SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KELUARGA BESAR


__ADS_3

Langit hanya bisa menghela napas panjang. Pemuda itu baru sadar jika istrinya masih sangat polos hingga tidak mengerti maksudnya. Ia pun meminta maaf pada Nai.


"Maaf sayang," Nai mengangguk dengan rona di pipinya.


Gadis itu sudah tau apa maksud sang suami karena Kanya membisikkan apa maksud suaminya tadi.


"Kakak mesum," bisiknya lirih.


Langit tersenyum. Sedang para perusuh seakan pertanyaan mereka tadi belum terjawab. Tetapi David dan Dominic berhasil mengalihkan perhatian mereka.


Berkumpulnya keluarga besar di taman kota membuat banyak wartawan berdatangan. Dominic yang memang belum memperkenalkan tiga bayinya ke publik jadi sorotan.


"Tuan Starlight!" panggil beberapa wartawan ketika Demian lewat di depan mereka. Empat pengawal langsung menahan laju wartawan yang merangsek.


"Tuan, apa benar Ayah anda Tuan Dominic Starlight sudah menikah dan memiliki tiga putra?" tanya salah satu wartawan.


"Iya benar, saya memiliki tiga adik kembar laki-laki," jawab Demian.


"Kenapa tidak diperkenalkan ke publik Tuan, bahwasanya keturunan Starlight bertambah?"


"Belum sempat," jawab Demian.


Pria itu pun kembali ke kumpulan saudaranya yang memenuhi taman kota. Para wartawan tak bisa bergerak mengikuti Demian karena ditahan oleh para pengawal.


Sementara itu Harun merasa ada yang janggal. Balita itu memanggil saudara seumurannya.


"Azha, Baliana, Ayi, Aya!"


"Pa'a?" sahut keempatnya.


"Talian beulasa aneh eundat?" tanya Harun.


"Aneh pa'a?" tanya Arraya heran.


"Peulasaan padhi Ata' Mamit pilan pinta susu sama Ata'Nai tan?" semua mengangguk setuju.


"Nah ... pas Atuh panya te meuleta tapan Ata'Nai lahilin Ata'Mamit tot eundat pisawab?" tanyanya ulang.


"Oh iya ya!' sahut Azha teringat.


Kelima balita itu melihat semua orang tua yang sedang bercengkrama dengan para bayi mereka. Sedang kakak-kakak juga berkumpul sendiri sesuai usia mereka.


Arsh mendatangi kakak-kakaknya yang tengah mengamati semua orang. Bayi montok itu ikut memperhatikan apa yang dilihat kakak-kakaknya.


"Ata' ... papain ihat owan buwa?" tanyanya.


"Baby, pa'a tamuh lasa ada telanehan pisimi?" tanya Bariana.


"Pa'a naneh Ata'?" tanya Arsh bingung.


"Ah ... tamuh pasih payi sadhi tamuh eundat neulti," ujar Bariana.


"Alsh tah peusal Ata!" protes Arsh kesal.


Maryam dan lainnya mendatangi Arsh yang selalu saja darah tinggi.


"Paypi teunapa pamuh balah-palah?" tanya Maryam.


'Benwhdvbsnaksusjnshwnwhssmjwwj!" oceh Arsh.


"Paypi ... tamuh eundat poleh nomon tayat dithu!' peringat Bariana.


"Alsh peusal Ata'!" ujar Arsh bersikukuh.

__ADS_1


"Oteh Baby ... tamuh udah peusal. Al yu hepi?" Arsh pun mengangguk puas.


"Beumana lada pa'a Ata'?" tanya Al Bara.


"Imi peulsoalan wowan pewasa Baby," jawab Harun.


"Pati pita euntal ladhi judha pewasa Ata'!" sahut Aisya.


"Janan pitin pita peusanalan Ata'!" geleng El Bara.


"Peunasalan Baby!" ralat Arraya.


"Baby Aaima Pama Baby Lalsyad mana?" tanya Azha.


Balita itu mencari keberadaan Aaima. Dua bayi itu tengah jongkok berduaan. Azha mendekati keduanya disusul semua saudaranya.


"Talian napain?" tanya Azha tak suka.


Dua bayi menatap kakak mereka. Aaima menunjuk satu gundukan tanah kecil dan banyak semut yang masuk ke dalam gundukan itu.


"Ipu salan pemut! Janan detat-detat!' Azha menarik tangan Aaima dan Arsyad.


"Pihatna dali jauh aja," ujarnya.


"Pati eundat peulihatan Ata'!" seru Aaima.


"Janan Baby, banti meuleta peinjet sama pita!" larang Azha lagi.


"Babies ... ayo pulang!' ajak Azizah.


Anak-anak dituntun oleh para pengawal. Aaima menoleh kebelakang di mana sarang semut berada. Hingga pada satu titik di mana ada orang dewasa berjalan dan menginjak sarang kecil itu rata dengan tanah.


"Pemut," panggilnya lirih.


"Pa'a Baby?"


"Salan pemutna pudah pijinjet wowan lain," adunya lirih.


Azha terdiam, ia menenangkan Aaima yang tampak sedih. Butuh waktu setengah jam mereka sudah sampai pada tempat tinggal mewah itu.


Semuanya kini mandi, para ibu memandikan anak-anak yang belum mandiri. Azizah membantu memandikan Maryam, Aisya dan Aaima. Adiba ikut membantu memandikan yang lain.


"Papa ... Leno nggak bisa ambil sabunnya,"


David langsung membantu bocah lima tahun itu. Lino juga dimandikan bersama, sedang Lana sudah bisa mandi sendiri.


Akhirnya mereka sudah segar. Ari dalam gendongan Langit, bayi mau tiga tahun itu sedikit hangat.


"Baby kenapa?" tanya Kanya.


"Baby anget Oma," ujar Langit.


Nai langsung mengambil alih bayi itu dan merabanya. Memang sedikit hangat. Rupanya saat tadi dibangunkan Ari tengah tertidur lelap jadi ia merasa tidurnya kurang.


"Nggak apa-apa kok," ujar Nai menenangkan semua.


"Dad, kita belum memperkenalkan Baby Alvan, Baby Sena dan Baby Aaric loh," ujar Demian mengingat pertanyaan wartawan.


"Kan di Indonesia sudah sayang, bareng dengan Baby yang lain," ujar Dinar mengingat.


"Oh iya ya ... Dem lupa," ujar Demian.


"Apah ... Apah tah itun!" ledek Arsh.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" tanya Demian gemas.


"Apah itun!" sahut Arsh lebih galak.


Demian bukannya takut, pria itu mengangkat Arsh tinggi-tinggi dan menggelitiknya. Para bayi juga ingin diperlakukan sama.


Sore menjelang, semua anak makan dengan lahap. Para remaja mulai menguap.


"Ngantuk Mami," Kean memeluk Seruni dan meletakkan kepalanya di bahu wanita itu.


"Baby, masuk ke kamarmu lalu tidur!" perintah Dav.


"Nggak boleh tidur! bentar lagi ashar!" larang Dinar. "Salah sendiri tadi disuruh tidur siang malah keluyuran."


"Mami ... Bibu galak!" adu Kean.


Remaja itu tidak tahan. Kean tertidur di bahu Seruni. Dav memindahkan remaja manja itu ke pangkuannya.


"Papi," rengek Kean.


Sean juga menempel pada Lidya, Calvin memeluk Sari dan tertidur di punggung wanita itu. Semua remaja tampak kelelahan setelah bermain puas tadi siang. Bart hanya menggeleng kepala.


Semua dibangunkan ketika waktu ashar tiba. Semua harus bangun sebelum Dinar memercikkan air ke wajah dan mengomeli mereka.


Usai shalat para remaja kembali segar. Beberapa maid yang masih muda mencoba peruntungan dengan mendekati anak majikan mereka.


Shiena melihat sosok Sean yang manis dan tampan. Gadis berusia dua puluh tahun itu mencoba peruntungannya.


"Aah!" pekiknya ketika pisau menoreh jarinya.


"Shiena ... Are you oke?" tanya kepala maid.


"Sorry," ujar gadis itu malu.


Ingin mendapat perhatian dari anak majikan. Sean yang diincar malah sudah tidak ada di tempat. Shiena meruntuki kesialannya.


"Kenapa sulit sekali, jika dicerita-cerita novel yang aku baca. Para tuan muda bisa jatuh kepada maid cantik," gumamnya dalam hati.


Shiena kembali menjalankan aksinya. Gadis itu menata minuman di atas meja besar. Sean, Calvin dan Al ada di sana tengah bercengkrama dan tertawa.


"Please Sir!" ujarnya ketika meletakkan minuman itu di atas meja di mana para remaja tampan berkumpul.


"Thanks,' ujar Al ramah.


Gadis itu menganggukkan kepala. Ia harus berlalu dari tempat itu walau dengan langkah kaki berat.


"Kenapa tidak seperti di novel ya?" tanyanya dalam hati gusar.


Baik Sean, Al dan Calvin benar-benar mengabaikan gadis cantik itu. Dari semua perbincangan majikan yang didengarnya. Tak ada satupun yang menyinggung dirinya.


Shiena bekerja sebagai maid hanya untuk membiayai kuliahnya. Widya yang menerima gadis itu tanpa membebani Shiena dengan segudang pekerjaan. Gadis itu juga pintar dalam mata kuliah yang ia geluti.


"Apa yang kau pikirkan Shiena?" tanya kepala Maid.


"Tidak ada Miss Colla," sahut gadis itu cepat.


"Masuk ke ruanganmu jika sudah tidak ada pekerjaan lagi!" titah Colla tegas.


Shiena menurut, jauh sudah harapannya untuk mendekati Kekuarga majikannya itu.


Bersambung.


Beda kelas Shiena ... mereka jodohnya adalah gadis atau pemuda terpilih.

__ADS_1


Next?


__ADS_2