
Seorang pria dengan wajah bengis baru saja bangkit dari ranjang dengan tubuh bugil. Di ranjang itu ada tiga perempuan yang juga tanpa busana. Ketiganya terlelap setelah memuaskan pria yang membayarnya.
Usai membersihkan diri. Pria itu mengeluarkan dua gepok uang dengan nilai sepuluh dolar perlembar. Selama delapan jam mengeruk kepuasan. Pria dengan tinggi 178cm dan bobot 77kg itu keluar dari kamar presidensial suite room. Delapan bodyguard menunggunya segera membungkuk hormat.
"Tuan ... Jono dan teman-temannya dibuang ke laut lepas," lapor salah satu pengawalnya.
"Oh ya?" tanya pria itu berjalan dengan begitu gagahnya.
Mereka menaiki lift. Hari masih terlalu pagi untuk dirinya. Tapi ia sangat bosan dan memilih pergi dari hotel mewah itu.
"Sudah dibayar Tuan!" ujar seorang pria berwajah tampan.
Rodrigo Andriano, tiga puluh delapan tahun. Pria kebangsaan Italia itu sangat tampan luar biasa. Seorang mafia yang berjulukan The Sniper, dijuluki demikian karena memang bidikannya tepat sasaran.
"Katakan siapa membuang mereka?" tanyanya ketika memasuki mobil mewahnya.
"BlackAngel!' jawab pengawalnya.
Rodrigo terdiam, ia bukan tidak tau siapa nama yang disebut. Sebuah legenda mafia yang kembali hidup setelah hancurnya sektor D.
"Ehem," ia berdehem untuk menutupi tangan dan dadanya yang berdebar mendadak.
"Apa mereka mengetahui keterlibatan kita dengan tujuh orang bodoh itu?" tanyanya menekan kecemasan yang keluar dari dirinya.
"Sepertinya tidak Tuan," jawab pengawal.
"Cari tahu!" titahnya.
"Baik Tuan!" sahut kepala pengawal itu.
"Aku dengar BlackAngel memiliki keturunan yang dijuluki DeathAngel dan juga ShadowAngel?" tanya Rodrigo.
"Benar Tuan," jawab sekretaris pria itu.
"Aku jarang melihat kiprah mereka. Cari tahu dan ajak kerjasama!" ujarnya lagi memberi perintah.
"Eum ... kita kesulitan untuk itu Tuan," jawab Norman Angelo sang sekretaris.
"Kenapa?"
"Keberadaan mereka tak ada yang mengetahui, tidak seperti ayah mereka Tuan BlackAngel!" jawab Norman.
__ADS_1
Rodrigo diam, ia lagi-lagi bukan tidak tau ketika ada pengkhianatan di organisasi milik BlackAngel. Semua dihabisi di altar mafia. Terlebih kini Harimau Benggala bergabung dengan kelompok itu setelah ketua mereka mengundurkan diri.
"Mereka kuat sekali," gumamnya kagum.
"Tuan, kita harus ke Jakarta untuk urusan bisnis dengan perusahaan Triatmodjo!" lapor Norman teringat.
"Ck ... kau selalu begitu Nor!" decak kesal pria beriris hijau itu.
Norman hanya menunduk sebagai permintaan maaf. Kini mereka berada di sebuah bandara pribadi milik seorang pengusaha ternama. Walau Rodrigo seorang pebisnis handal, tapi kekayaannya belum mampu membeli pesawat jet pribadi.
"Tuan, selamat datang di pesawat DY Airways. Di sini kami menyediakan internet udara. Anda bisa menggunakan internet selama sepuluh menit paling lama di ketinggian 1700 kaki!" jelas pramugari setelah memberi instruksi penyelamatan.
"Wah ... apa bisa begitu?" tanyanya takjub.
"Tentu Tuan. Kamu sudah memiliki layanan ini dua pulu tahun yang lalu!" jawab pramugari dengan senyum ramah.
Rodrigo mencobanya ketika berada di ketinggian yang ditentukan. Pria itu dapat melakukan sambungan telepon internet pada sosok wanita dengan wajah cantik di sana.
"Jaga dirimu sayang," ujar wanita itu penuh kasih sayang.
"I will Mom," jawabnya lalu memberi kecupan jauh untuk sang ibu.
Sepuluh menit waktu yang cukup untuknya hanya untuk memberi kabar pada sang ibu. Ia begitu nyaman dengan pelayanan di pesawat mewah ini. Sesekali ia melirik pramugari cantik yang menyodorkan jus buah untuknya. Tak ada wine karena penerbangan itu tidak menyediakan minuman beralkohol.
Pria itu baru menemui sebuah pesawat yang berisi awak kabin yang berpakaian sangat formal dan tidak mengundang hasrat.
"Ck ... sialan!" umpatnya dalam hati karena lirikan menggodanya diabaikan sang pramugari cantik.
Butuh waktu delapan jam perjalanan udara. Memang pesawat jet mampu menempuh jarak tempuh lebih cepat.
Sampai di sebuah bandara pribadi. Ia dijemput oleh salah seorang among tamu yang ditugasi oleh perusahaan Triatmodjo. Karena hari sudah malam. Keempat pria itu diantar ke sebuah hotel mewah.
"Apa aku bisa memesan wanita?" tanyanya.
"Maaf Tuan. Kami tidak menyediakan hal itu di sini. Ini hotel berkelas, jadi yang kami sajikan tentu berkelas!" ujar resepsionis yang lagi-lagi sangat cantik namun begitu tegas dan terlihat galak.
Rodrigo mencibir sang resepsionis. Ia mengira dengan menggunakan aura ketampanannya gadis itu akan mau menyodorkan diri ke ranjangnya.
"Tuan, ini kunci kamar anda dan tiga orang lainnya!" ujar resepsionis dengan tatapan datar dan senyum dipaksakan.
"Astaga hotel apa ini!" umpatnya pelan.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya diantar oleh room boy. Pekerja itu juga menolak tips, Rodrigo sangat jengkel dibuatnya.
"Apa mereka sudah kaya semua!" gerutunya kesal.
Akhirnya ia bisa tidur pulas di atas kasur empuk yang nyaman. Pria itu mendapatkan fase tidur berkualitas untuk pertama kalinya.
Pagi menjelang, pintu kamarnya diketuk dari luar. Norman sudah siap begitu juga Rodrigo. Pria itu membawa dua pengawal pribadinya.
Mereka keluar dari hotel dan naik sebuah mini van mewah dari perusahaan Triatmodjo.
"Tuan Herman Adian Triatmodjo adalah seorang pebisnis legenda yang terkenal, Tuan," lapor Norman begitu antusias.
Rodrigo berdecak, pria itu meremehkan bangsa Asia yang menurutnya sangat membosankan. Walau sejurus kemudian ia terpukau dengan kota yang menampilkan gedung-gedung tinggi menjulang. Kemacetan biasa di semua jalan raya ibukota. Tapi supir mencari jalan alternatif agar tak terjebak kemacetan terlalu parah.
Mereka pun turun setelah dua puluh lima menit perjalanan. Rodrigo menatap gedung tinggi di depannya. Ketika masuk kenyamanan langsung ia rasakan.
"Selamat datang Tuan Andriano!" sambut Kean yang berdiri menunggunya.
Rodrigo terpana, ia sangat yakin jika laki-laki di depannya masih sangat belia. Terlihat dari wajah tampan yang masih begitu muda. Namun sorot mata biru Kean mampu menembus siapapun yang menantangnya.
"Selamat datang. Perkenalan saya adalah Muhammad Kean Black Dougher Young, saya adalah asisten sekaligus sekretaris utama dari Tuan Herman Adian Triatmodjo!" ujar remaja mau sembilan belas tahun itu memperkenalkan diri.
Rodrigo menyambut tangan yang mengulur, ia sedikit mengernyit sakit ketika tangan itu menggenggamnya kuat.
"Mari ikut saya ... Ayah ... eum maksud saya Tuan Triatmodjo menunggu anda!" ajak Kean mempersilahkan.
Mereka bergerak menuju lift khusus menuju ruangan di mana Herman berada. Ketika masuk, Rodrigo langsung menunduk takut begitu juga Norman dan dua pengawal lainnya. Hanya Kean yang langsung berdiri di sisi pria dengan sorot mata membunuh itu.
"Tuan Triatmodjo," cicit Rodrigo begitu lirih.
Semua arogansi pria beriris hijau itu terbang, bahkan julukannya sebagai sniper tak ada artinya di depan pria berusia tujuh puluh tahun itu.
"Silahkan duduk Tuan!" ujar Herman sangat dingin.
Rodrigo benar-benar tak berani menegakkan kepalanya. Dua pengawal berdiri tak jauh dari sana bersama tiga pengawal Kean. Dua pengawal itu juga ciut menghadapi tiga pengawal yang mengapitnya.
"Silahkan Tuan Andriano!" ujar Herman mempersilahkan.
Rodrigo dan Norman menelan saliva kasar. Mereka seperti menghadapi sosok monster ganas yang akan siap menelan mereka mentah-mentah.
Bersambung.
__ADS_1
Uh ... ayah gitu loh 😁😎
next?