
Hari-hari berjalan seperti biasanya. Semua anak yang masih bersekolah, sekolah. Sky dan Bomesh sudah kelas satu SD walau belum bisa bilang huruf "Er".
"Tau gitu dulu langsung masuk SD aja, nggak usah TeKa!" gerutunya kesal di depan kepala sekolah.
Maria dan Sean yang menemani keduanya hanya bisa tersenyum kikuk. Sedang kepala sekolah tampak biasa saja.
"Dulu kalian masih pakai bahasa planet, kalau sekarang kan hanya belum bisa huruf Er!" sahut pria itu menahan senyumnya.
Pendaftaran selesai. Sean melunasi semua pembayaran yang diminta, seperti buku dan seragam sekolah. Samudera, Benua dan Domesh juga ikut bersama mereka mengajak Sky dan Bomesh melihat kelas-kelas.
"Hari senin mereka sudah masuk sekolah ya," ujar kepala sekolah.
Kaila, Rasya dan Rasid juga Dewa dan Dewi sudah masuk SMP, ditemani Nai dan Terra. Sedang Affhan Maisya dan Dimas masuk SMA ditemani oleh Khasya dan Arimbi.
"Ini apa Kaila dan lainnya akan masuk kelas akselerasi juga?" tanya kepala sekolah wanita.
"Nggak ah, kita mau biasa aja, kek nya seru," tolak Rasya langsung.
Kaila, Dewa, Dewi, dan Rasyid setuju. Terra hanya menyerahkan semua pada putra putrinya tersebut. Ia tak pernah mau memaksa anak-anak menjalani hidup sesuai keinginannya.
"Bunda, kalo Affhan nggak masuk kelas akselerasi nggak apa-apa kan?" tanya Affhan.
"Nggak apa-apa sih, tapi bunda jadi lebih lama kerjanya dong," ujar Khasya meminta pengertian putra dari Virgou itu.
"Oke deh, Affhan ikut kelas akselerasi," ujarnya.
"Aku juga!" sahut Dimas dan Maisya.
Khasya tersenyum penuh arti. Ia memang sudah kelelahan memimpin perusahaan milik Virgou PT Tridhoyo SavedAcounting. Sudah mau dua tahun berjalan. Lusi tak lagi bekerja setelah ia melahirkan putra pertamanya. Sang suami masih bekerja di bawah naungan perusahaannya dan kini menjabat asistennya. Puspita juga merasakan lelah bekerja. Hanya Terra yang santai karena wanita itu bekerja di rumah, karena semua anak dititip padanya.
Mereka pulang ke rumah Terra, karena sekolah dekat dengan hunian wanita itu.
"Assalamualaikum!" sapa Nai masuk.
"Wa'alaikumussalam!" sahut Gina.
Gina, Ani dan Deno masih setia bekerja bersama Terra. Padahal, mereka sudah lanjut usia, Terra sempat menawari mereka pensiun.
"Kalau kami tak kerja kami mesti apa nyonya?" tanya Deno gusar.
"Benar Nyonya Terra, biarkan kami sebagai pengasuh atau apa saja asal kami bekerja di sini sampai kami menutup mata seperti Mbak Rom," sahut Ani dengan mata berembun.
Terra memeluk ketiganya erat. Ia sangat bahagia mendapat orang-orang baik macam tiga orang ini di depannya. Baik, Ani, Gina dan suaminya—Deno, sudah dianggap keluarga oleh Terra.
Pembantu yang lain datang dan pergi. Kini ada tiga pembantu baru dan semua perempuan. Terra hanya membutuhkan pencuci baju dan setrika. Sedangkan pekerjaan lain masih bisa ia lakukan. Terkadang Saf datang membantunya begitu juga Lidya.
"Mama, assalamualaikum!" Sean datang bersama Maria, Sky, Bomesh, Benua, Samudera dan Domesh. Terra membalas salam.
"Kok lama?" tanya Terra.
"Nih, nyariin mereka berempat dulu," adu Sean sebal.
Empat ketua perusuh menjadi satu plus Samudera. Tentu akan ada keseruan lain terjadi. Terra akan sangat menantikan hal itu.
"Kalian ngapain lagi sih sayang?" tanya Terra lembut.
__ADS_1
Maria ditatap oleh wanita itu hanya bisa mendengkus pasrah.
"Belum sekolah udah nyari musuh aja ma, masa tadi mereka udah mau nonjok anak kelas tiga!' adu Sean lagi.
"Baby?!" tegur Terra.
"Orang Kak Domesh diganggu duluan mama!" sela Sky membela diri.
"Iya, masa ditimpuk pake tanah bajunya!" lanjut Bomesh ikut mengadu.
"Kok gitu?" tanya Terra.
"Makanya Sean lerai, mereka ngakunya Benua duluan yang memancing keributan," sahut Sean.
"Kamu percaya siapa baby?" tanya Terra pada putranya.
"Ya percaya sama adik sendiri lah!" jawab Sean langsung.
Terra mengangguk puas. Ia menasihati, agar semua tak banyak mengundang keributan. Samudera memang tak begitu banyak bicara, bocah usia delapan tahun itu lebih suka beraksi langsung.
"Makanya kalau pulang sekolah, kalian harus pulang ya!?" pinta Terra.
"Iya mama," sahut semua kompak.
Terra akan tetap meminta pengawal mengantar mereka nanti, Maria bisa beristirahat dan membantunya di rumah menjaga bayi lainnya.
Kini hunian Terra sepi. Semua sudah pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Putra dan putrinya juga telah masuk kamar masing-masing. Kecuali Arion dan Arraya yang ingin tidur di kamar bersama ayah dan ibunya.
Terra masuk setelah mencium semua buah hatinya yang tertidur. Hari ini Darren dan Lidya tak datang, hal itu membuatnya sedikit sedih.
Ia pun masuk ke kamar, di sana Haidar sudah terlelap dengan Arraya yang ada di atasnya. Perlahan, Terra mengambil bayi itu dan meletakkannya di sisi saudaranya, Terra pun merebahkan diri setelah mencium ketiganya. Lalu ia memejamkan matanya dan terlelap.
Pagi hari Rion telah sibuk mengajak semua adiknya bertamasya di taman belakang.
"Yah kak, sekali-kali kita ke kebun binatang sih!" sahut Rasya ingin pergi keluar selain di rumah saja.
"Macet baby, ini hari apa?" sahut Rion.
"Lah terus kapan? Kita liburan di rumah terus loh!' keluhnya.
"Emang kemarin di Eropa ngapain baby?!" tanya Rion kesal.
Rasya terkekeh, tapi ia ingin memaksimalkan liburannya. Ia mau pergi nonton film terbaru di bioskop atau jalan-jalan seperti anak-anak lain.
"Ya udah kita nonton, tapi nggak bisa ajak Arion sama Arraya dong?" ujar Rion.
"Duh ... emang kita nggak punya kesenangan sendiri ya?" keluh Rasyid malas.
"Baby!" tegur Rion tak suka.
Duo R itu diam. Mereka tetap takut pada kakak kesayangan mereka. Arion mendengar keluhan sang kakak, ia pun mendatanginya.
"Ata' Lasya peumanan eundat bawu bunya adit beupelti Ayi ya?" tanyanya sedih.
"Bukan begitu baby ...," sahut Rasyid kaget.
__ADS_1
"Ata' Lasya lama Ata' Lasyid poleh tot peuldhi eundat ajat Ayi pan Aya," ujar bayi itu lirih.
"Baby," Arion pergi dengan sedih meninggalkan kakaknya itu.
Rion kini menatap dua R yang menyesal berkata ingin memiliki dunia sendiri tanpa adik-adiknya.
"Gimana, masih pengen pergi tanpa adik?" keduanya langsung menggeleng.
"Baby!" panggil Rasya dan Rasyid.
Arion mendatangi saudara kembarnya, ia berbisik di sana. Terra masih berkutat di dapur membuat sarapan dan bekal tamasya di taman belakang. Ia tak tau dengan apa yang terjadi pada empat anak kembarnya yang beda usia itu.
Arion diam saja bersama Arraya. Duo R terus meminta maaf, hingga ketika semua datang dan rumah Terra penuh lagi dengan manusia.
Virgou melihat Rasya yang meminta maaf pada Arion dan Arraya yang sepertinya sedih. Harun, Azha dan Bariana langsung menyambangi saudaranya itu.
"Talian teunapa?" tanya Azha.
Harun langsung duduk, bersama Bariana dan Azha.
"Pita pudah eundat bisayan ladhi syama Ata' Lasya pan Ata' Lasyid ... hiks ...!" jawab Arion sedih sekali.
"Baby?" tegur Virgou yang mendengar aduan salah satu keponakannya itu.
"Nggak gitu baby, kakak cuma ingin nonton itu aja!" sahut Rasya membela diri.
"Eundat ... padhi eundat pilan beudithu!" ujar Arion dengan mata mengembun.
"Baby ... maafin kakak ya, please," pinta Rasyid memohon.
"Baby, kalau kakak udah minta maaf harus maafin sayang," nasihat Virgou.
"Maafin ya," lanjutnya.
Baik Arion dan Arraya pun mengangguk. Virgou tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka.
"Beumana tenapa syih?" tanya Bariana penasaran.
"Ata' puwo El bawu bunya Punia beuldili," jawab Arion.
"Pemana lada punia yan bain?" tanya Azha bingung.
"Ada ...!" sahut Sky tiba-tiba muncul.
"Pa'a?"
"Dunia lain itu dunia alwah!" jawab Sky dengan tatapan menakut-nakuti lima bayi yang bergeming duduk tak merespon.
"Walwah pa'a?" tanya Bariana bingung.
bersambung.
walwah ipu pa'a ya?
next?
__ADS_1