
Pagi menjelang semua masih sibuk. Mereka ingin pulang ke huniannya masing-masing. Tadinya Kanya meminta semua menginap, tapi mereka takut mengganggu ketenangan Labertha.
"Kasihan ibumu sudah terlalu tua, jantungnya tentu akan bermasalah jika melihat seharian tingkah laku perusuh," terang Herman.
Permainan gerobak sodor membuat wanita itu berkali-kali mengelus dada. Ia berteriak bahkan menutup mata melihat cicit-cicitnya saling berkejaran hingga menabrak tubuh satu dan lainnya.
Herman melihat rumput Bram yang rusak. Ia menatap pria itu, Bram mengernyit.
"Apa?" tanyanya.
"Apa aku perlu mengganti kerusakan rumputmu?" tanyanya usil.
"Mas!" protes Bram kesal bukan main.
Herman terkekeh. Hal itu dilihat oleh Bertha. Herman sosok pria yang baru ia kenal secara personal. Sosok pria yang namanya sering disebut oleh koleganya. Wanita itu akhirnya penasaran dengan sosok itu. Banyak artikel menceritakan bagaimana ia mensukseskan usaha yang nyaris bangkrut. Pria yang bukan ditunjuk sebagai ahli waris oleh ayahnya sendiri. Herman ditunjuk semua rekan bisnisnya yang tak mau perusahaan itu hancur.
Herman menikah di usia tua. Makanya semua anaknya masih belia sedangkan dia sudah mau berusia delapan puluh tahun beda sepuluh tahun lebih muda dari Bram.
Bertha menatap Terra yang hanya menunjuk Rion dan anak-anak lain. Bagaimana semua anak-anak manja dengan wanita itu bahkan para iparnya.
"Mereka menerapkan apa artinya keluarga," gumamnya lirih.
Lalu pandangannya beralih pada Virgou. Sosok yang dulu begitu merepotkan Bart. Kini pria dengan sejuta pesona itu bergayut manja pada pria yang pernah memaki dan menghajar tubuh Virgou. Wanita itu juga melihat bagaimana Bart begitu menyayangi putra dari saudara kembarnya itu.
Netra lamur Bertha berkaca-kaca. Kehangatan menyeruak ke sanubarinya, walau jujur jantungnya tadi nyaris lompat dari sarangnya akibat melihat kelakuan para perusuh kecil itu.
"Menginaplah kalian," pintanya dengan suara serak.
Bram dan semuanya menoleh. Melihat mata renta itu berkaca-kaca membuat semuanya terkejut dan panik. Lagi-lagi Labertha merasakan betapa besar kasih sayang diberikan pada keluarganya ini.
"Grandma ... kau tak apa?" tanya Virgou khawatir.
"Tidak sayang ... aku tidak apa-apa," ujarnya dengan senyum indah.
"Aku mohon menginaplah hingga aku pulang ke Eropa nanti," pintanya lagi.
__ADS_1
"Tapi kami berisik grandma," sahut Maria berani.
"Tidak masalah, aku suka keramaiannya, membuat kinerja jantungku sehat," jawab Bertha.
Akhirnya semua kembali menginap sesuai permintaan wanita tua itu. Darren, Lidya dan Rion duduk sambil mengobrol seru, sedang Demian dan Saf jadi pendengar obrolan pasangan mereka. Hingga usai makan malam mereka pun tidur. Putri sangat tersanjung mengenal Lidya menjadi sahabatnya. Ia bisa tidur dikamar yang indah dan mewah khusus untuknya dan suami. Sedang Aini juga merasakan hal sama karena menikah dengan Gio yang menjadi ketua pengawal.
Pagi hari hanya rutinitas biasa terjadi. Mansion sepi karena semua bekerja. Bertha baru tau jika Khasya menjadi pimpinan dari perusahaan yang Virgou dirikan. Sedang Puspita menjadi wakilnya. Tadinya Terra ikut serta tapi semenjak semua anak dititip padanya, wanita itu memilih mengerjakannya di rumah saja.
"Sepi ... kapan mereka pulang?" tanya Bertha lalu melihat benda bulat di dinding dekat pintu teras belakang.
"Sean biasanya akan sekalian menunggu Dewa, Dewi, Rasya, Rasyid dan Kaila pulang jadi ia akan menunggu sedikit lama," jelas Kanya.
"Kau tidak menyuruhnya melakukan tindakan gila seperti kemarin kan?" tanya Bertha langsung menyudutkan menantunya yang usil itu.
Kanya hanya cemberut. Ia memang salah dengan kejadian kemarin, tetapi jika dia tak meminta Sean meninggalkan adik-adiknya, dua bocah tak bersalah akan jadi korban. Ia pun tak mempermasalahkan keusilannya itu.
"Apa Nai, Arimbi dan Daud akan ke pesta perpisahan nanti sore?" tanya Bertha lagi.
"Iya benar, kenapa mom?" tanya Kanya.
"Kenapa kalian tak menyuruh mereka belanja gaun atau dress? Khususnya untuk Arimbi dan Nai?" cecar Bertha.
"Aku tak pernah melihat putrimu memakai pakaian dari branded ternama, Terra?" tanya Bertha bingung.
"Semua anak gadis seusia Nai dan Arimbi pasti suka dengan berbelanja," ujarnya lagi.
Terra dan Kanya tersenyum. Itulah bedanya semua anak-anak mereka yang sederhana dan tak banyak tingkah, terlebih semuanya masih polos dan belum terkontaminasi oleh hal-hal asmara. Terlebih baik Nai dan Arimbi memakai hijab.
Sore menjelang mansion kembali ramai. Nai, Arimbi dan Daud sudah siap berangkat selepas maghrib. Bertha mendengkus kesal dengan pakaian yang dikenakan oleh Nai dan Arimbi. Keduanya memakai gamis dan hijab senada sedang Daud mengenakan setelan formal yang ia padu-padan kan dengan selera anak muda. Herman, Virgou dan Haidar yang akan menemani ketiga anak mereka.
"Nggak bawa bodyguard pa?" tanya Daud yang tak mengerti kenapa tiba-tiba ayah mereka menjadi teman pesta.
"Tidak!" sahut ketiganya tegas.
Para wanita mengernyitkan dahi mereka. Semuanya bingung dengan kelakuan para tiga pria posesif itu.
__ADS_1
"Kalau saya mengawal tuan?" tawar Gomesh dan Budiman.
"Oteh!' sahut Herman.
Nai menggaruk kepalanya yang terbungkus begitu juga Arimbi, sedang Daud tak masalah jika para pria ikut.
"Papa, yang jaga rumah siapa!" sahut Maria mengingatkan..
"Sayang ... ada Langit, Reno dan lainnya. Jangan khawatir!' sahut Gomesh santai.
Maria tak dapat berkata-kata. David menenangkan wanita itu jika ia yang berjaga untuk semuanya. Maria mendengkus kesal. Padahal ia sangat paham alasan lima pria itu ikut.
"Ada apa ini?" tanya Bertha bingung. "Kenapa seperti ada konspirasi terselubung?"
Terra yang sama polosnya dengan semua anak-anaknya tampak tak mengerti maksud Maria. Ia mengendikkan bahu tanda tak tau. Sama dengan Puspita, Khasya, Kanya dan Gisel.
Sedang Lidya, Safitri, Aini dan Putri tentu tak bisa melarang pria-pria posesif itu. Jika mereka mengadu pada suami mereka, pastinya sang suami mendukung tindakan ayah mereka.
Dominic duduk bersama Bart. Pria itu masih berhubungan dengan Dinar, ia hanya berani datang di pagi atau siang hari. Pria itu ingin menghormati gadis pujaannya itu.
Delapan orang berangkat dengan dua mobil yang berbeda. Mereka menuju pesta. Haidar, Herman, Virgou, Budiman dan Gomesh begitu gagah dan sangat tampan.
Semua turun, Haidar menggandeng Arimbi, sedang Nai digandeng Herman lalu Daud digandeng Virgou. Budiman dan Gomesh berada di belakang mereka dengan muka datar dan dinginnya.
Mereka masuk dan di sambut oleh para panitia. Kedatangan para ayah tampan ini menjadi sorotan tersendiri. Para gadis berbisik-bisik dan melancarkan senyum menggoda terutama pada ayah mereka.
Herman memang berusia mau delapan puluh tahun. Tetapi ia termasuk hot daddy versi Indonesia tulen, tampan dan memiliki karisma tinggi. Haidar yang peranakan, juga tak kalah tampan dengan iparnya yang memiliki sejuta pesona. Budiman dan Gomesh tentu ikut menjadi incaran godaan para gadis-gadis muda nan centil.
"Ih ... papa, Ayah, Daddy dan Baba sengaja ya!" dumal Nai kesal.
"Apaan sih!' sahut Virgou dan Haidar tenang.
Arimbi dan Nai berdecak. Kali ini keduanya malah posesif pada ayah-ayah tampan mereka. Sedang Daud masih tetap setia di bawah ketiak Budiman. Remaja itu malah manja pada babanya.
bersambung.
__ADS_1
heleh ... 🤦
next?