
Sky dan Bomesh memang satu kelas, dua bocah kelas dua SD ini masih diantar jemput oleh Maria, karena kakaknya Sean menjadi CEO menggantikan Rion yang mengalami Couvade Syndrome.
Bayi besar itu selalu bangun dini hari dan memuntahkan semua isi perutnya. Hal itu membuat semua orang harus panik karenanya.
"Kak Ion katanya tadi malem muntah-muntah lagi ya?" tanya Bomesh.
"Iya, kasihan Kak Izah ikut terbangun dan mengurusi Kak Ion," jawab Sky.
"Tumben Kak Benua sama Kak Domesh belum keluar?" ujar Sky melihat kelas kakaknya masih tertutup dan suara guru terdengar.
"Kita tunggu aja yuk di sini!" ajak Sky lalu duduk di pinggir taman.
Keduanya duduk menunggu kakak mereka yang sudah kelas empat sedang Samudera sendiri sudah kelas enam.
"Kalian ngapain?" tanya salah seorang murid ikut duduk bersama mereka.
"Nungguin Kakak," jawab Bomesh.
"Kelas berapa?"
"Kelas empat,' jawab Sky kini.
"Kan kelas empat masih lama, keburu kita masuk duluan loh!" ujar bocah laki-laki itu.
"Eh iya ya, kok kita lupa," ujar Sky.
"Ya udah kita makan bekal kita duluan deh," ajaknya lagi.
"Kamu nggak jajan?" tanya Bomesh pada anak yang duduk bersamanya.
"Ini aku jajan," jawab bocah itu sambil menunjukkan permen.
"Kamu mau?" tawar Sky menyodorkan bekalnya.
"Enggak ... kamu aja kurang itu," tolak bocah itu mengemut permennya.
"Enggak, kamu ambil nih!" Sky memberikan satu potong roti isinya.
"Makasih ya," ujar bocah itu mengambil roti isi.
Mereka pun makan bertiga, setelah itu kembali ke kelas. Bocah tadi duduk dua bangku di belakang Sky dan Bomesh.
"Anak-anak, pulangnya cepet ya, karena bentar lagi ulangan!' ujar gurunya.
"Yah ... pulang cepet!" keluh Sky yang langsung dilihatin oleh semua teman-temannya.
"Dih ... kalo kamu mau tinggal terus di kelas, nggak usah pulang Sky!" ketus salah satu teman kelasnya.
Sky hendak menjawab tapi Bomesh menahannya.
"Jangan ngelawan perempuan. Biar kamu bener pasti tetap kalah,' peringatnya pelan.
"Lagian Pasti Om Deno, Om Ardhan, Om Shadir dan Om Lukman nungguin kita kan?" Sky mengangguk.
Anak-anak kelas satu, dua dan tiga pulang cepat karena memang kelas mereka akan dirombak untuk persiapan ulangan.
"Kita ke Om bodyguard yuk!" ajak Sky.
__ADS_1
Kedua bocah itu pun keluar sekolah menuju pengawal mereka yang menunggu. Empat pengawal tampan tengah berdiri di luar mobil golf.
"Tuan Muda!" sambut mereka.
"Om kami udah pulang duluan," ujar Bomesh.
"Apa mau pulang sekarang Tuan?" Sky dan Bomesh mengangguk.
Dua pria lain menunggu tuan muda yang lain sedang Bomesh dan Sky diantar oleh dua orang lagi dengan mobil golf.
"Eh ... itu bukannya Arfhan ya?" tunjuk Sky melihat teman yang tadi duduk bersamanya ketika istirahat.
"Eh ... iya ... Om itu temen saya mau diapain?" tanya Bomesh gusar.
Arfhan tengah dihadang oleh dua pria berpakaian preman. Mereka menarik tas sekolah bocah kecil itu.
"Hei ... jangan beraninya sama anak kecil!" teriak Bomesh mengagetkan dua pria yang ingin memeras Arfhan.
Melihat ada orang lain bertubuh tegap, kedua preman itu berlari tunggang langgang. Sky meneriakinya.
"Jangan ... itu pamanku!" larang Arfhan.
"Mestinya kalian tadi lewat saja. Ini sudah biasa," lanjutnya.
"Loh kok udah biasa?" tanya Sky heran.
"Iya, udah biasa. Kalo kek gini aku bakalan nggak bisa pulang," keluh Arfhan.
"Kenapa nggak bisa pulang?" tanya Deno.
"Kita anterin ya!' tawar Sky.
"Jangan ... nanti malah aku tambah sulit. Kalian anak-anak orang kaya, nanti pamanku punya niat jahat!" larang Arfhan lagi.
"Terus kamu gimana?" tanya Bomesh kini.
"Nggak apa-apa, kalian nggak usah mikir. Makasih ya tadi udah nolongin," ujar Arfhan lalu buru-buru pergi.
Sky dan Bomesh melihat arah lari teman sekelasnya itu. Deno dan Ardhan menggandeng mereka kembali ke mobil golf dan mengantar pulang.
"Kok aku kepikiran Arfhan ya?" tanya Bomesh gelisah.
"Aku juga," jawab Sky.
"Om?" kedua bocah itu menoleh pada dua pengawal yang mengantar mereka.
"Jangan dipikirkan Tuan, yang penting Tuan pulang dulu ya!" ujar Deno.
Walau kedua pria itu sama penasarannya dengan tuan muda mereka. Tapi keamanan dan tugas harus lebih dulu diutamakan.
"Sky nggak bisa!" tolak Sky.
Bocah itu tiba-tiba melompat dan berlari ke arah di mana Arfhan tadi berlari. Deno menghentikan mobil golfnya.
"Astaga!" teriaknya.
Ardhan langsung loncat dan mengejar tuan mudanya. Bomesh yang tidak mau ditinggal sendirian oleh Sky, saudaranya. Bocah itu ikut mengejarnya.
__ADS_1
"Astagfirullah ... Tuan!" pekik Deno kaget.
"Tau tadi minta sepuluh orang yang ikut menjaga Tuan muda!"
Pria itu langsung memberitahu pos utama jika dua anak atasan mereka lari dan kini mereka tengah mengejar.
Ardhan adalah pria yang dilatih sedemikian rupa oleh timnya. Bagaimana tempaannya selama tiga tahun di SavedLived tak berguna samasekali. Sky mampu mengecoh lari pria itu.
"Anaknya ketua ... kapan kau melatih putramu gesit seperti ini!" keluhnya.
"Sky tunggu!" teriak Bomesh.
Bocah itu berlari dan mengambil galah, tidak ada yang mengajari anak laki-laki berusia delapan tahun itu. Tapi semua harus menahan napas bagaimana Bomesh menggunakan galah bambu yang panjang untuk melompat sungai kecil menyeberang untuk menyusul saudaranya.
Ardhan menahan napas. Pria itu shock, melihat bagaimana Bomesh dapat mendarat dengan mulus ke tanah secara sempurna.
Ardhan harus melewati jembatan bambu yang sedikit rapuh, ia harus meloncat ke seberang agar bisa mengejar dua anak itu.
"Tuan muda!" teriaknya..
Deno menyusul dengan napas terengah, latihan di markasnya yang mampu menguji nyali dan nyawanya tak sebanding dengan mengejar dua anak tuannya.
Gomesh yang mendengar dua putranya melarikan diri dari penjagaan pengawalnya langsung bergerak.
Pria raksasa itu tak bisa dihentikan sampai Virgou kesal dibuatnya. Satrio yang memang adalah pengagum raksasa itu ikut mengejar Gomesh.
"Baby!" teriak Virgou.
Pria sejuta pesona itu akhirnya ikut mengejar keduanya. Hanya David, Fabio dan Pablo yang waras.
"Kita kejar mereka Tuan?" tanya Fabio.
David mendesis kesal. Ia juga penasaran apa yang terjadi.
"Kita kejar!" ajaknya..
Tiga pria dengan ketampanan di atas rata-rata, membuat siapapun menoleh. Belum lagi pria-pria sebelumnya.
Sky dan Bomesh celingukan mencari temannya tadi. Arfhan ada di jalan menuju kampung di mana tempat ia tinggal bersama paman dan bibi juga tiga anak yang masih kecil-kecil.
"Arfhan!" teriak Sky.
Bocah itu menoleh, tampak wajah khawatir tercetak di wajah anak laki-laki itu.
"Kenapa kalian menyusul?" tanyanya cemas.
"Aku khawatir sama kamu!" ujar Sky.
Arfhan tampak menoleh ke segala arah. Delapan preman di sana ada pamannya tampak menyeringai dan menunjuk dirinya.
"Kita harus lari!" ajak Arfhan menarik tangan Sky dan Bomesh.
Bersambung.
wah!
next?
__ADS_1