
"Pergi!" teriak Zhein mengusir keponakannya itu.
"Baik kami akan pergi. Tapi ingat, sebagai saudara laki-laki. Kamu harusnya melindungi saudara perempuan!' kecam Weni dengan mata melotot.
"Kau punya ayahmu. Aku sudah memberikan semua harta kakek kalian. Ingat aku masih memegang surat perjanjiannya!" tekan Zhein tak mau kalah.
Akhirnya Weni pun tak bisa berkata-kata lagi. Ia dibawa oleh empat saudaranya yang lain.
Kepergian mereka bersamaan dengan kedatangan Kean dan rombongan. Weni tentu tak mengenal keluarga dari istri pamannya itu.
"Assalamualaikum!" sapa Satrio yang turun duluan.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi!" sahut Zhein dengan senyum lebar.
"Papa Raka, Mama Karina, Papa Zhein, Mama Mira kami datang!" seru Kean yang juga turun dari mobil.
Semua turun, Zhein membawa masuk semua ke dalam rumah. Pria itu membawa semua masuk kamar, Karina tengah di infus. Gara-gara kelakuan keluarga suaminya. Kesehatannya drop.
"Kok nggak bilang kalo Mama sakit?" tanya Kaila tak suka.
"Sayang," Karina mengusap tangan gadis cantik itu.
"Mamamu tuh yang larang," sahut Zhein.
"Ah, Kean dan lainnya berulang tahun ya sekarang?" Karina teringat jika hari ini adalah hari ulang tahun Kean.
Wanita itu hendak bangun. Tetapi langsung dicegah oleh Kaila, Dewi dan Maisya.
"Mama tidur aja. Nggak usah mikirin kami," ujar Dewi.
"Iya Ma," sahut Sean.
"Kita mau bobo sini," lanjutnya lalu merebahkan diri di tempat tidur.
Ranjang dengan ukuran super lux itu penuh dengan semua anak yang memeluk Karina. Zhein dan Raka keluar membiarkan semuanya di sana.
"Mira, panaskan semua makanan. Mereka pasti lapar," suruh Raka pada istrinya.
Mira mengangguk, ia dibantu oleh putrinya Devina menata meja makan. Setya memilih bersama ayah dan kakeknya.
Hanya butuh waktu sekejap mansion Raka sudah penuh dengan manusia. Kanya marah pada putrinya yang selalu menyembunyikan masalahnya.
"Papa juga bisa bantu kamu sayang. Kenapa hanya Virgou yang selalu pertama kali tau masalahmu!" gerutu wanita itu.
"Ma," rengek Karina.
"Mamamu iri, Rin!" sungut Virgou dengan senyum meledek Kanya.
Kanya mencubit gemas bahu kekar pria dengan sejuta pesona itu. Walau tak berasa, namun watak usil seluruh perusuh yang hadir itu berasal dari Virgou.
"Babies ... Daddy dicubit Oma ... huuuu ... uuuu!' adunya dengan pura-pura menangis.
"Oma!" pekik Arsh lalu berkacak pinggang.
Kanya gemas dengan bayi galak itu. Ia mengangkat Arsh dan membuatnya tergelak.
Karina menatap ayahnya. Bram mengusap kepala putrinya itu lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
"Istirahat lah sayang," ujarnya.
Kanya mengangguk. Keputusan salah jika ia mencoba menyembunyikan semua masalahnya dari keluarga hangat Dougher Young, terutama dari monster yang kini tengah menggoda Devina hingga mukanya memerah.
"Daddy ... jangan goda putriku," pinta Mira dengan senyum menggoda putrinya.
"Ah, dia baru seumuran Rasya kan?" Mira mengangguk.
"Apa dia sudah punya pacar?" tanya Virgou lagi.
"Oh, Grandpa are you kidding? Gimana bisa punya pacar ... tuh cucu papa yang itu galak banget!" tunjuk Devina pada saudara kembarnya.
"Aku satu bangku sama dia, istirahat juga sama dia. Mana ada anak laki-laki yang berani dekat!' sungutnya.
"Bagus itu!" celetuk Haidar.
"Papa akan memantaumu mulai sekarang!" tekan pria posesif itu.
Devina mencebik manja. Ruang tengah dipenuhi anak-anak.. Bart membawa semua anaknya. Bus besar ada di halaman mansion mewah itu.
"Ate ... ote-ote!" pinta Arsh bossy pada Zhein.
"Kakek nggak ngerti Baby," jawab Zhein menggoda Arsh.
Bayi itu menatap pria tampan itu sedemikian rupa. Yang ditatap begitu gemas melihat itu. Tatapan tak percaya dilayangkan seorang bayi yang belum satu tahun.
"Tate ... sanan bolon ... talo bolon manti belbosa!" peringat Maryam.
Zhein berdecak, ia sangat gemas. Gara-gara keluarga serakahnya, ia jadi jarang berkumpul dengan keluarga dari istrinya itu. Bukan itu saja, ia punya malu untuk datang pada keluarga yang tak meributkan harta sama sekali itu.
"Jangan pikirkan macam-macam sayang," peringat Kanya pada menantunya itu.
"Semua sudah diberi. Bahkan Zhein rela tak dapat harta itu. Kini mereka beralasan jika perusahaan Raka dari hasil pembagian saham," lanjutnya lalu ia menyandarkan punggungnya.
"Zhein malu Ma," lanjutnya lirih.
"Apa lagi Kak Virgou yang selalu menolong kami. Pria itu seperti memiliki indera lebih dan datang di saat yang tepat," lanjutnya.
Kanya menatap pria bermata biru itu tengah mengganggu aksi panggung anak-anaknya. Arsh tampak hendak memukul pria itu dengan mik yang dipegangnya. Kanya menghela napas panjang.
"Jujur sayang. Jika adikmu tak berjodoh dengan Terra. Mungkin aku juga sama berprilaku seperti semua saudaramu," ujar wanita itu lirih.
"Dan keluarga Hovert Pratama akan hancur seiring arogannya kami," lanjutnya lagi.
Kanya menggenggam tangan menantunya. Ia menatap mata laki-laki itu yang basah, Kanya cepat mengusap jejak basah itu.
"Jangan menangis sayang. Jangan menangis untuk keluarga yang tak ada untukmu," ujar Kanya.
Zhein pun tenggelam dalam pelukan mertuanya. Ia menangis pelan di dada wanita itu. Bram duduk dan mengelus punggung Zhein yang bergetar.
"Sudah ... sudah," ucap pria itu dengan suara tercekat.
"Papa akan bantu kamu. Virgou sudah menjelaskan duduk perkaranya. Biarkan kali ini Papa ambil bagian menolongmu juga!" tekan Bram.
"Makasih Pa ... hiks!"
"Sudah, jangan menangis. Kau harus kuat untuk putri dan cucu Papa. Mereka semua bergantung padamu. Raka lemah karena posisinya yang memang seperti itu, Raffhan juga tak bisa melakukan apapun karena ia terikut oleh kakaknya," ujar Bram lagi.
__ADS_1
"Ada keluarga ini untukmu, Nak."
Zhein memeluk mertua laki-lakinya. Maryam, Aisya dan bayi lain seumuran mendatangi mereka. Wajah semuanya sedih.
"Janan nayis Tate," pinta Aisya mencebik sedih.
"Oh ... sayang," Zhein memeluk semua bayi dan menciuminya satu persatu.
Sedang di depan mereka Ari kini menyanyikan lagu anak-anak.
"Watu tu teusil diduptuh ... mamat lah senan ... senan bipantu-bipantu pipelutna ... senan bisyium pijanjana ... banana teusyanan,"
"Bila kuingat lelah ... ayah bunda, bunda piara-piara akan daku ... sehingga aku besarlah ...!" Kaila menyanyikan lagu awalnya.
Semua ikut bernyanyi, entah dari mana tiba-tiba Kean datang dengan banyak kuntum bunga. Raffhan membawa ibunya keluar dengan kursi roda. dan Zheinra mendorong kantung infus.
"Selamat hari Ibu Mama, Mommy, Bommy, Umi, Bibu!" pekik remaja tampan dan rupawan itu.
"Makasih sayang," ucap Karina dengan air mata haru.
Kean memberikan sekuntum bunga pada semua wanita dan juga kecupan sayang.
"Atuh lah palenan pandut yan atan meundunsan ... puniaaa!" pekik Azha tiba-tiba.
Semua menoleh padanya. Sean ada di sana memutar lagunya. Remaja itu tersenyum usil.
"Wewat ladhu yan tubanyi taan ... wewat busyit yan tupain taan ... peusteulah atuh peusal banti ... Atan sadhi si laja pandut ... pandut ... pandut ... pan-pan-pan pandut ...!" Azha memutar pinggulnya.
"Sel hopah!" seru Arsh mengikuti goyangan kakaknya.
Akhirnya semua ikut bergoyang. Gelak tawa tercipta di sana. Bayi-bayi empat bulan juga ikutan bergoyang dan memekik ikutan bernyanyi.
Mansion Raka yang tadinya dingin, berubah jadi hangat. Pria itu menatap kerusuhan di ruang tengah. Mira mendekati suami dan memeluknya.
"Aku bahagia memilihmu menjadi suamiku!" ucapnya tegas.
"Aku juga!" sahut Raka menatap wanita yang selalu setia bersamanya.
Kini mereka ikut berjoget. Sedang di luar mansion, beberapa pengawal menjaga hunian itu. Rio menelepon ketuanya.
"Ketua, rupanya mansion ini dipantau oleh beberapa orang mencurigakan!"
"Bereskan!" titah pria bermata biru di seberang telepon.
Virgou meremas benda pipih di tangannya. Matanya berkilat sadis.
"Kau mau berurusan denganku ya, keluarga Wijaya?" gumamnya pelan sekali.
Bersambung.
Ah ...
Happy mother's day!
Readers ... sekali lagi mohon maaf. Othor udah dua hari ini sakit jadi hanya bisa up satu. minta pengertiannya ya.
Ba bowu 😍😍😍
__ADS_1
next?