
Ulang tahun Kean dan Calvin terus masih berlangsung seru. Mereka menaiki berbagai wahana bahkan ke wahana jurasik park di mana ada dinosaurus buatan.
"Wuaaahh ... Mama ipu pa'a?!" pekik Arsyad.
"Itu namanya axilosaurus Baby," jawab Lidya pada bayi tampan itu.
Jangan salah, anak-anak ikut pada orang tua yang mereka kehendaki. Seperti Sky dan Bomesh yang tak pernah lepas dari Safitri bahkan baby Izzat harus rela diungsikan pada ibu mereka. Gisel dan Budiman sibuk menciumi bayi tampan itu. Sedang Aaima dan Fatih ada bersama Herman dan Khasya. Gio dan Aini menggendong Fael dan Angel, keduanya diculik oleh pasangan itu. Maria dan Gomesh memangku El Bara dan Al Bara juga Bariana.
Wraaakkkhh! Bunyi burung berukuran besar melintas dan membuat kaget seluruh bayi. Sky nyaris melempar burung mainan itu dengan kaleng soda jika saja. Safitri tak menahannya.
"Bikin kaget Uma!" sahut nya kesal.
Akhirnya mengitari jurasix park selesai. Mereka semua turun dan kini di akhir wahana yakni rumah hantu. Para remaja tentu langsung masuk rumah tersebut diikuti oleh Arsyad dan lainnya. Sedang para perusuh dilarang karena tinggi mereka belum sampai.
"Janan displimisasi don!" protes Harun berkacak pinggang.
Bayi itu memarahi petugas yang melarang karena tingginya kurang dari 105cm.
"Ini bukan diskriminasi Dik, tapi peraturan yang harus diikuti oleh semua pengunjung di sini!" jelas pria itu ramah.
"Ah ... pilan aja tamuh peman bispimisasi!" gerutu Harun.
Terra menggendong bayi tampan itu dan mencium gemas. Para orang tua menunggu para remaja. Semua bayi sudah tidur, adik-adik Azizah sudah kelelahan mereka duduk dengan lemas. Rion membelikan semuanya es krim.
Akhirnya para remaja selesai mencoba semua wahana. Mereka pun pulang kali ini semua pergi ke mansion Bram. Semua anak-anak langsung turun dan masuk ke kamar mereka masing-masing kecuali adik-adiknya Azizah. Kanya mengantar mereka ke sebuah paviliun di sisi barat, mereka langsung masuk kamar dan tidur di kasur.
"Sayang," panggil Rion.
Pemuda itu memeluk istrinya erat. Memang bayang-bayang kekerasan memang sudah hilang sebagian tapi jika diingatkan seperti badut tadi kekejaman mendiang ibunya selintas terbayang.
"Mas Baby, tenanglah sayang," ujar Azizah menenangkan sang suami.
Wanita itu mengecup pucuk kepala Rion. Pemuda itu langsung merasakan kenyamanan. Wajahnya menengadah lalu ia memonyongkan bibirnya. Azizah mengecup cepat bibir sang suami.
"Terima kasih sayang,," ujar Rion begitu bahagia.
"Sama-sama sayang," sahut wanita itu.
Sementara itu Lidya termenung menatap kupu-kupu yang terbang di antara bunga-bunga di luar jendela. Dua putra kembarnya sudah tidur dalam boks mereka. Demian mendatangi sang istri.
"Sayang ... ada aku di sini. Jangan takut," ujarnya. "Ingat kau telah menikahi badut."
__ADS_1
Lidya merengek, lalu memeluk sang suami, meletakan kepalanya di dada Demian. Dengan penuh kasih sayang, pria itu mengecup pelipis sang istri.
"Aku mencintaimu, sepenuh hatiku. Jangan ingat lagi kekejaman itu sayang. Aku sungguh sakit melihatnya,"
Lidya memeluk erat suaminya. Sungguh ia ingin melupakan kejadian yang penuh dengan ketakutan itu. Betapa masih terekam jelas di ingatannya bagaimana Firsha menyeret Darren dan memukuli bahkan menendang tubuh kecil kakaknya itu. Tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menahan tangisnya.
Perut yang lapar karena belum makan bahkan Rion yang baru lahir dua minggu nyaris tewas karena tidak disusui jika mendiang ayahnya tak datang dan membelikan susu.
"Jika Ayah pergi lagi. Kak Darren sembunyi-sembunyi memberi susu untuk Baby agar tak membuat Tante marah," Lidya berkisah kembali.
"Sayang ... tolong jangan katakan lagi," pinta Demian ikut gemetaran.
"Baby masih merah waktu itu. Kak Darren sampai takut menyentuhnya," lanjut Lidya .
"Sayang,"
"Maafkan Iya, sayang. Iya masih mengingat jelas semuanya," cicitnya lirih.
Wanita itu menangis, ia menumpahkan semua di dada yang suami. Sementara itu Virgou, Bart dan Herman termenung di ruang tamu. Terra sedih melihat ketiga pria kesayangannya terpuruk seperti itu. Padahal tadi baik-baik saja.
"Ayah, Grandpa, Kak!" panggilnya dengan suara bergetar.
"Jangan seperti ini ..." lanjutnya meminta.
"Ayah, Daddy, Grandpa!" pekik Nai tak suka.
"Kalian kenapa sih ... hiks ... hiks!"
Herman menarik gadis itu dan memeluknya. Ia meminta maaf.
"Ayah minta maaf Baby. Dulu Ayah begitu kejam pada ibumu," ujar pria itu penuh penyesalan.
"Ayah ... hiks ... hiks ... Ayah adalah pria paling baik yang Nai punya ... tolong jangan katakan apa-apa lagi. Itu semua berlalu. Jika tak ada kejadian itu, mungkin kita tak bersatu seperti ini!" cecar gadis itu terisak.
Virgou menghapus air matanya, ia merengkuh tubuh Terra dan memeluknya. Sejuta bahkan semiliran penyesalan dirasakan pria sejuta pesona itu.
"Maafkan aku ... maafkan aku ... sungguh ... tolong maafkan aku," pintanya lirih.
"Kakak ... hiks ... hiks ... Te ... sudah maafin Kakak. Kakak adalah yang terbaik!" ujar Terra tergugu.
Haidar, Bram dan lainnya hanya bisa diam dan menghapus air matanya. David dan Seruni tampak saling berpelukan begitu juga Budiman dan Gisel.
__ADS_1
"Aku lah yang paling bersalah di sini," ujar Bart.
"Grandpa ...," sahut semuanya sedih.
"Andai aku tak jahat pada Virgou ...."
"Grandpa ...," pria beriris sama dengannya memeluk Bart.
"Tolong hentikan semua ini!" sentak Kanya kesal bukan main.
"Sudah hentikan semua ini. Kisah masa lalu jadi pelajaran bagi kita. Ada hikmah dibalik semuanya!" lanjutnya lalu menyeka air mata yang mengalir.
"Benar kata Baby Nai. Kita berkumpul di sini karena kejadian masa lalu itu. Tuhan sudah menggariskan seperti itu, kita tak bisa mengubahnya lagi!"
Semua menghapus cairan yang keluar dari mata dan hidung. Bahkan Herman hendak mengelap ingusnya di baju Bart, hingga membuat pria gaek itu memarahinya.
"Jangan jorok ... anak sialan!"
"Ayah jorok ih!" dumal Terra kesal.
"Terus ingus Ayah dilap di mana?" tanya pria itu terkikik geli.
"Sini Ayah!" Virgou mengambil tissue dan mengelap jemari dan hidung pria itu tanpa jijik sama sekali.
"Ah ... kau memang putraku yang terbaik!" puji Herman.
"Tentu saja!" sahut Virgou pongah pada yang lain.
Haidar, Budiman dan David berdecih pada pria sejuta pesona itu. Nai terkekeh melihatnya. Ia sangat yakin hari-hari pasti dilewatinya seperti ini. Lalu tiba-tiba matanya bersibobrok dengan mata kelam yang memandangnya. Hati Nai tiba-tiba berdesir hebat.
"Uuhh!" ringisnya pelan sambil mengelus dadanya.
Herman melihat itu semua, mukanya langsung merah padam dan menatap horor sosok yang menatap anak gadisnya.
Langit langsung terkejut melihat tatapan super tajam dari pria yang paling ditakuti oleh seluruh pengawal itu.
"Ah ... Ayah," rengek Nai sangat pelan.
bersambung.
Yang sabar ya Nai ... Eh ada air mata.
__ADS_1
next?