
"Jangan sembarangan asal cerai!" bentak Geonesh marah.
Semua menoleh padanya. Gomesh menghela napas panjang, ia memang membenci ayah dan ibunya. Tetapi hidup puluhan tahun dengan keluarga yang penuh kasih sayang. Merubah sikapnya.
"Ayo kita ke rumah!" ajak Gomesh.
"Rumah siapa?" tanya Geonesh.
"Rumahku!"
Gomesh pun berlalu, semua mengikuti pria itu. Sedang Geonesh tampak ragu. Virgou, Lidya dan Demian ikut Gomesh.
"Kak Geonesh!" panggil Gorgon sedikit kesal pada kakak tertuanya itu.
Geonesh akhirnya melangkah dan mengikuti mereka. Usai sampai rumah sederhana Gomesh yang sederhana tapi luas. Mereka cukup terkejut ketika turun. Hunian itu sudah penuh dengan manusia. Mereka ingin tau siapa keluarga dari Gomesh.
"Kak, banyak orang di rumahmu?" tanya Geomenino.
"Mereka adalah keluarga yang selama ini menyayangiku," jawab Gomesh dengan begitu bangga.
Maria dan Terra menyambutnya. Semua duduk di ruang tamu yang luas. Sedang yang lainnya duduk di ruang tengah. Anak-anak ribut di taman belakang. Rion menenangkan semua adiknya itu agar tak berisik.
"Ini adalah istriku Maria, ini adalah sadariku Terra dan ini saudaraku Virgou. Aku juga punya ayah dan bunda yang menyayangiku tanpa syarat,"
Gomesh memperkenalkan empat orang yang sangat berarti baginya. Khasya mengelus sayang pipi pria raksasa itu. Terlihat pandangan kasih sayang yang begitu besar dari wanita karir yang dipanggil bunda itu.
"Papi juga sayang sama kamu," ujar Geonesh.
"Oh ya? Sayang yang seperti apa?" tanya Gomesh menatap datar kakak yang selalu mengumpankan dirinya agar dimarahi oleh ayahnya.
Geonesh diam. Lalu matanya memandang taman belakang yang penuh dengan anak-anak. Arsyad dan Arsh mendapati pandangan pria itu.
Dua bayi galak itu pun mendatangi dengan begitu berani. Keduanya berkacak pinggang.
"Spasa tamu pihat-pihat!" sentak Arsyad tak suka.
"Mu sasa hat-hat!" ulang Arsh ikutan marah.
Geonesh tentu tak mengerti. Dia, menatap dua bayi yang berwajah menggemaskan itu membuat siapa saja pasti jatuh cinta termasuk tujuh Diablo bersaudara itu.
"Gom ... apa ini anak-anak mu?" tanya Geonesh dengan tatapan berbinar.
Pria itu juga memiliki satu putri dan telah menikah. Ia sendiri sudah bercerai dengan sang istri. Bukan karena keegoisan pria itu. Tetapi memang sang mantan istri selingkuh. Ia juga tak terlalu akrab dengan putrinya, karena sang ibu yang terus menghasut sang putri untuk tidak menganggapnya.
"Ya mereka semua adalah anak-anakku!" jawab Gomesh.
__ADS_1
"Papa pia picala pate pahasa pa'a?" tanya Arsyad sambil menunjuk Geonesh.
"Dia pake bahasa Inggris Baby," jawab Gomesh lembut.
"Oh ... pahasa plindis," sahut Arsyad.
"Yes no ... yes .. no ... no ... no!" lanjutnya seakan berbicara pada Geonesh.
Semua nyaris tertawa mendengar apa yang dikatakan Arsyad. Sedang Arsh menatap Geonesh dari dekat dan tiba-tiba.
Plak!
"Aaauuuww!"
Geonesh terpekik kaget wajahnya kena tampar bayi usia delapan bulan. Gomesh melipat bibirnya. Akhirnya keinginannya untuk memukul kakak tertuanya terlampiaskan.
"Baby," tegur Maria tak enak hati.
"Mommy, peleshsbbenajahsbanahsbdnajansshs!" oceh bayi itu.
"Minta maaf Baby," pinta wanita itu.
"No!" sahut Arsh sambil membuang muka.
"Baby kan anak baik," bujuk Maria.
"Maaf Tuan," ujar wanita itu mewakili Arsh yang mengajak kakaknya pada saudaranya yang lain.
"Tidak apa-apa Maria," ujar Geonesh.
"Sudah, aku katakan pada kalian, aku akan ikut agar semua warisan kalian dapatkan. Setelah itu jangan ganggu aku lagi!" putus Gomesh.
"Aku nggak mau harta itu. Biar itu buat Kak Geonesh!' ujar Geomenino.
"Nino, jangan kekanak-kanakan!' sahut Geonesh.
"Tidak, aku tidak kekanak-kanakan!" sahut pemuda itu.
"Sudah jangan berteriak di rumah orang. Kita hargai kakak Gom yang tak ingin diganggu oleh keluarga yang tak pernah ada untuknya," sahut Gorgon sedih.
Gomesh diam, ia memang tidak dekat karena berpisah terlalu lama, dua puluh tahun lebih ia meninggalkan keluarganya karena ikut dengan Virgou.
"Kalau begitu, kami permisi. Besok kami akan pulang ke Eropa. Kunjungan kami hanya seminggu di sini," ujar Gomash tersenyum miris.
Mereka pun bangkit dari duduk. Gomesh menatap mereka semua. Gorgon menyalami semua orang termasuk kakaknya itu. Sebagai pengganti Gomesh ketika pria raksasa itu pergi Gomesh melindungi saudara-saudaranya. Sedang Geonesh hanya peduli dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kami pergi, terima kasih dan maaf karena telah membuat semua anak Kakak ketakutan," ujarnya.
"Kak," rengek Geomenino.
Geomitha langsung menggandeng adik bungsunya itu. Ia langsung menariknya dan kemudian naik mobil yang tadi mereka sewa, sang supir masih ada di sana. Semua naik dan akhirnya tujuh bersaudara itu pun pergi meninggalkan rumah Gomesh.
"Kak," panggil Terra.
"Sayang " panggil Maria istrinya.
"Biarkan dia, ayo kita makan. Aku sudah lapar!" ujar Virgou.
Bart di sana hanya diam saja, ia pun mengambil piring dan makanannya sendiri. Ia sudah kelaparan. Akhirnya semua makan, beruntung anak-anak sudah makan.
Sementara itu tujuh Diablo bersaudara turun di lobi hotel. Mereka membayar mobil dan memberi tips pada supir pemilik dari mobil itu sendiri.
"Terima kasih Tuan, atas kebaikan anda," ujar Geonesh.
"Sama-sama Tuan," sahut pria itu ramah.
Mereka menuju kamar president's suit room. Menyiapkan semua koper, tak ada yang bicara satu dan lainnya. Hanya air mata yang menandakan jika mereka begitu berat pergi meninggalkan keluarganya yang telah ditemukan.
"Kak," panggil Geomenino.
"Sudahlah Dik ... kau lihat sendiri kan. Dia memang membawa kita ke rumahnya. Memamerkan keluarga yang begitu mencintainya. Apa alasannya dia mau menerima kita yang tiba-tiba datang?!" sentak Georgina yang dari tadi diam.
Geomenino terdiam, hanya air mata yang menganak sungai di pipinya yang mulus.
"Ayo kita pesan makanan dan lalu istirahat. Nanti malam kita cek out, tiket sudah kakak beli dan dapat penerbangan jam satu malam!" ujar Gorgon.
Semua pun memesan makanan. Lima belas menit makanan datang dan mereka langsung memakannya dengan lahap. Lalu mereka merebahkan diri di kasur. Gomash memang memesan satu kamar dan meminta kasur tambahan. Tak butuh waktu lama mereka pun terlelap.
Pukul 23.00 mereka cek out. Mereka semua menaiki mobil minivan milik hotel sebagai layanan ekstra yang diminta oleh Gomash. sepuluh menit saja mobil itu berhenti di lobi bandara. Geomenino masih berharap sang kakak menyusulnya dan memintanya tinggal. Mereka menunggu di area tunggu.
"Untuk seluruh penumpang penerbangan Indonesia-Eropa harap segera ke gate 3!"
Mereka pun beranjak menuju tempat yang disebutkan. Geomenino masih setia melihat pintu utama. Air matanya tak berhenti berderai. Geomitha sedih dan merangkul tangan adiknya.
"Kak Gomesh ... i love you," ujarnya lirih.
Mereka pun akhirnya ada di pesawat. Semua diam tak ada yang bersuara. Hingga perlahan burung besi itu bergerak lalu terbang mengudara. Satu keluarga akhirnya kembali berpisah entah akan selamanya atau sebentar saja.
Bersambung.
😠eh othor nangis bikinnya.
__ADS_1
next?