
Layla menatap muridnya. Semenjak wali yayasan berbicara perihal ia mengikuti kembali perlombaan itu membuat gadis itu banyak diam dan melamun.
"Jangan menjadi beban sayang," ujar guru cantik itu.
"Tapi Bu, Ustadzah Naslimah benar. Ini adalah untuk kebaikan nama pesantren," ujar Adiba lemah.
"Nak, bukan begitu cara membangun nama baik pesantren. Kamu jadi peserta didik yang baik itu sudah menjaga nama baik pesantren!" terang Layla.
"Sekarang adalah kenyamanan kamu Nak, Ibu tak pernah mau memaksa kamu untuk kembali ikut perlombaan itu. Tetapi jika kau merasa ingin kembali. Ibu juga tidak melarang, sebisa mungkin ibu akan membimbingmu," lanjutnya.
Adiba yang baru tiga belas tahun, tentu tak bisa mengambil keputusan. Adiba begitu bersemangat di awal, ia sudah menyusun semuanya. Lalu semangatnya yang membara tiba-tiba dipadamkan begitu saja. Gadis tanggung itu hendak membuka mulut tetapi satu kalimat panjang Satrio melintas di kepalanya.
"Kau sudah masuk ke dalam keluarga seorang pebisnis. Akan banyak yang menyorotimu dan kau jadi kuda perah para pebisnis yang ingin memanfaatkan karena mengirim banyak SMS!"
"Mas Satrio sudah mengingatkan Diba jika keikutsertaan nanti akan banyak polemik. Apa iya Diba menang karena kualitas bukan didorong dengan SMS?" gadis itu bermonolog.
"Pasti banyak yang iri dan mengingat jika keluarga akan mendukung penuh," lanjutnya lagi.
"Ah, benar kata Mas Satrio. Diba memang tak harus ikut serta. Ibadah itu mestinya tersembunyi dan tak banyak orang yang tau," lanjutnya.
Gadis tanggung itu pun telah memantapkan pilihannya. Ia juga sudah memprogram ulang apa yang harus ia lakukan. Pembukaan MilkTime Out Babies akan segera dilaksanakan. Bangunan dan dekorasi sudah selesai. Taman bermain juga sudah diatur sedemikian rupa. Adiba telah mengikuti standar keselamatan anak-anak yang akan bermain nanti.
Bel pulang berbunyi, gadis itu baru kelas satu tsanawiyah. Banyak teman bertanya kenapa dia gagal masuk ke lomba.
"Ya nggak menang," jawab gadis itu santai.
"Diba!" wali yayasan kembali memanggil gadis tanggung itu.
"Maaf Bu Ustadzah, saya tetap menolak ikut lomba!" jawab Adiba tegas.
'Nak ... masuk dulu yuk, kita bicara empat mata," ajak wali itu.
Layla belum keluar dari kelas lain. Guru cantik itu mengajar bahasa Arab di kelas tiga.
"Maaf Bu. Saya harus pulang, adik saya sudah menunggu di depan!" ujar Adiba menolak bicara.
Memang Ajis sudah kelas lima Diniyah atau setingkat kelas lima SD. Sedang Alim kelas satu, Ahmad kelas dua dan Amran kelas tiga sudah pulang dan sudah berada di rumah Terra. Juno dan Ricky menunggu Ajis dan Adiba.
"Ibu bisa mengeluarkanmu dari sekolah dan memberimu review buruk!" ancam Naslimah.
"Ibu memaksa saya?!" tanya Adiba.
__ADS_1
"Ibu bukan memaksa, tapi ini demi kebaikan nama pesantren yang bergantung padamu Nak. Bayangkan jika nama kita selalu kamu sebut. Akan banyak wali di luaran sana berbondong-bondong mendaftarkan anaknya kemari!" jelas wanita itu memaksa.
"Apa saya saja yang harus mengangkat nama pesantren?" tanya Adiba datar.
"Ada Kak Nuril yang juga tengah berjuang masuk peringkat dunia MTQ Internasional, Ada Kak Amin yang juga sedang debat bahasa Arab di tingkat dunia. Mereka jauh lebih menaikkan nama pesantren dibanding Diba yang hanya masuk televisi!" sahut gadis tanggung itu.
Juno yang tengah menunggu nonanya keluar tampak mengernyit bingung. Semua anak sudah keluar tapi tinggal Adiba yang belum keluar dari tadi. Pria itu memilih masuk ke dalam dan mencari keberadaan nonanya.
"Nona!" panggilnya.
"Om," sahut Adiba.
"Ada apa kenapa kamu lama keluar?" tanya pria itu.
"Maaf Bapak siapa ya?" tanya Naslimah.
"Saya Juno. Saya salah satu wali dari Adiba Bu," aku pria itu.
Juno adalah pria terlatih. Ia dapat membaca situasi dengan cepat. Ia melihat nona mudanya seperti putus asa menghadapi wanita yang memiliki kedudukan di pesantren di mana gadis tanggung itu menimba ilmu.
"Bagaimana jika kita masuk dan bicara Pak," ajak Wakil yayasan itu.
"Tapi Pak ... ini demi kebaikan kita bersama. Anak bapak akan membanggakan bapak dengan masuk ke siaran televisi!" ujar wanita itu masih bernegosiasi.
Layla baru keluar bersama anak-anak kelas tiga tsanawiyah. Di bangunan itu ada tiga sekolah umum dari tingkat SD hingga SMA. Semenjak meninggalnya ketua umum yayasan. Pesantren dipimpin oleh salah satu kerabat dari pemilik yayasan. Mereka menunggu keturunan langsung yayasan yang masih mengenyam pendidikan di Madinah, Arab Saudi.
"Adiba, kenapa masih di sini?" tanya Layla.
"Bu, tadi Bu Ustadzah Naslimah mengancam saya akan dikeluarkan dari sekolah jika menolak mengikuti lomba," adu Adiba.
"Apa?" tanya Juno dan Layla bersamaan.
"Saya tidak mengancam Adiba!" elak Ustadzah Naslimah. "Saya hanya menekankan jika kesempatan itu tidak datang dua kali!"
Juno menangkap kebohongan pada wanita itu. Pria itu tak mau ambil pusing. Ia menggandeng Adiba dan mengajaknya pulang. Layla menatap wakil ketua yayasan pesantren dengan pandangan menyelidik.
"Saya tidak melakukan itu!" tekan Ustadzah Naslimah.
"Tapi saya adalah pemegang kekuasaan di sini. Tentu saya bisa melakukan apa yang terbaik untuk mengangkat nama pesantren!' lanjutnya tak mau disalahkan.
"Maaf Bu. Tapi dengan tindakan seperti itu, Ustadzah malah membuat anak-anak jadi tertekan dan tak bisa mengekspresikan dirinya," sahut Layla setengah kecewa.
__ADS_1
"Jika kau tak suka. Kau bisa mengajar di sekolah lain Ustadzah Lyla!" sahut Ustadzah Naslimah berani.
Layla menggeleng tak percaya. Ia baru mendapatkan sosok yang begitu otoriter di sini. Sepeninggalan Guru besar pesantren, banyak perubahan yang diambil secara sepihak oleh wanita itu. Semua pendidik banyak melakukan protes dan sudah mengadu pada pihak ahli waris.
"Ibu tidak memiliki kewenangan untuk mengeluarkan siapapun dari pesantren, Ustadzah Naslimah!" ujar Layla mengingatkan wanita itu.
Sedang di dalam mobil, Ajis memandangi kakaknya yang tengah melamun. Tekanan dari wakil kepala yayasan membuatnya jadi sosok yang diam sejak tadi.
"Kak," panggil bocah sepuluh tahun itu.
"Diamlah dulu Jis!" sahut Adiba sedikit membentak.
''Adiba!" peringat Juno.
Adiba menutup matanya. Ia langsung menyesal telah membentak adiknya yang tidak tau apa-apa. Ajis langsung sedih, selama ini kakak perempuannya tak pernah membentaknya walau selelah apapun.
"Ajis salah sama Kakak?" cicit bocah itu.
"Nggak Dik. Maaf ya, tadi kakak salah," Adiba langsung memeluk Ajis.
"Kak, kalau Ajis salah bilang saja. Ajis akan memperbaiki sikap Ajis. Ajis tidak akan mengganggu kakak lagi," ujar bocah itu dengan suara parau.
"Nggak Dik ... jangan lakukan itu. Kakak masih mau diganggu, jangan jauhi kakak!' pinta Adiba memeluk adiknya erat.
Gadis tanggung itu tentu tau bagaimana ketika Ajis lahir. Ia beda tiga tahun dengan bocah lelaki itu. Apak dan Amak yang menginginkan anak laki-laki setelah dua kelahiran anak perempuan. Ajis hadir sebagai penerus nama keluarga.
"Assalamualaikum jagoan Apak!' sahut Sabeni ketika Ajis lahir ke dunia.
Adiba masih ingat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah kedua orang tuanya. Ia juga senang mendapat adik laki-laki. Adiba ingat kata Apak-nya.
"Apak bukan membedakan kalian. Tapi hadirnya Ajis adik kalian akan menjadi pelindung sekaligus wali jika Apak sudah tidak ada nanti," jelas pria itu.
Adiba makin mengeratkan pelukannya. Ia masih ingat nasihat sang ayah ketika menghadapi sakaratul mautnya. Pria itu meminta untuk Azizah menjaga semua adiknya, tak boleh membentaknya. Jika melakukan kesalahan harus dituntun hingga benar.
"Maafkan Adiba Apak," ujar gadis itu dalam hati.
Bersambung.
Ah ... gara-gara ditekan Adiba sampai bentak adiknya! 😔
next?
__ADS_1