
Liburan masih berlangsung. Tinggal beberapa minggu lagi mereka akan pulang ke Indonesia. Ada rasa tak rela dari semua keluarga jika harus berpisah.
"Ayah, nggak bisakah kalian tinggal di sini saja semuanya?" pinta Gabe.
"Maaf sayang, perusahaan Ayah ada di Indonesia," sahut Herman mengelus sayang kepala Gabriel.
"Untung perusahaanku sudah kupindah ke Indonesia enam tahun lalu," sahut Remario.
"Kau melakukan itu?" Remario mengangguk.
"Semenjak bertemu Baby Arimbi pertama kali, aku sudah memutuskan akan menikahkan putraku dengannya. Aku memindahkan perusahaan walau baru enam tahun lalu," jelasnya.
"Kenapa kalian nggak memindahkan kantor pusat saja di Indonesia dan perusahaan ini dijadikan perusahaan induk yang dikontrol oleh pusat di Indonesia?" saran pria itu lagi.
"Bisa disantet kami jika pindah, kau tau kan perusahaan kami memonopoli semua usaha!" sahut Bart.
"Buktinya Bram bisa!" sahut Remario.
"Perusahaanku belum sebanyak milik Daddy," sahut Bram.
"Ayolah ... sekarang jaman canggih, semua bisa dikerjakan secara online, melihat kedudukan kalian, tentu tidak akan mengembangkan usaha lagi!" ujar Remario memberi pencerahan.
"Kau benar juga, kita bisa membangun perusahaan kecil di Indonesia dan merekrut beberapa staf di sana. Lagi pula banyak tenaga ahli kalian berasal dari Indonesia kan?" semua mengangguk membenarkan.
"Iya Dad, kita pindah ke Indonesia. Kami nggak mau ditinggalkan oleh saudara-saudara kami," ujar Ella memohon.
Gabe terdiam, akan butuh waktu untuk memindahkan semua data dan itu tak cukup satu tahun.
"Aku memindahkan data yang penting dulu setelah itu bertahap," ujar Dominic memberi saran.
Frans, Leon dan Gabe saling tatap.
"Grandpa?" tanya Gabe pada Bart.
"Aku menyerahkan semua keputusan pada kalian," ujar Bart.
"Aku akan membantu kalian agar bisa memindahkan semua aset ke Indonesia. Negara itu pasti akan terbuka lebar untuk penanaman aset," ujar Virgou.
Semua tersenyum, Ella dan lainnya berpelukan mereka akhirnya tidak akan berpisah.
"Jujur, Ella lebih suka pendidikan di Indonesia," ujar gadis itu.
Ella baru kelas tiga SMP, Bastian seusia Adiba, Billy seusia Samudera, di Eropa tidak ada kelas akselerasi. Martha seumuran dengan Benua.
"Baiklah, usai kenaikan kelas kami pindah, paling mereka bisa sekolah di Internasional school," ujar Gabe.
"Nggak bisa di sekolah biasa Dad?" tanya Bastian.
"Nggak bisa Baby, kurikulum kalian berbeda," ujar Gabe.
"Ya sudah tidak apa-apa, yang penting kita nggak pisah sama semuanya!"
Najwa sangat senang mendengar rencana kepindahan ini, begitu juga Lastri. Dua orang tuanya ada di Indonesia. Wanita itu sudah memiliki banyak anak buah yang bekerja di restoran miliknya, jadi Lastri bisa menyerahkan semua pada kepala kokinya.
__ADS_1
"Bagaimana sayang? Apa kau mau pindah?" tanya Leon.
Najwa tentu mengangguk antusias. Wanita itu memang sangat ingin kembali ke negaranya. Ia sudah sering berdoa untuk itu.
"Nanaj ikut kemana Mas Leon pergi," ujarnya.
"Balyam ... wowan puwa ladhi nomon pa'a?" tanya Aisya.
"Tatana bawu pindal pi Indonesia!" jawab Maryam.
Semua anak-anak ikut bersorak. Remaja juga senang akhirnya mereka berkumpul bersaudara.
"Ketika semua adik bisa mengendalikan usaha, kita baru kirim mereka melanjutkan semuanya!" ujar Frans.
"Langit, kapan kau membawa Nai ke rumah orang tuamu?" tanya Haidar mengalihkan perbincangan.
Langit memang sudah ditelepon berkali-kali oleh orang tuanya. Pemuda itu memang malas bertemu dengan ayah dan ibunya yang sombong itu.
"Baiklah, besok Langit akan membawa Nai," ujarnya.
"Kita akan mendatangi orang tuamu!" sahut Virgou.
Langit tersenyum lalu mengangguk setuju. Ditya dan Radit mengajak semua saudara seusianya memainkan gatrik. Kembali keseruan ada di halaman belakang kastil milik Bart Dougher Young.
"Akan kujual kastil ini!" ujar pria itu menatap bangunan mewah yang ia bangun atas bukti cinta pada sang istri.
"Daddy, kita sudah lama tidak ke makam Mama," ujar Leon.
Sementara di halaman belakang. Tim Radit harus menggendong lawan mereka karena kalah.
"Alsh endog!" ujar bayi galak itu sambil mengangkat tangannya. Lino menurunkan tubuhnya, Arsh memeluk kuat leher Lino agar tak terjatuh.
"Sudah sampai!" ujar Lino dengan napas tersengal.
"Kenceng amat meluknya Baby," ujar Benua.
"Mamap Ata', atit?" tanya Arsh merasa bersalah.
"Nggak Baby,' sahut Lino menggeleng.
"Ayo cuci tangan!" ujar Saf.
Wanita itu meletakkan banyak makanan di atas meja. Semua anak berjejer mencuci tangan mereka.
"Lana, kenapa tanganmu?" tanya Aini melihat tangan Lana yang tergores.
"Oh ... mungkin tadi kena kayu nggak sengaja Mama," jawab Lana santai.
"Sini sayang, harus diobati ya!' ajak Aini lalu mengobati luka kecil itu.
"Makasih Mama," sahut Lana tersenyum.
Aini mengecup gadis kecil itu. Lana memakan pastel yang dibuat Najwa dan pangsit rebus yang dibuat Saf.
__ADS_1
"Uma, Sky udah lama nggak makan ini," ujar Sky ketika makan pangsit.
"Baby, dua hari lalu kamu makan itu," sahut Darren.
Sky tersenyum lebar. Ia memang tukang drama dari bayinya. Saf mencium gemas bocah itu.
"Muma!" pekik Arsh.
"Baby ... jangan marah-marah ya! Uma itu orang tua loh!' peringat Rion.
Arsh mengangguk lalu meminta maaf. semenjak insiden Arsh yang mau pup di lantai membuat Rion harus turun tangan menangani bayi nakal itu.
"Baby anak baik kan?" Arsh mengangguk.
"Baby anak sholeh kan?" kali ini Arsh menggeleng.
"Alsh nat Addy!" ujarnya.
Rion gemas sendiri, ia menciumi bayi itu hingga tergelak, Aliyah, Zizam, Fael dan Angel kini merangkak dengan perut mereka mendatangi Rion. Empat bayi itu juga mau digelitiki.
Semua anak kenyang. Mereka mengusap perut buncit mereka. Azlan terkekeh, baru kali ini ia merasa perutnya penuh dengan makanan.
"Azlan bakalan gendut," ujarnya.
"Alhamdulillah ya, dulu sebelum tinggal di panti Kasih Bunda, boro-boro kita bisa makan dua kali sehari," sahut Leli.
"Belum lagi Ibu dulu sangat galak kalo ada donatur datang bawa makanan, kita hanya bisa makan satu bungkus dibagi dua," lanjutnya.
"Sayang, jangan ingat itu lagi ya," pinta Khasya.
"Iya Bunda," sahut semua anak.
"Kak Izah, udah lama loh Kakak nggak mendongeng buat kita," ujar Amran.
"Oh maaf sayang, apa kalian mau dengar dongeng atau cerita Nabi?" tanya Azizah.
"Kisah Nabi!" seru Fadlan antusias.
"Mau Nabi Ayub Alaihi Salam, Kak!" pinta Alea.
"Baik, sekarang kalian dengar kan ya," ujar Azizah.
"Nabi Ayyub alaihissalam hidup pada tahun 1420—1540 SM. Beliau berasal dari Romawi. Beliau diutus Allah untuk menyeru kaumnya, yaitu masyarakat di daerah Huran (sekitar Yordania dan Syiria), agar menyembah Allah!" (sumber Gramedia). ujar Azizah memulai cerita.
"Nama Ayyub alaihissalam disebutkan Allah bersama para Nabi lainnya pada Al-Qur’an Surah An-Nisaa’ ayat 163: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” lanjutnya.
Anak-anak mendengarkan dengan seksama kisah Nabi Ayub yang diuji kesabarannya oleh Allah. Banyak yang sedih mendengar kisah bagaimana Nabi Ayub yang disingkirkan oleh semua orang karena penyakitnya bahkan anak dan istrinya juga mengusirnya. Namun Sang istri memilih kembali pada Nabi dan mengurusinya.
bersambung.
Wah ... Indonesia bakalan penuh nih sama keluarga Dougher Young 😍
next?
__ADS_1