
Langit menatap istrinya yang sedang memasak. Sudah mau satu tahun mereka menikah. Nai mengenakan jilbab instan. Pria itu pun memeluk istrinya dari belakang lalu memberi kecupan di pipi.
"Pagi sayang," sapanya.
"Pagi juga," sahut Nai lalu mengelus pipi sang suami.
"Tumben masak?" tanya Langit.
'Babies minta bawain tumis jagung, brokoli dan ayam potong. Jadi dibuatin deh," jawab Nai..
Masakan sudah jadi. Andoro dan Luisa turun. Perut Luisa juga sudah makin terlihat. Nai mengecupnya.
"Ma, maaf ya. Aku gagal program hamil," ujar Nai lirih.
"Nggak apa-apa sayang. Mama juga akan repot jika kamu hamil terus Mama juga sedang hamil," sahut Luisa memaklumi..
"Lagi pula kamu baru sembilan belas mau dua puluh..Masih muda, tapi jangan lama-lama ya!' tekan Luisa melanjutkan.
"Iya Ma," angguk Nai.
Mereka pun pergi ke rumah Terra. Di sana sudah banyak keluarga berkumpul. Hanya saja anak-anak Bart dan adik-adik Azizah tidak, kecuali Aminah dan Ari karena mereka belum bersekolah.
"Loh yang lain mana Ma?" tanya Nai setelah memberi salam.
"Mereka di sekolah merayakan maulid nabi," jawab Bart.
"Ata' pawa pa'a?" tanya Arsyad.
"Bawa tumis jagung baby," jawab Nai.
"Mama lapan Ma!' teriak Arsyad.
"Alsh uga papal!" sahut Arsh ikut-ikutan.
Masalah makanan, jangan tanya anak-anak suka apa. Mereka pemakan segala, semua masuk perut tanpa pilih-pilih. Selama ibu mereka yang memasak.
Sayur buatan Nai habis. Haidar tak mau ketinggalan dengan masakan putrinya itu.
"Enak sayang!' pujinya.
'Makasih Pa!' Nai tentu merona dipuji sang ayah.
"Assalamualaikum!' Herman datang. Semua membalas salam pria itu.
Herman melihat sisa masakan Nai. Pria itu berdecak kecewa.
"Ayah nggak disisain?"
"Ayah kapan mau sayur?" tanya Arimbi tentu menyindir ayahnya.
"Iya, Ayah sejak kapan suka sayur?" tanya Khasya.
Herman tak dapat berkelit. Pria itu memang paling tidak suka makan sayur.
__ADS_1
"Kek kambing aja makan sayur!" dumalnya ketika ada hidangan sayur di atas meja makan..
'Tate Heyan ... sayun ipu seshat puat padan pita!" ujar Aaima memberi nasihat.
"Tate eundat suta sayun?" tanya El Bara.
"Teunapa?" lanjutnya.
"Tata Tate tayat pambin matan dawun," sahut Arion.
"Mbee!' Arsh tiba-tiba meniru suara binatang yang disebut Arion.
"Tebo pama peulpau judha matan sayun!' sahut Aisya.
"Mooo!" kini Fatih yang meniru suara hewan berkaki empat itu.
"Pa, kita ke acara adik-adik sih!" ajak Gabriella.
"Iya Nak," sahut Gabe.
Usai sarapan semua masuk bus yang disediakan Keluarga besar itu pun mendatangi pondok pesantren di mana Adiba dan adik-adiknya menimba ilmu.
Tentu saja tempat itu sudah dijaga ketat oleh seluruh pengawal. Ketua yayasan setuju, walau dengan syarat tertentu.
Kepala sekolah adalah kembar. Salmah dan Aisyah, seorang pendidik lulusan salah satu universitas terkemuka di Mekah. Keduanya adalah seorang hafidzah. Cantik dan kaya raya, selain pondok pesantren yang dibangun oleh mendiang kakek mereka. Keduanya memiliki usaha masing-masing di bidang restoran khas timur tengah dan travel perjalanan umrah.
Rombongan keluarga Azizah pun datang memenuhi aula. Semua berparas rupawan. Banyak anak gadis menatap penuh pemujaan pada Kean, Sean, Al, Calvin, Daud, Satrio, Dimas, Affhan, Dewa,Rasya, Rasyid, Raffhan, Bastian, Billy dan Setya.
"Ih ... Allah ciptain mereka spesial banget ya!" riuh para gadis memuji ketampanan para remaja laki-laki.
Arimbi, Naisya, Maisya, Kaila, Dewi, Zheinra, Gabriela, Martha juga tak luput dari mata para anak laki-laki. Hal ini tentu membuat Langit dan Reno langsung menggandeng istri mereka. Tinggal Maisya, Dewi, Kaila dan Zheinra yang masih single.
"Mashaallah cantiknya!" puji salah satu santri.
Mereka duduk di bangku paling depan. Tidak ada pemisahan, semua sama rata. Hanya saja keluarga dari Adiba jauh lebih mencolok dari semuanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" seru pembawa acara memulai.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas semua hadirin yang hadir.
"Pertama-tama kita panjatkan kehadiran Allah ...."
Pembawa acara pun mengurai beberapa poin penting. Sambutan demi sambutan pun berlangsung. Hingga Bart didaulat untuk memberikan kata sambutan karena pria gaek itu memiliki banyak anak yang bersekolah di tempat itu.
Bart Sidiq Dougher Young, memakai baju koko warna coklat tanah. Pria beriris biru itu juga mengenakan peci. Sangat nyentrik terlebih rambutnya yang keemasan begitu berkilau. Bart masih tampan di usia sembilan puluh limanya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" ujarnya membuka salam.
Semua menyahuti, semua perusuh heboh. Arsh paling sibuk melihat buyutnya ada di panggung.
Semua orang menoleh pada keluarga itu. Ada yang tersenyum lebar, ada juga yang mengernyit bingung.
"Kampungan amat sih!" umpat pelan salah satu hadirin yang tentu saja tidak didengar siapapun.
__ADS_1
"Terima kasih Ibu kepala sekolah dan ketua yayasan tempat di mana anak-anak saya menimba ilmu. Saya hanya ingin menekankan agar semua pendidik untuk lebih cermat dalam menyikapi suatu kejadian!" ujar Bart langsung melayangkan sebuah argumen.
Pria itu tentu sangat ingat dengan kejadian yang dialami Deta, salah satu putranya. Pihak pesantren telah mengajukan permintaan maaf.
"Saya memang tidak ingin mengungkit. Tapi untuk kedepannya, saya mohon semua pihak harus bergantung jawab atas semua kegiatan atau kelakuan anak didik mereka!" lanjutnya begitu berapi-api.
Pria itu pun duduk setelah mengungkapkan keresahannya. Berita buruk tentang pesantren tengah santer berseliweran di layar televisi. Bart tentu tidak mau semua anaknya kenapa-kenapa. Walau mereka pulang hari, tetapi semua tentu harus dicegah sedini mungkin.
"Baiklah, untuk sambutan terakhir diberikan oleh ketua yayasan, Ustadzah Salmah dan Ustadzah Aisyah!" seru pembawa acara.
Dua wanita cantik berhijab itu naik ke atas panggung sambil bergandengan tangan. Fabio dan Pablo yang turut serta begitu terpana.
"Ayah, mereka kepala sekolah di sini?" bisik Pablo pada Herman.
"Iya, Ustadzah Salmah adalah kakak kembar dari Ustadzah Aisyah," jawab Herman juga berbisik.
"Ustadzah?"
"Iya, panggilan pada guru. Mereka berdua sudah Professor loh," bisik Herman lagi menjawab.
Pablo terdiam, pria berusia sama dengan Gomesh itu memupus diri. Sesuatu yang sangat tinggi jika ia memaksa malah membuatnya jatuh tak ada arti.
"Kita tak sebanding Bro," bisiknya pada Fabio.
"Apa ... aku kenapa?" tanya Fabio pura-pura tidak tau menahu.
"Oh ... ayolah. Jangan bilang aku kembaranmu walau aku bukan darah dagingmu!" sungut Pablo menatap malas rekan kerja di sebelahnya.
"Ck, kau tidak lihat gelar pendidikan di belakang juga di depan nama mereka?" sungut Fabio menimpali tentu dengan berbisik.
"Kita sekolah saja tidak!" lanjutnya sesal.
"Kita Strata satu Fab. Jika kau lupa!" ujar Pablo mengingatkan.
"Ya nggak sebanding lah!" sahut Fabio.
"Ssshhh! Jangan berisik!" peringat Bart yang terganggu dengan bisikan kedua pria jomblo itu.
Fabio dan Pablo hanya bisa menatap pasrah. Mata kedua pria itu bersibobrok dengan mata dua wanita kembar yang masih gadis itu.
"Kak, mereka siapa?" bisik Aisyah.
Keduanya hendak turun, tetapi tatapan Aisyah tak lepas dari sosok tampan yang juga menatapnya.
"Turunkan pandanganmu Dek," bisik Salmah memperingati.
Aisyah menunduk, seketika jantungnya berdetak sangat cepat. Netranya kembali melirik sepasang netra hijau di sana.
Bersambung.
Eh ... ada cinta bersemi kah?
next?
__ADS_1