SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
DISNEYLAND


__ADS_3

Semua anak bebas berkeliaran di sebuah taman wisata terkenal, Disneyland.


Kawasan itu memang tidak begitu ramai karena memang bukan hari libur dan juga bukan weekend. Terlebih seluruh karcis diborong oleh pengusaha kaya raya itu.


Duo R berburu kaos-kaos bergambar Donald duck. Semua anak heboh..


"Ini dia paman pelit Gober bebek!" seru Kaila ketika mendapat kaos salah satu tokoh kartun tersebut.


"Apah ... au imih!" pekik Faza menarik boneka tazmania devil.


"Alsh mawu imih Addy!" pinta Arsh pada Gabe menunjuk satu mainan truk yang mengangkut sapi.


Tentu saja semua anak dibelikan mainan yang diinginkan. Hanya anak-anak Bart, termasuk triple eL yang menolak dibelikan.


"Mahal papa ... sayang uangnya," ujar Azlan.


"Lagian nanti kita dimintai pajak pas di bandara," lanjutnya.


"Nggak masalah, hanya 63ribuan aja kok perbaju. Lagian kita pake bukan beli grosiran," ujar Rasya.


"Ambil saja sayang," suruh Bart.


Tapi, semua tetap menolak. Kaila lalu menjepret beberapa view yang menurutnya sangat indah.


Semua pergi ke wahana bermain. Kaila, Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid diberi tugas mengawasi adik-adiknya. Hal itu tentu membuat Kaila protes.


"Kita ke sini mau main ... bukan buat jagain adik-adik!"


"Daddy aja sama Mommy yang jagain anak-anak bayi!" ketusnya lagi.


"Baby!"


"Atau Kak Ion yang jagain!" sungut Kaila kesal.


Virgou akhirnya mengalah karena Puspita memelototinya. Pria sejuta pesona itu tunduk pada galaknya sang istri.


Harun tentu tak perlu dijaga, tetapi bayi terlalu banyak. Jadi semua mata orang tua harus awas.


Semua anak puas bermain. Bahkan bayi-bayi yang biasa menggunakan dengkulnya memilih berjalan.


"Wah ... ada bodyguard merangkap sebagai baby sitter ya?!" ledek salah satu pengunjung.


"Apa orang tua mereka tak memiliki banyak uang ya sampai mengandalkan pengawal menjaga semua anak," lanjutnya masih menyindir.


Rosa mendengarnya, ingin sekali ia merobek mulut pengunjung yang nyinyir itu.


"Sudah abaikan saja!" peringat Exel.


"Aku suka bisa menjaga dan mengasuh semua tuan dan nona bayiku!" tandas Rosa menatap semua perusuh yang selalu bisa mengerjai para pengawal itu.


"Iya ... aku tadinya tidak suka bayi. Tetapi melihat mereka sepertinya jauh lebih pintar dari aku. Aku tak keberatan sama sekali!" lanjutnya.


Akhirnya, semua puas bermain. Waktu maghrib sebentar lagi tiba. Bart sengaja membawa mereka setelah ashar. Tentu waktu berbuka di Eropa berbeda dengan di Indonesia.


"Ayo kita pulang!" ajak Maria.


"Nggak perlu Maria!" ujar Bart.


"Kita langsung ke bandara. Selesai sholat maghrib kita pulang ke Indonesia!" jelas pria itu.


Akhirnya semua kelelahan, Exel mendekati Dewi. Pemuda berusia dua puluh tahun itu sangat tertarik dengan gadis bar-bar milik Herman.


"Nona!' Herman yang menoleh.

__ADS_1


"Mau apa kamu!" sahutnya galak.


"Ayah," rengek Exel jadi manja.


Herman berdecih, Khasya memenangkan suaminya, lalu menggandeng lengan suaminya dan membawanya jauh dari sana.


Dewi bukan gadis yang gampang di rayu. Setelah pernikahan Satrio ia akan pergi ke Rusia untuk menyabet gelar shimpai dan menjadi master bela diri termuda sedunia.


"Nona ...."


Tatapan tajam milik Dewi akan menciutkan siapapun yang memandanginya, termasuk Exel.


"Mau apa Pa?" tanya Dewi yang ikut memanggil semua pengawal pria dengan sebutan Papa.


Dewi berusia delapan belas tahun. Tinggi gadis itu hanya sebahu Exel. Tapi pria itu yang menunduk padanya.


"Baby ... ayo!" ajak Dewa.


Dewa lahir lebih dulu sepuluh menit dibanding Dewi. Gadis itu menurut, Kaila menatap Exel.


"Papa mau deketin Bu'lek ya?!" tuduhnya.


"Papa Pecel mawu detetin Pude


Pewi?!" seru semua perusuh.


"Puwat pa'a?" tanya Maryam bingung.


"Pita dali padhi pidedetin Papa peunawal," lanjutnya.


"Butantah pita peman pidedetin Papa apaw Tinti ya?" tanya Fatih.


"Biya ... matsut Ata' Ila pa'a ?" tanya Aaima kini.


"Baby!" peringat Seruni.


Kaila tak sepolos saudaranya yang lain. Ia sangat tau hubungan perempuan dan laki-laki.


"Sayang Kak Ella, Bastian, Billy dan Martha nggak ikut," keluh Dewa mengubah alur pembicaraan.


Semua menoleh pada Dewa. Remaja itu berdecak. Kaila hanya menutup mulut menahan tawa.


"Baby jangan bicara sembarangan ya!' peringat Widya.


"Iya Mommy," angguk Kaila menurut.


Setelah itu mereka naik bus menuju bandara. Memang semua tak membawa banyak baju.


"Kalian sudah bawa semua perlengkapan kalian kan?" semua mengangguk dan membuat Bart tersenyum.


Butuh waktu tiga jam untuk sampai bandara pribadi milik Dougher Young. Leon dan Frans ikut pulang karena semua pekerjaan telah selesai.


"Andi, Bambang, Ahmad, Bintang ... Papa harap kamu harus belajar serius. Papa buat usaha ini untuk kalian. Mengerti!" perintah Frans pada adik-adiknya.


"Iya Pa," angguk semua anak menurut.


"Days ...."


Arsh berbisik pada tiga saudaranya yang satu kursi dengannya.


"Pa'a Alsh?" tanya Arsyad.


"Alsh peunasalan pentan pasal yan pipilan Ata' Ila?" ujarnya.

__ADS_1


"Beumana teunapa?" tanya Fatih.


"Beunulut tamuh pasal ipu pa'a?" tanya Arsh sangat penasaran.


"Talo inet-inet tata Ata' Tean, pasal ipu sesenis paun," jawab Arsyad.


"Tot padhi Ata' Ila matsutna butan ipu ya?" tanya Arsh lagi.


"Tan taun pasal tayat taun yan walin ya. Taun ipu peuledetanan syatu pama.bainnya!" jelas Fatih.


"Sadhi batsutna Pulet Wewi pisanta paun beudithu?" sahut Fatih tak suka.


"Pulet Wewi tan butan pumbuhan!"


Percakapan tiga bayi menarik perhatian semua orang. Mereka penasaran dengan percakapan selanjutnya.


"Pa'a tah pulet Pewi bawu sadhi taun?" tanya Arsh.


"Hei ... kalian jangan bicarakan masalah orang dewasa!" sahut Sky tiba-tiba.


"Teunapa Ata'!" tanya Arsh.


"Belum waktunya!" jawab Sky.


Semua bayi menghela napas besar. Para orang tua tentu gemas mendengarnya.


Akhirnya bus sampai di bandara pribadi. Setelah memeriksa tiket akhirnya mereka naik pesawat dan langsung lepas landas setengah jam setelahnya.


"Kita pulang!" teriak Rasya.


Delapan belas jam perjalanan, akhirnya sampai, keadaan masih gelap. Sahur masih berlanjut. Para remaja dan dewasa memilih sahur di bandara sebelum pulang.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam ... papa pulang!" seru semua anak angkat Bart.


"Alhamdulillah sampai di rumah!" ujar Bart.


Rasya dan remaja lain memilih langsung ke kamar dan menyiapkan perbekalan sekolah mereka.


"Pulang-pulang kita langsung ujian!' keluh Dewi berdecak.


"Baby nikmati saja ya!" ledek Rion.


"Papa udah lama lulus jadi nggak pusing!"


"Papa ih!" sengit Dewi kesal.


"Hei ... ayo sekolah!" teriak Dewa yang sudah siap untuk berangkat.


Akhirnya anak-anak yang sekolah pergi dengan wajah setengah mengantuk. Terra menatap Bart kesal.


"Apa kau melihat ku seperti itu?" tanya Bart sewot.


"Gara-gara Grandpa ngajak anak-anak!" dengkus Terra kesal.


"Kau ...!' Bart tentu marah dengan cucu cantiknya itu.


Bersambung


yah gitu deh.


Next?

__ADS_1


__ADS_2