SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
PULANG


__ADS_3

Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita dibawa oleh Haidar. Zhein mengikuti mereka karena istri dan semua anak juga cucunya ada di sana.


Zhein sangat ingat bagaimana pamannya, Joko menikah di usia yang sudah tua. Memiliki empat orang putri setelah itu istrinya berpulang terlebih dahulu.


Keluarga toxit membuat semua nyaris berantakan. Zhein tidak belajar dari semua yang ia alami dulu.


"Mama!" pekik Gino ketika melihat Lidya di sana.


"Assalamualaikum sayang!" ujar wanita hamil itu dengan senyum lebar.


Karina begitu malu, ia mestinya lebih dekat dengan lima anak yang kini memeluk Lidya dan Demian. Semua anak mengerubunginya.


"Wawoh ... Ata' ... atuh Alsh!" ujar Arsh memperkenalkan diri.


"Baby, ini adikmu Arsh, ini Al dan El Bara ...," Lidya memperkenalkan semua anak-anak.


"Imi anat Mama syemua?" tanya Seno dengan takjub.


"Iya sayang," jawab Lidya tersenyum.


"Baby Harun, ini kakak kamu Gino, karena usianya sudah lima tahun, kalau kalian kan baru mau empat tahun," jelas Lidya.


"Nah ini Mama dan Papa kalian!" lanjutnya memperkenalkan semua orang dewasa.


"Zadhi pita bunya Papa syama Mama yan panyat?" tanya Seno lagi-lagi takjub.


"Iya benar Baby," sahut Safitri lalu menyamakan tubuhnya dengan Gino.


"Wah ... pita bunya Mama patana walna apu-apu!" seru Gino dengan senyum lebar.


Saf mencium kelimanya. Dita dan Verra langsung lengket dengan Safitri.


"Panggil Uma ya," pinta wanita itu.


"Iya Uma!" sahut mereka.


Karina menatap semua anak yang mengajak main saudara baru mereka. Setya dan Davina ikut serta.


"Pantas mereka nggak betah di rumah," keluhnya.


Kanya mendekati putrinya. Ia sedih, melihat Karina menyesali semua yang telah terjadi.


"Jangan pikirkan apa-apa lagi sayang. Waktunya memperbaiki diri. Setya dan Davina kehilangan masa kecil mereka. Mira terpuruk setelah kecelakaan itu," ujar Kanya. "Mestinya kamu hadir sebagai sosok kuat untuk mereka."


"Karina memang bodoh Ma. Karina lupa bagaimana Terra bisa menerima keberadaan Darren, Lidya dan Rion waktu itu," sahut Karina.


"Bahkan lupa jika Raka malah lebih senang bersama Terra dibandingkan Karina waktu itu," lanjutnya.


"Sudah-sudah, jangan ingat lagi. Kamu sekarang paham kan?" Karina mengangguk.


"Paypi, janan pedhan imi ya," peringat Della pada Dita yang mengambil satu benda kecil.


"Tuh pa'a Ata'?" tanya Dita yang seumuran Firman.


"Imi padhian bainan yan pipasan ipu!" tunjuk Della pada mainan Lego.


Bayi cantik itu menjauhkan benda kecil itu di tempat yang aman. Karina terharu, Della adalah bayi yang diangkat oleh Virgou, beserta Arfhan, Firman dan Alia. Bayi itu begitu perhatian pada semua. Della memastikan jika semua saudaranya aman bermain.

__ADS_1


"Bahkan Della paham bagaimana melindungi saudaranya," gumamnya lalu titik bening menetes.


"Pita bain telopat sotol yut!" ajak Harun.


"Bain pa'a ipu Det?" tanya Gino.


"Ata' eundat pahu?" Gino menggeleng.


"Zadhi bainna beudhini ...."


Harun menjelaskan permainannya. Gino mengangguk tanda mengerti. Ia mau bermain, tetapi Della melarangnya.


"Ata' pa'a pidat pihat tati Ata'?!" seru Della sambil menunjuk lutut Gino yang masih diperban.


Semua perusuh junior melihat apa yang ditunjuk Della. Wajah sedih dan khawatir langsung terlihat. Karina dan Zhein menutup mulutnya, terutama Zhein. Pria itu lupa lagi bagaimana semua anak-anak begitu saling peduli satu dan lainnya.


"Ipu teunapa Ata'?" tanya Al Bara.


"Zatuh," jawab Gino.


"Basti syatit!" ucap Arsyad.


"Yut pita dudut!" ajak Aaima.


Semua memilih duduk dan membatalkan acara bermainnya. Mereka lebih tertarik mendengar cerita dari mana luka itu berasal.


"Sadhi bedhini selitana," ujar Gino menceritakan bagaimana ia bisa mendapatkan lukanya.


Semua mendengar dengan seksama, bahkan para perusuh senior pun ikut mendengarkan. Semua sedih ketika Gino menceritakan bagaimana ia berlari mengejar mobil yang berlalu.


"Hiks ... bomil spasa syih ... tot eundat pahu talo Ata' nejal?!" protes Maryam kesal.


"Nanat sisilan!" lanjutnya mengumpat.


"Butan ladhi, pati judha sewet tompel!" sahut Fathiyya setuju.


Terra berdecak mendengar umpatan itu. Bart memilih menyingkir sedang Nania memilih diam saja.


"Janan balahin ... buntin wowan ipu pidat pahu talo Ata' Dhino meunejal," sahut Aisya menengahi.


"Atuh pidat peulsaya!" sungut Arsyad.


"Meuleta punyiin tin ton, tin ton lumah wowan, beustina meuleta sulida don!" debat El Bara tak terima.


"Tan lumah syepi Baby," sahut Arraya kini ikut menimpali. "Sadhi ditila eundat ada olan."


"Teunapa eundat pihat pesmat sompel?" tanya Al Bara masih mendebat.


"Biya peunel ipu!" sahut Aaima ikut memprovokasi.


"Butantah ada penda candih yan pisa pihat Olan?" lanjutnya.


"Muntin meuleta eundat teupitilan Paypi!" lerai Della.


"Tan teultadan, pita sadhi podoh taleuna pita pidadaptan pistuasi yan pidat pita pisa teundalitan!" lanjutnya begitu bijak.


"Pidat Pisa pipeunaltan Ata'!" geleng Al Bara.

__ADS_1


"Meuleta ...."


"Pundu Pulu, beumana yan daten ipu Pom Peunawal?" potong Firman tiba-tiba.


"Tot Ata' beudhitu yatin talo yan daten ipu Pom Peunawal?" tanyanya lagi.


"Spasa yan pilan talo yan daten ipu Pom peunawal?" kilah Al Bara.


"Woh ... butan tah padhi Ata'pilan pesmat sompel. Yan bunya ipu pan banya Pom Peunawal?" bela Firman pada seluruh tim pengawal.


"Telus spasa yan pisa teusana Baby?" sahut Harun.


"Daddy, Papa, Baba, syama pemuana Pisa pahu teubeladaan Ata'Dhino!" lanjutnya.


"Woh ... spasa pahu lolan pain Ata' lapon tlus Pom Peunawal pihat palu deh. Pemua teulualda pahu," sahut Firman mengulas kejadian yang menimpa saudara barunya.


"Ah ... dali pada meunduda-dudha ... peubih bait pita beultanya saja!" seru Azha yang dari tadi diam.


Semua anak menoleh pada Budiman. Pria itu berdecak antara gemas dan kesal. Semua pembicaraan anak-anak geniusnya benar-benar membuatnya pusing.


"Baba ... soba seulitatan spasa yan nolon Ata' Dhino?" tanya Harun pada Budiman.


Semua mata menuntut jawaban. Bahkan bukan dari perusuh paling junior tetapi perusuh senior pun ikut meminta jawaban dari Budiman.


"Yang datang Om Rio," jawabnya.


"Tuh tan!" seru Al Bara begitu antusias jika ulasannya benar.


"Al pilan judha pa'a!" sahutnya jumawa.


Maka semua bayi kini menatap marah pada Rio. Pria itu yang mendapat tatapan itu tak mengerti apa yang terjadi.


"Janan balahin don!" bela Della.


"Tan yan bentin Ata' Dhino syama pita syemamat!" lanjutnya. "Pom Lio pudah beuncalan tan pudas denan bait!"


Gino memeluk Rio hingga membuat pria itu kaget. Rio menyamakan tingginya dengan anak-anak.


"Pom matasyih pudah teumbali ... hiks!" ujar Gino lirih.


"Sama-sama sayang," ujar Rio lalu mengelus kepala anak itu.


"Bayo pilan batasyih!" suruh Della.


Semua anak memeluk Rio dan mengucap terima kasih pada pria itu. Rio terharu. Ia menatap Della.


"Sayang kamu masih bayi," keluhnya. "Coba sudah besar."


"Singkirkan pikiranmu Rio!" tekan Haidar posesif.


Rio berdecak, sedang Zhein dan Karina tak bisa berkata apa-apa.


"Sepertinya kita harus banyak belajar dari keluarga ini sayang," ucap Zhein sadar.


Karina mengangguk setuju, ia akan kembali tinggal dengan ibunya. Raka memilih menjual mansionnya dan tinggal bersama Kakek dan neneknya. Zhein setuju, ia mau lebih dekat lagi dengan keluarga penyayang itu.


Bersambung.

__ADS_1


Ah ...


Next?


__ADS_2