SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LINGKARAN KELUARGA


__ADS_3

Kaila Black Dougher Young, delapan belas tahun. Ia bersekolah dengan Dewa, Dewi, Rasya dan Rasyid. Mata birunya jadi sorotan semua murid ketika di sekolah dulu.


Gadis itu tak pernah lepas dari pegangan tangan Dewi, Dewa atau duo R. Banyak anak laki-laki yang mencoba mendekatinya. Tetapi akan dipatahkan oleh empat saudaranya yang lain..


Karena Kaila adalah gadis paling cantik sendiri di kelas. Banyak anak perempuan yang iri.


"Ila!" gadis itu menoleh.


Tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan Dewi. Tak ada yang berani mengganggu mereka, karena mereka memang tak pernah mengusik siapapun.


"La, boleh ngomong ama kamu nggak?" pinta remaja pria yang manis.


"Ngapain kamu mau bicara sama keponakanku?" tanya Dewa tak menyukai remaja yang hendak mendekati Kaila.


Mereka pun pergi. Remaja pria itu sepertinya masih berusaha mempengaruhi jalan pikiran Kaila.


"Sudah waktunya kau punya keputusan sendiri Kaila Afsyun!" teriaknya..


Rasya berbalik arah, tinggi remaja itu sudah 180 cm dengan bobot 79kg. Ketampanannya juga di atas rata-rata. Iris coklat terangnya mampu menenangkan dan menusuk siapapun yang menentangnya. Tentu saja tak ada yang mau berurusan dengan keluarga kaya raya itu.


Kaila membalik topi sekolahnya. Gadis itu melepas genggaman tangannya. Dewi membiarkannya.


"Kamu emang mau ngomong apa?" tanya Kaila mendekati remaja laki-laki itu.


"Ngobrol berdua aja yuk!' ajak remaja itu.


"Maaf, kalo bedua takut yang ketiga setan!" tolak Kaila santai.


"Udah deh ... ini jaman apa. Kamu mestinya bisa bebas, pacaran, berhubungan dengan banyak orang. Bukan dengan saudara-saudaramu aja!" ujar remaja laki-laki itu mengeluarkan unek-uneknya.


"Gitu ya?" tanya Kaila.


"Iya, jadi untuk memulainya kita pacaran aja!" jawab remaja itu.


Rasya ingin sekali meninju remaja yang seumuran dengannya itu. Ia pun mencibir.


"Jajan masih minta sama ortu, ngajak adek gue pacaran ... banyakan halu lu!"


"Halah ... kek lu nggak dibiayain ama ortu lu juga!" balas remaja itu sengit.


"Yey ... lu salah ... gue udah punya usaha sendiri dan gue sekolah pake beasiswa ya! Jadi gue nggak ngabisin uang bokap nyokap gue!" sahut Rasya sinis.


"Sombong ... ingat di atas langit masih ada langit. Kekayaan kamu itu cuma titipan!" sengit remaja itu.


" Yee ... aneh lu. Gue ngomong apa lu jawab apa!" ledek Rasya.


"Sya ... udah ah jangan berantem. Dah, ngalah-ngalahin cewe aja ribut mulut!" sahut Rasyid saudara kembarnya.


"Baby, kamu mau meladeni anak itu?" tanya Dewi.


Kaila memutar balik dan mendekati buleknya itu. Ia tersenyum lalu menggeleng.


"Ayo pulang, kata Daddy kita mau buka puasa di masjid Al-Huda," ujar Dewi.


"Ayo!"


"Kaila aku cinta kamu!" teriak remaja itu nekat.

__ADS_1


Beberapa pengawal menoleh dan memelototinya. Hal itu membuat remaja itu ciut.


Beda dengan keturunan paling pertama, Muhammad Keanu Black Dougher Young. Pemuda itu juga sangat tampan dengan pesona sama dengan ayahnya.


Tetapi, tingkahnya sama seperti perusuh paling junior yang masih menggunakan dengkulnya jika berjalan.


Bukan tak ada satu gadis atau perempuan yang mendekatinya. Selain Herman yang ada di sisinya. Kean juga dijaga oleh Sandi, Leo dan Dean. Tiga bodyguard yang tak kalah tampannya.


"Ayah," rengeknya manja.


Herman hanya bisa menghela napas panjang jika sudah begitu. Kean akan minta pangku dan menyurukkan kepalanya di ketiak pria tua itu.


"Apa Baby?" tanya Herman lalu mengecup sayang kening pemuda tampan itu.


"Ayah ... Kean mau refreshing ya," pinta pemuda itu.


"Baiklah, ajak tiga pengawalmu," suruh Herman memperbolehkan.


"Ama ayah," rengek Kean lagi.


Memang Kean sangat manja dengan Herman. Bukan hanya Kean semua anak manja dengan pria tua itu.


"Kean mau bruffet dan brownies buat buka Ayah yang di kafe Sean. Mami Seruni jual itu di sana!"


"Tapi kita janjian buat buka di masjid Baby," tukas Herman yang membuat bahu Kean turun.


"Kata Mamimu, dia juga udah buat makaroni panggang untukmu buka," lanjutnya yang membuat dua sudut bibir Kean naik ke atas.


Kean mengangguk antusias, lalu berdiri dari pangkuan Herman.


Herman berdecak kesal. Pria itu belum pensiun karena memang Kean melarangnya. Sebenarnya semua anak melarang ayah mereka pensiun. Tetapi, Virgou, Haidar dan Dominic menyerahkan semua kepemimpinan pada putra-putra mereka.


"Ayah, mestinya membimbing Baby Dewa untuk melanjutkan perusahaan ini!" celetuk Kean.


"Dia malas sayang," sahut Herman lalu tertawa datar.


Dimas tentu tak bisa ia harapkan bekerja dengannya karena sudah bekerja di perusahaan jasa akuntansi milik mereka.


Dewa masih delapan belas tahun. Remaja itu mendapat banyak tawaran beasiswa dari universitas ternama bersama lima saudara lainnya.


"Anak-anakku semua genius," gumamnya.


"Tentu dong ... kan anak-anak ayah!" sahut Kean bangga.


"Kamu nggak mau punya pacar gitu Baby?" tanya Herman.


"Tumbuhan itu sudah langka Ayah," jawab Kean masih polos.


Herman menganga, padahal Kean pasti mengerti apa pertanyaannya.


"Baby?"


"Ya yah?" Kean menatap polos Herman..


"Sudah tidak apa-apa, kembali bekerja!" suruhnya.


Kean kembali serius. Herman menggaruk pelipisnya. Dari semua gadis yang dikenalnya tak ada satu kriteria yang cocok untuk Kean.

__ADS_1


"Semua pengawal wanita lebih tua dua tahun darinya," gumamnya sangat pelan.


"Rosa adalah yang terbaik. Tetapi ...," Herman masih ragu.


Sedang di perusahaan lain Calvin memandang datar sekretaris baru Demian. Pemuda itu ingin sekali mempermalukan gadis berbaju ketat di depannya.


"Apa kau tak memiliki baju lagi hingga memakai pakaian adikmu?" tanyanya menyindir.


Gadis bernama Suci Rahmawati itu menunduk. Ia memang sengaja berpakaian ketat agar bossnya melirik.


"Ganti bajumu sebelum kau kubuat malu di sini!' titah Calvin dingin.


Suci berlari ke kamar mandi. Ia menangis di sana. Sebenarnya Demian dan Jac tak pernah melihat wanita-wanita genit yang mencoba menggoda mereka.


"Ada yang halal di rumah. Ngapain nyoba yang haram?" ujar Demian waktu itu.


"Boss," panggil Jac yang membuat Demian berdecak.


"Apaan sih!"


"Kau tau Deborah sudah menikah?" tanya Jac melirik mencoba menelisik perubahan ekspresi Demian.


"Biar saja ... bukan urusanku," jawab Demian tenang tak ada perubahan ekspresi di sana.


"Setelah lima tahun kejadian itu ...."


"Jac ... kau ini kenapa. Apa yang kau bicarakan!" potong Demian mulai tak nyaman.


"Tolong jangan bicarakan masa lalu. Aku ingin istriku damai dan tak lagi meragukan cintaku!" lanjutnya.


Jac mengangguk, ia meminta maaf. Pria itu hanya sedikit penasaran dengan perasaan Demian.


"Papa!" keduanya menoleh.


"Baby ... ada apa?" tanya Jac.


"Pa ... pecat aja itu di Suci!" ujar Calvin kesal bukan main.


"Emang kenapa Suci?" tanya Demian.


"Seminggu kerja pakaiannya kekecilan mulu!" lapor Calvin protes.


"Oh ... sudah lah sayang. Mungkin dia butuh pekerjaan untuk membeli baju yang lebih besar," sahut Jac.


"Ih ... Papa ... Cal risih Pa. Suka nggak pake bra ... jadi keliatan itu!"


Demian dan Jac saling tatap. Calvin tentu berbeda dengan Kean. Walau wajah mereka sama-sama tampan luar biasa.


"Pa ... pecat Suci Pa!" rengek Calvin yang sudah merasa tak nyaman.


"Iya sayang, nanti Papa pindahkan dia ke divisi lain ya," ujar Demian menenangkan Calvin.


Bersambung.


Lingkaran keluarga yang sangat kuat tentu tak bisa merubah pribadi mereka ketika berada di luar.


next?

__ADS_1


__ADS_2