SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
MEMAAFKAN ITU ADALAH KEBAHAGIAAN


__ADS_3

Khasya tersenyum. Dinar masuk ke mobil, lambaian tangan sepasang suami-istri dengan senyum bahagia mengiringi kepergian mereka.


Khasya duduk bersama Dinar.


"Kau hebat sayang," perempuan itu.


Dinar hanya tersenyum. Kini hatinya terasa lega. Bebannya terasa hilang. Ia menatap pria yang ada di depannya. Sosok mata biru memandangnya melalui spion tengah dan tersenyum manis.


"Papa dan ibumu tak mau tinggal bersamamu kenapa?" tanya Herman.


"Beliau bilang, rumah itu adalah harta satu-satunya inventaris perusahaan, ayah. Mereka enggan meninggalkan rumah itu," jawab Dinar.


Herman mengangguk. Ia lega kedua orang tua anak angkatnya tak memberatkan Dinar sesuai janjinya. Pria itu masih penasaran dengan perusahaan yang dibangun oleh Hardi.


'Kenapa bisa bangkrut ya?' tanyanya dalam hati.


Bisnis yang digeluti oleh Hardi cukup umum yakni perusahaan retail dan properti. Yang tak akan bangkrut jika bukan adanya permainan dan korupsi besar-besaran di dalamnya.


"Hall's properti mencakup pembangunan mansion dan perumahan elit, aku yakin jika ada penyerobotan hak management dan CEO menumbangkan Hardi sebagai pemilik saham tertinggi, aku yakin adanya penipuan di sini!" tekan Herman dalam hati.


Pria itu akan memanggil Hardi ke perusahaannya nanti. Ia akan bicara banyak, ia yakin jika perusahaan milik pria itu akan kembali dan Dinar bisa mengelolanya.


"Ayah bersumpah untuk mengembalikan semua harta yang memang milikmu nak!" tekad pria itu dalam hati.


"Kita ke mana yah?" tanya Dominic membuyarkan lamunan Herman.


"Ke panti ... katanya perusuh datang semua anak di sana mengacau!" jawab Herman.


Khasya dan Dinar terkekeh. Memang Harun dan seluruh saudaranya yang datang pasti membuat panti gempar akan tingkah mereka yang super ajaib.


Tak lama mobil itu sampai di halaman panti dengan tiga bangunan berbeda. Ada Lima mobil berukuran besar terparkir di halaman panti. Aula belakang panti ramai karena semua perusuh mengajak Ajis, Amran, Alim, Ahmad, Lino, Leno, Ditya dan Radit bermain gerobak sodor.


Aminah dipangku Adiba, sedang Lana di sisinya. Lidya menaruh dua bayinya di kereta dorong dan menyaksikan kakak mereka bermain, begitu juga Arsyad dan Aaima. Mereka berteriak heboh.


Kedatangan Herman dan lainnya bersamaan dengan Darren, istri dan tiga bayi kembarnya. Kehamilan Saf sangat tenang. Maria sudah duduk bersama sang suami menyemangati putranya.


"Ayo Babies ... terobos saja!" teriak Gomesh.


"Baby ... halangi Domesh!' teriak Dav.


Azha menangkap Domesh dengan mudah. Gomesh berdecak pada David yang tersenyum meledek padanya.


"Assalamualaikum!" sahut Herman ketika duduk ikut menonton di tribun.


"Wa'alaikumussalam salam!" sahut semuanya.


Terra, Aini, Putri dan Azizah membawa nampan berisi makanan. Haidar dan Demian membawa tempat minum khusus berisi es kelapa muda dan juga timun suri. Rion membawa satu troli sisanya. gelas plastik tersusun rapi begitu juga kertas.


Mereka duduk. Kean dan para remaja lainnya ikut bergabung dengan para perusuh.

__ADS_1


"Nai, sebentar lagi rumah sakitmu dibuka untuk umum, apa semua sudah disiapkan?" tanya Herman.


"Sudah ayah," jawab gadis itu.


"Surat ijinnya memang sudah keluar?" tanya Bart.


"Sudah grandpa," jawab gadis itu lagi.


"Harinya beda satu minggu dengan hari pernikahan Bima, jadi aku bisa mempersiapkan semuanya, apa yang kurang dari rumah sakitmu sayang?" tanya Herman.


"Ruang tunggu khusus anak dan partisi untuk ibu menyusui yang belum ada,"


"Oh ... kira-kira butuh berapa bilik?' tanya Herman.


"Rumah sakit ada empat lantai, Nai butuh partisi atau ruangan khusus ibu menyusui dan mengganti popok bayi di enam titik ruang tunggu. Sedang poli gigi butuh empat dental chair saja, karena yang lainnya bawaan dari dokter gigi itu sendiri ayah," jawab Nai.


Herman mengangguk. Ia akan melengkapi tempat yang diminta oleh anak gadis Terra itu. Arimbi juga baru saja membuat beberapa ruang khusus untuk para ibu yang ingin menyusui dan mengganti popok bayi mereka di tempat yang nyaman dan aman. Arimbi juga menempatkan suster penjaga di tempat itu untuk membantu ibu-ibu.


Dominic duduk di sisi Dinar. Terra menepuk bahu besannya.


"Boleh pinjam bibu sebentar?' pintanya.


Dominic mengangguk dan pindah di sisi Dav. Demian juga ada di sana bersama Jac menyemangati anak-anaknya. Rion jadi pemandu sorak di sana.


"Bibu," panggil Terra yang suka gemas memeluk calon ibu sambung dari menantunya itu.


"Apa Terra," sahut Dinar lembut.


Tubuh tambun gadis itu membuat gemas dirinya. Ia bertemu Dinar setelah meninggalnya Anwiyah, gadis itu sedang mondok di pesantren dekat pantinya.


Usia yang sama membuat Terra dekat walau semua anak angkat Herman jarang muncul di acara keluarga. Tetapi mereka sangat dekat satu dengan lainnya.


"Bibu," Terra mengigit gemas bahu gadis itu.


"Te ... kamu kan nggak jadi kanibal?!" tegur Dinar sambil meringis. Terra terkekeh.


"Makasih ya?" Terra kini mengerutkan keningnya.


"Untuk?"


"Karena kamu mengajari aku bagaimana memaafkan dengan tulus," jawab Dinar.


Terra menatap gadis itu masih belum mengerti.


"Aku bertemu dengan kedua orang tuaku tadi, ayah mengajak kami," jelasnya.


"Apa? jadi Bibu masih punya orang tua?" Dinar mengangguk.


"Lalu?"

__ADS_1


"Ternyata memaafkan membuat hati lapang Terra," sahut Dinar.


Terra tersenyum indah. Ia memeluk gadis bertubuh gempal itu erat. Ia menggoyangkan ke kiri dan ke kanan hingga Dinar protes.


"Terra!" wanita itu terkekeh.


"Awalnya memang berat Dinar, tapi setelah waktu berjalan, keluargaku tiba-tiba bisa satu negara begini!" selorohnya.


Dinar tertawa lirih. Ia menatap keseruan di sana. Bariana yang sangat kesal karena ia kalah terus. Arraya sudah melempar sepatunya entah kemana sambil bersungut. Dua bayi cantik itu kini mengadu pada Virgou.


"Daddy meulta eundat pawu nalah ... hiks!"


Virgou menggaruk kepalanya. Ia memeluk keduanya dan menyuruh Gomesh membeli es krim yang banyak untuk dibagikan pada anak-anak.


"Papa banyakin yang coklat ya!" teriak Kean.


"Oteh!" sahut Gomesh.


"Kakak aus!" teriak Dimas.


Bocah berusia tiga belas tahun itu sudah terengah-engah. Azizah memberinya minum es kelapa muda.


"Aaahh ... segarnya!" ujar Dimas.


"Kak ... jadi kakak ipar ku ya!" pinta Dewi tiba-tiba.


Gadis itu juga sudah Bermandi peluh. Azizah menyeka keringat dengan mengusap tangannya di wajah Dewi.


"Ngomong apa kamu baby!?" tegur Rion.


"Iya ... kak Zizah jadi istri Mas Satrio ... sepertinya seru!" sahut Dimas.


"Ih ... Ama kak Sean aja Kak!" sahut Rasya tak terima.


"Ama kak Kean atau Kak Calvin!" sela Kaila dan Maisya.


"Eh ... Affhan belum boleh nikah ya?" celetuk Affhan.


"Affhan!' pekik Virgou kesal.


"Ata' Lijah pama atuh!" sahut Azha dengan muka garang.


"Hei bayi ... kau harus berhadapan dengan ku!" sahut Satrio menantang Azha.


"Oh ... bawu beulawan atuh ... oteh ... papi ... Bas Pastlio matal!" adu Azha cerdik..


Dav terkikik geli. Hanya Azizah yang menghela napas panjang dengan semua perkataan itu. Sepasang mata hanya menatap kesal pada semua perusuh yang menginginkan Azizah menjadi kakak ipar mereka.


bersambung.

__ADS_1


eh .. sepasang matanya spasa ipu?


next?


__ADS_2