SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEMARAHAN VIRGOU


__ADS_3

othor males translate kek tadi, jadi semua pake bahasa Indonesia ya 🙏


Kejadian tadi membuat seratus pengawal yang dibayar oleh Labertha Weist berbaris di tengah halaman luas. Bart meminta Gomesh menghukum mereka yang lalai akibat ada wartawan yang membawa benda berbahaya.


Gomesh, Budiman, Dahlan dan Gio menatap mereka tajam. Dua ketua dari mereka siap menerima hukuman terberat akibat kecerobohan yang terjadi. Keringat bercucuran, matahari sangat terik menjelang siang. Negara Eropa tentu lebih lama siang hari ketimbang malam.


"Kalian dari perusahaan mana?" tanya Gomesh datar.


"Kami dari perusahaan xxx tuan!" jawab Javier Francois ketua dari para pengawal.


"Kalian tau apa kesalahan kalian?" tanya Gomesh lagi.


"Siap, kami tau tuan!" sahut semuanya.


Virgou datang dengan muka sangar. Semua pria bermata sama dengan Virgou menelan saliva kasar. Dengan enteng tangan pria sejuta pesona itu melayang ke pipi Javier.


Plak! Begitu keras dan kuat, sampai pria itu roboh ke tanah berumput dengan luka di bibirnya.


Tak ada suara mengaduh atau bahkan tangisan kesakitan. Javier harus segera berdiri kembali menerima pukulan dari Virgou. Entah berapa kali Javier jatuh bangun akibat pukulan dari monster Dougher Young tersebut. Jika saja Budiman dan Dahlan tak menahan laju pria itu. Javier sudah tak mampu bangkit dari tanah. Gio menolong pria itu bangkit sebagai sesama rekan seprofesi walau beda perusahaan mereka memiliki ikatan tersendiri.


"Bodoh ... kalian semua bodoh!" maki Virgou kasar.


"Berapa lama kalian bekerja sebagai pengawal pribadi katakan!" teriak Virgou lagi.


"Tiga tahun tuan!" jawab semuanya.


"Apa kalian tak tau bagaimana cara memeriksa orang?" teriak Virgou lagi.


Semua diam tak menjawab. Virgou merasakan tangannya sakit akibat terlalu keras memukuli wajah Javier.


"Sial, tenagaku tak sekuat dulu," gerutunya dalam bahasa Indonesia tentunya.


"Cukup ketua, biar selanjutnya kami tangani. Gio telah melapor kecerobohan tadi pada perusahaan mereka. Semua akan ditarik oleh perusahaan dan memberikan pinalti pada Nyonya Weits atau Nyonya besar Pratama senilai fantastis sebagai ungkapan maaf dan penarikan pengawal sebelum waktu masa dinas!" terang Budiman panjang lebar dan tentu dengan bahasa Indonesia.


"Kalau begitu urus mereka dan tolak uang pinalti itu. Dengan begitu perusahaan itu akan jatuh dan tak ada yang mau merekrut personil mereka," ujar Virgou memberi perintah.


"Apa ketua mau mengambil alih perusahaan itu?" terka Budiman.


"Kau tau itu akan kulakukan Bud!" tepuk Virgou pada bahu adik iparnya itu.


Budiman mengangguk hormat. Pria itu memberi perintah pada Gomesh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Virgou.


Seratus orang ditarik dari pengawalan pada Labertha Weist. Penolakan pinalti membuat geger semua media lagi.

__ADS_1


Akibat penolakan pinalti yang diajukan Virgou membuat perusahaan itu jatuh seketika. Harga saham perusahaan anjlok total apalagi adanya accident yang memalukan. Kecerobohan pengawalan dan pemeriksaan menjadi sorotan media.


Kali ini nama Virgou Black Dougher Young menjadi sorotan. Pria dengan sejuta pesona itu menjadi buah bibir.


"Apa lagi yang kau lakukan anak nakal?" tanya Bertha dengan pandangan putus asa.


"I do nothing granny. Saisissez simplement l'occasion qui s'offre à vous." (Tidak ada nek. Hanya mengambil peluang yang ada!) ujarnya sambil tersenyum penuh rencana.


Otak bisnis Virgou memang harus diacungi jempol. Bart ikut melihat apa yang akan dilakukan oleh salah satu cucu kebanggaannya itu.


"Daddy mau kembangkan SavedLive di sini?" tanya Darren.


"Iya sayang, bagaimana menurutmu?"


"Bagus Daddy, tapi yang melatih siapa? Jangan ambil Baba, Papa Gom dan Papa Arsyad ya," pinta pria itu.


"Tentu baby, daddy akan menyuruh Dahlan, Rio dan Guntur menjadi pelatih di sini," ujarnya.


"Ah ... jangan Om Dahlan Daddy," rengek Satria.


"Yang menjadi pengawas di pusat siapa?" Virgou menepuk kening, ia lupa.


"Baiklah, aku mengutus, Rio, Guntur dan Lucky yang melatih," sahutnya.


Satrio mengangguk. Dahlan bernapas lega, ia luput menjadi pelatih di sini. Jika masih, entah berapa lama lagi ia hidup membujang.


"Mas, hati-hati ya," pinta wanita cantik itu dengan wajah sendu.


"Iya, sayang jaga adik-adik dan putra kita ya, tunggu mas pulang," ujar Gio lalu memberi kecupan pada istrinya.


Adegan romantis itu tidak luput dari pengamatan para perusuh. Harun, Azha, Arion, Arraya kecuali Bariana.


"Papa ... ba bowu papa!" seru Bariana ketika melepas kepergian ayahnya bertugas.


Budiman mencium tiga putra dan satu putrinya. Seperti maju ke medan perang. Semua anak melambai pada pria-pria kesayangan mereka.


"Baba cepat pulang ya!' seru Lidya dan Saf bersamaan.


"Baba!" Rion berlari dan memeluk pria yang dulu suka ia ganggu itu.


Gomesh dan Gio juga mendapat pelukan dari bayi besar itu. Labertha sangat merasakan betapa dekatnya para pengawal dengan mereka.


Wanita tua itu menatap pada sosok yang menumbuhkan cinta dan menghapus semua perbedaan itu. Terra berdiri dan melambaikan tangan pada tiga pria yang naik mobil dan melaju pada sidang khusus para pengawal.

__ADS_1


"Mba, Mas Gio pasti pulang kan?" tanya Radit sedih pada Aini.


"Iya sayang, mas mu pasti pulang, kita doakan ya," ujar wanita itu menjawab.


Anak-anak kembali bermain. Virgou dibalut perban tangannya oleh Nai. Telapak tangan pria itu sedikit bengkak.


"Nanti dikompres ya dad pake air hangat atau es," ujar Nai.


"Iya baby, makasih ya," sahut Virgou.


"Ah ... aku iri," tiba-tiba Labertha bersuara.


Semua menoleh padanya. Tidak termasuk para perusuh yang tiba-tiba bergandengan dan keluar dari lingkaran orang tua. Bariana diajak serta oleh Arraya.


"Kenapa uyut iri? Uyut memiliki segalanya di sini?" ujar Daud memakai bahasa Prancis yang fasih.


"Cinta ... aku tak mendapat cinta yang besar," jawab wanita tua itu.


"Terra ... sini sayang," panggilnya.


Terra datang, Bertha yang sudah duduk di kursi roda langsung menarik dan memeluknya.


"Ternyata cinta besar itu berasal dari kamu sayang," ujarnya penuh haru.


"Terima kasih ... terima kasih telah menjadi bagian kami.


Bram dan Kanya terharu. Baru kali ini ibu mereka mengucap terima kasih pada seseorang yang baru ia kenal.


Sementara para orang tua dan remaja tengah asik dengan urusan mereka sendiri. Harun, Azha, Arraya, Arion dan Bariana kembali dalam formasi debat tak berujung.


"Padhi atuh tatut woh!" aku Azha.


"Atuh judha tatut!" timpal Arraya.


"Biya ... wowanna banat baneut ... bana pahasana atuh eundat meunelti!" sahut Harun lagi.


"Biya tata Mama meuleta pate pahasa beulanpis!" sebut Bariana yang sudah lupa dengan kesedihannya ditinggal tugas oleh ayahnya.


"Biya meuleta pilan panjoul, belsi ... tlus pa'a ladhi ya?" ujar Arion dengan mimik sulit.


"Palin panat panjul syama belsi padhi lah!" sahut Harun serius.


bersambung.

__ADS_1


astaga Bonjour jadi Panjul dong 🤭🤦


next?


__ADS_2