
Andoro menatap istrinya yang berdiri sambil menutup mulutnya. Pria itu sekali lagi memperlihatkan betapa wanita di depannya itu sangat-sangat ia cintai.
"Apa kau mau dengan pria yang penuh dosa ini?" tanya Andoro lagi.
Air mata mengalir begitu saja di pipi pria itu. Luisa menutup mulutnya, ia tak menyangka jika sang suami mau berlutut. Luisa kesal dengan Andoro, ia ikut bersimpuh.
"Kau jahat Mas ... hiks ... kau jahat!" isaknya.
Luisa memukuli pelan dada Andoro. Pria itu lalu merengkuh sang istri dan menenggelamkannya dalam pelukan.
"Maaf ... maaf ... maaf," ujarnya lirih.
"Aku sebal ... kenapa setelah aku tua kau menyerah bodoh!" umpat Luisa kesal.
Andoro terkekeh mendengarnya, walau pun dulu jika ia melepas Luisa dari awal. Wanita itu tak akan pernah pergi darinya.
"Dia pria yang pertama dan terakhir untukku. Jika berpisah, maka hanya kematian yang memisahkannya."
Sebuah tulisan di buku diary Luisa terbaca oleh Andoro. Dalam tulisan itu ada fotonya.
"Karena aku adalah cinta pertama dan terakhirmu sayang," bisik Andoro.
Pipi Luisa bersemu merah. Ia menatap suaminya. Andoro begitu terpana, kini ia kembali mendapatkan pesona sang istri setelah dua puluh lima tahun lamanya menghilang.
"Sayang, kita buat adiknya Langit yuk!" ajak Andoro begitu saja.
"Dasar gila!" Luisa mendorong suaminya.
Pelukan Andoro terlepas. Wanita itu setengah berlari menuruni tangga. Langit menatap wajah sang ibu yang memerah karena malu.
"Mama cantik sekali!" pujinya.
Nai sampai menoleh, ia juga terpana dengan kecantikan mertuanya. Pertama awal Luisa begitu datar dan dingin. Andoro turun, Langit ingin sekali mengajar ayahnya. Ia kini tau alasan sang ibu memperlakukan begitu keras dan sengaja bertentangan dengannya.
"Sayang," peringat Nai, sang istri.
"Lihat wajah Mama yang bersemu, itu tandanya Mama sudah memaafkan Papa," bisik Nai.
"Tapi ...."
Ucapan Langit terhenti karena Nai mengecup cepat bibir suaminya. Tak lama rumah itu penuh dengan manusia. Luisa tak bergeser dari bayi-bayi tiga dan empat bulan.
"Jadi Angel kembarannya Max Rafael, lalu Zaa kembarannya Nisa baru Chira kembarannya Aarav?" tanya wanita itu menatap antusias bayi-bayi yang begitu montok dan rakus meminum susu dalam botol.
"Jangan lupa sama tiga jagoan ini Ma," ujar Langit meletakan Aaric, Arvan dan Sena.
"Mama Baby Alsh nait lemali!" adu Harun berteriak.
"Astagfirullah!" Widya menurunkan bayinya yang ingin jadi pajangan di lemari buket di mana banyak keramik dan kristal mahal terpanjang.
Prang! Satu guci kecil dari kristal hancur ketika menyentuh lantai.
"Awas jangan ada yang ke sana!" peringat Reno.
Rio dan lainnya buru-buru membersihkan serpihan kristal yang dijatuhkan Arsh.
__ADS_1
"Baby, apa ada yang terluka?" tanya Rio pada bayi yang berdiri dekat dengan benda jatuh tadi.
"Eundat Om danten!" geleng Aisya lalu minta gendong Rio.
Darren sampai berdecak betapa genit putrinya itu. Luisa terbengong, tak ada yang mempermasalahkan benda jatuh itu.
"Ommy ... Alsh nin adhi pasanan!" teriak bayi tampan itu.
"Ngapain Baby jadi pajangan?" tanya Gabe gemas.
"Iyal anat yan ihat Addy!" angguk Arsh.
Semua tentu gemas mendengar jawaban Arsh. Bayi satu itu memang sangat berbeda dengan bayi lainnya.
"Kakak ingat kamu Baby," ujar Lidya pada Rion.
"Ion nggak kek Baby Arsh!" elak Rion tak terima.
"Mirip sangat mirip!" angguk Terra.
"Mama ... waktu itu Ion masih kecil!" sanggah pria itu.
Rion memang sudah tidak mengalami Couvade Syndrome lagi. Tapi pria yang sebentar lagi jadi ayah itu masih suka menjahili semua keluarga.
"Mama ... Baba mana?" tanyanya sambil memutar kepala mencari Budiman.
"Nggak tau, mungkin di depan sama pengawal lain," jawab Terra.
"Baba!" panggil Rion.
"Baba!" teriak Rion.
"Baby ... kenapa kau teriak seperti itu?" tanya Bart..
"Grandpa, Baba mana?" tanya Rion sedih.
Virgou melihat Budiman yang bersembunyi di pilar besar dan mengintip Rion yang tengah bersama Bart.
"Kurang ajar, beraninya dia bersembunyi dari Bayiku!" umpatnya geram.
"Ehem!" dehemnya ketika sampai di dekat Budiman.
Pria itu menoleh. Budiman membesarkan matanya. Netra biru itu langsung menatapnya super tajam dan siap membelah tubuhnya.
"Ketua," keluhnya.
"Baby!"
"Baby ... kamu cari Baba?" Budiman langsung keluar dari persembunyiannya.
Rion ngambek, bayi besar itu mencebik kesal pada Budiman. Pria itu berkali-kali meminta maaf. Luisa dan Andoro melihat bagaimana semua tingkah keluarga besar itu. Begitu hangat dan tidak ada perbedaan antara pekerja dan juga atasan. Zack kini dikerjai oleh banyak bayi yang mengerumuninya.
Tubuh Zack yang sama besar dengan Gomesh membuat ia jadi bulan-bulanan para bayi yang ukuran tubuhnya tiga kali lebih kecil darinya.
"Amuh ... spasa?" tanya Arsh menatap penuh selidik raksasa kedua itu.
__ADS_1
"Namaku Zack," jawab pria besar itu.
Zack sangat mengerti bahasa bayi, ia memiliki kemampuan banyak bahasa asing, Zack seorang poliglot.
"Snet?" ulang Maryam sampai miring kepalanya.
"Zack, Baby," ralat Zack.
"Zet!" ulang Arsh.
"Ah ... pusyah ... pita pandhil zaza Om Set!" sahut Harun kesulitan menyebut naman Zack.
"Pom Let!" ujar Arsh sambil mengangguk.
"Oteh Pom Let ... yu lalus bulutin Alsh ya!" titah Arsh berani.
Zack bengong, kini ia makin pusing dengan bahasa yang digunakan oleh bayi-bayi pemberani ini.
"Pom Pet, pa'a tamuh pisa banyi?" tanya Maryam sambil menggoyangkan tubuhnya.
"No ... i can't sing," jawab Zack.
"Oh ... no, no, no!" geleng Arsh.
"Lalus ... yes, yes, yes!" lanjutnya sok tau.
"Pom endon!" El Bara dan Al Bara menaiki pemuda raksasa itu.
Kini Zack dikerubuti oleh banyak bayi, pria itu sampai tergelak. Andoro dan Luisa mendengar gelak tawa Zack.
"Dia bahagia?" tanya Luisa.
"Aku tak pernah mendengar tawa Zack semenjak kematian ayahnya," lanjutnya terpana.
"Sayang, apa kau mau tinggal di sini?" tanya Andoro.
Luisa menatap suaminya, lalu pandangannya beralih pada semua orang yang asik bercanda dan saling menyindir itu.
"Aku mau, tapi perusahaanmu?" Luisa menjawab sekaligus bertanya.
"Aku bisa minta tolong besan kita memindahkan perusahaan. Buktinya Tuan Dougher Young dan Tuan Sanz melakukannya!" jawab Andoro menatap istrinya penuh cinta.
Luisa menatap suaminya lagi. Pandangan cinta yang memang selalu dilayangkan suaminya, betapa kehancuran pria itu ketika Luisa melempar surat cerai ke wajah pria itu.
Benci yang ia simpan begitu lama perlahan sirna. Ia masih mencintai Andoro begitu dalam, ia akan mati jika Andoro melepaskannya.
"Aku ikut kemana pun kau pergi sayang," ujarnya dengan rona di pipi.
Andoro memeluk istrinya. Pria itu sangat bahagia. Setelah dua puluh lima tahun mengejar cinta sang istri setelah pengkhianatnya. Luisa yang dingin dan tak mau disentuh ketika berada di ranjangnya. Wanita itu hanya berdrama ketika di luar mengijinkan suami menggenggam tangannya.
'Ternyata ... aku bucin juga,' keluh Luisa dalam hati.
Bersambung.
Cinta sejati itu ada jika mereka yang percaya. Pengkhianatan juga ada bagi mereka yang tertutup mata hatinya.
__ADS_1
Next?