
Hari ini ulang tahun Arshaka Putra Dougher Young. Bayi dua belas bulan itu memakai kemeja warna biru dan celana kulot hitam. Sepatu kets berwarna senada dengan bajunya. Bayi itu benar-benar tampan.
Arshaka berada digendongan ayahnya. Banyak anak yatim ikut serta merayakan ulang tahun bayi bermata biru itu.
"Barakallah fii umrik Baby!'
Semua anak angkat Bart mengucap selamat pada Arsh. Anak-anak makan dengan lahap. Mereka berbaur dengan anak-anak yatim piatu. Tak ada batasan. Semua orang tua mengajarkan anak-anak agar tidak sombong.
"Addy, Alsh au tue!" pinta bayi itu bossy.
Arshaka benar-benar berulah di hari lahirnya itu. Ia banyak memerintah semua orang. Demian benar-benar gemas dengan bayi itu.
"Papa Dem!" pekik bayi itu kembali berulah.
"Baby cukup ya!' peringat Rion.
Arsh langsung diam. Bayi itu memang penurut. Rion tentu memberi batasan pada adiknya jika terlalu berlebihan mengerjai orang tua.
"Ommy ... hiks!" bayi itu sedih.
Widya mencium bayinya. Ia tau jika putranya itu sudah sedikit nakal.
"Makanya jangan nakal Baby," ujarnya.
"Nggak perlu marah-marah sambil teriak-teriak sama orang tua. Itu tidak baik ya," nasihat Widya yang diangguki Arsh.
'Mamap Ommy,"
"Is okey sweet heart," Widya mengecup pipi putra bungsunya itu.
"Sorry Baby," Rion juga merasa bersalah terlalu keras pada Arsh.
"Dulu papa juga gitu!" gerutu Azizah.
"Baby mau apa sayang?" tawar Azizah.
"Au Papa Dem!" tunjuk bayi itu.
Demian mengambil Arsh dari tempat duduknya. Ia pun menggendong dan membawanya ke tempat anak-anak yang lain.
Al dan El Bara tengah mengusap perut ibunya yang sudah besar. Dua bayi dua tahun lebih itu sangat perhatian pada sang ibu.
"Mama ... ini suma syatu tan?' tanya El.
"Iya Baby ... hanya satu," jawab Lidya tersenyum.
"Mumi!" Arsh turun dari gendongan Demian.
Bayi itu berlari ke arah Layla. Perut perempuan itu sudah tampak lebih besar dari yang lainnya. Juno menyambar Arsh dan terdengarlah suara gelak tawa.
"Halo ... Assalamualaitum!" seru Arion di depan mik.
Semua anak tentu antusias. Mereka bernyanyi bersama. Tentu saja lagu anak-anak yang mendominasi.
"Baby mana?" Widya mencari putranya.
"Ada sama saya Nyonya!" jawab Juno.
Bayi itu tampak sudah memejamkan mata. Ternyata Arsh mengantuk. Tak lama ia pun terlelap dalam gendongan Juno. Gabe mengambil alih putranya yang terkenal rusuh itu.
"Makasih Juno,"
"Sama-sama Tuan!"
Gabe membawa bayinya ke dalam kamar dan merebahkannya di sana. Mereka semua berada di mansion milik Bram.
__ADS_1
Terra dan Haidar berencana menukar hunian mereka dengan ayah dan ibu mertuanya. Pasukan yang banyak membuat semua harus berhimpitan jika berada di rumah Terra.
"Jadi kita akan tinggal di sini Ma?" tanya Rasya.
"Iya sayang," jawab Terra.
"Sekolahnya rada jauh dong," keluh Rasyid kini.
"Iya, Sam dan lainnya pasti jarang ke sini!" lanjut Rasya.
"Iya, apa lagi paman dan bibi kecil. Ah ... Ajis dan lainnya juga pasti jarang!" rengek Rasya lagi.
Terra terdiam, ia lupa jika semua anak sekolah dekat dengan rumahnya. Wanita itu menoleh pada suaminya.
"Pa," panggilnya.
Kanya dan Bram sudah bahagia karena akan menghuni rumah lebih kecil. Hunian itu terlalu besar untuk mereka berdua.
"Mas!" panggil Terra lagi.
Haidar menoleh, wajah gelisah sang istri membuat keningnya berkerut.
"Ada apa?" tanyanya.
Terra menceritakan kegelisahan duo R. Haidar terdiam. Ia tentu tidak mau semua anak jadi jarang ke rumahnya.
"Ma ... Pa," panggilnya pada kedua orang tuanya.
Bram menoleh, senyum lebar yang tadi menghias wajahnya berubah turun. Haidar kembali mundur untuk menukar hunian mereka.
"Nanti semua anak jadi nggak pernah ketemu. Sekolah mereka kan jauh dari sini!" jelas Haidar.
Bram menghela napas panjang. Ia ingin dekat juga dengan keluarga. Pria itu berencana menjual mansion dan pindah dekat hunian Bart.
"Sudah sih Pa. Papa dan Mama di sini saja!" pinta Haidar.
"Tapi Papa ingin dekat kalian. Jadi nggak jauh-jauhan," ujar Bram sedih.
"Papa mau tinggal dekat kalian. Jadi kalo Papa nggak ada ...."
"Pa!" peringat Haidar lalu memeluk ayahnya.
Meninggalnya Sofyan membuat Bram sadar jika kematian pasti datang. Ia mau meninggal dipangkuan putranya.
"Jangan bicara yang Allah rahasiakan," ujar Haidar lirih.
"Maaf sayang. Papa ingin dekat, papa ingin mati dipangkuanmu," ujar pria itu lirih.
Keseruan anak-anak masih berlangsung. Semua anak yatim dibagikan souvernir kali ini tidak mengantri. Dave punya ide untuk membagikan langsung pada anak-anak yang tengah duduk.
"Papi pelit!" sungut Kean kesal.
Pemuda itu sampai mau menangis ketika bingkisan itu dibagikan. Kean ngambek disertai semua perusuh. Arsh bangun dan kaget ketika melihat ruang tamu sudah kosong.
'Peumana muwa-muwana?" tanyanya.
"Sudah pulang Baby," jawab Aini gemas.
Wanita itu juga sedang mengandung. Bayi laki-laki akan kembali lahir dari rahimnya.
"Ata'Tean teunapa meyanis?" tanyanya pada Kean yang tengah sesenggukan.
"Baby!" Puspita hanya bisa menghela napas panjang melihat kelakuan putranya itu.
"Ini semua ide Papi Dave sayang. Jadi Daddy nggak ikut-ikutan!' ujar Virgou membela diri.
__ADS_1
"Tapi pasti Daddy setuju kan!" sahut Kean makin kencang tangisnya.
Andoro tertawa lirih. Pria itu menggeleng tak percaya. Kean adalah seorang vice CEO di perusahaan Herman. Gajinya bisa membeli apapun yang ia mau.
"Papa pulang!" teriak Remario.
Pria itu membawa banyak hadiah. Tangisan Kean terhenti karena ia akhirnya dapat benda yang ia inginkan.
"Memang hanya Papa Rem yang sayang Kean," ujar pemuda itu setengah merajuk.
"Kenapa Baby?" tanya Remario bingung.
"Papi pewit Papa!" adu Arion semangat.
Semua bayi mengadu pada pria itu. Remario tentu menatap David dengan pandangan penuh ledekan.
"Memang Babies ... Papa tau kalian pasti sangat ingin hadiah kan?" semua anak mengangguk.
"Makanya Papa sengaja belikan untuk kalian!" lanjutnya jumawa.
Ia tertawa remeh pada David. Pria itu tentu kesal dibuatnya.
"Papa ... dado puat Alsh nana?" tanya bayi itu mencari hadiahnya.
"Itukan sama Baby," ujar Remario.
"Peda Papa ... dado Alsh alus peusal!" ujar bayi itu.
"Kalau begitu ayo kita beli!" ajak Remario.
"Ayo!" teriak semua perusuh semangat.
Remario kini menggaruk kepalanya. Gio tentu tertawa menyindir tuannya itu.
"Berani kau anak sialan!' umpat Remario kesal.
"Besan!" teriak Terra kesal.
"Ups!' Remario menutup mulutnya..
"Woh tan ... peulupah!" hela El Bara.
"Seupenelna spasa nanat sisilan Papa?" tanyanya pada sang ayah, Demian..
Tatapan El beralih pada Jac. Pria itu buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Ah ... pa'a pemua papa ipu nanat sisilan!" seru Aaima berasumsi.
'Tot pisa beudithu?" tanya Fatih bingung.
"Wowalna pait Tate Heyan, Wuyuy Balt mandhil pemua Papa nanat sisilan!" jawab Fatih.
"Oh pisa sadhi beudithu!' sahut Arsyad setuju.
"Atuh lati-lati ... pa'a atuh nanat sisilan judha?" tanya Ari.
Semua bayi laki-laki menoleh pada Bart. Terra yang gemas memukuli bahu kakeknya.
"Babies ... Buyut dipukul!" adunya.
"Mama ... janan dithu!" peringat Della tentu sedih.
Bersambung.
Dah lah ...
__ADS_1
barakallah fii umrik Baby Arsh!
next?