
Rion mendapat ceramah langsung dari Dinar. Pemuda itu menunduk ketika sedikit dimarahi oleh wanita hamil itu.
"Nggak boleh Baby. Tunggu sebentar lagi bisa kan?" ujarnya.
"Iya Bibu," sahut pemuda itu merasa bersalah.
Semua sedih melihat bayi mereka dimarahi untuk pertama kalinya. Tetapi, memang perbuatan Rion itu salah, sedangkan Azizah menangis karena berhasil dicium pipinya oleh Rion.
"Maafin Mas Baby ya, sayang," ujar pemuda itu menyesal.
"Iya Mas Baby ... hiks!"
"Dah yuk main lagi!" ajak Demian.
Mereka kembali bermain hingga kelaparan. Dominic sudah memesan banyak makanan untuk semuanya.
"Daddy, mau disuapin!" rengek Nai pada Dominic.
Pria itu dengan senang hati menyuapi gadis cantik itu. Akhirnya mereka pun selesai bermain. Semua pulang. Azizah mencari keberadaan angkutan yang tadi ia sewa.
"Loh angkotnya mana?"
"Daddy sudah suruh pulang!" ujar Virgou.
"Ah ... Daddy. Zah udah bayar PP itu!" keluh gadis itu protes.
"Terus adik-adik panti naik apa?" lanjutnya.
"Itu!" tunjuk Virgou pada sebuah bus berukuran sedang.
Mereka pun naik ke bus yang baru saja dibeli oleh Herman. Pria. itu akhirnya membeli sebuah angkutan untuk akomodasi para anak-anak yatim nantinya.
Satu jam mereka sudah sampai di panti. Semua anak turun dan mengucap terima kasih pada Azizah.
"Makasih ya Kak! Semoga Allah mengganti rejeki Kakak yang lebih banyak!" sahut Dian.
"Aamiin!" sahut semua anak mengamini.
Azizah tersenyum. Ia begitu bahagia memberi sedikit kebahagiaan untuk adik-adik pantinya. Supir bus minta ijin pulang.
"Saya pulang dulu Ya Non. Nanti saya datang pas dibutuhkan saja," ujar pria itu. "Nanti kalau mau pergi dan membawa semua anak-anak, telepon sehari sebelumnya ya!"
"Baik Pak. Terima kasih ya!" sahut Azizah.
Memang yang lain tak ikut gadis itu ke panti. Gadis itu masuk, Dina anak panti paling besar membuka pintu.
"Kak, Ari panas," ujar Iwan memberitahu.
Gadis itu segera ke kamar anak bernama Ari itu. Azizah langsung meraba kening Ari, memang sedikit panas.
"Sayang, apa yang kamu rasakan?" tanyanya khawatir.
"Dinin Ata'," jawab bayi itu sedikit menggigil.
__ADS_1
"Ya sudah sini Kakak gendong ya," ujar Azizah lalu mengangkat bayi itu dalam dekapan.
Sekujur tubuh gadis itu langsung ikut menghangat. Azizah meminta anak-anak paling besar memasak, Adiba membantu mereka. Yang lain membantu membersihkan teras dan menyiram tanaman.
"Kak, telepon Kak Nai atau Kak Alimbi aja," ujar Lino memberi saran.
"Ajis, tolong Dik," pinta Azizah pada adiknya.
Azizah mengompres dahi Ari. Tak lama Nai datang dan memeriksa batita itu.
"Ari hanya kelelahan Kak. Dia nggak apa-apa istirahat dan makan bubur aja nanti ya," jelas Nai.
"Makasih ya Dok!" ujar Azizah.
"Sama-sama Kak, ini obatnya udah Nai bawain diminum seusai takaran ya," ujar Nai.
Azizah menerima obat itu dan mengantar calon adik iparnya.
Sementara di tempat lain dua orang tengah mencari satu alamat yang menurut mereka adalah tempat di mana Azizah dan enam adiknya berada. Di majalah bisnis yang ada foto gadis itu tak menerangkan di mana keberadaan Azizah.
"Apa kita ke perusahaannya besok Bang?" tanya Handi.
Razak sebagai kakak tertua di sana hanya diam. Ia sudah berkeliling mencari keberadaan Azizah.
"Di mana perusahaan itu, apa namanya?"
"Ini Hudoyo ciber teh!" jawab Handi lagi.
"Ada nih di jalan xx!" jawab Handi.
Razak melihat jam di tangannya. Hari sudah beranjak sore. Ia pun mengangguk dan setuju mendatangi keponakan jauh mereka besok langsung di perusahaannya.
Hari pun berganti. Semua anak masih libur karena ada ujian sedang mereka mengajukan cuti untuk pergi ke taman safari.
"Sudah siap semuanya?" tanya Haidar pada anak-anak.
"Sudah Papa!" sahut semuanya kompak.
"Ayo kita ke mansion Kakek. Katanya bus menunggu di sana," ajak Haidar.
Semua sudah membawa ransel mereka masing-masing. Kendaraan bergerak ke mansion mewah mertua dari Terra itu.
Benar saja, semua orang sudah menumpuk di sana. Virgou kembali mengajak anak-anak panti plus empat ibu panti.
"Gomesh sudah ada di sana bersama Gio, Dahlan dan Budiman kemarin. Jadi kita tinggal masuk saja!" ujar David.
Haidar mengangguk. Taman Safari di booking keluarga kaya itu selama satu hari penuh.
Dominic sangat antusias berpergian bersama istrinya, ia sudah melewati trimester pertamanya. Lidya yang iba menotok beberapa syaraf mertuanya karena tidak tega.
"Ayo naik semuanya!" titah Virgou.
Pria itu memilih naik bersama anak-anak panti begitu juga Maria dan dua anak kembarnya. Sedang yang lain naik bus berukuran sama. Ada tiga bus mengangkut mereka ke tempat yang dituju. Perusuh sudah ribut dengan semua nama binatang yang ingin mereka lihat.
__ADS_1
"Kita selama ini hanya lihat di televisi dan internet, " seru Bomesh antusias.
"Ah ... Baby, tugasmu adalah menjaga dua raja rusuh ini!" titah Terra melihat Sky dan Bomesh.
"Oteh Mama!" sahut Rion menurut.
"Mama ... kita janji kok nggak akan ilang," sahut Sky dengan mata polosnya.
"No Baby, Mama nggak mau nangis kecarian kalian, bisa-bisa kalian udah ada di kandang macan!" sahut Terra tegas.
Sky dan Bomesh pun hanya bisa menurut. Butuh waktu dua jam untuk sampai tempat itu. Karena memang bukan hari libur nasional jadi perjalanan tidak macet.
Sementara di tempat lain. Empat orang pria mendatangi perusahaan Hudoyo Cyber Tech. Razak, Handi, Tohir dan Ahid mendatangi perusahaan di mana Azizah bekerja.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis ramah.
Keempat pria itu memakai baju terbaik mereka yakni batik motif tujuh rupa. Batik dengan banyak ragam gambar dan diselipi warna-warna terang.
"Kami ingin bertemu dengan keponakan kami Azizah Sabeni!" ujar Razak dengan penuh wibawa.
"Oh ... apa Bapak sudah ada janji?" tanya resepsionis.
"Apa perlu kami menemui keluarga kami sendiri dengan janji?" tanya Razak tak suka.
"Tapi memang peraturannya demikian Pak!" sahut Resepsionis sedikit galak.
"Kalau begitu katakan saja Paman Razak ingin bertemu," sahut pria itu pada akhirnya.
"Oh ... kalau begitu tunggu sebentar ya di sebelah sana," tunjuk resepsionis pada sebuah sofa-sofa. "Saya akan menelepon bagian staf di atas."
Keempat orang itu pun duduk. Sepuluh menit mereka menunggu, resepsionis itu datang mendekati mereka.
"Maaf Pak, Nona Sabeni hari ini tidak masuk kerja," ujarnya memberitahu.
"Loh kok bisa, kan ini hari kerja?" tanya Handi bingung.
"Kalau masalah itu kurang tahu Pak, mungkin anda bisa langsung ke tempat tinggal beliau saja," saran resepsionis cantik itu.
"Masalahnya, kami baru datang dari desa. Azizah pergi begitu saja dari rumah membawa enam adiknya. Kami putus hubungan, tolong di mana rumah Azizah Mba," ujar Razak memohon.
"Iya Mba, kasihani kami," ujar Ahid memelas.
Karena tak tega, resepsionis pun memberitahu di mana Azizah tinggal. Mereka cukup terkejut setelah mendengar di mana tempat tinggal gadis itu.
"Apa iya Azizah yang ada di foto ini tinggal di panti asuhan?" tanya Tohir tak percaya.
"Aku tidak tau, tapi pastinya kita akan tahu besok!" sahut Razak penuh penekanan.
bersambung.
duh ... kalian ngapain sih?
next?
__ADS_1