SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KETEMU!


__ADS_3

Rion pergi ke sebuah penyewaan bus. Banyaknya adik yang harus diangkut membuat pria itu menyewa satu bus ukuran sedang untuk penunjang pergerakan mereka.


"Bisa dibantu Pak?" tanya management bus.


"Saya mau sewa untuk satu hari ini bisa Pak?" tanya Rion.


"Kebetulan sih ada bus, tapi kelas ekonomi jadi nggak ada AC nya," jawab pria itu ketika melihat buku list kendaraan.


"Boleh deh. Sama supir berapa Pak?"


"Satu hari dua puluh empat jam Rp, 2 juta aja Pak" ujar pria itu menjawab.


Rion langsung mengeluarkan uang kas. Pria yang sebentar lagi mau jadi ayah sudah melakukan tarik tunai sebelum kabur dari rumah Terra, ibunya.


"Untung Mas Baby tadi udah ambil uang ya Mas," ujar Azizah menggandeng suaminya.


Rion mengangguk. Jika saja ia mengambil kartu dan menggeseknya. Bukan hal sulit ditemukan semua orang tuanya.


Sementara itu di tempat lain, Herman marah-marah pada dua pria yang berbelanja.


"Anak belum ketemu!" teriaknya.


"Ayah ... beli baju ini dulu buat Babies cewek ... lucu-lucu!" sahut Haidar tak mau kalah.


"Iya ayah, ini lucu tau. Dipakai sama Fael," ujar Budiman memperlihatkan setelan baju bayi usia satu tahunan.


"Kita cari Babies dulu ya sayang. Baru nanti kita pikirin beli baju buat mereka, oteh!"


Herman lalu menarik dua pria itu. Terra hanya mengikuti saja, begitu juga yang lain.


"Tuan, kami melihat pergerakan Tuan Baby ke sebuah penyewaan bus dua belas menit lalu!' lapor Dahlan.


"Kenapa nggak bergerak cepat!" teriak Virgou kesal.


"Harus lapor dulu gitu?" desis Herman mencibir kinerja Dahlan.


Pria itu hanya menunduk. Ia hanya melaporkan temuan semua pengawal yang disebar di seluruh ibukota. Beberapa orang berpakaian serba hitam membuat semua orang ketakutan.


"Maaf, kalian sedang apa ya?" tanya salah satu petugas polisi yang mendapati dua orang berpakaian hitam-hitam tengah mengintai beberapa tempat.


"Ah ... maaf Pak. Kami hanya mencari anak-anak yang kabur dari pengawasan kami!" jawab Joko salah satu pengawal SavedLived.


Dua pria itu langsung bergerak ketika tim mereka mengatakan jika telah menemukan pergerakan tuan muda mereka. Polisi hanya diam saja tak melakukan apa-apa, selama masih aman dan kondusif.


"Nggak apa-apa kek gini. Biar nggak banyak kriminal. Ini copet juga mikir dua kali kalo mau beraksi," monolog polisi.


Suasana yang tegang berangsur membaik setelah pria-pria tampan dengan tubuh tegap dan berotot bergerak ke satu tempat.


"Ish ... cakep amat itu!" pekik salah satu kaum hawa.

__ADS_1


Rio kembali mencari anak-anak setelah menemukan Darren dan Saf. Pria itu kembali mengandalkan instingnya untuk menemukan semua anak-anak.


"Ketua. Kita ke taman rekreasi pantai di pesisir kota!" tiba-tiba Langit memberi saran.


"Di sana ada karnaval besar yang mempertontonkan kecanggihan teknologi!" lanjutnya.


'Hmmm ... bisa kita coba!' sahut Rio.


Langit, Reno dan Rio bergerak. Ketiganya menggunakan sepeda motor agar pergerakan mereka lebih cepat. Dugaan Langit benar. Sky ingin melihat karnaval yang mempertontonkan kecanggihan teknologi.


"Wah ... tempatnya keren banget!" puji Sky yang bergandengan dengan Bomesh dan Arfhan, diapit Billy dan Bastian.


"Mama Baby, ada perlombaan pecahkan kode!' seru Sean menunjuk satu pengumuman di papan. Azizah melihat dan membaca itu, ia menoleh pada Rion, suaminya.


"Ayo sayang. Aku juga mau ikut," ajak Rion.


Semua anak juga bergerak. Para bayi tenang, mereka kenyang dan tertidur dalam gendongan kakak-kakak mereka.


"Dibalik aja Baby gendongnya Kak!" saran Azlan.


Sean, Kean, Al, Satrio juga Rion membalik tubuh para bayi agar kepala mereka bersandar pada dada sang kakak.


"Mereka harus makan dua jam lagi. Selesaikan misi ini dalam hitungan menit!" perintah Rion.


Semua duduk berjejer. Azlan baru kali ini memegang komputer dan ikut kompetisi, begitu juga Arfhan, Radit dan Ditya. Sedang Billy, Bastian, Sky, Bomesh dan lainnya bukan hal baru tentang retas meretas situs.


"Kak kali Azlan nggak bisa nggak apa-apa kan?" ujar Azlan yang mulai berlaga di layar komputer.


Azlan, Ditya, Radit dan Arfhan membuat akun dadakan. Semua bergerak sangat cepat. Gerakan tangan mereka begitu cepat begitu juga mata yang harus jeli.


Tak! Ah! Pekik Azlan kesal. Bocah itu tertangkap cyber penjaga, akunnya terbakar. Ia sampai pada level empat.


"Ih ... kalah!" keluhnya.


"Nggak apa-apa Baby. Kamu hebat, padahal kamu baru tau itu kan?"


Tak lama keluhan juga keluar dari mulut Bastian. Ia salah gerak hingga terkepung.


"Kakak ... pokoknya bakar penjaga itu!" sungut remaja tanggung itu kesal.


"Sabar Baby," ujar Azizah menenangkan.


Lalu keluhan keluar dari mulut, Ditya, Radit dan Arfhan. Mereka sampai di level yang sama yaitu level lima.


"Ih ... kok bisa ketauan di situ!" gerutu Ditya.


"Sabar sayang. Kamu sudah hebat!" seru Kean yang terus bergerak mencari celah.


Sean, Al, Satrio, Kean, Rion, Azizah, Sky dan Bomesh masih berjalan, karena Billy juga hangus di level enam.

__ADS_1


Blam! Lampu seluruh studio kedap-kedip. Beberapa layar komputer error. Rion, Kean, Azizah, Al, Sean, Satrio, Sky dan Bomesh berhasil membakar semua kubu dan level yang dilalui hanya dalam lima belas menit.


"Horeee!' pekik Bomesh senang.


"Ehek!" rengek Bariana yang ada digendongan Rion.


"Ssshhh ... sssshhhh!' Rion menenangkan Bariana.


Balita itu memang paling besar di antara semua bayi. Makanya Rion yang menggendongnya. Satrio bertugas membawa perlengkapan bayi.


Mereka tak sadar jika semua area orang-orangnya berubah. Rion dan Azizah tersenyum lebar karena berhasil memenangkan misi.


"Kita ambil hadiahnya!' ajak Kean dengan senyum lebar.


"Dapat berapa tadi!" tanya Rion.


"Dapat medali sama uang lima jutaan keknya," ujar Kean mencoba mengingat.


"Lumayan buat uang kabur," ujar Azlan.


"Memang kalian mau kabur kemana lagi?" sebuah suara mendadak membuat semua anak terdiam.


Rion dan Azizah cengengesan. Virgou dan lainnya sudah ada di sana. Mereka hanya bisa menghela napas panjang.


"Padahal kalian bisa bilang loh. Nggak perlu kabur," ujar Terra.


"Masa Ma? Emang kita dibolehin?" tanya Azlan begit menyinggung wanita itu.


"Nggak bakalan boleh," sahut Al memutar mata malas.


"Babies!" tegur Haidar.


Semua anak pulang. Hadiah dan medali mereka dapatkan dari hasil kabur mereka. Bart dan Bram melipat tangan di dada melihat kelakuan semua keturunannya.


"Papa Azlan tadi retas poin hanya sampai level tiga loh!" lapornya ada kebanggaan di sana.


Bart tentu bahagia mendengarnya. Salah satu anak angkatnya itu belum pernah merambah dunia retas meretas cyber.


"Alsh wuwala patu Puyut!' aku bayi bossy itu.


"Oh ya Baby?" tanya Gabe gemas dengan bayinya itu.


"Biya ... na Apah papih!" tunjuknya pada Rion.


"Iya Baby ... memang kamu paling hebat!" jawab Rion yang dipanggil Arsh.


Bersambung.


Ah ... akhirnya tak umpet mereka berakhir deh.

__ADS_1


Next?


__ADS_2