
"Papa nanat fifiya ipu spasa?" tanya Al Bara kesal karena tidak mendapat jawaban.
"Kalian anak fifiya ... kan nama ibu kalian itu!" jawab Remario gemas sendiri.
"Ow wiyaa ya!?" angguk duo Bara baru paham.
"Ish ... Papa," dumal Lidya pelan.
"Habis aku jawab apa?" tanya pria itu tak mau disalahkan.
Lidya hanya bisa diam. Akan repot baginya jika dua putranya itu tau apa jawaban yang benar. Ia mengelus perutnya yang sudah membentuk. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan sikapnya selama ini. Tetapi, dua putra kembarnya begitu ajaib hingga bisa mirip dengan keusilan seluruh saudaranya yang tertua.
"Moga-moga anakku yang ini kalem," harapnya.
"Puan Det ... puan!' teriak Della pada Dita.
Bayi itu tampak panik, Dita menjulurkan lidah sepertinya ia menelan sesuatu. Lidya dan lainnya ikutan panik. Saf menangani bayi cantik itu dengan memukul pelan tengkuknya.
"Hooek!' satu benda kecil keluar, semua bernapas lega.
Dita menangis, Saf menenangkan bayi itu. Della memungut benda tanpa jijik sebuah mainan berbentuk makanan. Ia tampak begitu merasa bersalah.
"Baby ... Baby sini," Aini langsung menggendong Della.
"Nggak apa-apa sayang, nggak apa-apa," ujar wanita itu.
"Imi syalah Ella ... hiks ... Ella eundat pihat deunan peunal,"
"Baby sudah benar kok sayang. Tadi memang benda itu tidak terlihat," ujar Aini lagi.
"Kalian bawa adik-adik ke luar, biar maid membersihkan semuanya,"
Para maid langsung membereskan kekacauan. Dita sudah terlelap di tangan Darren. Bayi itu memang suka makan, apa saja masuk dalam mulutnya. Makanya Della yang perhatian langsung mengetahui jika Dita memasukkan mainan yang berbentuk makanan itu dalam mulutnya.
"Adet pidat pa'a-pa'a Apah?" tanya Gino khawatir.
"Tidak apa-apa baby, kamu main ya," Gino mengangguk.
Balita itu menasihati tiga adiknya yang lain agar tak sembarangan.
"Muntin Baby Dita penen matan donat Abah," ujar Arraya memberitahu.
"Syoalna, bainan yan dimatan ipu bentutna donat," lanjutnya memberi asumsi.
"Kalau begitu Umi buatin donat!" ujar Rahma yang langsung membuat anak-anak heboh.
"Mumi ... Alsh wawu amtu!" bayi galak itu mau ikut membuat kue.
"Balyam judha!"
"Isya dudha!"
"Tiyya ugha!"
"Mima ... Mima!"
"Asyad!'
"Tuwo Pala judha!'
Semua bayi heboh ingin membantu ibu mereka membuat donat. Para ibu langsung memberi wadah yang sudah diisi tepung. Mereka begitu sibuk, Terra tertawa melihat Verra yang mukanya penuh dengan tepung.
__ADS_1
"Mama ... Vela syantit!' ujarnya genit.
"Ata' ate leyley beyi!' ujar Arsh memberi saran.
"Selsai beyi puat siptip!' angguk Al Bara setuju.
Ruang tengah sudah seperti kapal pecah dengan banyak terigu di mana-mana. Semua anak juga berlumuran tepung begitu juga para remaja.
"Ata' Nai, peudatan syini!' ajak Aliyah.
Nai ikut serta, mukanya pun dibedaki bedak oleh adiknya, Arimbi pun tak luput dari bedak tepung.
"Papa Miam!" panggil Arsyad.
"Pinih!' Demian kesal bukan main.
Pria itu juga dibedaki. Jac memilih menyingkir.
"Papa au nana?" tanya Firman dengan pandangan jernihnya.
Jac tentu meleleh, pria itu kini juga didandani oleh Maryam. Kini wajah semua ayah penuh dengan tepung dan selai strawberry.
"Dah, dibersihkan ya," ujar Terra menghela napas.
Anak-anak mengangguk, Para ayah mengangkut bayi-bayi untuk dimandikan.
"Papa Gom, gendong!" Satrio merengek manja.
"Astaga ... Baby ...," keluh pria raksasa itu.
"Daddy ...," adu Satrio.
"Gomesh!" tekan Virgou.
Satrio terbahak melihat wajah salah satu pria idamannya itu menahan kesal. Ia malah menggelayut manja di punggung pria raksasa itu.
"Bas Sasplio tan dudhah peusal ... basa pidendon?" tanya Aaima bingung.
'Bawu sadhi payi ladhi buntin," sela Fathiyya menyahuti.
"Payi latsasa!' angguk Aminah.
"Tot talian yatin palaw Bas pastlio pama Papa Domesh ipu latsatsa?" tanya Ari bingung.
"Memanan talian peulnah pihat?" lanjutnya dengan mata bulat.
"Kita panggil begitu karena badan mereka lebih besar dari badan kami Baby," jawab Andoro gemas sendiri.
Terlalu lama bersama para bayi, membuat ia mengerti sebagian bahasa mereka kecuali para bayi yang baru empat bulan. Ia harus memanggil Bariana untuk menterjemahkan bahasa mereka.
"Hacupah, hacupah, hacupah ....bejah, bejah, bejah!' Aaric mengoceh tak jelas.
"Baby butan beudhitu, Ata'Ali suma beultanya," jawab Bariana.
"Memang apa katanya Baby?" tanya Luisa geregetan.
Wanita itu tak berhenti mengeratkan giginya karena menahan gemas yang berlebihan. Ia ingin sekali menelan bulat-bulat semua bayi dan melahirkannya kembali.
"Ipu yan bitanya syama Baby Ali Mama," jawab Bariana.
Luisa mengangguk mengerti, ia begitu gemas sampai memeluk salah satu anak Bart dengan menggoyangkan tubuhnya.
__ADS_1
"Mama ...," kikik Sania geli karena wanita itu menciuminya.
"Ata' ... Ata'!" panggil Alia pada kakaknya.
"Pa'a Baby," jawab Azha.
"Binih awuh wawah apah apah," oceh Alia makin tak jelas.
"Tamuh nomon pa'a Det ... Ata'eundat neulti!" keluh Firman.
"Paypi panya, Biya pisa sadhi latsasa eundat," sahut Della.
"Oh beudithu," angguk Firman mengerti.
"Pita halus lolah ladha Det," ujar Harun memberitahu.
"Pial peusal tayat Papa Gom dan Mas Satliyo," lanjutnya.
"Alsh susap!"
Arsh tiba-tiba nungging dan menaik-turunkan bokongnya sembarangan. Herman tersedak, Virgou tertawa tertahan. Gabe hanya bisa menghela napas panjang.
"Ah ... ayo kita push up Baby!" seru Rion lalu meniru gaya Arsh push up.
"Papa Baby!" Azizah malu melihat suaminya bertingkah absurd.
"Apa tadi panggilan mu?" tanya Haidar.
"Papa Baby," jawab Azizah polos.
"Astaga ... Nak," Haidar menjatuhkan rahangnya.
"Tate yayo sushap!' ajak Al Bara pada Haidar.
"Kalian salah kalo push up seperti itu," ujar Haidar.
Pria itu mempraktikkan gaya push up yang benar. Tentu saja para bayi kesulitan, tetapi hanya butuh waktu sebentar. Semua bayi memperlihatkan kekuatan tangan mereka.
"Donat sudah siap!' seru Rahma.
"Holee matan!"
Dita sudah bangun dari tidurnya, kini ia memakan donat dengan gula tepung hingga membuat mulutnya belepotan. Fathiyya membersihkannya dengan tisu, Gisel begitu terharu. Ternyata bayinya juga sangat perhatian dengan saudaranya yang lain.
"Sehat terus ya sayang," Budiman mengelus perut istrinya yang juga sudah mulai membentuk.
Fery, Mia, Sriani, Beni dan Leni hanya memandangi semua kejadian hari ini. Mereka merekam kebersamaan dalam kehangatan.
"Kita akan tenang pergi jika melihat mereka semua akur," ujar Fery dengan mata berkaca-kaca.
"Benar Mas. Kita akan tenang dan bahagia karena tak perlu memikirkan masa depan mereka," sahut Beni.
Bart, Bram, Herman, Kanya dan Khasya ikut duduk bersama para orang tua.
Bart paling tua di sana. Pria itu menatap puas seluruh keturunannya. Lalu pandangannya beralih pada dua sosok penting yang menyatukan mereka, Terra dan Virgou.
"Aku bangga memiliki kalian berdua sayang," gumamnya lirih.
"Ba bowu," lanjutnya.
bersambung.
__ADS_1
Ba bowu Readers ❤️😍
next?