SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KERICUHAN KELUARGA


__ADS_3

Tiga pria memindai sekeliling. Mereka mencari tiga anak tampan yang bisa membuat mereka memiliki uang banyak.


"Kemana mereka??" tanya salah seorang dari mereka.


"Cepat juga larinya!' sahut lainnya lagi.


Ketiganya terengah-engah, Gomesh dan Dahlan sudah ada di sana. Mereka melacak via ponsel.


"Anak-anak bersembunyi di makam. Kita ke sana!'


Gomesh dan Dahlan bergerak. Mereka tak peduli dengan tiga pria yang mencari ketiga anak mereka.


Ketika di lokasi di mana tiga perusuh bersembunyi. Tiga pria tampak memasuki pemakaman.


"Mereka pasti sembunyi di sini," ujar pria bertubuh kurus.


Semua menatap pohon besar satu-satunya di sana. Ketiganya menyeringai.


"Sudah jangan sembunyi, kami akan berbuat baik kok. Kalian juga bisa punya uang banyak," ujar pria itu.


Salah satu pria tak sabar, ia langsung berlari ke arah belakang pohon. Tak ada tiga anak yang mereka cari.


"Bangsat! Kemana dia?!" decaknya kesal.


Arfhan, Sky dan Bomesh sudah pergi setelah mendengar pintu pagar makan bergeser.


"Mereka ke jalan besar!' teriak salah satunya.


"Jaraknya dua kilometer dari sini. Mereka tak akan bisa jauh!" seringai yang satunya lagi.


Dahlan membuka pagar makam. Ketiga pria menoleh. Gomesh menyusul kemudian.


"Babies!' panggil Dahlan berteriak.


"Abi!"


Tiga anak muncul dari balik nisan besar. Mereka ada di bagian pemakaman orang China.


Gomesh dan Dahlan benar-benar tak memperdulikan tiga pria yang melongo di sana. Pria raksasa itu benar-benar marah pada ketiganya.


'Kenapa mesti kabur dari rumah?!" bentaknya.


"Ketua ...," Dahlan menenangkan Gomesh.


"Anak-anak ini nggak kapok lari dari penjagaan. Apa kami harus mengikat kalian?" bentak Gomesh.


"Maaf Papa," ketiganya menunduk bersalah.


"Ayo pulang Nak!' ajak Dahlan lembut.


Ketiganya menurut, Sky, Bomesh, Arfhan berjalan menuju dua ayahnya. Melewati tiga orang yang tadi mengejar mereka.


"Ck sialan!" dumal salah satunya.


Dahlan menatap tiga pria dengan pandangan menusuk. Ketiganya menciut, lalu mundur tiga langkah.


"Mari pak!" pamit Dahlan pada ketiganya dengan senyum mematikan.


Gomesh menggiring tiga anaknya pergi. Dahlan menyusul kemudian, sedang tiga pria itu saling pandang.


"Kita gagal?" tanya salah satu dan yang lainnya mengangguk.


"Ya sudah ...."


Virgou dan Budiman sudah ada di depan minimarket. Mereka membeli banyak camilan.


"Sudah puas?" tanya Virgou pada tiga anak yang memang sangat besar keberaniannya dibanding yang lain.


"Kami hanya ingin pergi jajan Daddy," jawab Bomesh.

__ADS_1


Gomesh mau menarik telinga anaknya. Baru tangannya menjulur tepisan keras dilakukan Dahlan.


"Jangan coba-coba ketua!' peringatnya.


"Mau apa dia?" tanya Virgou pada Dahlan.


"Dia mau menjewer Baby Bom!" jawab Dahlan.


"Kau mau mati di tanganku Gomesh?" desis Virgou marah.


"Ketua,"


"Bawa anak-anak pulang!" perintah Virgou.


Budiman dan Dahlan membawa trio perusuh itu pergi ke mansion Virgou.


"Ketua!' rengek Gomesh.


"Aku tak pernah mengangkat tanganku menjewer telinga semua anak-anak!" tekan Virgou.


"Ketua ...."


"Aku adukan pada ayah!" angguk Virgou dengan kilatan mata sadis.


Benar saja, Herman menarik keras telinga Gomesh karena ingin menjewer Bomesh putranya.


"Ayah ... ampun!' pekik Bomesh kesakitan.


Tentu hal tersebut tak dilakukan di depan mata anak-anak. Bisa-bisa Herman yang jadi tersangka oleh perusuh paling junior itu.


"Jangan berani-berani mengangkat tanganmu untuk mengasari semua anak-anak!" tekan pria tua itu.


"Iya ayah ... ampun!' tunduk Gomesh.


"Tiga putramu adalah paling berani dan paling pintar di antara semua anak. Mestinya kau bimbing mereka dan arahkan!" ujarnya menasihati.


"Bukan malah memarahi dan memberikan hukuman!" lanjutnya.


Herman menghela napas panjang. Lalu perlahan ia mengusap telinga Gomesh yang memerah karena ditarik olehnya.


Gomesh menangis ketika kepalanya dipeluk dan diletakkan di dada lebar pria tua paling dihormati di sana.


"Ayah ... huuuuu ... uuu ... hiks ... hiks!"


Herman mencium kening lebar Gomesh. Ia limpahkan kasih sayang di sana. Gomesh membalas pelukan Herman yang hangat.


"Ayah!" Virgou cemberut melihatnya.


"Aku mengadu agar dia dimarahi ... bukan disayang!" rengeknya kesal.


Satu titik bening jatuh di sudut pria sejuta pesona itu. Khasya masuk melihat Virgou mengusap cepat air matanya. Wanita itu langsung mendatanginya.


"Sayang ... ada apa, sini nak?!"


"Bunda ... hiks ... ayah manjain Gomesh!" adu Virgou.


"Oh ... sayang ... tidak apa-apa Nak. Kalian kan saudara, siapapun dia pasti kami akan memanjakan kailan," ujar Khasya lembut.


Bart masuk dan melihat adegan itu. Kemudian Andoro, Luisa, Remario, Frans dan Leon. Mereka semua langsung manyun.


"Ayah ... bunda ...," rengek Leon pada Herman.


Leon menyingkirkan Gomesh dengan mendorong kepala besar.


"Ih ... ayah ... Tuan Leon nih!" adu Gomesh.


'Kupukul kau anak sialan!" sentak Leon lalu memeluk Herman.


Frans memeluk Khasya dan menyingkirkan Virgou dari sana.

__ADS_1


"Hei!"


"Apa! Apa!" tentang Frans meledek.


"Astaga ... apa aku tidak ada di sini!" bentak Bart.


Luisa, Andoro dan Remario berebutan pelukan dari Herman.


"Sudah, sudah ... kalian semua aku sayang kok ... jangan khawatir," ujar Herman terkekeh.


Lalu mereka semua kini ada di tengah-tengah keluarga. Tak ada yang menyinggung tentang kejadian tadi. Walau tidak begitu menegangkan mereka. Tetapi semua shock dengan keberanian trio rusuh itu.


"Ata' ... Ata' ... tapan-tapan ajat Alsh tabun don!' pinta Arsh pada Arfhan.


"Boleh!' angguk Arfhan setuju.


"Jangan ngajari adikmu macam-macam Baby!" peringat Puspita.


"Ah ... Ommy dat syasyit!" protes Arsh melipat tangan ke dada.


"Atuh au pabun udha ah!" sahut Faza.


"Atuh judha ... atuh judha!' teriak Fael.


"Abi ... Baby Meghan ngumpet di balik lemali!" teriak Lilo.


"Baby!" teriak semua orang tua.


"Mumi ... huwaaaa!" teriak Meghan yang tak bisa keluar.


"Jangan menariknya bodoh!" teriak Bram pada Fio yang hendak menarik Meghan.


"Papa!" pekik Terra kesal.


"Itu anak yang membuatku berteriak seperti itu!' pekik Bram membela diri.


"Memang pada otak dangkal semua. Kau geser lemarinya anak sialan!" teriak Bart mengkomando.


Lima pengawal menggeser lemari besar yang terbuat dari kaca. Fio berhasil menarik Meghan keluar dari sana.


"Sicat!" teriak Xierra.


Bayi cantik buah cinta Felix dan Sari itu berlari dan menerjang cicak yang merayap di dinding. Jika saja Dian tak sigap. Maka tubuh kecil Xierra menghantam tembok.


"Baby,"


"Tinti ... sisat ... ipu sisat!" teriak Xierra.


"Mau apa Nona baby dengan cicak?"


"Au asih Amih puat matanan!' jawab bayi usia dua tahun itu.


"Telipik sisat!" sahut Angel bertepuk tangan.


"Nanat totat dantal, nanat sisilan, nanat podoh!' El Bara menyebut semua yang disebut orang tua.


"Baby ... nggak boleh ingat-ingat itu ya!" peringat Terra.


"Itu kata-kata yang tidak boleh kalian tiru!" lanjutnya.


"Netnet ... talo ipu pidat pait ... teunapa wowan puwa pilan beudithu?" tanya Maryam.


"Biya ... teunapa Net?" tanya Al Bara.


Semua anak menuntut jawaban dari Terra. Sedang Bram dan Bart tersangka utama memilih diam..


Bersambung.


Lah ... gitu deh!

__ADS_1


next?


__ADS_2