
"Kau butuhkan?" kering Andrea.
Muka pengawal merah padam. Belum pernah ia merasa direndahkan seperti ini.
"Silahkan anda kembali ke rumah anda Nona!" ujarnya mengembalikan kartu identitas berikut uang sogokan.
"Kurang?" tanya Andrea mencibir pengawal itu.
"Nona ... silahkan pergi sebelum saya kasar pada anda!" ancam pengawal itu lagi.
"Oh ... ayolah ... kau pasti belum pernah melihat uang sebanyak ini kan?"
Andrea mengeluarkan sepuluh lembar uang ratusan euro dari dompetnya. Pengawal itu merasa terhina, Rio mengeluarkan dompet dan memperlihatkan kartu hitamnya.
"Anda lihat ini Nona?" ujarnya sombong.
Andrea melotot tak percaya. Seorang pengawal memiliki kartu unlimited yang dirinya saja tak memilikinya.
"Kau pikir uangmu itu sebanyak uang yang ada di kartu ini?" tanya Rio begitu angkuh.
Rio, tiga puluh tujuh tahun, kepala pengawal yang selalu mengikuti kemana saja Rasya dan Rasyid berada bersama tiga rekan lainnya. Pria itu bekerja ketika duo R baru lahir. Enam belas tahun ia mengabdi di keluarga Terra. Pria itu tentu sangat terasah segalanya. Salah satu pengawal yang single di usia matangnya. Pria yang mirip aktor Korea Lee Jong Suk itu memang sangat tampan.
Rio Ranendra Irawan, 37 tahun.
"Silahkan pergi Nona!" usir pria itu lagi.
Andrea kesal bukan main, gadis itu memundurkan mobilnya dan berlalu dari sana. Rio melaporkan hal itu pada ketuanya yang lebih senior yakni Dahlan.
"Laporan diterima Rio. Kembali bertugas!" sahut Dahlan melalui handsfree yang melekat di telinganya.
Reno tengah mengamati BraveSmart ponselnya. Pria itu memindai keadaan sekitar melalui ponsel canggih tersebut.
"Reno!" panggilnya.
"Saya Ketua!" sahut pria itu.
"Ada yang mencarimu di luar sana," ujar Dahlan memberitahu.
"Siapa?" tanya Reno dengan kening berkerut.
"Seorang gadis bernama Andrea," jawaban Dahlan membuat Reno sedikit terkejut..
"Baik Ketua, terima kasih atas pemberitahuannya," ujar pria itu membungkuk hormat.
Reno baru menikah kemarin, tentu saja tak ingin semuanya hancur gara-gara masa lalunya bersama Andrea terbongkar. Pria itu harus memberitahu istrinya tentang masa lalu dirinya.
Reno mendatangi Arimbi di kamarnya. Gadis itu baru saja mengganti pembalut.
"Sayang," panggil pria itu.
"Ya," Arimbi menoleh padanya.
"Duduk lah ... ada yang ingin aku beritahu padamu," ujar pria itu.
__ADS_1
Reno membimbing istrinya duduk di pinggir ranjang. Berkali-kali ia menghela napas, pria itu masih takut mengatakan kebenaran. Netra kelam Arimbi menusuk matanya.
"Apa yang ingin kau beritahukan padaku Kak?" tanya gadis itu penasaran.
"Dulu aku punya pacar dan aku belum putus," jawab Reno menutup matanya.
Pria itu siap dimaki, dihina bahkan pikiran buruk jika sang istri meminta berpisah darinya. Ia akan menyembah Arimbi dan memohon ampun agar tak berpisah.
"Lalu?" tanya Arimbi polos.
"Dia datang ingin cari perkara sayang," jawab Reno begitu jujur dan sangat gamblang.
"Apa mau kita temui dia dan Kakak memutuskan hubungan dengannya?" tawar Arimbi sangat tenang.
"Sayang ... kamu nggak marah?" tanya Reno bingung.
Arimbi menatap netra hazel milik suaminya. Ada percikan ketidaksukaan di sana.
"Sayang ... aku ingin kau marah dan memakiku ... aku menerimanya!" ujar pria itu sungguh-sungguh. "Tapi jangan minta berpisah ... aku lebih baik mati jika berpisah denganmu!"
Arimbi mencium cepat bibir suaminya. Reno sedikit terkejut, pria itu lalu menarik sang istri dan mencium bibir manis yang telah menjadi candunya itu.
"Sayang ... aku memang bukan perempuan yang baik, tapi jika sudah jadi milikku. Aku tak akan memberikannya pada siapapun!" ujar Arimbi setelah melepas pagutannya.
Reno begitu beruntung mendapatkan Arimbi. Setelah empat tahun memperjuangkan cintanya. Reno tentu tidak mau kehilangan Arimbi.
"Kita samperin dia?" ajak Arimbi.
"Biarkan saja. Palingan dia sudah pergi," sahut Reno.
"Sayang," Reno masih enggan.
Arimbi menarik suaminya. Gadis itu menggenggam tangan Reno dan keluar dari kastil. Gomesh menghalangi nonanya.
"Papa Gom ... ba bowu," ujar Arimbi.
"Nona ...."
"Biarkan Gom ... awasi dari jauh!" titah Virgou.
Bukan hal baru jika apa yang terjadi di sekitar mereka banyak yang tau, termasuk kedatangan Andrea. Adanya BraveSmart ponsel membuat semua mudah melacak seseorang.
"Hanya sebentar Papa ... lagian Arimbi bersamaku," ujar Reno meyakinkan Gomesh.
Akhirnya raksasa itu pun membiarkan nona dan suaminya keluar kastil. Gomesh mengikuti mereka sesuai perintah Virgou. Herman membiarkan putrinya menyelesaikan masalah yang sebenarnya bukan masalah besar.
"Yah!" pekik Arsh..
"Hai ... bayi ... kenapa kau teriak-teriak saja dari tadi huh!" Herman gemas dengan bayi bossy itu.
Arsh memang paling dominan dari semua perusuh. Karena usianya yang lebih kecil walau ada perusuh bayi lain yang baru lahir.
Arimbi bersama Reno keluar. Gadis itu mengambil motor milik salah satu pekerja Bart.
"Biar aku yang bawa!" ujar Reno.
__ADS_1
Arimbi menurut, motor itu pun melesat keluar kastil. Benar saja dugaan Arimbi jika mantan pacar suaminya masih berputar di sekitar kawasan elit itu.
"Apa itu dia Kak?" Reno mengangguk, pria itu mengenal mobil milik Andrea.
"Kita dekati!" suruh Arimbi.
Reno menjalankan motor dan mendekati mobil warna pink itu.
"Andrea!" panggilnya.
Gadis itu menoleh, Andrea tentu tersenyum senang. Namun, senyum itu berubah kernyitan di kening Andrea ketika melihat Reno berboncengan dengan wanita berhijab.
Gadis itu turun dari mobilnya. Reno dan Arimbi juga turun dari motor.
"Honey!" pekik Andrea lalu hendak memeluk Reno.
Dengan sigap Arimbi mendorong kuat tubuh Andrea hingga terjatuh ke aspal.
"Aauhh!" pekiknya kesakitan.
"Honey ... She pushed me !" (Sayang dia mendorongku!) rengeknya pada Reno yang menatapnya datar.
"My dear?" cicitnya.
"Enough Miss. Stop calling people's husbands dear!' (Cukup Nona. Hentikan memanggil suami orang dengan sebutan sayang!) bentak Arimbi marah.
"Your hubby?" tanya Andrea.
Gadis itu berdiri tanpa ada yang membantunya. Bahkan Reno menatapnya penuh kebencian..
"Reno ... kau pasti dicuci otaknya oleh dia kan?!" tuduh Andrea dengan mata berkaca-kaca.
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Andrea. Reno sampai meringis mendengarnya.
"Jauhi suamiku!" kecam Arimbi begitu dingin dan menusuk.
"We are enough ... Andrea!" putus Reno tanpa basa-basi.
Kepala Andrea pusing setelah mendapat tamparan dari Arimbi. Gadis itu ditinggalkan begitu saja oleh pasangan suami istri itu.
"Reno!" pekik Andrea.
Gadis itu menangis pilu di pinggir jalan. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nama ibunya tertera di layar itu.
"Mom?"
"Nak ... kau di mana?" tanya sang ibu.
Andrea menangis. Silvia meminta gadis itu tetap ada di tempat. Tadi sang suami sudah mendapat ancaman dari pemegang gurita bisnis terbesar di Eropa. Perusahaan milik Ferdinan akan dihancurkan jika tak mengambil pulang putrinya dan membawanya menjauh untuk tidak mengganggu Reno Alejandro Sanz.
Gomesh masih menunggu di sana memantau situasi. Hingga dua jam beberapa pengawal datang menjemput gadis itu dan membawanya pulang.
Bersambung.
Singkat ... langsung depak ... bereskan!
__ADS_1
Next?