SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LATO-LATO


__ADS_3

Bomesh, Sky dan Arfhan menatap banyaknya anak-anak bermain dengan begitu berisiknya.


"Berisik amat sih!' protes Arfhan menutup kedua telinganya.


"Ini mainan lagi viral tau!" sahut teman lainnya lalu memainkan benda itu.


Tak! Tuk! Tak! Tuk! Klotak-klotak! Begitu bising.


"Ini mainan yang menguatkan fokus dan juga keseimbangan gerak!' jelas bocah itu.


"Mau nyoba?" tawarnya kemudian.


"Boleh," sahut Bomesh.


Mainan dua bandul itu digerakkan. Lalu tak lama terdengarlah bunyi benturan di antara dua benda itu.


"Ih ... gimana sih mainnya?!" gerutu Arfhan yang ternyata tak mahir memainkannya.


"Jangan digerakkan semua tangannya. fokus pada dua benda itu!' seru teman sekelasnya.


Berkali-kali Arfhan mencoba, tapi tetap tak bisa. Begitu juga Sky dan Bomesh.


"Ah ... kita nggak mahir!' keluh Bomesh.


"Ah ... padahal ini hanya melatih fokus aja dan pergerakan tangan yang selaras," jelas bocah itu.


"Tapi berisik ya!' keluh Bomesh lagi.


Tidak hanya, Sky, Bomesh dan Arfhan yang tak bisa memainkan mainan viral itu. Tetapi, Domesh, Benua dan Samudera tak bisa melakukannya.


"Bentar ... aku penasaran!' Domesh tak mau menyerah.


Hingga percobaan kesekian kali, baru ia bisa mengarahkan benda itu. Benua juga tak mau kalah, ia akhirnya bisa, begitu juga Samudera.


"Beli Kak, satu aja!' pinta Benua pada kakaknya.


"Oteh!" sahut Samudera.


Bocah itu membeli mainan dengan harga 15.000, rupiah. Sky, Bomesh dan Arfhan pulang lebih dulu.


"Papa, pulang ... lapar tau," ajak Arfhan.


'Ayo Baby!' Ardhan dan Deno membawa mobil dan mengantar tiga anak atasannya.


Sampai rumah Terra, ketiga masuk rumah setelah mengucap salam. Maria meminta mereka berganti baju baru makan siang.


Tak lama Samudera, Benua dan Domesh pulang. Bedanya, Bomesh memainkan lato-lato. Bunyi dua benda yang dibenturkan itu.


"Main apa itu Baby?" tanya Terra yang merasa kebisingan.


"Lato-lato Ma," jawab Domesh.


"Oh mainan yang lagi viral di medsos itu?" Domesh mengangguk.


"Cukup ya Nak. Nanti adikmu pada bangun loh,' pinta Maria pada putranya itu.


Domesh menghentikan permainannya. Mereka diminta untuk tidur siang.


Sore menjelang, semua sudah rapi dan wangi. Domesh kembali bermain dengan gaduh. Hal itu menarik perhatian bayi-bayi paling junior.


"Ata'! Ipu pa'a?" tanya Arsyad.


"Lato-lato," jawab Domesh yang terus memainkan benda menggantung itu.


"Wah ... peulisit ya!' keluh Aaima menutup telinganya.


"Ata' jajalin Alsh!" pinta bayi bossy itu.


Domesh mengajari bayi itu. Arsh menggerak-gerakkan benda itu.

__ADS_1


Tak! Arsh senang bukan main. Bayi itu terus menggerakkan mainan itu. Della begitu khawatir, ia takut jika benda itu melukai Arsh.


"Bati-pati Paypi!' peringatnya.


'Pletak! Benda itu mengenai jidat Bomesh. Della langsung mengaduh. Arsh menangis keras.


"Tuh tan pa'a Della pilan!" seru bayi cantik itu.


Virgou mengambil mainan itu dan menggunting talinya. Pria itu tak suka dengan permainan bising itu.


"Ada yang keberatan?" tanya pria dengan sejuta pesona itu menatap semua anak-anak.


"Maaf Daddy," ujar Samudera menyesal.


"Jangan beli ini ya, lihat tuh. Adiknya kena," ujar pria itu menasihati.


Akhirnya, semua tenang. Makan kudapan, Arsh lengket dengan Layla. Bayi itu mulai diganggu oleh Juno.


"Papa!' pekik Arsh marah.


Layla memukul suaminya gemas. Arsh kembali menangis, wanita itu jadi gemas sendiri.


"Maaf Baby," kekeh Juno.


Akhirnya Arsh tenang,. Azlan mengajak bayi itu bermain tebak warna.


"Ini apa warnanya Baby?" tanya bocah itu.


"Elah!" jawab Arsh yakin.


"Uh ... pinter amat sih!" puji Azlan karena warnanya memang merah.


"Ini warna apa?" tunjuk Azlan pada warna ungu.


Arsh berpikir keras. Bayi itu baru mengetahui warna dasar. Arion yang menjawab.


"Walna sanda Ata'!"


Juno tertawa terbahak-bahak. Sedang yang lain hanya menyembunyikan senyum.


"Dari mana ia dapat kata-kata itu?" tanya Darren gemas.


"Baby, kok kamu bisa bilang kalo itu warna janda?" tanyanya.


"Ipuh Bibi Lili yan pilan, walna sanda," jawab Arion.


Terra hanya bisa menghela napas panjang. Arsh tampak bingung.


"Danda pa'a Ata'?" tanya dengan mata bulat.


"Eundat pahu," jawab Arion.


Semua mata perusuh paling junior menatap pada orang dewasa. Kean bahkan menuntut jawaban dari ibunya.


"Mommy, apa itu janda?"


"Kean sih sering dengar para karyawan yang suka ribut mau tidur sama janda bohay," lanjutnya begitu penasaran.


"Astaga, kamu denger itu dari mana Baby?" tanya Jac.


"Ya dari karyawannya Ayah," jawab Kean begitu polos.


"Lalu menurut Baby selama ini apa itu janda bohay?" tanya Demian usil.


"Pa," peringat Lidya.


"Sejenis bawang bombay," jawab Kean benar-benar polos.


Demian, Jac dan Dominic menggaruk pelipis mereka. Begitu juga para orang tua.

__ADS_1


"Janda itu adalah sebutan untuk wanita yang telah menikah namun sudah bercerai dengan suaminya Baby," jelas Herman.


"Ayah!" peringat Seruni.


"Loh mereka sudah besar kok," sahut Herman.


"Banita yan peulselai pama suamina?" tanya Arraya bingung.


"Selai pa'a Tate?" tanyanya.


Semua orang dewasa hanya bisa menghela napas panjang. Akan lain ceritanya jika para perusuh junior yang begitu ingin tahu.


"Talo sanda ipu pawan pompay peulalti selai judha sesenis pumpu dapul!" seru Harun menyimpulkan.


Gometrio.


"Ah ... Pisa sadhi beditu!" sahut Azha mengangguk.


"Eh ... atuh inat petanda yan bibut-bibut!" sela Arsyad.


"Teutanda?" tanya Aisya.


"Biya, teutanda suta pilan selaitan atuh!" beudithu.


"Woh ... peulalti selai butan pumpu basatan!" sahut Fathiyya.


Orang tua hanya bisa pasrah. Para remaja ikut bergabung dengan obrolan para bayi.


"Oh, apa bercerai itu bisa membuat wanita jadi janda bohay?" tanya Kean.


"Pisa sadhi beudithu Ata'!" sahut Arsyad.


"Oh ... peulalti teutanda Mima sudha sadhi sanda don!' celetuk Aaima tiba-tiba.


"Pa'a diselaitan sudha?" tanya Al Bara ikut-ikutan.


"Biya, sowalna watu ipu bistlina nayis-nayis,"


"Tauw tahsyihan pama sanda pati atuh tau sanditan sanda! Beudithu tatana!' lanjut bayi itu antusias.


"Wah, mau janda bohay dan menjadikan istri janda bohay?" tanya Kean tak mengerti.


"Itu konsepnya gimana sih?" lanjutnya dengan mimik bingung.


Kean menoleh pada Demian. Tentu pria itu gelagapan sendiri, ia membuang muka. Kean menatap Bram yang juga membuat pria itu kesal sendiri.


Andoro ternganga mendengar percakapan itu. Pria itu menatap Bart.


"Grandpa?"


"Welcome to our family dear," jawab Bart dengan senyum lebar.


"Heh ini makanannya!" seru Widya meletakan beberapa piring di meja.


Akhirnya percakapan janda bohay terhenti bahkan mereka lupa akan hal itu.


"Sayang, besok acara di pesantrennya kan?" tanya Bart pada Azlan.


"Iya Papa," jawab bocah itu dengan senyum lebar.


"Oh ya, kita juga harus mempersiapkan Gino untuk sekolah TK nol kecil," ujar Khasya mengingatkan.


"Ino setolah Bunda?" tanya balita itu tak percaya.


"Iya sayang," jawab Khasya.


Gino senang bukan main. Kanya senang, Karina dan Zhein juga tak lagi memaksakan diri untuk mengambil lima anak itu.


Bersambung.

__ADS_1


ah ... gitu deh.


Next?


__ADS_2