
Hari yang ditunggu tiba. Halaman panti berdiri tenda dengan hiasan mewah. Sekeliling pagar ditutup agar tak menganggu tamu yang datang. Semua anak panti telah berpakaian yang terbaik. Bart membelikan seragam untuk semua demi memeriahkan pernikahan ulang bayi besarnya.
Azizah sudah didandani begitu cantik oleh perias ternama ibukota. Wanita itu mengenakan kebaya putih dan menunggu, sang suami kembali mengucap akad kembali. Di aula, juga sudah dihias begitu mewah dengan dekorasi aneka bunga mawar.
Rion duduk dengan begitu gagah di hadapan Gio sebagai wali dari Azizah. Di sana Darren dan Virgou menjadi saksi untuk Rion. Sedangkan Herman menjadi saksi untuk pihak perempuan. Di hadapan penghulu pemuda yang telah mengucap ijab kabul itu tetap saja gemetaran.
“Para hadirin semua, sebelum kita melangsungkan acara utama, sebaiknya kiya mengucap basmalah terlebih dahulu,” ujar pembawa acara. “Lalu kita berdoa sebelum akad nikah berlangsung!”
“Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.” Artinya: ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.”
Semua tamu dan anggota keluarga membaca basmalah.
“Pembacaaan Al-qur’an oleh ananda Muhammad Kean Black Dougher Young dan di artika langsung oleh ananda Arimbi,” ujar pembawa acara.
Kean duduk di satu sisi, remaja yang telah beranjak sebagai pemuda itu, tampak membaca ayat suci dengan begitu khusyuk. Suaranya yang indah menjadi sorotan semua orang di sana. Para kolega yang memiliki anak gadis mulai mengincar remaja yang begitu fasih membaca al-qur’an surah Ar-Rum ayat 21.
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara mu rasa kasih dan sayang. Maha benar Allah atas segala firman-Nya!”
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!” keduanya membungkuk hormat dan meninggalkan tempat.
“MashaAllah tabarakallah! Indah sekali suara yang melantunkan ayat tadi. Semoga Allah memberi berkah padamu Ananda Kean dan juga Ananda Arimbi.
“Untuk acara selanjutnya, silahkan penghulu,” ujar pembawa acara.
“Terima kasih pembawa acara. Kita mulai ya?” ujar penghulu. “Silahkan jabat walinya!”
Rion kembali menjabat tangan Gio, dua tangan yang sama-sama dingin. Semua sibuk menghapus air mata. Terra ada dipelukan suaminya tak kuasa menahan air mata, padahal Rion telah menikah sebelumnya.
“Pa ... Baby kita menikah ... hiks!”
“Sayang ... Baby udah nikah tiga bulan lalu,” sahut Haidar malas.
Rion menjabat tangan Gio, “Rion Permana Hugrid Dougher Young, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan Azizah Putri Sabeni binti Sabeni almarhum dengan mas kawin uang senilai satu juta dinar dan satu set perhiasan berlian dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawin Azizah Putri Sabeni binti Sabeni Almarhum dengan mas kawin tersebut di atas, tunai!”
__ADS_1
Hanya satu tarikan napas, Rion kembali mengucap ijab kabul dengan sangat tenang dan begitu tegas.
“Bagaimana para saksi, sah?” tanya penghulu.
“Sah!” sahut Darren, Virgou dan Herman.
"Baarakallahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khair. artinya Semoga Allah memberkahi engkau dalam segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan.”
Pintu kamar di mana Azizah, Lidya dan Saf diketuk,Satrio mengatakan jika Azizah sudah kembali sah menjadi istri dari kakak panutan mereka. Azizah keluar dari kamar diapit oleh kakak iparnya.
Rion menatap istrinya yang cantik, senyum bahagia terpancar di wajahnya. Azizah mencium punggung tangan sang suami dengan takzim, Rion mencium kening istrinya begitu mesra.
Cincin berlian disematkan di jari manis Azizah, wanita itu juga menyematkan cincin perak di jari manis suaminya. Mereka pun menandatangani beberapa berkas. Kini keduanya memperlihatkan cincin pernikahan mereka.
Fotografer membidik keduanya yang selalu tak lepas dari senyum bahagia. Setelah menandatangani buku nikah, mereka kembali memamerkan buku nikah yang tersemat foto keduanya.
“Tahan ... yaa!” pekik fotografer menjepret kamera.
Usai diberi nasihat oleh penghulu, kini keduanya tampak bersimpuh di hadapan Terra dan Haidar. Rion menangis di kaki Terra, pemuda itu mencium kaki sang ibu yang membesarkannya dengan penuh kasih sayang.
Terra tak berhenti mengusap linangan air yang keluar dari mata dan hidungnya. Haidar pun sama, pria itu ternyata tak kuat hati melihat putra kesayangannya menangis seperti itu.
“Baby ... kamu adalah putra kebanggaan Mama, kamu adalah mentari kami, sayang!” ujar Terra.
“Nak, sayangi istrimu, kasihi dia. Perlakukan dengan lembut, jaga dia. Karena untuk hari ini dan selamanya, Azizah adalah pakaianmu, kau harus menjaganya,” nasihat Haidar.
“Papa ... huuuu ... hiks ... hiks ... Papa!” tangis Rion meledak saat dinasihati ayahnya.
Haidar, pria yang menggendongnya, memperkenalkan Rion pada semua orang sebagai putranya. Pria yang memberikan cinta dan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan dari ayah kandungnya.
“Ma ... Izah janji akan menjaga dan menyayangi Mas baby,” ujar Azizah ketika di hadapan Terra.
“Mama percaya sayang ... Mama percaya,” ujar Terra.
Kini Rion ada di depan Virgou, pria kedua yang ia sayangi, pria yang menjadi panutannya sebagai laki-laki sejati. Pria yang dari kecil selalu berseteru dengannya. Virgou memeluk bayi besarnya.
__ADS_1
“Baby ... hiks ... my Baby ... hiks!”
Puspita tak dapat mengatakan apa-apa, wanita itu langsung memeluk putra tampannya. Rion yang ia kenali paling usil dan menjadi trend center bagi semua anak-anaknya.
“Ayah,” panggil Rion pada Herman.
Pria itu juga langsung memeluk Rion. Tak ada kata-kata yang diucap pria tua itu. Rion juga sangat takut pada Herman. Entah kenapa, sedari kecil ia memang sudah segan pada pria itu, walau sering ia usili juga.
“Baby ... jaga baik-baik Azizah, jangan sakiti dia ya nak,” ujar Khasya.
“Iya Bunda,”
Ketika ada di hadapan Bram, pria itu juga memeluk Rion dan menciuminya. Bayi yang membuat ia gemas karena kepintaran, galak dan juga keusilannya ketika bayi, kini bayi itu sudah beranjak dewasa dan mengemban tanggung jawab besar sebagai seorang suami.
Budiman juga melakukam hal sama dengan yang lain, ia memeluk Rion. Bayi yamg dulu selalu mengganggunya, bayi yang selalu menghibur dan tak pernah puas memfitnahnya.
“Baby ... Tuan Baby,” panggilnya lirih.
Bart juga memeluk bayi yang dulu tak berhenti ia impikan ketika di Eropa. Karena Rion lah ia ingin tinggal dan menetap di Indonesia. Gabe dan Widya juga mencium bayi besar itu. Keduanya tak bisa berhenti dari tangis haru.
Setelah mencium semua orang tua dan meminta doa restu. Kini sepasang suami istri yang telah resmi dan sah secara negara, duduk di pelaminan, diapit oleh Terra, Haidar dan juga Gio dan Aini sebagai wali dari Azizah.
“Balo mamat syian pemuana!” pekik Harun di depan mik,” semua tamu bertepuk tangan meriah.
“Puntut Ata’ Pijah pan Ata’ Ion, pemamat beunempuh pidup palu!” ujarnya.
“Ata’ Adiba atan peumbelitan sepuah peulpembahan puntut pita semua!” lanjutnya.
Semua bertepuk tangan. Adiba yang memakai gamis warna dusty pink begitu manis. Sepasang mata menatapnya dengan binaran berbeda.
“Astaga ... masa aku pedopil sih!” gerutunya kesal dalam hati.
Bersambung.
Eh ... spasa puh yan natsil Ata'Adiba? 😱
__ADS_1
next?