
Langit dan Reno benar-benar menyatakan cintanya pada gadis pujaannya masing-masing.
"Naisya Putri Hovert Pratama, aku Langit Clemnetino Dewangga jatuh cinta padamu, mau kah kau jadi istriku?" pinta Langit penuh harap.
Haidar memeluk Herman, ia tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak menangis. Pria itu memang belum siap. Tapi Langit adalah pria terbaik yang ada, Haidar juga tidak mau jika ada pria lain.
Nai menatap sang ayah, hatinya juga berat. Tapi, tatapannya beralih pada Herman yang mengangguk.
"Ma, Baby Nai dilamar?" bisik Rion.
"Sayang, Baby Nai sudah besar. Biar Langit yang mengganti tugasmu dan tugas Papa menjaganya ya," ujar Terra pada Rion.
Rion mengangguk, bayi besar itu memang sedikit tak rela. Darren memeluk istrinya. Nai adalah keponakannya, ia juga ikut andil mengurus Nai ketika bayi dulu.
Lidya menenangkan Sean, Al dan Daud. Ketiga remaja itu adalah kembarannya Nai. Lahir di hari yang sama membuat mereka berat melepas salah satu saudari mereka. Demian ikut menenangkan mereka.
"Ma ... Nai jadi milik orang lain," bisik Sean.
"Baby ... relakan Baby Nai dengan Langit ya," ujar Lidya.
"Papa Dem," Al dan Daud memeluk pria itu.
"Kak Langit ... Kakak tau aku tak bisa hidup tanpa saudara-saudaraku?" Langit mengangguk.
"Kak Langit tau jika aku tak bisa hidup tanpa Mama dan Papa?" Langit pun mengangguk.
"Lalu apa yang kau punya untuk meyakinkanku jika aku bisa hidup bersama Kakak?"
Langit terdiam, ia menatap netra coklat terang yang begitu indah. Rupanya Nai hanya ingin Langit meyakinkan diri gadis itu agar semuanya baik-baik saja jika memilihnya.
"Denganku, aku bisa lebih membahagiakanmu, denganku kau tak akan kehilangan semuanya karena aku juga tak mau kehilangan mereka," jawaban Langit begitu tegas.
"Percayalah ... hidup denganku kau juga mendapat cinta yang sama besar dengan bersama keluargamu," lanjut pria itu.
Nai menitikkan air matanya, Langit menghapus cepat, walau wajah Nai segera mengelak lengan besar yang menjulur. Reflek biasa yang biasa dilakukan seorang gadis, Langit paham itu.
"Nai akan bicara sama yang menciptakan Nai dulu ya," jawaban Nai membuat senyum Langit sedikit pudar.
"Jika kita jodoh, kita akan bersama. Mintalah Kak. Allah akan memberikan apa yang kita minta bukan?" Langit mengangguk.
Pria itu makin yakin dengan keputusannya. Kini ia harus menambah cinta pada sang maha pencipta agar tak merasa diduakan.
Langit berhasil menyatakan cintanya. Kini giliran Reno. Arimbi sedikit beringsut mundur. Hal biasa dilakukan gadis itu jika berdekatan dengan laki-laki. Satrio sedikit tidak rela. Remaja yang tingginya sama dengan Virgou bahkan lebih sedikit itu ingin mendekati, namun Dominic menahannya.
"Daddy," rengeknya.
"Sayang, biarkan saudarimu ya, Reno laki-laki baik untuknya," Dominic merengkuh bayi raksasa itu.
__ADS_1
Satrio pun bermanja dengan pria beriris sama dengan Virgou itu.
"Nona Arimbi ... aku mencintaimu. Kita nikah yuk!"
Arimbi bengong, tak seromantis Langit yang menyatakan cintanya pada Nai. Reno tembak langsung dan tak berbasa-basi.
"Euh ... meuleta napain syih?" tanya Al Bara.
"Meuleta ladhi pilan ba bowu," bisik Fatih.
"Pita bain yut ... pialin wowan pewasa," ajak Arsyad.
"Ata' ... tuh ain pa'a?" tanya Arsh.
"Bain mama pita," ajak Azha.
Para perusuh junior membiarkan para kakak mereka. Harun mengajak semua saudaranya dan lima puluh anak angkat Bart juga mengajak mereka ke kelas belajar bersama.
Maria, Sriani, Mia. Ferry mengikuti semua anak-anak. Frans, Leon dan lainnya masih berkumpul dan menyaksikan sebuah peristiwa yang nantinya akan jadi pesta besar di keluarga mereka.
"Nona, kita nikah yuk sekarang biar aku tidak dibunuh ayahku,' pinta Reno begitu memohon.
"Kakak nggak cinta aku kok ngajak nikah?' seru Arimbi sengit.
"Nona, aku panas dingin jika ingat Nona. Nggak bisa bobo, nggak bisa mikirin apa-apa,'' jawab Reno membuat Arimbi kesal.
Herman menggaruk kepalanya. Tak menyangka jika ada anak mafia yang bukan cassanova. Reno sama polosnya seperti para remaja walau tingkat kepolosan pria itu tidak sepolos putra-putranya.
"Sayang?' Reno menatap Arimbi.
Iris hazel pria itu menembus netra pekat sang gadis. Berbeda dengan Nai, Arimbi mengangguk setuju.
"Kita nikah sekarang dengan mahar lima miliar rupiah!" ujar gadis itu yang membuat semua tersentak.
"Baby!"
"Saya sanggup Nona!" seru Reno yang malah membuat Arimbi kelimpungan sendiri.
"Ayah ...!" gadis itu berlari ke pelukan Herman.
Reno mengikuti, pria itu menelepon ayahnya dan menyuruhnya menyiapkan uang lima miliar. Remario tentu senang mendengarnya bahkan ia telah menyiapkan ratusan miliar untuk gadis itu. Arimbi dapat mewujudkan pernikahan impiannya.
"Daddy sudah siapkan lima ratus miliar bahkan satu triliyun untuk mewujudkan pernikahan impiannya!" jawab Remario di sambungan telepon.
Reno sengaja mengaktifkan pengeras suara agar semua mendengarnya. Virgou berdecak kesal.
"Sombong sekali dia," bisiknya mendumal.
__ADS_1
"Huuss ... sayang," bisik Khasya.
Wanita itu tak pernah ragu memeluk Virgou layaknya ia memeluk Satrio, Al, Sean, Kean, Daud dan putra-putra lainnya. Itu yang membuat Virgou sangat menyayangi Khasya dan menganggap wanita itu adalah ibunya. Kadang Khasya memeluknya gemas layaknya memeluk para perusuh junior.
"Nak, Reno sanggup membayar mahar yang kau sebut. Kau tak boleh lari dengan ucapanmu," sahut Frans.
"Benar sayang, pantang bagi kita menjilat kembali ludah yang keluar!' sahut Leon.
Arimbi menatap ayahnya. Herman memang sangat kesal dengan apa yang sudah dilontarkan putrinya tadi. Tapi, ucapan Frans dan Leon benar adanya.
"Menikahlah Nak, ayah ikhlas," ujarnya dengan nada tercekat.
Haidar menangis Terra memeluknya, Nai yang mendengar jika Arimbi menikah, gadis itu juga minta mahar yang sama pada Langit.
"Kak kasih aku mahar yang sama seperti Bu'lek Arimbi, maka kita akan menikah sekarang!"
Semua menoleh pada Langit, pria itu tentu terkejut karena diminta seperti itu. Terdiamnya Langit membuat peluang bagi Arimbi.
"Kalo Kak Langit nggak sanggup. Aku pending nikah sama Kak Reno sampai Kak Langit sanggup beri apa yang keponakanku mau!"
Kini Reno menetap tajam pada Langit, pria itu mendekati rekannya.
"Jangan bilang kamu belum nyiapin apa-apa?' bisiknya.
"Aku telepon ayahku!' bisik Langit.
"Kalo ayahmu keberatan, aku pinjemin deh,' bisik Reno.
Langit menelepon ayahnya. Dua kali sambungan telepon tak diangkat. Nai dan Arimbi santai, dua gadis itu memang yakin jika uang sebanyak itu pasti sulit dikeluarkan walau bagi orang terkaya sekalipun.
"Halo Papa ... siapkan aku uang seratus miliar, aku mau menikahi Naisya!' teriak Langit pada ayahnya.
"Hei anak sialan. Kau kira Nai itu putri biasa hanya seratus miliar!' bentak sang ayah Andoro di sambungan telepon.
"Papa sudah siapkan satu triliyun untuk gadis itu!' lanjutnya.
Langit dan Reno tersenyum lebar. Mereka menatap dua gadis yang kini menangis berpelukan.
"Nona ... kita menikah sekarang!"
bersambung.
Wakakakak ...
othor berkhayal ada yang meminang saja udah Alhamdulillah apalagi kalo sampai ngasih mahar segitu banyak.
ba bowu 😍
__ADS_1
next?