SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEMBALI BERAKTIVITAS


__ADS_3

Hari senin. Semua keluarga pulang dini hari ketika jalanan sepi. Anak-anak yang tidur diangkut begitu saja oleh ayah ibu mereka. Hingga ketika bangun mereka kaget telah ada di rumah.


Frans ke Singapura langsung setelah menitipkan istri pada mertuanya. Ia akan membeli satu pesawat Boeing 787 buatan Jerman yang terbaru. Pria itu sedikit bingung ketika ditanyakan perihal nama maskapai yang ia punya.


"Saya membeli atas nama keluarga," jawab pria itu.


"Maaf tuan. Persyaratan haruslah anda memiliki perusahaan penerbangan domestik atau non domestik, kami tak bisa menjual pesawat atas nama keluarga terlebih nama pribadi," ujar petugas itu.


Ternyata membeli pesawat tak semudah yang ia bayangkan. Pria itu harus memiliki setidaknya satu maskapai udara yang telah beroperasi dan melayani publik setidaknya selama dua tahun paling sebentar.


"Pakai nama maskapaiku sementara Frans!" seru Herman.


Pria tua itu memang memiliki maskapai untuk jet pribadi yang ia sewakan. Sebenarnya Bram juga punya, tapi pria itu belum mengurus perpanjangan jalur udara jika untuk transportasi massal.


"Oke, tolong faks kan firma penerbanganmu sekarang ke nomor ini," pinta Frans.


RadenEmas Airways adalah nama maskapai yang Herman miliki. Bart tak mempermasalahkan soal nama, yang penting akomodasi ke Eropa bisa dibeli dengan cepat.


"Nanti, ketika perpanjangan kontrak lalulintas udara, aku baru bisa mengganti nama maskapainya," ujar Herman.


"Sudahlah, tak usah pusing soal nama," sahut Bart. "Nama RadenEmas Airways juga bagus!"


"Frans bilang jika pesawat telah dibeli lunas, kita akan mendapatkan transportasi udara itu paling lambat tiga minggu setelah pembelian," lapor Leon.


Seruni dan Najwa hanya bisa terbengong mendengar percakapan luar biasa itu. Entah berapa digit uang yang dimiliki empat keluarga itu. Memang pembelian pesawat baik Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight ikut menggelontorkan uang mereka dan dikumpulkan membeli burung besi itu.


"Kalian uangnya itu tinggal gunting ya?" tanya Najwa lugu.


Bart terkekeh mendengar pertanyaan menantunya itu.


"Tidak sayang, tidak sampai sekaya itu," jawabnya merendah.


"Seruni aja lihat omset pemasukan hasil jual kue yang di atas seratus juga saja bisa pusing lihatnya, apa lagi kalian ya?"


Dav tertawa mendengar asumsi istrinya. Terra, Puspita dan Khasya hanya tersenyum. Mereka menganggap semua yang mereka lakukan itu adalah hal yang wajar selama punya uangnya.


"Nggak masalah sih, selama kita punya uangnya. Yang repot itu, sudah uang tak ada malah ingin bergaya, pakai acara sampai berutang segala," timpal Khasya.


Puspita mengangguk setuju begitu juga Terra. Virgou tengah bersandar pada Herman.


"Ayah, kepalaku sedikit pusing," rengeknya.


Herman memijiti kepala pria sejuta pesona itu. Virgou sampai terlelap di sana. Herman hanya bisa berdecak kesal.


"Bilang saja ingin dielus sampai tidur," dumalnya.

__ADS_1


Pria itu membenarkan posisi Virgou dan memangku kepalanya. Herman menyandarkan bahunya dan kembali memijit kening pria beranak enam itu.


Bart begitu tersentuh melihat betapa Herman menyayangi monster itu. Leon jadi iri melihatnya.


"Mas nggak gitu sama aku," ujarnya lalu mengerucut sebal.


"Ish ... nggak ingat umur," ledek Herman.


"Dad," rengek Leon pada Bart.


"Ck ... aku bukan Herman yang memanjakanmu!" elak pria gaek itu.


"Sini Daddy," ujar Terra menepuk pahanya.


Leon langsung duduk dan menaruh kepalanya di sana. Kakinya ia selonjorkan dan berada di pangkuan Puspita dan Khasya. Ketiga wanita itu memijitnya.


"Ah ... enaknya," ujarnya senang.


Najwa dan Seruni hanya bisa menggeleng. Sedang Haidar serta David cuma pasrah melihat itu semua.


Para perusuh tengah beradu debat. Kehadiran Lana, Leno dan Lino menjadi bahan obrolan mereka karena ketiga kembar itu banyak tahu bahkan jauh lebih dewasa ketimbang Sky dan Bomesh. Ketiga balita itu sudah seperti Ditya dan Radit.


"Padhi Ata' beuldili yan datan te doptel eh ... Ata' Nai talo mama Ata' syatit?" tanya Bariana dengan mata bulatnya.


"Janan syedih Ata', " ujar Harun lalu menepuk bahu Lino menyabarkan.


"Tasyian, Ata'Lino, Ata' Leno ban Ata' Lana budah eundat bunya papa mama," ujar Arraya ikut berurai air mata.


Mereka saling berpelukan. Memang Lana, Lino dan Leno belum kembali ke panti. Para kakak mereka bekerja dan akan dijemput oleh Kiki, salah satu anak angkat Herman. Semua anak angkat masih tinggal di panti. Herman meluaskan bangunan itu dan memisahkan para anak laki-laki dan anak perempuan, terkecuali Lana, Lino dan Leno. Satu bangunan sederhana kini menjadi tiga bangunan. Dua bangunan bertingkat tiga menjadi hunian anak laki-laki di sebelah kiri dan hunian anak perempuan di sebelah kanan sedang di tengah merupakan bangunan para staf pengasuh dan pengurusan panti. Lana, Leno dan Lino tinggal di bangunan tengah itu bersama Ibu Diyanty, Ibu Rahma, Ibu Susi, Ibu Dinda dan Ibu Riri.


"Sudahlah jangan sedih-sedih lagi. Mama dan papa kalian sudah bahagia sama Allah," ujar Samudera menenangkan.


Semua mengangguk setuju. Harun kembali bertanya apa saja kegiatan ketiga anggota keluarga baru sebelum bergabung dengan mereka.


"Kita di sana ngaji, Leno udah iklo dua!" sahutnya bangga.


"Wah ... bebat!" puji Bariana sambil bertepuk tangan.


"Aya judha naji, papi palu itlo syatu,"


"Ayi judha itlo syatu!"


"Alun judha!"


"Zha judha!"

__ADS_1


"Talo eh kalo Ata'Sky udah iqro lima!"


"Ata'Benua udah iqro tujuh!"


"Kalo Kak Samudera udah Qur'an besar sekarang lagi berusaha hapal sepuluh djuz," sahut Samudera.


"Kok, Kak Domesh, Dik Bomesh dan Dik Bariana nggak ngaji? Emang nggak belajal?" tanya Leno.


"Oh, mereka agamanya beda, tidak mengaji," jawab Samudera.


"Oh begitu," sahut Lana.


"Eh, nanti kamu sekolah di tempat kita aja!" ujar Sky mengalihkan pembicaraan soal agama.


"Kata Ibu Latna, kita mau di pondok pesantlen, sepelti kakak yang lain," jawab Lino.


"Woh teunapa bedithu?" tanya Azha bingung.


"Telalu jauh kalo sekolah di tempat kalian," jawab Lana. "Lebih dekat dengan pondok pesantren."


Semua pun mengangguk. Para ibu-ibu telah selesai memijat Leon, mereka harus mengurus para anak-anak. Memang Samudera, Benua dan Domesh tidak sekolah karena kelas mereka dipakai untuk ujian anak-anak kelas enam. Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid kelas enam. Mereka tengah mengikuti ujian.


"Assalamualaikum!" ujar mereka memberi salam.


"Wa'alaikumussalam!" sahut semuanya.


"Sudah selesai ujiannya?" tanya Bart.


"Belum Grandpa, Jumat ujian terakhir," jawab Dewi lemas.


"Ayo cuci tangan dulu, trus makan!" titah Khasya.


"Suapin bunda," rengek Dewi.


"Sayang," peringat Khasya.


"Bunda ...!" rengek gadis itu makin keras.


"Sudah, biar daddy yang suapi ya," sahut Virgou.


Dewi mengangguk. Gadis itu benar-benar kelelahan. Bukan hanya dia, tapi juga yang lainnya ikutan minta suap.


bersambung.


next?

__ADS_1


__ADS_2