
Lisa meringkuk dibalik selimut menahan sakit dalam dadanya.Ia sengaja menutupi seluruh tubuhnya agar Lucy tidak melihat keadaannya jika nanti adiknya datang.
Benar saja,ketika Lucy baru saja datang,ia mengira Lisa sudah tidur.Ia tidak berani mengganggu saudaranya yang sedang istirahat.Apalagi ia tahu keadaan Lisa,sudah baik jika Lisa bisa istirahat.
Padahal dibalik selimut itu,Lisa sekarat.Darah tak henti-hentinya mengalir dari sudut bibirnya.Dadanya sesak seperti ditindih batu besar.Ia hanya menangis tanpa mengadu.Ia tidak ingin adiknya menanggung deritanya.
Setelah mencuci kaki dan gosok Gigi,Lucy naik ke peraduan.Ia melihat Lisa sebelum merebahkan tubuhnya.Lucy merasa ada yang janggal,tidak biasanya Lisa begitu.Mungkin karena efek badan kurang sehat jadi Lisa tidak tahan dengan dinginnya AC.Itulah monolog hatinya.
Lucy menarik selimut lalu merebahkan tubuhnya,matanya dipejamkan setelah melafazkan doa'.Tapi tiba-tiba dia bangun lalu turun menghampiri Lisa.Hatinya berkata lain akan keadaan saudaranya itu.Dengan kasar Lucy menyibak selimut yang menutupi tubuh Lisa.
"Lisa"Lucy begitu terpana melihat banyak darah yang menodai sprei.Ia segera merangkul tubuh lemah saudaranya."Kenapa kamu tidak bilang apa-apa?"
Lucy membantu Lisa duduk,ia siap menyalurkan energi Qi nya kepada Lisa seperti yang ia lakukan tempo hari.
"Ja-jangan"Lisa mencoba menghentikan tindakan Lucy."Jangan"Lisa mengulas senyum sebisanya agar Lucy menilai ia baik-baik saja.
"Kamu membutuhkan kekuatanku Lisa"
"Aku ok"Bibir Lisa memucat.
"Kau tidak baik-baik saja Lisa,jangan membodohiku"
Lisa tersenyum"Kau memang bodoh"Lucy tersenyum namun netranya mengembun.Ia merangkul saudaranya begitu erat.
"Terimakasih,,karena kamu selalu baik padaku"Ucap Lisa lirih,suaranya hanya ******* lemah yang menerpa gendang telinga Lucy.
"Aku tidak akan membiarkan kamu mati,jika harus mati kita akan mati bersama"
Lisa menggeleng lemah masih dengan senyuman di bibir pucatnya."Ini salahku,maka aku akan menanggungnya sendiri"
"Tapi juga salahku,jika aku yang membunuh mereka.Kamu pasti tidak perlu turun tangan sendiri"Ada rasa sesal dalam kalimat yang terucap.
Lisa terdiam dalam dekapan hangat saudaranya.Ia berpikir jauh tentang yang telah berlalu.
"Lisa,, berbaringlah sejenak"Lucy bangkit beranjak menuju lemari Lisa setelah ia membantu Lisa berbaring.Lucy teringat sesuatu yang dilakukan Lisa sebelum ia melakukan pembunuhan.
Sekarang Lucy akan melakukan hal yang sama untuk menolong Lisa.Ia mengambil botol kecil yang disimpan rapi oleh Lisa.Mengoleskan isinya ke telapak tangannya,lalu menyimpannya kembali.
__ADS_1
"Maafkan aku Lisa"Lirih Lucy membatin.Ia mendekati Lisa yang sekarat.
"Kau mau apa Lucy??"Lisa menatap saudaranya penuh curiga,sekilas ia tadi melihat Lucy mencari sesuatu didalam lemarinya.
Lucy tersenyum,namun Lisa melihat dengan jelas air mata mengalir pelan dipipi nya.Tanpa menunggu lebih lama lagi,Lucy membekap mulut Lisa agar menghidu obat bius di telapak tangannya.Lisa yang lemah tak dapat berbuat banyak,ia pingsan dalam waktu tak kurang dari satu menit.
Melihat saudarinya sudah hilang kesadaran,Lucy segera melakukan pertolongan pertama.Ia mengalirkan energi Qi nya lagi dan menyedot efek hitam dari kekuatan topeng itu.Kini Lucy harus melakukannya lebih ekstra lagi karena efek hitam dari topeng itu sudah mengendap di paru-paru dan jantung Lisa.
Darah segar keluar dari bibir Lucy,melainkan dari lubang telinga,hidung dan matanya.Sesuatu menekan kuat didalam dada,membuat Lucy terbatuk dan menyemburkan darah segar.
Tubuh Lisa yang terkulai tak mampu ditahannya sehingga terbaring di tempat tidur.Dengan susah payah Lucy mendudukkan Lisa kembali,dan melakukan pengaliran energi Qi yang tersisa.
"Kau harus hidup Lisa,,,kau harus bertahan"Lirih Lucy membatin.
Meskipun tubuhnya sudah bergetar,Lucy tak menghentikan pengaliran energinya.Ia tidak perduli dengan keadaannya sendiri,yang ada dalam pikirannya hanya ingin menyelamatkan Lisa meskipun tidak tahu apakah itu akan berhasil atau tidak.
___
Gemuruh suara Guntur dan petir bersahutan di langit.Angin kencang menghantam apapun yang ada dihadapan.Tapi setetes hujan pun tak turun.
Bu Minah memeriksa alam melalui Kaca jendela kamarnya,ia merasakan ada sesuatu yang tak diinginkan telah terjadi.Tapi Apa??
"Aku akan memeriksa keadaan cucuku"Bukan menjawab,Bu Minah malah bergegas pergi dengan bantuan tongkatnya keluar dari kamarnya.
Meskipun merasa heran tapi Bu Ijah sangat penasaran.Karena itu cepat-cepat ia turun dan menyusul langkah sahabat sekaligus besannya itu.
Sampai di depan pintu kamar si kembar,Bu Minah tidak bisa membukanya karena terkunci dari dalam.
"Lisaaa...Lucyyyy"Seru Bu Minah sambil mengetuk pintu.Tak ada respon.
"Mungkin lagi tidur Minah"Bu Ijah mencoba menilai dengan pikiran positif.
"Tidak,aku tidak yakin"Bantah Bu Minah.
Di dalam kamar Lucy menyemburkan darah lagi untuk kesekian kalinya.Akan tetapi kali ini ia juga terkulai pingsan karena sudah kehabisan tenaga.Kedua saudara kembar itu bersanding dalam pingsannya.
Zulkarnain menghampiri Ibu mertuanya dan Bibiknya yang didengarnya sedang mengetuk kamar si kembar.
__ADS_1
"Bik,,,ibu ada apa?Kok malam-malam ketuk-ketuk pintu kamar Lisa dan Lucy?"
"Zul,,tolong dobrak pintu ini"Bu Minah malah memberi perintah kepada menantunya.
"Dobrak??untuk apa Bu"Zulkarnain merasa aneh dengan permintaan Ibu dari istri pertamanya itu.
"Cepat Zul,mereka dalam bahaya"Meskipun belum yakin,tapi Bu Minah dengan mantap menakuti Zulkarnain.
Mendengar kata bahaya,Zulkarnain pun menuruti kemauan mertuanya tersebut.Ia menabrakkan tubuhnya ke pintu yang terkunci.Sampai dobrakan yang ke enam berulah pintu bisa terbuka lebar.
"Lisaaa Lucyyyy"Zulkarnain yang pertama kali melihat tubuh ke-dua putrinya yang terkapar pingsan.Ia segera memeriksa keadaan mereka.
"Apa aku bilang"Desis Bu Minah,ia segera merangkul tubuh cucunya itu.Tangisannya pecah dalam kepedihan.
"Kita bawa mereka ke Rumah sakit Bu"Usul Zulkarnain.
"Percuma,,, percuma Zul..."Bu Minah meraih pergelangan tangan masing-masing.Mengecek keadaan dari denyut nadi."Kita baringkan saja ditempat tidur mereka masing-masing"
Zulkarnain menurut,ia menggendong tubuh Lucy untuk ditempatkan di atas tilamnya.Sedangkan Bu Minah dibantu oleh Bu Ijah membenarkan letak kepala Lisa agar lebih nyaman.
"Sekarang gimana Bu?"Tanya Zulkarnain.
"Kita tunggu sampai besok,siapa yang sadar lebih dulu.Karena aku rasakan denyut nadi Lisa normal.Sedangkan denyut nadi Lucy sangat lemah"
"Lalu setelah itu?"Zulkarnain merasa kurang puas dengan jawaban Bu Minah.
"Aku ragu,karena tidak mungkin kita membiarkan mereka mati begitu saja.Kita harus menyelamatkan salah satunya"
"Maksud Ibu??Mereka tidak bisa diselamatkan?"Zulkarnain merasa ini sangat mustahil.Apalagi Bu Minah meyakinkan dengan anggukan.
Zulkarnain berdecih,ini rasanya sangat konyol.Ia ingin keluar memanggil Riky.
"Mau kemana Zul??"Bu Minah menahan langkah menantunya.
"Aku mau manggil Riky agar bisa membantuku membawa mereka ke Rumah sakit Bu"
"Kau sangat keras kepala Zul"
__ADS_1
"Lalu kita akan diam saja Bu,membiarkan mereka sekarat begitu"Zulkarnain mulai hilang kendali,ia membentak Ibu mertuanya yang renta itu.
Bu Minah diam,namun sepasang Netranya menatap tajam menukik kedalam anak mata Zulkarnain.Membuat laki-laki itu merasa bersalah.