SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MENGAMBIL HAK


__ADS_3

Virgou memang bergerak cepat. Pria itu sangat pintar, jadi tak salah jika semua keturunannya genius.


"Daddy, Baby Lino kan pasti membeli semua bahan dengan nota dan pembelian," sahut Rion tercerahkan.


"Kau benar Baby," ujar Virgou lagi-lagi terbantu.


"Baby, kamu beli semua barang itu di mana apa kamu simpan notanya?"


"Sama Kak Ajis Daddy," jawab Lino lemah.


"Ajis?"


"Ada Daddy! Pake akun Ajis di platform belanja online!" jawab bocah dua belas tahun itu.


"Kamu punya akun itu? Kan belum delapan belas?" ketus Rion.


"Ajis palsuin data Kak," jawab Ajis meringis.


Rion menghela napas panjang. Namun transaksi tertulis bukanlah ilegal walau ada data palsu. Bahkan tanggal pembeliannya pun lengkap.


"Sudah dikopi Daddy!"


"Maaf, kalo Lino buat ulang robotnya di depan kepala hak cipta gimana?" celetuk Lino.


"Sepertinya ide itu tidak buruk," ujar Darren.


"Kak, aku sudah menghubungi pihak hak cipta internasional. Mereka akan mengadakan show. Ide Baby Lino bisa dijadikan saran," ujar David.


Pria itu juga ikut andil dalam merebut hak salah satu putranya itu.


"Kita ke Genewa!" ujar Virgou.


"Sayang, buatkan paspor Baby untuk pemberangkatan ke sana!" perintah Virgou pada Rion.


"Siap Daddy!"


"Kami ikut!" seru semua orang terutama Bart yang paling keras suaranya.


Virgou menggaruk pelipisnya. Ia pun mengangguk. Bart bertepuk tangan.


"Kita kembali mengguncang Eropa!" teriaknya.


"Holeee jalan-jalan!" seru semua perusuh.


Tiba-tiba ponsel Salma berbunyi. Lino bersekolah di tempatnya. Ia melupakan itu.


"Siapa sayang?" tanya Fabio.


"Nggak tau?" Salma mengangkatnya.


".......!"


"Yes, with myself the head of the Al-aqsha Islamic boarding school," (Ya saya sendiri kepala sekolah Islam Al Aqsha!) jawab Salma.


"..........!"


Salma meletakkan ponsel di dadanya. Ia menatap Bart.


"Pihak panitia ingin bertemu dengan Lino," ujarnya.


"Baby, apa kamu mendaftar via independen?" tanya Salma.


"Azlan yang daftarin Umi ustadzah," jawab Azlan langsung.

__ADS_1


"Eh ... ada telepon masuk di ponsel ayah!" seru Herman.


"Ya assalamualaikum!?"


"......!"


"Ya saya sendiri wali dari Lino Putra Herman Triatmodjo. Ada apa?"


Suara Herman yang tegas dan terkesan galak sepertinya membuat lawan di seberang telepon begitu berhati-hati berbicara.


"Tidak, saya akan menuntut pihak penyelenggara melalui kancah internasional. Ini sudah pelanggaran hak cipta!"


"Kami akan membeli karya senilai satu juta euro Tuan!" seru pria di seberang telepon.


"Aku tidak peduli!" teriak Herman langsung menutup ponselnya.


"Kurang ajar ... bisa-bisanya mereka minta jalur damai!" dumal pria itu.


"Virgou katakan kesanggupan Lino untuk kembali mempraktekkan bagaimana robot itu dibuat!" perintah Herman.


"Siap ayah!" seringai Virgou.


Semua sibuk, Lino menatap haru. Ia hanya anak angkat, tapi semua sibuk ingin membelanya.


"Benar kan Dik," ujar Lana kakak kembarnya.


"Kita beruntung ya Kak," ujar Lino lirih.


Leno bersama Deta. Semua anak angkat Bart memiliki kemampuan dan kepintaran masing-masing.


"Ayo siapkan baju-baju kalian. Nanti malam kita berangkat!" seru Bart.


Bram dan Kanya memilih pulang untuk menyiapkan semua. Begitu juga Dominic dan Dinar. Andoro dan Luisa ikut bersama begitu juga Remario.


"Nai nggak bisa ikut ya. Nai ada empat operasi Cesar besok," ujar Nai sedih.


"Mama pergi ya sayang," pamit Luisa.


"Iya Mama," Nai mencium mertuanya itu.


Malam menjelang, banyak orang berpakaian serba hitam menggendong semua bayi yang ada.


Lino, Lana dan Leno tentu ada bersama mereka. Beberapa anak angkat Bart juga tak bisa ikut karena akan ujian.


"Papa Pablo dan Papa Fabio ikut aja sekalian bulan madu," ujar Satrio.


Satrio tentu tak ikut, ia diperintah Virgou untuk mengurus semua pekerjaan. Terlebih Fabio dan Pablo masih cuti menikah.


"Tentu saja!" sahut Fabio tersenyum.


Salma merona, ia bersembunyi di belakang punggung suaminya. Ia begitu masih malu menampakkan kemesraan di depan umum.


Mansion Bart sepi, hanya ada beberapa pengawal yang menjaga. Nai, Arimbi bersama beberapa adik angkatnya berada di hunian mewah itu.


"Mama ... tolongin Deta dong?!" pinta Deta.


Azlan ikut serta dengan rombongan ke Eropa. Nai membantu Deta mengerjakan tugasnya.


"Kenapa baru sekarang sayang?"


"Kan tadi sibuk ngurus Lino Ma," mata Deta mengantuk.


Langit ikut duduk, ia mengambil alih buku bocah itu.

__ADS_1


"Oh soal fisika, gampang ini!" ujarnya remeh.


Tak butuh waktu lama. Pekerjaan rumah milik Deta selesai. Bahkan bocah itu sudah tidur dipangkuan Langit.


"Sayang," Langit mengecup pelipis Deta yang berkeringat.


Ia menggendong bocah itu ke kamarnya. Nai membantu membawa buku dan memasukkan ke tas adik angkatnya.


"Selamat tidur sayang," Nai mencium kening Deta begitu juga Langit.


Tak ada yang membedakan mereka. Semua diperlukan sama. Langit memeriksa beberapa kamar adik-adiknya yang tidak ikut. Reno juga melakukan hal yang sama.


Selama sebelas jam perjalanan. Mereka mengenakan pesawat pribadi yang baru saja mereka beli.


Hari masih gelap, dua buah bus datang mengambil mereka dari bandara menuju kota di mana perlombaan diadakan.


"Leon, apa villa di Genewa sudah kau siapkan?" tanya Bart.


"Sudah Dad, semua sudah siap!" jawab Leon.


Leon dan Frans ikut serta. Mereka sekaligus menangani pekerjaan di sana. Kekayaan dan kekuatan bisnis Dougher Young benar-benar menakutkan.


Sedang di tempat lain. Seorang pria tampak memukuli beberapa pria dengan brutal.


"Tuan ... cukup!" seseorang menahan laju tubuh pria itu.


"Kau bisa membunuh mereka!" lanjutnya.


"Bangsat ... apa kalian tidak tau siapa yang mau kalian lawan itu!" teriak pria bertubuh besar itu sangat marah.


"Kami ... kami tidak tau! Lino hanya anak angkat ... kami tidak tau jika seperti ini," ujar pria yang meringkuk kesakitan.


"Kita berurusan dengan Dougher Young!" teriak pria besar itu.


"Tapi nama anak itu Lino Putra Herman Triatmodjo,"


Sebuah tendangan bersarang di perut pria itu.


"Kau tidak tau siapa itu Triatmodjo?!" teriak pria itu.


Dua pria yang meringkuk di lantai menggeleng. Pria lain membaca data siapa itu Herman Adia Triatmodjo.


"Kau cari mati!"


"Tuan, kami yakin jika memenangkan lomba ini. Semua bukti jika kepemilikan robot itu adalah milik kita!" seru pria dengan mulut yang berdarah.


"Kau tidak tau seperti apa geniusnya Dougher Young!" geleng pria besar itu.


"Sekarang ... usahakan bagaimana kau mematahkan semua bukti yang ada jika robot itu adalah milik kita!" lanjutnya.


Hanya dengan kibasan tangannya, dua pria yang meringkuk pergi dengan langkah tertatih.


"Tuan ... ada kabar buruk ...."


"Ck ... apa lagi!" teriak pria itu.


"Black Dougher Young bersama Dougher Young," jawab ajudan pria itu.


Pria besar itu makin tenggelam dalam tatapan nelangsa. Ia merasa malaikat maut akan menjemputnya sebentar lagi.


"Kita akan mati Eliot! Kita akan mati!"


Bersambung.

__ADS_1


Ah ... siap siap ya ...


Next?


__ADS_2