SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
GOMESH


__ADS_3

“Apa kau yakin dengan keputusanmu Gom?” tanya Virgou setelah kepergian tujuh Diablo bersaudara.


Gomesh hanya diam, Maria sang istri mengelus lengan sang suami untuk menenangkan pria raksasa itu. Gomesh menatap Maria, sebuah anggukan tegas di sana.


“Di sini aku akan baik-baik saja,” ujarnya.


“Aku hanya sebentar di sana. Aku janji!” ucap Gomesh.


“Pergilah sayang. Kamu buktikan jika kau sudah memaafkan mereka semua. Seburuk apapun, mereka adalah keluargamu. Jika memang mereka ingin tinggal di sini, bawalah,” sahut Maria begitu tegas.


“Terima kasih sayang,” Gomesh memeluk istrinya.


Pria itu mengecup sepasang anak kembarnya. Lalu memanggil Domesh sebagai anak laki-laki pertama.


“Nak, Papa pergi sebentar. Kamu jaga Mommy dan semua adik-adik ya!” pintanya.


“Papa au nana?” tanya Arsh mencebik dengan mata menggenang. Bayi tampan itu langsung memeluk pria raksasa itu.


“Nan ana-ana Papa ma Alsh ja,” pintanya sambil menyerukkan kepalanya di leher Gomesh.


“Oh Baby. Papa cuma sebentar sayang, hanya satu minggu kok,” ujar Gomesh begitu terharu.


“Ma ntal?” bayi itu menegakkan kepalanya menatap Gomesh dengan mata bulat.


“Iya, Baby. Papa cuma sebentar,” jawab Gomesh dengan senyum lebar.


“Pilan don bdfjjdsjmmbufhfbcduh!” Arsh mengomel dan melepas pelukannya.


Gomesh gemas dan menciumi bayi itu hingga tergelak. Hal itu membuat pria raksasa itu diserbu semua anak-anak bahkan para remaja. Arimbi memeluk pria itu, Gomesh adalah pria yang ia sukai dari ia bayi begitu juga Nai.


“Papa jangan lirik-lirik cewe lain ya di sana!” peringat Nai posesif.


“Iya, awas aja kalo sampe lirik cewe lain!” peringat Arimbi mengepal tinjunya ke muka Gomesh.


“Papa!” Satrio memeluk idolanya.


“Hais ... kalian apaan sih!” gerutu Herman.

__ADS_1


“Ayah ikut Gomesh lah kalau begitu!” ancam Herman kesal dan cemburu melihat putra dan putrinya berat melepas Gomesh.


“Nggak boleh!” teriak Virgou, Haidar, Gabe, David dan Budiman kompak.


“Kenapa sih, aku malah senang jika Ayah ikut,’ sahut Gomesh yang senang jika ada yang ikut dengannya.


“Kau mau kutendang hingga Eropa Gomesh?!” ancam Virgou.


“Wah ... Daddy pisa bendan Papa pampai Lelopa!” sahut Bariana takjub sambil bertepuk tangan.


Virgou berdecak gemas pada batita cantik itu. Akhirnya Gomesh pergi setelah membawa satu koper ukuran kecil. Ia ke bandara pribadi milik Bram dan naik jet pribadi milik Virgou yang terbaru. Pria itu akhirnya pergi bersama Bastian, putra dari Gabe.


Hingga menjelang malam, mereka baru sampai di bandara pribadi milik Bart, Leon menjemput mereka. Bastian sudah tidur, remaja empat belas tahun itu digendong oleh Gomesh.


“Papa,” Bastian membuka mata.


“Shhh ... bobo sayang,” Gomesh mengelus kening remaja tampan itu.


Bastian kembali tertidur dan memeluk erat lengan besar milik Gomesh. Satu jam mereka sampai pada mansion milik Leon. Kastil tengah direnovasi menambah paviliun. Karena pesta resepsi pernikahan Rion akan di adakan di sini.


“Nyonya, Maaf mengganggu malammu,”ujar Gomesh minta maaf pada Najwa.


“Ayo masuk,” lanjutnya.


Perut Najwa sudah besar, dua janin dalam perutnya begitu senang dengan kedatangan dua pria itu hingga membuat pergerakan yang membuat Najwa meringis.


“Baby,” keluhnya sambil mengusap perutnya yang bergerak.


“Baby ... tenang ya sayang,” Leon mengelus perut istrinya.


“Mungkin mereka ingin dielus salah satu Papanya,” ujar Najwa.


Gomesh menatap Leon. Pria itu menarik tangan raksasa itu ke atas perut istrinya yang masih bergerak. Ketika dielus barulah Najwa lega dan janin tenang di dalamnya.


“Jangan membatasi diri Gom, bahkan dua janin ini juga sangat aktif jika berdekatan dengan Frans, begitu juga kandungan Kak Lastri janinnya sangat aktif jika berdekatan denganku,” jelas Leon.


Mata Gomesh menghangat, ia merasa betapa seluruh keluarga Dougher Young menganggapnya. Ia sangat beruntung dulu menodong pisau pada pria sejuta pesona itu.

__ADS_1


“Istirahatlah,” suruh Leon.


Gomesh masuk ke kamarnya, ia pun merebahkan diri di sana mengingat awal bertemu dengan Virgou. Gomesh kecil yang kedinginan, karena hari itu baru saja turun dengan deras, bajunya kuyup, tubuh mengigil dan bibir membiru, terlebih perutnya melilit meminta untuk diisi.


Pada waktu itu adalah hari minggu, mestinya banyak orang keluarf masuk gereja. Tetapi hujan yang datang tiba-tiba membuat tak ada orang lalu lalang di sana. Gomesh kecil melihat seberang jalan yang begitu banyak orang berteduh di sana.


Gomesh kecil mengira itu adalah gereja kecil karena bangunannya yang mirip. Ia sangat heran kenapa orang-orang malah banyak keluar dari tempat itu dan berteduh di sana. Padahal gereja tempatnya berdiri jauh lebih besar di banding tempat itu.


“Apa aku ke sana ya?” tanyanya bermonolog.


Gomesh kecil memberanikan diri, ia hanya menyebrang jalan untuk mendekati kumpulan orang-orang itu dan menodongkan pisau di sana. Setelah mendapatkan uang dan roti, ia akan kembali ke sini menunggu ayahnya menjemput.


Gomesh berhasil menyebrang jalan besar itu, padahal itu adalah pertama kali ia lakukan. Setelah menyebrang tiba-tiba seorang pria memakai baju aneh menariknya.


“Astaghfirullah nak, bajumu basah ... kamu ganti ini ya,” ujar pria itu lalu memberikan baju.


“Kamu pilih nak, pilih saja,” ujarnya.


Gomesh mengambil satu baju, pria itu juga memberinya celana panjang, lalu menuntunnya di sebuah bilik kecil. Gomesh pun mengganti baju dan celananya yang basah, ia menyelipkan pisau itu di kantung celana yang baru ia pakai.


“Ini kau taruh di sini baju basahmu,” ujar pria itu memberikan sebuah plastik.


Gomesh memasukkan bajunya. Pria itu memberinya segelas susu hangatm minuman tandas di perutnya yang kempir, lalu pria itu membawanya ke sebuah kantin dan menyuruhnya mengambil makanan yang ia mau. Gomesh mengambil piring, sosis, kentang goreng nugget dan juga sandwich menjadi pengganjal perutnya siang itu.


Setelah kenyang, pria itu masih membawakannya satu kresek kue-kue untuk dibawa pulang. Tetapi karena Gomesh masih ingin uang. Ia kembali berdiri di depan gereja dan menunggu orang lewat di sana.


“Serahkan uang anda Tuan!” todong Gomesh kecil pada sosok tampan dan menawan.


Sebuah pisau terarah pada pria sejuta pesona itu yang menatapnya. Hanya dengan gerakan kecil, pisau yang dipegang Gomesh berpindah ke tangan pria itu.


“Ayo ikut aku. Kau akan bisa menjadi lebih hebat dari ini!” tawar pria itu dengan seringai jahat.


Gomesh kecil terhipnotis dengan seringai jahat Virgou, ia mengangguk dan ikut bersama pria itu. Helaan napas terdengar dari pria raksasa yang mulai memejamkan matanya. Pria itu meyakinkan diri, ia datang hanya untuk memaafkan semuanya.


“Mami ... Papi ... apa kau baik-baik saja?” tanyanya sebelum kantuk besar menyerangnya dan Gomesh terlelap.


bersambung.

__ADS_1


next?


__ADS_2