
Hari ini Dominic mengajak semua keluarganya ke taman bunga di pusat kota. Mereka membawa perbekalan sangat banyak untuk dinikmati bersama keluarga.
Rion begitu bersemangat untuk berjalan-jalan pagi ini entah kenapa. Jantungnya begitu rasa berdebar ketika akan bertamasya hari ini.
"Apa sudah siap semuanya?!" tanya Dominic.
"Siap!" seru para remaja.
Sebelas mobil dua puluh motor berjalan. Kegiatan orang kaya nomor dua di Eropa menjadi sorotan publik dan awak media. Taman yang dituju juga merupakan taman wisata pribadi milik Keluarga Starlight turun-temurun. Taman ini tadinya dikhususkan para peneliti alam dan observasi lingkungan. Seiring perkembangan jaman, taman penuh bunga langka itu dibuka untuk umum.
Namun selama dua hari. Dominic sengaja menutup taman itu karena ingin memanjakan semua keluarganya untuk bersantai. Makanya para wartawan sudah menunggu di depan gerbang masuk taman. Area dengan luas delapan hektar itu terdiri dari tiga laboratorium, dua kolam teratai dan empat paviliun besar yang di pagari tembok beton setinggi empat meter yang ditumbuhi rumput merambat yang kini tengah berbunga.
Beberapa pengawal menggelar alas lebar untuk para orang tua duduk bersantai. Pagi ini matahari bersinar cerah dan bagus untuk kesehatan.
"Ata' Pitya ... janan pindaltan atuh!" seru Azha berkejaran dengan Ditya.
Radit tengah mengajari Aaima berjalan di rumput dengan kaki telanjang. Bayi cantik itu terpekik riang. Sedang Maryam, Aisyah, Fatih, El Bara dan Al Bara di dudukan begitu saja di atas rumput dengan Nai, Arimbi, Maisya, Zheinra juga lainnya. Lima bayi itu merangkak bebas di atas rumput.
"Ini rumput baby, coba bilang," titah Rion pada lima bayi yang duduk dan menatapnya penuh minat.
"Emput!" sahut kelimanya kompak.
Rion bertepuk tangan sambil tertawa dan diikuti kelima bayi yang juga tertawa senang.
Harun bergulingan bersama, Sky, Bomesh dan Domesh juga Benua. Sedang Samudera sibuk mengamati bunga-bunga yang bermekaran. Kaila juga tak kalah sibuk berfoto-foto dengan kamera ponselnya.
"Hey, ambil sarapan kalian!" titah Karina.
Semua anak mengambil sarapan mereka. Para ibu menyuapi pada bayi sedang Dominic direpotkan dengan para perusuh yang minta disuapi olehnya.
Rion berjalan ke di atas jembatan di danau buatan. Teratai tumbuh liar di sana. Pemuda itu duduk di pinggir jembatan dan memakan sandwichnya.
"Hai baby, kenapa malah sendirian di sini?" tanya Leon duduk di sisi pemuda itu.
Rion hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari salah satu pamannya itu. Sekelompok orang keluar dari laboratorium. Mereka menggunakan baju khusus. Dominic memang bilang sebelumnya jika ada sekelompok peneliti lingkungan tengah mengobservasi sebuah tanaman hasil rekayasa.
"Mereka membuang tanaman? Apa penelitiannya gagal?"
Rion melihat beberapa orang membuang sampah berupa tanaman yang layu dan jika dilihat sepertinya membusuk.
"Apa kau sama penasarannya denganku?" tanya Leon.
Rion mengangguk. Keduanya pun berdiri dan mendatangi kelompok yang berjumlah enam orang terdiri dari empat perempuan dan dua laki-laki.
__ADS_1
"Halo selamat pagi!" sapa Leon dalam bahasa Inggris.
"Pagi tuan!" sahut semuanya.
"Apakah anda pemilik lahan ini?" tanya salah satunya.
"Bukan, tapi saya adalah iparnya. Boleh kita kenalan?" ujar Leon.
Mereka melepaskan masker penutup mulut mereka. Wajah-wajah lelah sangat terlihat dengan kantung mata menghitam. Tanda keenam orang ini bergadang entah berapa lama. Mereka saling berkenalan satu dan lainnya.
"Wah, sepertinya kalian lelah sekali?" ujar Leon dan ditanggapi senyum datar.
"Baiklah tadinya aku ingin bertanya tentang apa yang kalian lakukan, tapi melihat sepertinya bukan kondisi yang baik, sebaiknya kalian pulang dan beristirahat," ujar Leon panjang lebar.
"Kami hanya bisa memberitahu jika penelitian kami gagal total, tuan," jawab salah satu gadis cantik.
Rion menatap lekat wajah gadis cantik itu. Terutama manik hijau yang sangat menghipnotis pandangan Rion.
"Ah, sayang sekali. Tapi tidak apa-apa. Jadikan kegagalan hari ini menuju kesuksesan mendatang!" ujar Leon memberi semangat.
Keenam orang itu mengucap terima kasih. Mereka kembali ke dalam mengambil tas masing-masing. Kelompok itu pun pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Apa yang kau lihat baby, apa ada yang cantik salah satunya?" tanya Leon menggoda pemuda itu.
"Daddy," rengeknya manja.
Anak-anak kembali dimandikan setelah bergulingan di rumput. Mereka saling bercengkrama satu dan lainnya. Ada gelak tawa di sana.
"Grandpa ... maaf ya jika Raka besok pulang duluan," ujar pria itu menyesal.
"Sayang kenapa cepat-cepat?" tanya Bart sedikit kecewa.
"Maaf Grandpa, Raka banyak pekerjaan ini saja asisten Raka sudah kerepotan. Maaf juga nanti Raka bawa papa pulang," jelas Raka lagi dengan nada menyesal.
"Baiklah, aku tak bisa berkata apa-apa lagi jika sudah menyangkut pekerjaan dan perusahaan. Di sana banyak orang menggantung hidupnya termasuk kita," ujar Bart akhirnya mengerti.
Raka memeluk pria tua itu dan mengucap terima kasih. Ia juga memeluk kakek dan Omanya.
"Kalian jarang berkumpul jika sudah bekerja seperti ini," keluh Kanya.
"Oma ... kan Raka sudah punya tanggung jawab besar," ujar pria itu meminta pengertian.
"Lagi pula, Raka juga masih suka main kan ke mansion Oma dan Kakek," ujar pria itu.
__ADS_1
Kanya mencium cucu pertamanya itu. Raka adalah kesayangannya, selamanya begitu. Walau ia juga sayang semua cucunya.
"Ah, sayang ambil hadiah untuk para baby yang ulang tahun nanti dong," pintanya lembut pada istri.
Mira mengangguk dan bergegas mengambil barang yang diminta suaminya. Sepasang anak kembarnya sedang menyusun semua baju mereka juga adik. Sedang Zheinra dan Raffhan juga sudah berkemas. Mereka sedih harus berpisah dan kembali pulang lebih dulu.
Mira membawa banyak kado berukuran besar dan kecil di sebuah paperbag besar.
"Terima kasih sayang," Mira mengangguk sambil tersenyum.
Kaila mendekati wanita itu dan meminta pangku.
"Mama pangku,"
Mira memangkunya dan menciumi wajah cantik Kaila. Raka membagikan hadiah pada Bariana, Arion dan Arraya lebih dulu.
"Selamat ulang tahun Babies jadi orang baik ya, sehat terus dan nurut sama orang tua!" Raka mencium tiga bayi yang sebentar lagi berulang tahun.
"Matasih Papa Lata!" sahut ketiganya kompak sambil tersenyum senang. Harun, Azha, Ditya, Radit, Domesh, Sky, Samudera dan Bomesh juga dapat hadiah dari Raka. Semua anak memeluk pria itu dan memberikan kecupan di pipi.
"Mama nggak dicium gitu?" sahut Mira cemberut.
"Mama!" seru semuanya menindih wanita itu hingga terpingkal.
"Hei ... berat Babies!" serunya dengan napas berat.
"Muuaacchh!" pada bayi menciumnya.
Dominic memasang karaoke. Ia telah menyiapkan semuanya agar sama seperti di Indonesia. Pria itu telah memutuskan untuk memindah perusahaannya di negara yang sama dengan putranya.
"Akan kuberi kalian kejutan nanti!" kekehnya dalam hati.
"Tupandan lanit ... benuh pintan pelapuhan ... beultelap-telip ... beulumpama pintan pelyan ... lada pebuah sebih telan payayana ... bitulah ... pintantu pintan teloja yan bindah palu ...."
Baraya menyanyikan lagu bintang kejora dengan mimik muka serius dengan pinggul bergoyang. Semua meralat kesalahan bayi cantik itu.
"Kejora baby bukan keroja!"
"Biya ... pahu!" sahut bayi itu.
"Pemaja tali Baby Bal na," lanjutnya lalu bernyanyi kembali.
bersambung.
__ADS_1
ah ... suka-suka kau lah baby.
next?