SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
NGERI-NGERI SEDAP 2


__ADS_3

Bentakan Gomesh membuat Andi dan Deta menangis. Sky dan Bomesh menenangkan dua temannya itu. Gomesh, Virgou, David dan Satrio langsung menghajar empat orang itu. Sean mendekati keempat anak yang ketakutan.


Tentu empat preman itu bukan masalah bagi Gomesh dan Virgou. David berhasil membekuk satu orang preman begitu juga Satrio. Sedang dua lainnya tak sadarkan diri. Tak berapa lama Dahlan datang bersama dengan para anak buahnya. Pria itu sedikit datang terlambat. Keempat preman itu digiring ke markas untuk diberi sedikit pelajaran.


Gomesh mendekati keempat anak itu. Wajahnya mulai tak bersahabat. Virgou menahannya.


"Aku yang meminta Sean agak sedikit lama menjemput mereka. Sean mengikuti dan ini hasilnya,"


Penjelasan Virgou membuat Gomesh menghela napas panjang. Ia juga bersyukur putranya mengikuti temannya itu.


"Andi nggak mau pulang!" tolak bocah lelaki itu.


"Kenapa sayang?" tanya David.


"Takut sama bapak, kalau pulang," cicitnya.


"Ibumu mana?" Andi hanya menggeleng saja.


"Ibunya pulang seminggu sekali. Jadi pembantu rumah tangga di kampung sebelah," jawab Sean.


Sean mengetahui data semua anak. Remaja itu menjadi wali dari Sky dan Bomesh selama kehamilan Maria.


"Deta rumah kamu di mana?" tanya David.


Pria itu tau nama anak itu karena ada name-tagnya di bagian dada kemeja anak itu.


"Deta nggak punya lumah om," jawab bocah itu terisak.


"Deta numpan di lumah nyonya besal sama ibu," jawabnya lagi sambil menghapus air matanya.


"Trus pulangnya dijemput?" Deta menggeleng.


"Deta halus naik angkot om," jawabnya.


"Sendiri?" Deta mengangguk.


"Bapak masih ada?"


"Ada ... tapi enggak tau kemana," jawab bocah itu lirih.


Lagi-lagi para pria dewasa menghela napas panjang. Virgou dan David akhirnya mengantarkan Deta lebih dahulu. Ibunya mengucap terima kasih.


"Bu, jika berkenan ibu boleh ikut saya bekerja,' ajak David langsung.


Pria itu mengingat jika istrinya butuh banyak tenaga kerja.


"Saya mau tuan. Kebetulan, nyonya di sini akan memberhentikan saya dua hari lagi," ujar wanita itu.


David memberi kartu namanya. Wanita itu menyimpannya. Virgou menatap rumah mewah itu. Mereka hanya boleh di luar ketika mengantar Deta pulang.


Lalu mereka menyambangi ibu dari Andi. Bocah itu sangat senang dan menangis ketika dipelukan ibunya. Sang ibu akan minta ijin pada majikan membawa putranya serta di rumah.


"Alhamdulillah tuan, majikan saya mengijinkan putra saya tinggal di sini," ujar perempuan itu.


"Kalau begitu kami permisi dulu Bu," pamit Virgou.


Mereka pun pulang setelah mengantar anak-anak malang itu. Sean dan Gomesh bersama Sky dan Bomesh menjemput kakak mereka di sekolah. Samudera, Benua, Domesh, Kaila, Dewa dan Dewi.


Semua pulang dengan pakaian Sean yang agak kotor. Labertha sedikit gelisah melihat semua cicitnya belum pulang. Ketika pulang wanita berusia satu abad lebih itu terkejut dengan pakaian Sean yang kotor.

__ADS_1


"Kenapa dengan pakaianmu baby?" tanyanya gusar.


"Nggak ada apa-apa uyut, katanya berani kotor itu baik," kekehnya menjawab.


Kanya begitu penasaran. Ia yakin dengan sesuatu yang terjadi dengan cucu-cucunya itu.


"Sean ... ayo cerita sama Oma ... ada apa?!" paksanya.


Sean akhirnya bercerita. Kanya menutup mulutnya karena terkejut dengan cerita Sean yang nampak ngeri-ngeri sedap itu.


"Mama sih," ujar Bram menyalahkan istrinya yang begitu usil.


"Kalau nggak gitu Andi jadi korbannya kek, begitu juga Deta," sahut Sean membela neneknya.


Kanya hanya mengangkat dagunya. Bram berdecak kesal, tapi ia bersyukur bisa menyelamatkan dua anak yang masih balita.


Para perusuh kembali meramaikan suasana. Mereka memang sengaja membawa pulang pada bayi agar Labertha tak terlalu berisik dengan suara mereka. Terlebih keusilan Aaima dan Arsyad. Dua bayi yang memaksa diri berbicara dan ikut campur urusan kakak-kakaknya. Membuat para ibu harus ekstra hati-hati.


"Baby Aaima ... sini sama Kakak Bomesh," ajak balita itu.


Aaima malah menggeleng. Bayi itu merangkak kemanapun ia mau. Bomesh mengikuti adiknya yang cantik itu. Melarangnya jika Aaima hendak menarik benda yang dipegangnya.


"Anah!" pekik Aaima mengusir Bomesh yang selalu melarangnya.


"Baby!" tegur Sky lalu menggoyangkan telunjuknya.


"Huuuwwaaaa ... hat ... hat!" tangis Aaima menggelegar.


Maria mendatangi bayi cantik itu dan menggendongnya. Tapi Aaima berhasil membongkar sepatu yang tersusun rapi di rak.


"Baby ada buah loh," ujar Maria ketika mengangkat bayi cantik itu.


"Kamu nyesel nggak tadi ikut Andi?" tanya Bomesh.


"Nggak tuh, kalo kamu?" jawab Sky sekaligus bertanya.


"Aku awalnya nyesel, andai aku nggak ikut. Tapi, kemudian aku sadal akan sesuatu," jawab Bomesh sok diplomatis.


"Apa?" tanya Sky dengan mengerutkan keningnya.


"Kalo nggak ikut, kita nggak nolong Andi dan Deta tadi," jawab Bomesh.


"Nah, aku juga maksudnya itu. Aku nggak nyesel kalena pisa eh bisa nolong meleka," sahut Sky.


Harun, Azha, Arraya, Arion dan Bariana melihat dua kakaknya tengah berbicara.


"Ata' Sty pama Ata' Bomesh napain ya?" tanya Bariana penasaran.


"Pita nimblun yut," ajak Harun.


Kelima bayi itu berjalan mendekati kakaknya. Arsyad merangkak mengikuti kakaknya.


"Ata' ... ladhi nomon pa'a?" tanya Harun.


"Oh ... syini deh,"


Kelima perusuh itu duduk di kursi yang memang di susun sedemikian rupa. Arsyad menaiki Sky dan duduk di pangkuan balita itu.


"Tadi ada kejadian menalik loh," ujar Sky memulai kisahnya.

__ADS_1


"Pejadian pa'a?" tanya Arraya.


Berkumpulnya para perusuh plus bayi, membuat para orang dewasa penasaran. Terra dan Maria juga Seruni menguping pembicaraan delapan anak itu. Aaima yang ada di gendongan Maria meminta turun dan bayi cantik itu meminta pangku Bomesh.


"Ata' Sty ... janan piem aja don ... tatanya bawu ceulita!" protes Bariana tak sabaran.


"Tadi kita dicegat sama pleman!" ujar Sky.


"Pleman?" Bariana, Arraya dan Arion bertanya bersamaan.


"Pleman pa'a?" Harun kini yang bertanya.


"Pleman ipu wowan jahat!" jawab Bomesh.


"Wowan pahat?!" seru kelima bayi tampak penasaran.


"Ata'Sean peulatem woh!" sahut Sky mulai terkontaminasi bahasa bayi.


"Tlus ... tlus?!" sahut Bariana tak sabaran.


"Daddy datan syama papi Dav dan Mas Satlio," jawab Bomesh.


"Uhhh ... basti pleman na talah tan?!" terka Arion yakin.


"Biya ... talah ... bampai lada yan eundat banun!" seru Sky.


"Ck, ck, ck!" Bariana berdecak.


"Tenapa meuleta padhi wowan bahat ya?' tanya Arion tak percaya.


"Ata' padhi pemanan temana bampai beutemu pleman?" tanya Harun.


"Pita eh kita diajak temen," jawab Sky.


"Tot bipolehin pama Ata'Sean?" tanya Bariana kini bingung.


"Ata' eh kak Sean tadi pipis jadi nggak tau," jawab Sky lagi.


"Pesot, pesot janan itutin pemen ya?!" saran Azha yang dari tadi diam mendengarkan.


"Iya, dek," sahut Sky dan Bomesh.


"Kejadian tadi itu agak ngeli-ngeli sedap," celetuk Sky sambil bergidik.


"Pa'a ipu neli-neli peudap?" tanya Harun kini.


Sky dan Bomesh saling tatap lalu mengendikkan bahu tanda tak tahu.


"Ah ... atuh tau!" seru Azha sambil mengacungkan jari.


Semua menoleh padanya.


"Neuli-neuli pedap ipu matanan adel-adel!" jawabnya.


bersambung.


bukan itu baby Azha! 🤦


next?

__ADS_1


__ADS_2