SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KELUARGA


__ADS_3

Lana, Leno dan Lino dipeluk Maria. Wanita itu begitu bahagia karena tak jadi kehilangan tiga kembar yang kemarin memberinya kalung salib dan jepit rambut mutiara itu.


'Oh ... sayang ... Mommy hampir kehilangan kalian," ujarnya penuh rasa bahagia.


Maria menciumi ketiganya. Semua anak juga senang karena saudaranya tak jadi diambil.


"Terima kasih sayang," ujar Maria pada Kean.


"Andai kau tak langsung menyelidiki, mungkin kita akan kehilangan triple eL," lanjutnya.


Kean hanya tersenyum, semua orang tua menyanjung kesigapan remaja itu. Herman bangga melihat salah satu cucunya itu.


Maryam, Azha, Aisya, Arsyad dan lainnya berkumpul di ruang tengah. Mereka tampak bertanya-tanya pada tiga kakaknya yang tadi ingin diambil oleh ayahnya itu.


"Ata' ... pemana eundat inat mutana Papa Ata'?" tanya El Bara penasaran.


"Enggak ingat Baby. Waktu Bapak pergi, kami masih kecil seumuran Baby Izzat," jawab Lana.


"Sudah ... jangan tanya yang sedih-sedih lagi ya ... kan sekarang ada Papa dan Mama yang sayang Lana, Leno dan Lino," ujar Samudera.


"Eh ... nomon-nomon teumalin petanda sepelah lumah Ipu lada yan peulamtem woh!" lapor Aaima.


Semua mengerumuni bayi cantik itu. Darren dan Demian sudah merekamnya dengan ponsel. Mereka selalu antusias jika bayi-bayi mulai bergosip.


"Tetangga sebelah mana Baby?" tanya Lino.


"Puwa lumah sepelah tanan ... tetanda palu Ata'," jawab Aaima dengan yakin.


Putri menghela napas kasar. Memang kemarin ia dan suami diminta ayah dan ibunya untuk menginap setelah liburan panjang di Eropa. Septian tengah ditugaskan Dominic mengurus perusahaan di salah satu wilayah di kota itu. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu belum juga mendapat pujaan hatinya.


"Apa memang kedengaran Put?" tanya Lidya pada sahabat yang kini menjadi saudaranya itu.


Putri hanya mengangguk lemah. Bahkan Jac sampai mendatangi keluarga itu dan melerai perkelahian suami istri.


"Kok jadi ingat cerita Baby Bom waktu itu ya?" sahut Nai mengingat.


"Udah diam ... dengerin lagi apa Baby Mima bicara!" putus Darren menghentikan percakapan orang dewasa.


Mereka pun kembali mendengarkan para bayi bergosip.


"Memana tetanda tamuh tenapa Baby?" tanya Azha sok dewasa.


Beberapa orang yang mendengar pertanyaan balita itu tentu gemas bukan main. Azha duduk bersama Harun, Bariana dan Arion. Sedang lainnya memilih duduk di karpet tebal. Mereka kini ada di mansion Herman.


"Tetandana peulamtem pampe lada yan seliat!" jawab Aaima serius.


"Teliat Baby ... butan seliat!" ralat Azha.


"Piya matsutna ipu!" jawab Aaima.


"Papa pampai seluan lumah woh ...!" lanjutnya antusias.


"Basti Papa putun wowan ipu tan!" terka Al Bara langsung.


Jac berdecak dengan tebakan bayi dari Lidya itu. Memang benar adanya dia memukul pria yang menarik rambut istrinya. Semua menatap Jac dengan pandangan bertanya, pria itu mendengkus kesal.

__ADS_1


"Iya aku memukulnya!" aku pria tampan itu.


"Tuh peunel tan tata atuh!" sahut Al Bara sangat percaya diri.


"Wah wowana papat pelul eundat Papa?" tanya Aisya dengan mata bulat, bayi cantik itu penasaran.


"Ata', sejat tapan Papa mutun wowan eundat papat peyul?" tanya Al Fatih malas.


"Astaga anak Kak Darren!" gemas Jac berdecak.


"Wowan ipu basti eundat pisa salan ladhi!" tuduh Apa Fatih.


"Masih Baby, karena istrinya meraung minta suaminya jangan dipukuli," sahut Jac.


Semua menepuk kening mereka. Jac bukannya membiarkan pertanyaan bayi itu, malah meladeninya.


"Tot pisa?" tanya Bariana tak suka.


"Pasa diputilin psuami, pistlina pinta bilesapin?!" lanjutnya kesal.


"Dilepasin Baby," ralat Benua.


"Biya matsutna ipu!" sahut Bariana.


Banyaknya bayi yang baru bicara membuat, Harun, Azha, Bariana, Arion dan Arraya terkontaminasi. Mereka jadi tak lepas berbahasa ala mereka.


"Papa teunapa beudithu?" tanya Arraya ingin tahu.


"Papa nggak tau Baby," jawab Jac memang tidak mengerti.


"Imi ameh setali!" ujar Arsyad menggosok dagunya sambil menggeleng.


"Muntin fanita ipu eundat tedha pihat psuamina piputulin!' sahut Harun bijak.


"Apa sekarang masih ribut Baby?" tanya Sky.


"Ata' ... pana pita pahu talo meuleta pibut pataw pidat ... pita tan lada pisyimi!" sahut Aaima memutar mata malas.


Terra sampai berdecak mendengar jawaban Aaima yang sangat menggemaskan itu. Demian dan Darren sampai tersenyum lebar. Remario datang bersama salah satu pengawal yang disuruh Herman menemaninya. Pria itu menekuk mukanya.


"Kenapa mukamu?" tanya Virgou kesal.


"Kenapa nggak bilang kalo tadi ada orang gila datang menyerang Bunda?" cebiknya kesal.


"Spasa wowan dhila Papa?" tanya Harun bingung.


"Peulasaan eundat lada wowan dhila pisa masut lumah imi!" lanjutnya tak percaya.


Remario menganga, ia memang belum begitu mengerti bahasa bayi. Matanya menatap Virgou dengan pandangan bertanya.


"What he say?"


Virgou menghela napas panjang, ia pun mengartikan apa perkataan putranya.


"No, I mean what language he used?" tanyanya lagi.

__ADS_1


"Itu bahasa bayi, tentu bahasa bayi Indonesia," jawab Virgou.


Remario masih terpana dengan bahasa yang kini mulai digunakan kembali oleh para bayi. Mereka begitu serius bercerita dan Remario tak mengerti apa maksud perkataan bayi-bayi itu.


"Ah ... sepertinya percakapan mereka begitu menarik!" dumalnya kesal.


"Nanti kau akan mengerti setelah tinggal lama dengan kami, Remario," sahut Haidar.


Tak lama Bram dan Kanya datang, keduanya memeluk dan mencium Lana, Leno dan Lino. Mereka nyaris kehilangan tiga kembar itu.


"Ayo makan siang semua!" titah Khasya yang masih memakai gamis mahalnya.


"Wah, tumben sayang?" tanya Kanya heran.


"Tadi mau pamer Ama orang sombong Mba," ujar Khasya sedikit kesal.


"Iya Oma ... Bunda tadi jambak cewe loh!" adu Kean yang tentu melihat betapa bar-barnya Khasya waktu itu.


Kanya menatap wanita berhati lembut itu tak percaya. Khasya hanya diam, memang ia akan selalu lembut jika diperlukan, tetapi jika itu menyangkut putra dan putrinya.


Selesai makan siang, semua anak diminta tidur siang. Rion bisa menelan semua makanannya karena Khasya menyuapinya.


"Ion bisa makan enak kalo udah siang, di tempat Mama juga gitu kok," ujar pria yang sedang mengalami Couvade Syndrome itu.


Terra mengangguk membenarkan, Nai dan Arimbi juga sudah menyiapkan obat untuk pereda mual kakak panutan mereka.


"Uma totok mau nggak Baby?" tawar Saf.


"Nggak mau ... Ion mau manja kek Papa dulu, tiap Mama hamil Baba yang sibuk!" tolak Rion lalu menyeringai jahil.


"Baba!" rengeknya.


Budiman hanya bisa menghela napas panjang. Akan panjang ceritanya jika Rion yang mengidam, karena pria itu sangat tau jika bayi besarnya akan habis mengerjainya.


"Saya akan temani ketua," sahut Gio menenangkan Budiman.


"Abi Dahlan mana?" tanya Rion.


"Baby ... jangan semua pengawal kau kerjai!" peringat David.


"Daddy ... hiks!" adu Rion pada Virgou.


"Biarkan dia Dav!" peringat Virgou yang membuat Rion tersenyum lebar.


"Papa Gio ... telepon Abi minta Umi buatin kolak biji salak," rayu Rion memohon.


Gio mengangguk, ia menelepon ketuanya yang lain. Dahlan menyanggupi permintaan Rion yang langsung disambut tepuk tangan Azizah.


"Kalo gitu minta Mama Sari buatin Azizah asinan bengkuang Papa Felix!"


"Kamu juga ngidam sayang?" tanya Terra pada menantunya.


"Iya Ma ... Mas Baby ngidam, Izah juga ngidam!" jawab wanita itu.


Bersambung.

__ADS_1


Yah ... terserah deh ...


Next?


__ADS_2