
Akad nikah Rion berlangsung meriah kemarin malam. Kini semua lelah dan hendak istirahat seharian di rumah. Para perusuh juga ingin bangun siang.
"Ma, baby lagi ngapain ya?" tanya Haidar usil.
"Apaan sih Pa ... kek nggak pernah nikah aja," sahut Terra kesal.
"Ma ... Papa jadi kangen masa lalu," ujar Haidar.
Terra memeluk suaminya. Ia juga kangen ketika pertama kali menjadi istri dari pria yang selalu saja ada untuknya. Dosen killer yang menjadi suaminya.
"Dari sekian banyak gadis ... kenapa dulu Papa naksir Mama?" tanya Terra mengecup dada suaminya.
Haidar mengerang mendapat perlakuan mesra itu. Ketika pertama kali mengenal sosok gadis yang berlari mendahuluinya masuk dalam kelas. Haidar sudah tertarik dengan Terra.
"Kamu mahasiswi genius. Papa penasaran siapa gadis itu. Nggak nyangka jika gadis itu lah jodoh Papa," jawabnya.
"Lagi pula Mama cantik, kaya, CEO, pemilik perusahaan, masa iya Papa lepasin?" lanjutnya hingga membuat Terra mengigit dada suaminya.
Jangan tanya dua anak kembar sepasang. Arion dan Arraya menginap bersama seluruh saudaranya di rumah Rion.
Semua bayi tak mau dibawa pulang. Hingga para orang tua meninggalkan mereka di sana.
"Mama!" peringat Haidar.
Terra mencium bibir suaminya. Kini sepasang suami istri itu bergulat dalam selimut. Nai turun ke ruang makan. Ani dan Gina tengah menyiapkan sarapan di meja.
"Pagi Bi!" sapa Nai.
"Pagi juga Non," balas Ani dan Gina berbarengan.
Tak lama, Daud, Al, Sean, Rasya dan Rasyid turun dari lantai dua. Mereka menunggu kedua orang tuanya.
"Mama sama Papa kok belum turun?" tanya Rasya sambil melihat arah tangga.
"Aku panggil deh!" ujar Nai lalu beranjak menuju kamar ayah dan ibunya.
Sampai depan pintu kamar kedua orang tuanya, Nai mengetuk pintu.
"Maa ... Pa! Sarapan udah siap!" teriaknya.
Tak ada sahutan. Nai berusaha menguping apa yang terjadi di dalam kamar. Lalu beberapa detik kemudian ia langsung menjauhkan telinganya dari daun pintu lalu ia pun pergi ke ruang makan.
"Kenapa?" tanya Daud dengan kening berkerut.
"Nggak ada!" jawab Nai kesal.
Gadis itu sedikit tau apa yang terjadi di kamar ayah dan ibunya. Nai bukan gadis polos seperti saudara laki-lakinya. Ia seorang dokter, tentu ia tau apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya di dalam kamar tadi. Terlebih ia mendengar tepat ketika sang ibu melenguh panjang dan mengerang bukan karena kesakitan.
"Kok mukamu bete gitu?" sahut Al lagi.
__ADS_1
"Ck ... Mama sama Papa lagi buat adik baru untuk kita," jawab Nai.
"Astaga ... kirain ngapain!" sahut Daud ikutan kesal mendengarnya.
"Bikin adik baru?" tanya Sean polos.
Baik Nai dan Daud langsung memandang saudaranya itu, sedang Al hanya cuek dan memilih menghabiskan sarapannya.
"Eh, Adiba keknya udah mau pergi nih!" ujar Al ketika melihat ponselnya.
"Sendiri?"
"Keknya sih bawa semua adik-adik kita," jawab Al.
"Ya Allah ... itu perusuh ngapain sih!" gerutu Sean kesal.
"Kan yang mau dibuka kafe bayi. Mungkin Adiba mau minta pendapat semua adik-adik," jawab Al.
"Adiba mau buka kafe bayi?"
Rasya dan Rasyid memilih berdiri. Dua R itu memilih menelepon Adiba untuk menunggunya di mall besar tengah kota.
"Kita meluncur Dib!" sahut Rasya.
Duo R sudah mandi dan berpakaian kasual, kaos dan celana jeans. Haidar dan Terra keluar setelah percintaan panas mereka selama dua jam di kamar.
"Mau kemana Babies?" tanya Terra ketika melihat semua anaknya sudah rapi.
"Oh ... trus ... Mama sama Papa ditinggal gitu?' sahut Terra sebal.
"Ini sudah siang Ma. Nggak keburu!' sahut Nai.
"Salah sendiri pagi-pagi bikin adik!" celetuk Nai.
Terra dan Haidar berdecak. Akhirnya semua anak pergi menyusul Adiba ke sebua mall besar. Rion dan Azizah juga ikut dengan semua adik-adiknya.
"Ata' ... eundat lada yan badhus!" sahut Harun malas melihat semua furniture di mall.
"Iya ya ... semua nggak ada yang menarik," ujar Adiba sambil melihat beberapa kursi dan meja bar.
"Coba kita punya perusahaan furniture sendiri ya!" celetuk Ajis.
"Ide yang bagus itu," sahut Rion tiba-tiba terlintas ide cemerlang.
"Ya sudah. kita ke tempat di mana kau mendirikan kafe Adiba!' sahut Rion.
"Adiba mau telepon Kak Rasya dulu Kak!" sahut gadis itu.
Gadis itu pun menelepon saudara iparnya. Ia mengatakan jika tak jadi membeli barang di mall karena tak ada yang bagus dan sesuai keinginan semua perusuh.
__ADS_1
"Oke kita tunggu di sana ya!" ujar Adiba lalu menutup sambungan telepon setelah mengucap salam.
Kini mereka pun beranjak ke luar gedung. Ari yang masih melihat satu sofa berbentuk strawberry menarik langkah kakaknya, Alim.
"Ata' ipu lada stowpeli!" tunjuknya.
"Eh ... iya ... lucu juga ya," sahut Alim.
Adiba melihat apa yang ditunjuk adik angkatnya itu. Ia mendekati.
"Maaf ya Dik. Jangan dipegang-pegang kalo nggak mau beli!" sahut pramuniaga ketus.
"Kalau nggak dipegang gimana tau kualitasnya Mba!" sahut Adiba kesal.
"Duh ... kamu tau apa sih soal kualitas!" sahut pramuniaga itu.
Rion yang kesal mendengar adiknya dihina seperti itu datang. Tentu saja perawakan Rion dari tadi mencuri perhatian semua orang.
"Eh ... Mas, silahkan dilihat Mas," ujar pramuniaga genit.
"Tamu denit-denit pama Papa atuh!" sahut Azha galak.
"Putun aja wowana!" sahut Arion memprovokasi.
"Adiba kau sentuh itu ... itu dan itu!" tunjuk Rion memberi perintah pada Adiba.
Pramuniaga tadi menelan saliva kasar. Ia tak tau jika gadis kecil berpakaian sederhana itu adalah adik dari pria tampan itu.
"Nggak Kak. Diba mau lihat yang ini saja," sahut Adiba menunjuk sofa bentuk buah strawberry itu.
"Ari suka ini?" Ari mengangguk.
"Mawu taloh di tamal Ali Ata'!" sahut bayi itu.
Adiba membayar secara cash kursi dengan harga 2.713.000 dengan potongan harga menjadi 2.550.000 rupiah. Kursi itu akan diantar ke rumah Rion.
Setelah membeli kursi yang diinginkan Ari. Mereka bergerak ke bangunan yang disewa oleh Adiba.
Bangunan satu lantai dengan halaman cukup luas. Beberapa tukang bangunan tampak mengecat sesuai dengan keinginan semua anak-anak.
Taman bermain juga tengah dibangun. Adiba menghabiskan seluruh tabungan yang ia kumpulkan untuk mewujudkan mimpinya memiliki usaha sendiri.
"Kau hebat sayang!" puji Azizah mengecup pucuk kepala adiknya yang terbungkus hijab.
Rasya dan lainnya sampai di sana. Mereka ikut menyaksikan bagaimana pembangunan kafe di mana para bayi dan anak-anak seusianya akan berkumpul.
"Ayo kita pulang. Aroma cat tidak bagus untuk semua adik-adik!" ajak Rion.
Semua pun pulang ke rumah Rion menggunakan mobil masing-masing. Rion sendiri menggunakan bus yang ia beli untuk akomodasi semua adik-adiknya.
__ADS_1
bersambung.
next?