
Satu kawasan dengan sebelas vila disewa oleh satu keluarga besar. Bart memilih menginap bersama Terra dibanding Gisel. Hingga membuat perempuan Dougher Young itu cemberut.
"Sayang, aku tinggal hanya di sebelah vila mu!" ujar Bart terkekeh.
"Ada ayah ibunya Budiman di sana, aku tak enak hati," bisik Bart.
Gisel hanya bisa pasrah. Bram dan Kanya tak ikut. Mereka malah pergi ke Eropa mengunjungi kedua ibu mereka yang sudah renta.
"Liburan kenaikan kita ke Eropa goyangkan negara itu dengan kunjungan super besar kita, pa!" ujar Haidar ketika Bram bertanya kapan ke Eropa mengunjungi neneknya.
"Papa akan lama di sana sayang, Karina juga berkata seperti dirimu kemarin," ujar Kanya.
Bram akhirnya berangkat tadi pagi bersama istrinya. Tentu menggunakan pesawat jet pribadi miliknya.
"Sayang, kalau kita semua pergi ke Eropa. Sepertinya tak bisa pakai pesawat jet masing-masing deh," sela Terra pada suaminya.
Terra menyusun semua pakaian dibantu oleh Nai.
"Terima kasih baby," sahut Terra setelah menyusun semua pakaian.
"Sama-sama mama. Nai mau ke Arimbi dulu ya," ujar gadis itu pamit.
"Iya sayang," ujar Terra.
Nai pun pergi. Arion dan Arraya berada bersama saudaranya yang lain. Maria menemani mereka bersama Najwa dan Lastri.
Sedangkan Kean, Cal, Satrio, Sean, Al dan Daud tengah serius membicarakan sesuatu. Dimas, Affhan dan Maisya ikut bergabung dengan kakak-kakak mereka.
Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid bermain bersama dengan Samudera, Benua, Ditya, Radit dan Domesh.
Sky dan Bomesh berada di bawah pengawasan Rion. Dua balita itu hanya menurut pada kakak panutannya walau terkadang juga terlepas jika Rion tak benar-benar menjaga dua ketua perusuh itu.
Herman membawa semua anak angkatnya ikut berlibur bersama. Lana, Leno dan Lino anggota baru begitu bahagia, kesehatan mereka juga sudah mulai membaik.
"Sayang, apa kalian senang?" tanya Khasya dengan pandangan tulus.
"Alhamdulillah bunda ... terima kasih ayah!' seru mereka kompak.
Tampak Sari, Bambang, Bimo, Aryo, Duta, Nani, Lisa dan yang besar-besar membantu semua adiknya. Dua puluh sembilan anak angkat Herman sudah beranjak dewasa. Sebagian mereka bekerja di perusahaan Herman, Virgou bahkan juga perusahaan Demian. Bahkan tiga di antaranya bekerja sebagai asisten IT di perusahaan Hudoyo Cyber Tech milik Terra.
Paling tua di sana adalah Sari, Bambang dan Bimo.Yang lain hanya beda setahun hingga tiga tahun. Lana, Lino dan Leno adalah yang paling kecil dan paling disayang oleh dua puluh sembilan kakaknya.
Khasya mengajak ketiga kembar usia empat tahun itu bermain bersama para perusuh.
__ADS_1
"Ata' Lana, Ata' Lino Ata' Leno!' sambut para perusuh.
Sky dan Bomesh bergabung dan mereka pun bermain bersama. Canda dan tawa riuh di sana.
Arimbi turun bersama Nai. Gadis itu lebih baik dari sebelumnya. Tak lama Demian datang bersama Jac dan putrinya.
Arsyad sudah bergabung dari tadi dan mulai mendominasi. Begitu Aaima datang, bayi cantik itu yang mendominasi.
"Baby Mima, beultenaltan imi Ata' Lana, Ata' Lino pan Ata' Leno," ujar Harun memperkenalkan tiga kembar itu.
"Ata'!" Arsyad langsung memeluk Lana.
Tiga balita kembar itu juga sama mirip. Kini mereka pun bermain.
"Babies, ayo cuci tangan semua!" titah Puspita.
Para remaja menuntun para balita dan bayi cuci tangan. Mereka duduk lesehan para ibu datang, Putri dan Aini bayi mereka belum bisa makan sendiri.
Sedang Al Bara, El Bara, Aisyah, Maryam dan Fatih masih duduk di kursi khusus mereka menyaksikan kakak mereka bermain. Lidya dan Saf datang membawa dua bakul nasi. Puspita membawa lauk pauk bersama Khasya dibantu oleh anak-anak angkat Herman.
Ruangan itu memang sangat besar seperti aula besar, mereka makan bersama. Tak ada perbedaan, bahkan dengan telaten Saf memisahkan tulang ayam untuk Lana, Lino dan Leno.
"Bantu adik-adiknya mengambil makanan Kean, Sean ...!" titah Terra.
Setelah berdoa, mereka pun menyantap makanannya. Usai makan, Terra kembali berbicara masalah pergi ke Eropa ketika liburan panjang mendatang.
"Kita tak bisa pergi dengan pesawat jet masing-masing. Pastinya akan sibuk sekali penerbangan jika kita membawa masing-masing pesawat terbang!" ujar wanita itu.
"Kau benar. Besok aku akan pergi ke Singapura, di sana ada beberapa pesawat Boeing 787, sepertinya lucu juga kalau kita beli dan lalu mendaftarkannya sebagai pesawat komersil setelahnya!" ide Frans.
"Wah boleh juga tuh," sambar Herman cepat.
"Terlebih beberapa pesawat jet ku juga disewa semua, aku tak mungkin ikut bersama kalian jika harus naik jet pribadi," lanjutnya.
"Bisa marah papa kalau ayah nggak ikut!" celetuk Haidar.
Pria itu ingat jika Bram meminta paman dari istrinya itu juga harus ikut.
"Pokoknya Ayahmu harus ikut!" begitu titah pria itu.
"Oke sudah diputuskan kita akan beli pesawat itu kalau kau punya kenalan dekat, kita bisa pesan langsung dari sini!" ujar Bart.
"Sayangnya aku tak punya, jadi harus ke sana besok pagi-pagi sekali agar bisa masuk dan membeli pesawat itu!' sahut Frans.
__ADS_1
Usai makan semua kembali ke vila masing-masing untuk beristirahat siang.
Felix menatap gadis yang kemarin ia nyatakan perasaannya. Pria itu belum berani mendatangi Herman untuk meminta Sari menjadi istrinya.
"Dik," panggilnya.
"Bang," sahut Sari langsung menunduk.
"Apa kabarmu?" tanya pria itu kikuk.
"Alhamdulillah, Sari baik bang!"
"Sari ... aku bukanlah pria pengobral janji dan mau menjalani cinta seperti orang lain. Aku pastikan jika aku ingin memperistrimu, apa kau yakin mau menjadi istriku?" cecar pria itu.
Sari menatap pria itu, ada kesungguhan di sana. Felix benar-benar serius dengan niatnya.
"Apa abang mencintai Sari?" tanya gadis itu masih setia menunduk.
"Jujur aku belum jatuh cinta, tapi aku yakin cinta akan datang berjalannya waktu. Dan aku yakin aku akan jatuh cinta padamu!" jawab pria itu.
"Tapi kalau tidak?"
"Sari, aku tekankan padamu, aku bukan pria kebanyakan yang pandai merayu para gadis. Aku pria yang sudah cukup umur dan tak mau banyak bermain api," tekan pria itu.
"Tapi, tanpa cinta apa arti kebersamaan kita nantinya bang?" tanya gadis itu.
Felix diam. Ia menatap netra hitam milik gadis itu. Hidungnya yang kecil dan bibirnya juga mungil. Gadis itu setinggi dada Felix.
"Sari ... sepertinya aku jatuh cinta padamu sekarang," ujar pria itu.
Sari terkekeh sambil menggeleng. Gadis itu tak percaya akan ungkapan pria di depannya..
"Bang, maaf. Pernikahan itu hanya untuk sekali seumur hidup, Sari tak mau abang menyesal atau tiba-tiba abang mendapatkan gadis yang sesuai dengan hati dan jatuh cinta padanya," ujar gadis itu dengan mata menggenang.
"Maaf bang, mungkin sebaiknya Abang memantapkan hati dulu," ujar gadis itu pamit.
Sari berlalu cepat. ia menutup pintu paviliun lalu bersandar di sana. Sari menahan semua perasaannya, ia telah jatuh cinta pada Felix.
"Bang ... Sari sudah jatuh cinta pada Abang pertama kali ketika melihatmu bang," ungkap jujur gadis itu.
bersambung.
ah ... cinta ...
__ADS_1
next?