
Semua anak bermain. Kean melayani semua perusuh junior. Ryo yang paling sering mengerjai pemuda itu.
"Apah Ean ... atuh mimih ucu!' entah apa yang dikatakan bayi mau satu tahun itu.
"Kamu ngomong apa sih Baby?" tanya Kean.
"Au ucu sasa opeleli!" angguk Ryo.
"Minta mama sana!" suruh Kean.
"Amah ... amah!" pekik Ryo yang diikuti saudaranya yang seumuran.
"Au ucu asa lelepeli!' pinta Ryo pada Azizah.
"Nek!" panggil Azizah pada Terra.
Terra cemberut mendengar panggilan itu. Wanita itu memberikan susu kemasan yang diinginkan cucunya. Azizah memang usil menggoda mertua yang mestinya kakak ipar itu.
"Mama mestinya sadar kalau akan punya cucu," ujar Arimbi mengelus perutnya yang masih rata.
"Dari Nai juga!" semua menoleh pada Nai.
"Ini Nai periksa testpack hasilnya garis dua!"
"Alhamdulillah!" seru Langit lalu mencium istrinya.
Andoro dan Luisa tentu senang mendengarnya. Bram dan Kanya terharu sedang Haidar dan Terra masih shock.
"Papa sama Mama akan jadi kakek beneran!" seru Darren bertepuk tangan.
Kericuhan pada orang dewasa membuat kening para perusuh junior berkerut.
"Beumana sejat tapan lada ate pohonan?" tanya Arsyad bingung.
"Pa'a pita sucu polonan judha?" tanya Maryam menunjuk pada dirinya sendiri.
"Imih pidat pisa bipial tan!" lanjutnya.
Dengan begitu berani bayi itu mendatangi semua orang dewasa yang riuh karena berita kehamilan Naima.
"Atuh pidandap pa'a?" tanyanya pada semua pria dewasa.
"Baby?" Rion mengerutkan keningnya.
"Padhi Apah Palem pilan talo Tate Daldal atan sadhi Tate peunelan!' ujar Arsyad gusar.
"Pa'a lelama imih Tate Daldal sadhi Tate pohonan?" lanjutnya bertanya.
Semua menganga, bukan itu maksud semua orang dewasa. Tetapi, semua bayi merasa mereka memiliki ibu, ayah, kakek, nenek yang banyak.
"Baby sini Nak!' panggil Gio.
Darren langsung menggendong Arsyad. Dua adik cantiknya sedang asik minum susu.
"Bukan begitu sayang. Nanti kalau kamu sudah besar baru mengerti maksud Abah," jelas Darren.
Pria itu menciumi wajah tampan Arsyad. Para orang tua memang harus hati-hati jika berbicara karena ada anak-anak di bawah umur yang mendengarkan ucapan mereka.
Setelah ucapan malam pertama kemarin viral pada perusuh. Semua orang tua memilih berbicara ketika anak-anak bayi tidur.
"Bahaya jika mereka masih terjaga. Anak-anak itu sangat ingin tau dan kita tak mau merusak pikiran mereka," ujar Andoro.
Akhirnya semua bayi diminta tidur siang. Sebagian memang hanya puasa setengah hari sedang yang lain belum wajib berpuasa.
Satrio masih di sana, sedang Adiba sudah pergi ke kamarnya untuk tidur siang. Kebiasaan yang tak bisa dilepas.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanya Demian sangat penasaran pada pengantin baru itu.
"Papa ih!" tegur Lidya.
"Ini sudah tiga hari dia menikah sayang. Masa masih belum keramas!" sungut Demian begitu menyebalkan.
"Kan ada hairdryer, Pa!' sahut Lidya kesal.
"Ah ... udah. Katakan apa kau berhasil mencetak bibit?" desak Demian.
Satrio menghela napas. Semua mata menatapnya penuh tuntutan terlebih dari sang ayah. Herman juga begitu penasaran kenapa putranya belum melakukan hal yang enak itu.
"Kamu nggak bengkok kan?!" tanya Jac yang membuat Herman melotot.
"Jaga bicaramu Jac!"
"Maaf yah!"
Demian menyenggol pria bawahannya itu. Ia juga kesal dengan pertanyaan Jac.
"Kemarin malam udah nyoba ...."
Semua langsung menatap Satrio yang membuka suaranya. Tatapan menuntut langsung tertuju pada pemuda itu.
"Trio mau cium bibir ...."
"Ck kau lama sekali!" dumal Virgou protes.
"Daddy!" rengek Satrio.
"Trio cuma bisa nempelin bibir Trio ke bibir Adiba," lanjutnya sangat lirih.
Telinga semua orang dewasa tentu sangat tajam. Tak salah dari mana sifat menguping para bayi itu berasal.
Satrio menunduk, ia memang telah mencium bibir Adiba tapi hanya sekedar menempelkan bibir. Keduanya tak tau harus apa yang dilakukan. Bahkan pelukan mereka jadi hambar.
"Anak bodoh!" dengkus Bart kesal.
"Grandpa!' seru Terra kesal.
"Kau itu mafia nak! Apa kau tidak menonton film biru?" tanyanya sampai berteriak.
Kean, Calvin, Sean, Al dan Daud menatap polos pria paling tua di sana, begitu juga Satrio.
"Apa bagusnya?" celetuk Kean.
"Menonton film yang hanya berwarna biru?" tanyanya lagi benar-benar polos.
Bart menghela napas besar. Kanya tersenyum, semua cucunya adalah CEO terkemuka. Didikan dan penjagaan ketat membuat semua perusuh angkatan pertama itu memang jauh dari kontaminasi mesum.
"Kau berpikir dari mana bayi berasal Kean?' tanya Remario penasaran.
"Entah ... mungkin menanam bibit di perut Mommy," jawab Kean.
"Bibit dari mana?" Remario benar-benar gemas.
Kean dijuluki The Son Of The BlackAngel ini memang super polos.
'Daddy mencabut bulu ditubuhnya dan memasukan dalam minuman atau makanan yang Mommy makan,"
Jawaban Kean membuat semua orang ternganga lebar kecuali, Sean, Al, dan Calvin. Bahkan Daud yang dokter juga mengangguk setuju.
Satrio benar-benar buta. Virgou meminta semua yang belum menikah untuk naik tidur.
"Ini pembicaraan orang dewasa yang sudah menikah!" tekannya ketika diprotes Kean, putranya.
__ADS_1
Setelah semua perusuh angkatan pertama itu naik ke atas dan tidur. Virgou mencari situs di ponsel miliknya. Satu adegan syur terlihat.
"Mereka ngapai Daddy?" tanya Satrio membola.
"Itu cara ciuman!" jawab Virgou.
Satrio benar-benar menonton sampai habis film panas itu. Tubuhnya berkeringat, terdengar napas besar keluar dari mulut pemuda itu.
"Sana ... kau batalkan puasamu jika tak sanggup menahan birahi!" suruh Virgou.
"Padahal tinggal bentar lagi. Ntar aja!" sahut Rion dengan seringai jahil.
"Kalo kamu batalin puasa. Bayarnya harus bebasin budak loh!' lanjutnya.
"Atau kasih makan seribu anak yatim!" lanjutnya.
"Papi yang bayarin!" sahut David.
"Mana boleh!" seru Rion.
"Baby!" peringat Khasya gemas.
Rion terkikik geli karena dikelitiki Luisa. Wanita itu juga gemas dengan keusilan Rion.
"Sudah ... tunggu nanti malam saja!' ujar Herman.
"Ah ...ayah!' keluh semua pria di sana.
"Eh ... apa-apaan kalian?!" sengit Herman kesal.
Satrio memilih menurut pada sang ayah. Walau diiringi decak kecewa para kakak dan papanya di sana.
Sore menjelang, semua menanti buka puasa bersama. Mereka antusias dengan hidangan yang disajikan.
"Paypi amuh sasih wuwasa?" tanya Zaa pada Alia.
"Asih Titi Paypi!" angguk Alia yang baru saja meminum air sirup di depannya.
"Tot binum?" tanya Zaa.
Alia memang lebih tua satu tahun dari Zaa. Tapi kedudukan Zaa lebih tinggi dari Alia. Maka Zaa memanggil Alia baby.
"Eundat basut peyut tinti suma pasahin pipil laja!' jawab Alia santai.
"Pemana eundat bantal buasana?" tanya Arsh.
"Tan yan peuntin eundat basut peyut!' ujar Alia bersikukuh.
Semua pun melakukan hal yang sama menempelkan air di bibir mereka.
"Paypi El .. teunapa balah pipabisin ail na?" tanya Aarav.
"Eundat seunaja Pom teusil!' jawab El Bara santai.
Akhirnya semua buka puasa. Usai berbuka dengan yang manis mereka melanjutkan sholat Maghrib.
Satrio menarik Adiba ke taman. Ia langsung mempraktekkan ciuman yang benar.
"Mumih ... Patlet Pastlio matan bibiy na Ata' Piba!" adu Maryam yang menonton siaran langsung itu.
Bersambung.
Lah?
next?
__ADS_1