SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KE MAKAM


__ADS_3

Pagi-pagi sekali mereka sudah sibuk mempersiapkan diri. Mereka akan ke makam lalu ke pembangunan masjid yang sudah berjalan. Menurut laporan yang diterima, pembangunan itu masih berjalan 40%. Masih lama prosesnya untuk selesai.


"Sayang, apa semua sudah kalian persiapkan?" tanya Darren pada istrinya.


"Sudah, sayang," jawab Safitri dengan senyum manis.


"Uma ... uma!" panggil Maryam.


"Iya baby," sahut Saf.


"Nwbebehhwbw jwhwhshuuqnajhhbrrbrhrhh!"


Entah apa yang dikatakan bayi lima bulan itu. Saf sangat terhibur mendengarnya. Apa lagi selalu ditimpali oleh dua saudaranya dengan bahasa yang sama.


"Kalian ngomong apa sih, nanti Abah tanya sama kakak Bariana deh," ujar pria itu gemas.


Akhirnya Saf dan Darren membawa tiga bayinya, tadinya mereka memakai jasa babysitter. Tapi, Saf memilih menitipkan tiga anak kembar pada mertuanya.


"Kita langsung jalan dan bertemu di sana kan mas?" tanyanya.


"Iya sayang, kita akan bertemu langsung di lokasi pemakaman kedua orang tuamu," jawab Darren.


Butuh waktu sekitar satu jam. Jalanan sedikit macet, maklum weekend jadi banyak orang pergi keluar kota untuk berlibur bersama keluarga mereka.


Sampai di sebuah desa yang asri. Darren turun bersama istri dan menurunkan tiga anak kembarnya.


"Katanya mama sama papa bentar lagi nyampe!" ujar pria itu melihat ponsel.


Saf mengajak suaminya ke salah satu rumah makan, ia ingin memesan nasi uduk yang memang tersedia dan rasanya sangat enak.


"Ini nasi uduk sama teh anget tawarnya," ujar pelayan memberi dua porsi nasi uduk dan dua gelas teh tawar.


Sepasang suami istri itu memang belum sempat sarapan. Akibat ulah Darren yang menggempur istrinya hingga pukul tiga dini hari. Mereka nyaris ketinggalan subuh jika Saf tak mendengar salah satu anaknya menangis.


"Benar katamu, nasi uduknya enak!" sahut pria itu menambah sambel pada nasi uduknya.


Tak lama Terra dan Haidar datang bersama Arraya dan Arion. Para remaja tidak ikut mereka mengurus paspor. Lalu menyusul Virgou dan Puspita bersama putra bungsu mereka Harun. Lalu Herman datang bersama istrinya. Lalu Lidya bersama suami dan dua anak kembarnya.


"Loh, adik-adik yang lainnya nggak ikut?" tanya Saf.


"Tidak, mereka mengurus paspor semuanya, lagi pula Sean harus ke kafe untuk membrifing seluruh karyawannya selama ia pergi nanti," jawab Terra.


"Kalo para Grandpa dan nini?" tanya Saf lagi.


"Mereka juga tak mau ikut karena hanya sebentar saja di sini, maklum mereka kan sudah tua!" seloroh Herman membuat semuanya terkekeh.


"Mama, papa, Daddy, mommy, ayah dan bunda sudah sarapan?" tanya Darren.


"Sudah sayang, kami sudah sarapan," jawab Virgou.

__ADS_1


Usai Darren membayar sarapannya. Mereka pun bergerak ke pusara ayah dan ibu dari Safitri. Di sana wanita itu menangis, Darren mengelus punggung istrinya lembut.


"Jangan seperti itu sayang, mereka juga ikut sedih," ujarnya menenangkan.


Semua melantunkan doa. Harun, Arraya dan Arion termasuk Aisyah, Maryam, Fatih, El Bara dan Al Bara hanya melihat orang dewasa yang sedih.


"Meuleta tenapa nayis?" bisik Harun pada saudaranya.


"Eundat pahu, syedih buntin," jawab Arraya.


Usai menabur bunga. Mereka pun beranjak menuju masjid yang mereka bangun. Semua pekerja menyambut kedatangan Virgou.


Memang pria dengan sejuta pesona itu paling serius dengan pembangunan masjid.


"Pak Virgou!" sambut Hadi dengan semringah.


Kedua orang itu bersalaman. Hadi menyalami semua pria kecuali para wanita.


"Salim sama kakek Hadi," titah Terra pada anak-anak.


Darren membantu semua anak untuk mencium punggung tangan pria paru baya itu.


"Apa kabar dengan yai?" tanya Herman.


"Alhamdulillah sehat, namanya juga sudah uzur, jadi ya begitu kadang sudah pikun," jawab Hadi.


Semuanya kini bergerak ke rumah pria berusia seratus tahun itu. Tidak ada lagi wanita tua yang menyongsong mereka. Perempuan salah satu cucu yai itu sudah meninggal dunia dua bulan lalu.


"Wa'alaikumussalam, mari-mari masuk," ajak Hadi dan mempersilahkan tamunya duduk.


Hadi pergi ke dapur lalu keluar dan menghidangkan teh manis untuk para tamu.


"Jangan repot-repot, pak!" ujar Darren tak enak hati.


"Ah, hanya teh hangat biasa. Maaf ya, semenjak nini wafat, kami kurang memperhatikan persedian rumah," ujar pria itu.


"Silahkan diminum, biar saya panggil yai dulu," ujarnya mempersilahkan.


Hadi masuk kamar uyutnya. Tampak begitu lama ia di dalam. Lalu keluar dengan wajah sedih. Lidya meremas tangan suaminya. Perempuan dengan kelebihan berbeda itu merasakan sesuatu.


"Pak Virgou, dipanggil yai," ujarnya.


Virgou lalu masuk bersama Hadi. Di kamar pria berusia seratus tahun itu memanggil Virgou dengan tangannya.


"Sini nak," ujarnya lemah.


Virgou datang menyambangi. Jemari pria tua itu tak lepas berdzikir. Virgou duduk di sisi ranjang, Hadi menaruh bangku di sana.


"Tolong bimbing yai," pinta pria tua itu.

__ADS_1


Mata Virgou memanas. Semampunya membisikkan kalimat tauhid di telinga Yai Jamal padahal bibir pria tua itu tak lepas menyebut asma Allah. Satu titik bening menetes, yai Jamal mengucap takbir dan lalu napasnya berhenti.


"Yai ...," panggil Virgou dengan suara serak.


"Yai ...," pria itu mengguncang tubuh pria renta itu.


Hadi sudah terisak. Pria itu menangis tertahan.


"Innalilahi wa Inna ilaihi radjiun!" sahut Virgou menghapus kasar air mata yang jatuh di pipinya.


Pria beriris biru itu keluar dengan mata basah. Lidya yang sudah merasa sesuatu terjadi memeluk Demian. Anak-anak tiba-tiba menangis semua.


"Yai baru saja pergi," ujar pria itu dengan pandangan menerawang.


Terra, Puspita, Khasya berpelukan. Sedang Haidar, Herman dan Darren menenangkan anak-anak yang menangis.


"Kita harus umumkan dan makamkan yai segera mungkin," ujar Virgou.


Darren, Haidar, Herman dan Demian membantu Hadi yang kesulitan mengurus jenazah. Pria tua itu begitu ringan ketika mulai dimandikan. Tiba-tiba banyak warga mulai berdatangan. Semua ikut membantu Terra memesan makanan via online untuk seratus orang di sepuluh rumah makan berbeda.


Virgou mengkafani Yai Jamal dengan penuh kesabaran. Haidar mengingatkan agar kakak iparnya itu jangan menangis.


Usai di kafani, jenazah Jamal di bawa ke musolah terdekat untuk di shalatkan. Semua orang berebutan ingin menyolatkan pria sepuh itu.


Virgou menangis, ia membayangkan jika Bart yang tengah berbaring di keranda mayat itu. Herman memeluk pria itu, menciuminya.


"Aku nggak sanggup jika Grandpa harus pergi ayah," cicit pria itu.


"Sayang, semua yang hidup pasti mati. Begitu juga aku, atau Kakekmu nantinya," ujar Herman menenangkan.


"Sehat terus ya ayah, aku belum mau ditinggal sama ayah," rengek Virgou.


Semua mengantar jenazah pria baik itu ke tempat peristirahatan terakhirnya. Semua mengusap jejak basah di wajah mereka. Hadi begitu sangat terpukul. Kini tinggal ia seorang diri tinggal di tengah-tengah warga yang masih ada pertalian darah dengannya.


Haidar memeluk pria itu dan menenangkannya.


"Uyut sudah tenang dan ditempat yang layak di sisi Allah, pak,"


"Aamiin ... makasih ya pak, kedatangan kalian sangat membantu saya," ujar pria itu dengan suara bergetar.


Haidar mengusap punggung Hadi, ia juga sama dengan Virgou, membayangkan ayahnya—Bram yang terbaring di tanah yang sudah penuh dengan taburan bunga.


"Sehat terus ya pa ... jangan pergi dulu, Haidar belum sanggup ditinggal papa," doa pria itu penuh harap.


bersambung.


innalilahi wa Inna ilaihi radjiun ... selamat jalan Yai Jamaluddin.


Hari ini masih satu up nya ya othor masih sakit. minta doanya ba bowu ❤️❤️❤️

__ADS_1


next?


__ADS_2