunya!" tunjuk yang lain.
"Ini uangku!" teriak Deta.
"Papa selalu memberi jajan!" lanjutnya.
Adiba menengok Azlan. Azlan mengangguk membenarkan. Azlan beda kelas dengan Deta.
"Tapi saya lihat Deta ambil uang Doni Kak!" aku yang lain lagi.
"Sekarang apa buktinya jika uang itu milik Doni?" tanya Adiba.
"Ibuku seorang penjual gorengan, jadi uangnya pasti terkena minyak!"
"Keluarkan Deta!" perintah Adiba.
Deta mengeluarkan uangnya. Ada sedikit bekas minyak di sana. Salah satu teman Doni langsung menunjuk.
"Tuh ada tandanya, minyak!"
"Sumpah Kak. Ini uang Deta. Deta belum jajan dari tadi!" ujar Deta dengan mata berkaca-kaca.
"Det, aku tau kamu anak yatim. Aku juga anak yatim Det, tapi jika memang mau uangku ya nggak apa-apa!" ujar Doni seperti putus asa.
"Ini uangku Don!" ujar Deta.
__ADS_1
"Tapi tanda minyak itu tanda jika itu uangku Deta!" pekik Doni tertahan.
"Buat apa aku ambil uangmu? Jika benar aku ambil pasti aku langsung habiskan!" teriak Deta sampai menetes air matanya.
"Mana ada maling ngaku, kan keburu ketauan!" sambar salah satu teman Doni.
"Kembalikan saja Det," ujar Azlan.
"Tapi jika aku kembalikan. Berarti menandakan aku mengambil uang itu Azlan!" tolak Deta yang bersikukuh dengan pendiriannya.
"Ya sudah jika kau tidak mau mengaku. Aku ikhlas Det ... aku ikhlas!" ujar Doni lagi.
"Kok gitu Don. Walau hanya lima ribu, itu sudah kejahatan. Mengambil bukan yang hak!" sahut salah satu teman Doni.
"Tunggu, kamu lihat Deta ambil uang Doni di mana?" tanya Adiba.
"Tadi ketika Doni lagi di pintu. Deta duduk dan mengintip laci meja. Tubuhnya mendekati meja lalu duduk seperti biasa. Doni yang lupa jika uangnya belum ia ambil, langsung menuju meja, uang itu nggak ada!" jelas Abid panjang lebar.
Deta tak bisa membela diri, memang ia tadi sedikit memajukan tubuhnya ke meja, tapi perkara uang. Ia tak mengambilnya. Diamnya Deta membuat suasana jadi keruh.
"Tuh kan, diem. Kalo diem berarti bener," sahut Joko.
"Ini uang punyaku!" teriak Deta.
"Iya Det ... ya sudah, itu uang kamu. Puas!" tekan Doni di kata-kata terakhir.
Bocah itu juga menangis. Adiba jadi bingung untuk berbuat apa. Gadis itu mengajak Doni ke kantin dan mentraktirnya.
"Tidak perlu Kak. Doni ikhlas kok," ujarnya menahan kesedihan.
"Bukan gitu, kan nggak hanya kamu yang kakak ajak," ujar Adiba.
"Maaf Kak. Kami tidak berminat untuk ditraktir. Jika perkara anak yatim, Doni juga anak yatim. Kenapa Deta tega melakukan itu!" tukas Abid.
"Sumpah Kak, bukan Deta ... hiks! Ini uang Deta!" ujar Deta.
"Nggak usah nangis Det ... nggak usah nangis. Aku ikhlas Det ... iya itu uang kamu!' teriak Doni sembari menghapus air matanya.
Doni mengambil tasnya lalu pindah duduk di belakang. Bocah itu menangis dalam lipatan tangannya. Adiba menatap Deta.
"Kak ... sumpah ini uang dari Papa ...,," ujarnya lirih dengan air mata yang juga berlinang.
"Aku percaya Deta nggak ambil uang itu!" tukas Azlan tegas.
"Tentu saja kamu bela saudara kamu!' teriak Joko.
Ketiga bocah itu menenangkan Doni yang menangis di lipatan tangan di atas meja.
"Apa Doni yakin bawa uangnya?" tanya Azlan hati-hati.
"Kamu pikir aku ngarang Lan!" hardik Doni mengangkat kepalanya.
Air mata yang meleleh, membuat Adiba ikutan sedih, ia tak tega melihat air mata anak yatim terjatuh.
"Kamu pikir mentang-mentang Doni anak miskin, terus ibunya nggak bisa kasih jajan?!" teriak Joko membela Doni.
Azlan terdiam, Deta terpojokkan. Kedua bocah bersikukuh jika uang itu adalah miliknya. Tanda minyak yang ada di uang tersebut menjadi bukti jika Deta lah yang mengambil uang tersebut.
Gara-gara uang lima ribu. Wali kedua anak dipanggil ke kantor. Juno sebagai perwakilan datang menghadap ke dewan pembina murid.
Di sana Deta duduk seperti pesakitan yang duduk di depan dewan hakim. Juno sangat marah dengan hal itu, tangannya sampai mengepal erat.
__ADS_1
"Anakku tak pernah saya ajarkan mencuri!" tekan pria itu dengan tatapan tajam pada dewan pembina yang mulai pucat.
"Tapi bukti menandakan jika uang itu milik Doni sangat mendukung jika Deta mengambilnya Pak!" ujar dewan pembina menebalkan keberaniannya.
Juno mengambil uang yang ada disaku celananya. Uang lima ribu yang juga ada noda minyak.
"Apa ini juga uang Doni?" tanya Juno menahan geram.
"Ya bukan, karena Bapak tidak ada di kelas," ujar dewan pembina.
Tak lama ibu Doni datang dengan wajah berpeluh. Wanita itu terkejut dirinya dipanggil pihak sekolah.
"Jadi uang anak saya dicuri?" tanya wanita itu begitu saja.
"Saya tidak mencuri ini uang saya!" pekik Deta membela diri.
"Diam kamu Deta! Sudah salah, masih aja nggak ngaku!" bentak dewan pembina.
"Jangan bentak anak saya!" balas Juno ikut meninggikan suaranya.
"Tapi, emang tadi Ibu kasih uang jajan gitu ke kamu Le?" tanya wanita itu pada putranya.
Doni terdiam sesaat, lalu ia mengangguk yakin jika ibunya memberikan uangnya.
"Ibu kasih Doni lima ribu," jawab bocah itu.
"Uang yang ibu kasih selalu ada noda minyaknya," lanjutnya. "Uang yang ada di Deta ada minyak."
"Ya sudah, ikhlasin saja sih Nak," ujar sang ibu bijak.
"Tapi ini uang saya. Demi Allah ini uang saya!" teriak Deta tak terima.
"Iya Det ... iya ... itu uang kamu!" teriak Doni juga.
"Det," panggil Juno menenangkan putra dari Tuan besarnya itu.
"Sumpah Pa, ini uang Deta pemberian Papa Bart!" tunjuknya pada uang di sakunya.
"Sudah cukup Deta!" teriak dewan pembina.
"Doni sudah memberi bukti jika itu uang dia. Sedang kamu tidak bisa membuktikan itu uang kamu. Sekarang kembalikan!" putus dewan sekolah.
"Pa, ini uang Deta ...."
Juno tak bisa membela putra dari tuannya itu. Deta bersikukuh jika uang itu adalah miliknya.
"Sayang ... Papa percaya itu uang Deta. Tapi, jika kamu ikhlas, kamu kembalikan Nak," ujar Juno lagi.
"Tapi, jika Deta kembaliin. Itu artinya Deta yang ambil," ujar Deta lirih.
"Papa tau sayang, Papa tau,'' ujar Juno mengelus kepala Deta.
Uang lima ribu dengan tanda minyak kini ada di tangan Doni. Bocah itu senang bukan main.
"Ini memang punyaku. Jika punyamu tak akan uang ini tetap ada di tanganmu!" ujar Doni sangat tajam. "Pencuri."
Bersambung.
Ah ... ada air mata.
Benarkan Deta yang mencuri uang Doni?
__ADS_1
next?