SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEBENARAN YANG TERUNGKAP


__ADS_3

Herman sakit, semua panik. Badan pria itu panas tinggi dan demam. Virgou menangis di sisi pria itu dan tak mau beranjak, begitu juga Terra.


"Semuanya minggir dong .... Iya mau obatin gimana?!" seru wanita itu dengan berurai air mata.


Bart juga lemas, Bram juga sama. Kini kedua pria itu di tangani oleh Daud. Nai dan Arimbi menenangkan daddy dan mama-nya itu. Keduanya digiring keluar kamar dan membiarkan Lidya mengobati pria kesayangan mereka.


Semua sedih bahkan, Virgou nyaris pingsan jika tak ditangani oleh Nai.


"Daddy ... jangan gini dong ... hiks ... hiks!" pinta Nai ikutan menangis.


Khasya sudah tak sanggup berkata apapun. Ia hanya memeluk Dimas, Dewa dan Dewi yang masih kecil. Sedang Satrio duduk di kursi dengan menopang kepalanya. Kean, Calvin, Sean dan Al menenangkan saudaranya itu.


"Bro ... jangan sedih dong," ujar Sean, "ayah pasti sembuh kok."


Sedang para perusuh juga hanya diam, seakan mengerti. Darren datang bersama anak dan istrinya. Pria itu langsung masuk ke kamar Herman. Tak lama ia keluar lagi sedang istrinya membantu adik iparnya.


"Apah Pallen!" rajuk semua bayi yang seperti terlantar karena para orang dewasa sedih. Terra tersadar, para perusuh tak ada yang mengawasi. Maria juga tak bisa bingung karena sedih, Seruni juga begitu. Dav menenangkan Haidar. Gisel, Budiman dan Gomesh menenangkan yang lain walau hati mereka sedih bukan main.


"Bro, jangan gini ah ... kasihan anak-anak, mereka butuh kita," ujarnya.


Lidya dan Saf keluar dengan mata basah. Virgou langsung mendekatinya.


"Ayah?"


"Ayah kebanyakan pikiran, darahnya rendah," jelas Lidya.


"Panas Ayah tadi belum turun dad ... huhuhu ... hiks ... hiks!" tangis Lidya pecah.


Saf juga tak bisa menahan tangisnya. Virgou memeluk keduanya. Tak lama semua anak angkat datang mereka berkumpul dan langsung mengaji. Lalu tak lama Demian datang bersama Jac dan Dominic. Putri dan Aini juga datang bersama Gio.


Kean mengajak Satrio ikut mengaji bersama kakak-kakak angkat mereka. Nai, Arimbi, Kaila dan lainnya juga ikut serta. Para perusuh dipangku oleh mereka ikut bersama.


Suasana berubah menjadi duka akibat suara mengaji, Khasya sedih bukan main, ia belum terima jika sang suami pergi secepat itu. Ia yakin suaminya sehat dan hidup lama bersamanya.


"Nak, bunda mau ke kamar," pintanya lemah.


Aini dan Putri membimbing perempuan paru baya itu ke kamar. Di sana Herman berbaring lemah, keningnya dikompres. Dinar mengaji di sisi sang ayah.


"Dinar ... ayahmu masih hidup sayang ... jangan perlakukan seperti orang mati!" raung Khasya langsung merosot ke lantai.


Putri dan Aini menangis menahan laju tubuh pernapasan itu. Dinar menghentikan ngajinya. Ia mendekati ibu angkatnya yang menangis.


"Bunda ... mengaji bukan hanya untuk orang meninggal ... tapi untuk yang hidup dan yang sakit," terang Dinar dengan suara bergetar.


Khasya meraung. Virgou dan Terra sampai masuk ke kamar melihat apa yang terjadi.


"Bunda ... bunda ...!" Virgou langsung menggendong tubuh Khasya dan meletakkannya di sisi Herman.


"Ayah ... ayah ... bunda yah," isak pria dengan sejuta pesona itu.


Herman menoleh pada istrinya. Khasya memeluknya.


"Aku tidak apa-apa sayang, percayalah ... aku hanya lemas dan demam, itu saja," ujar pria itu.


"Mas ... cepat lah sembuh!" pinta perempuan itu sambil tergugu.


"Dinar ... mana Dinar!"

__ADS_1


Gadis yang punya nama datang dan duduk di sisi Virgou. Ia juga menenangkan pria itu yang berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis.


"Dinar ... ada yang ayah ingin sampaikan," ujar pria itu.


"A-apa itu yah?"


"Nak ...," Herman menahan kepalanya yang pusing.


Tubuh pria itu sedikit menggigil. Tiba-tiba ia ingin ke kamar mandi.


"Virgou aku mau pipis," ujarnya.


Virgou langsung membantu pria itu berdiri dan membawanya ke kamar mandi. Usai mengeluarkan urinenya. Suhu tubuh pria itu sedikit turun. Herman kembali ditidurkan di atas kasurnya.


"Nak ... sebenarnya ayah dan ibumu masih hidup," lanjutnya.


Dinar diam, Virgou dan Terra terhenyak. Putri dan Aini sudah keluar dari kamar.


"Aku tak punya ayah dan ibu, yah!' sahut gadis itu datar.


"Nak ... aku tak bisa menikahkan mu," sahut Herman.


"Apa pertanggungjawaban ku pada Allah nak, jika mengabaikan nasabmu!" sahut pria itu.


"Ya tak usah menikah selamanya!' jawab Dinar lirih.


"Istighfar Dinar!" sahut Terra.


Dinar menitikkan air mata. Virgou langsung menghadapkan gadis itu padanya.


"Dinar lihat aku. Pria berengsek yang melukai Terra dan tiga adiknya!"


"Ayah juga sudah melukai Terra nak," sahutnya lemah.


Dinar menangis. Khasya akhirnya bangkit dari sisi suaminya, ia memutar tempat tidur dan berada di depan gadis yang menangis.


"Nak ... semua orang pasti memiliki salah. Jika kau berkenan, maafkanlah ... Allah itu maha pengasih dan penyayang. Apa kau mau menyiksa mereka ketika di hari akhir karena tak mendapat maafmu?"


Dinar sesenggukan, Khasya memeluknya erat. Dinar akhirnya mengangguk setuju ketika Herman mengajukan usul untuk menemui kedua orang tuanya itu.


Rion datang bersama dengan Azizah. Enam adik Azizah ada di sana. Semua anak sudah selesai mengaji.


"Ayah!" panggil Rion langsung masuk kamar sedang Azizah memilih duduk bersama yang lain.


"Baby," sahut pria itu.


Lidya masuk begitu juga Saf. Dinar diajak keluar bersama Terra dan Virgou.


"Ayah ... jangan sakit ayah ... hiks ... hiks!' Rion langsung merebahkan diri di ranjang dan memeluk pria itu.


Khasya ikut berbaring di sisi Rion dan memeluk pemuda tampan itu.


"Ayah sudah lebih baik baby," ujar Saf.


Lidya mengangguk setuju, semua lega. Ternyata penyakit pria itu hanya stress hingga membuat daya tahan tubuhnya menurun.


Lidya ikut merebahkan diri di sisi Herman dan memeluknya.

__ADS_1


"Saf di mana?' rengek wanita beranak kembar tiga itu. Usia kandungannya sudah mau tiga bulan.


"Sini sayang," tunjuk Khasya di sisinya.


Ranjang Herman berukuran super lux. Jadi muat hingga enam orang dewasa.


Setelah puas bermanja dan memastikan jika pria itu baik-baik saja. Barulah mereka keluar kecuali Khasya.


"Ayah sudah membaik," ujar Lidya memberitahu.


Semua mengucap hamdalah. Bram dan Kanya ke dalam ruangan bersama Bart. Di sana Bart memarahi pria itu.


"Jangan membuatku takut Herman!"


"Dad ... aku hanya stress!" sahut pria itu tak mau kalah.


"Mas jaga kesehatan dong, kan aku jadi takut," ujar Bram.


"Iya mas ... aku juga jadi takut," sahut Kanya juga.


Bram memeluk besannya itu. Pria itu tak ragu menciumi Herman hingga protes.


"Cium istrimu bodoh!" pekiknya kesal.


Bram terkekeh. Inilah yang ia rindukan, pantas putranya jauh lebih sayang pada Herman dibanding dirinya.


Bram pamit pulang bersama istrinya. Begitu juga semua anak-anak angkat pria itu. Khasya mengucap terima kasih pada semuanya.


"Lana, Lino dan Leno nginap sini ya," ajak perempuan itu atas permintaan Herman.


"Bunda, Dewi mau Adiba dan adik-adiknya nginep sini boleh nggak?"


"Tentu sayang," jawab Khasya.


"Trus Azizah sama siapa bobonya?" tanya Azizah bingung.


"Kakak nikah yuk sama Kean," ajak remaja itu.


Plak! Virgou memukul putra pertamanya itu. Khasya sampai memarahinya. Kean merengek dan mengadu pada Herman, remaja itu masuk ke kamar.


"Ayah ... daddy pukul Kean ... hiks!"


"Virgou ... sini kau!" bentak pria itu.


"Kean berani ajak nikah Azizah yah!' Virgou membela diri.


"Tapi jangan pukul putraku!" bentak Herman.


Hanya Azizah yang bingung dengan apa yang terjadi. Terra dan lainnya hanya bisa menghela napas panjang.


"Ata' Amin ... yut pita bain!" ajak Harun pada salah satu adik Azizah.


"Main apa Dik baby?" tanya Amin.


"Bain-bain laja!" sahut Harun.


Bersambung.

__ADS_1


ah ... lega ... kerusuhan akhirnya terjadi kembali.


next?


__ADS_2