
Pablo berada di sebuah jembatan yang rusak. Jembatan itu bergoyang setiap bergerak.
Pria itu melihat Aisyah berdiri di ujung jembatan. Gadis itu ditahan oleh dua orang yang tak dikenalnya.
"Aisyah!" pekiknya tanpa suara.
Di sana Aisyah hanya menatapnya penuh kepasrahan. Air mata gadis itu perwakilan jika dirinya tak berdaya.
"Aisyah ... melawan lah!" pekik Pablo lagi tanpa suara.
Pria itu coba berlari, tetapi jembatan itu bergoyang keras. Tubuhnya terhuyung-huyung kesana-kemari.
"Aisyah!" teriak Pablo lagi.
Pablo terjatuh, Aisyah ikut melompat bersamanya. Ia terbangun dengan peluh bercucuran. Napasnya terengah seperti habis maraton.
"Astagfirullah!" pria itu meludah ke kiri tiga kali.
Pablo memilih pergi ke kamar mandi, ia mulai berwudhu. Pria itu melakukan sholat malam dua rakaat. Dalam sujud terakhir. Ia banyak berdoa. Usai sholat Pablo kembali meminta kemurahan hati penciptanya.
"Ya Allah. Lindungi orang-orang yang aku cintai. Aamiin ya rabbal alaamin!'
Sabtu pagi, Pablo diminta datang ke rumah Demian. Hari ini ulang tahun duo Bara. Bayi kembar usil itu sudah berusia dua tahun. Kandungan ibunya sudah delapan bulan.
"Assalamualaikum!' sapanya.
"Wayaytumsayam!' seru perusuh paling junior membalas salam.
"Mana tadonya?" tanya Harun.
"Ini Baby," Pablo menyerahkan satu bungkus kado.
"Tot syatu?' protes Al Bara.
"Baby ... berapa pun harus mengucap terima kasih!" peringat sang ibu.
"Mama ... pita lada duwa pasa ditasyih tado syatu ipu manana pidat dadil!" sahut El Bara kini.
"Satu bungkus ada dua isi, Baby," jelas Pablo gemas sendiri.
"Oh ... matasyih!" angguk duo Bara.
Lidya menghela napas berat. Ia tak pernah mengajari dua putranya itu berlalu sedikit tidak sopan. Tetapi, ia ingat dulu ketika kecil berkelakuan sama dengan dua anaknya itu.
"Ah ... kenapa kalian nggak jadi anak manis aja sih!' gerutunya kesal.
"Nanat anis? Pita dula?" tanya El Bara dengan mata bulat.
"Butan nanat fifiya pataw nanat sisilan?' kini El Bara yang bertanya.
"Siapa yang mengatakan kalian anak ...."
"Baby Grandpa mau kwietiawnya!' teriak Bart.
"Ada di situ Grandpa!' tunjuk Lidya.
"Sini Grandpa aku ambilkan," ujar Demian mengambilkan makanan yang diinginkan oleh Bart.
Lidya menghela napas panjang. Kini ia tau dari mana perkataan anak-anaknya.
"Mama tata Wuyuy Palt pita peumua ipu nanat sisilan pama nanat fifiya!" sahut Aaima tegas.
"Suma Nanat sisilan susus pandhilan puntut peumua Papa!' lanjutnya.
__ADS_1
"Badhahal Syisyah penen padhi nanat sisilan!' keluh Aisya.
Lidya makin kesal, ia melirik pria gaek yang tengah makan dengan muka bersalah. Ia memang menyesal tak bisa menahan mulut.
"Baby ... Grandpa memang begini," ujarnya membela diri.
"Iya ingin Mama tau soal ini!" ujar wanita hamil itu kesal.
Terra belum datang. Wanita itu masih berada di rumah. Ia akan membawa makanan yang banyak. Hanya anak-anak yang menginap di sini.
"Eh ... muta Papa Bablo teunapa?' tanya Verra tiba-tiba.
Semua perusuh menoleh. Pablo duduk dengan muka termenung. Makanan ada di atas pangkuan hanya diaduk tanpa arti oleh pria beriris hijau itu.
"Lamali!" geleng Fathiyya kesal.
Semua bayi mendekati pria itu. Pablo yang memang tak berada di tempat tak menanggapi kedatangan semua anak-anak dengan pandangan penasaran.
Bart, Demian, Jac dan Putri membiarkan mereka. Dominic datang. Tiga putranya sudah berusia enam bulan. Aaric, Alva dan Sena memekik ketika masuk rumah.
"Babies ... kenapa kalian berteriak heh!" Bart menciumi tiga bayi tampan itu.
"Kenapa dia?' tanya Dominic menunjuk Pablo.
"Au?' Bart mengendikan bahu tanda tak tau.
"Galau kali?' lanjutnya tak peduli.
Dinar memilih mendorong kereta bayinya. Wanita itu duduk di sisi Lidya yang sedang mengelus perutnya.
"Assalamualaikum Baby," sapa Dinar pada janin yang ada di dalam perut Lidya.
"Wa'alaikumusalam, Bibu!' balas Lidya menirukan suara anak-anak.
Dominic mengecup perut buncit Lidya. Sedang kumpulan bayi masih menatap iba pria yang setia dengan lamunannya. Dominic mendekati mereka.
"Papa pihat lah!' tunjuk Azha pada Pablo.
"Nanat sisilan imi lelamuntan pestuatu!" lanjutnya.
Dominic melipat bibirnya ke dalam. Jac, Demian, Putri dan Bart mengulum senyum.
Putri memilih menyingkir sebelum ia tertawa di sana.
"Kok nanat sisilan?" tanya Dominic sambil meringis menahan senyum.
Al Bara malah melihat jika Dominic sedih karena Pablo dipanggil nanat sisilan.
"Janan tuwatil Papa. Papa Dom sudha nanat sisilan tot!" ujarnya menenangkan pria itu.
"Apa ... Papa bukan ...."
"Syudahlah!' potong Harun.
"Imi badhaipana sama Papa Pablo?' tanyanya lalu semua mata kembali menatap Pablo yang masih setia dalam lamunannya.
"Papa," panggil Della lalu menyentuh tangan pria itu.
Namun air mata Pablo menetes. Della tentu sedih, ia mengira jika sentuhannya menyakiti Pablo.
"Papa ... pana Yan syatit?" tanyanya khawatir.
Della mengusap lengan Pablo. Netra hijau itu menatap bola mata jernih Della. Pria itu memeluk bayi cantik lalu menangis di sana.
__ADS_1
"Papa ... huaaaa!" semua bayi ikut menangis.
Tentu saja mereka panik. Lidya bangkit dan mendatangi Pablo. Ia mengusap punggung lebar pria tampan itu. Sebuah kilatan memori kelam tergambar. Lidya sedikit tersentak.
"Sayang!' Demian tentu khawatir.
"Papa Pablo ... kedua orang tua Papa sudah tenang itu bukan salah Papa," ujarnya.
Pablo menangis. Ia masih memeluk Della. Batita itu juga menangis juga semua saudaranya.
Tak lama rumah Lidya penuh dengan manusia.
"Barakallah fii umrik Duo Bara!' seru semua orang tua.
Lidya dan Demian membantu putra kembar mereka memotong kue. Potongan kue dibagikan. Acara pun berlangsung meriah.
Pablo sudah tenang. Fabio ada di sisinya. Kembaran bukan darahnya itu bisa menenangkan Pablo.
"Kecelakaan itu murni. Bukan kau yang salah Pablo!'
"Tapi mereka bilang aku adalah anak sial!" ujar Pablo lirih.
Ari ada di belakang tubuh dua pria tampan itu. Ia jadi gusar sendiri. Kini ia tau siapa nanat sisilan yang asli.
"Duys!' panggilnya pada semua saudaranya.
"Atun pahu spasa nanat sisilan yan seupeunelna!" lanjutnya memberitahu.
"Spasa!" seru semua mulai ribut karena penasaran.
"Papa Bablo!'
"Wah ... tot pisa?" tanya El Bara tak percaya.
"Pa'a Yuyut pandhil Papa Bablo nanat sisilan?" lanjutnya.
"Butan ... pati Papa beuldili yan pilan!' jawab Ari yang heboh.
"Badhaipana pilanna?" tanya Fatih.
"Tatana beudhini ...," Ari tampak berpikir untuk mengingat perkataan Pablo barusan.
"Peuma wowan pilan atuh nanat sisilan. Dithu!" lanjutnya semangat.
Terra kesal bukan main. Ia menatap Bart. Pria itu bersembunyi dibalik Herman. Terra sampai berdecak melihatnya.
"Ayah!" rengeknya.
"Aku kenapa?" tanya Herman bingung.
Jika dilihat, ada tiga kubu tengah beradegan Pablo dengan masa lalunya bersama Fabio, para orang tua yang mengamati perusuh junior berdiskusi dan para remaja yang tengah sibuk akan membuka usaha baru.
"Kafe bayi mau buka cabang lagi?" tanya Kean kagum.
"Malah ada yang minta kerjasama dalam bentuk merchandise Kak!" sahut Dewa antusias.
"Beruntung Adiba kemarin mendaftar usahanya sebagai kekayaan intelektual ya. Kalau tidak pasti banyak usaha yang sama dengannya," puji Satrio memandang Adiba penuh makna.
Kean mengangguk setuju. Tak ada yang salah arti pandangan Satrio pada Adiba. Mengingat semua remaja sama polosnya.
Bersambung.
Ah ... begitulah.
__ADS_1
barakallah fii umrik Duo Bara! tambah usil ya! ðŸ¤ðŸ¤
Next?