
Rio berlari sambil menggendong tubuh kecil yang lemah ke dalam mansion. Hendro, Rendra dan Diki mendengar tangisan anak kecil di ruangan lain. Mereka berlarian ke sana. Rio memilih mencari kamar dan mengganti bajunya dan juga baju balita yang pingsan.
Tak butuh waktu lama, keempat wanita dilarikan ke rumah sakit. Seburuk-buruknya keluarga, Weni, Sista, Hapsa dan Sania adalah adik sepupu dari Zhein. Pria itu tak bisa diam saja melihat keempatnya kini dalam keadaan koma.
"Tuan, suami mereka mengambil surat-surat penting. Sepertinya sertifikat mansion," lapor Diki.
"Baiklah, terima kasih," ujar Zhein.
Pria itu telah melaporkan kasus kekerasan pada empat suami sepupunya itu. Weni, Sania, Hapsa dan Sista sudah divisum.
"Bagaimana keadaan mereka Dok?" tanya Zhein.
"Bisa kita bicara di kantor saya!" pinta dokter yang menangani keempat wanita malang itu.
Zhein mengangguk, pikirannya kalut, terlebih dengan lima keponakan yang salah satunya juga sedang diopname karena tadi pingsan dan sempat kehujanan. Gino mengalami hipotermia dan kelaparan akut.
"Dari pemeriksaan, ada gumpalan darah di otak dan pembengkakan syaraf akibat kerasnya pukulan," jelas dokter.
"Kemungkinan, pasien akan mengalami amnesia akut atau terbelakang mental, karena satu sel di otak kecil mereka rusak parah," lanjutnya lagi dengan ekspresi ngeri.
Zhein mengepal tangan erat. Empat pria itu dulu mengejar-ngejar keponakannya, bahkan sampai menghamili mereka.
"Kurang ajar!" makinya pelan.
"Lebih parah adalah, mereka dua puluh lima persen bisa bertahan hidup hanya dalam jangka waktu saja," lanjut sang dokter memberitahu hasil pemeriksaannya.
"Jangka waktu?"
"Bisa satu bulan, atau satu tahun paling lama," sahut dokter itu lagi.
"Hidup keempatnya hanya tinggal menunggu waktu," sambungnya.
Zhein terdiam. Sementara itu di sebuah barak, empat pria tengah menjerit kesakitan.
"Ini penyiksaan!" pekik Prapto.
"Kalian bisa aku tuntut!" lanjutnya.
Bugh! Aarrggh! Pukulan keras didapat pria itu. Leo dan kawan-kawannya begitu kesenangan diberi umpan yang berani melawan mereka.
"Kurung mereka, lalu siksa lagi!" titah Virgou dengan seringai sadis.
Keempatnya diseret, mereka diobati dan diletakkan di bangsal yang bagus.
"Aku pergi," ujar pria sejuta pesona itu.
Di tangannya ada beberapa surat penting yang diambil dari empat pria tadi. Dengan mobil yang juga dibawa oleh Prapto dan pria lainnya
"Bagaimana keadaan mereka Kak?" tanya Virgou.
"Mereka koma. Gino masih kritis," jawab Zhein..
Keempat anak kecil yang lain tak mau pergi dari kakak mereka, padahal Rion sudah mengajak mereka.
__ADS_1
"Mawu mama Ata'," ujar Lilo lirih.
Bayi empat tahun itu memilih memeluk tubuh Dita yang juga menggigil. Zhein hanya menatap datar ke lima anak itu.
"Apa yang akan Kakak lakukan pada mereka?" tanya Virgou.
"Entah lah, mungkin aku serahkan pada panti asuhan," jawab Zhein tak acuh.
Virgou menatap nyalang pria yang berdiri melamun. Zhein tak melihat apa-apa, pria itu seperti berada di dunia lain.
"Jika kau tak mau mengurusnya. Aku yang akan mengurusnya!" desis Virgou mengagetkan Zhein.
"Apa ... kau tadi tanya apa?" tanyanya panik.
Virgou memilih tak menjawabnya. Pria itu malah masuk ke dalam dan menemani kelima anak yang masih terlalu kecil. Di sana ada Rion yang juga menemani.
"Pulanglah Kak. Biar kami yang mengurus mereka," ujar Haidar menepuk bahu iparnya itu.
Zhein makin terdiam, terlihat wajah kecewa dari sosok adik iparnya itu. Zhein memang tengah buntu pikirannya. Pria itu benar-benar tak bisa berpikir apapun, jadi dia hanya bisa menjawab sekenanya.
Zhein pulang sendiri. Pria itu langsung duduk di sofa ruang tengah dengan kaki selonjor dan kepala di senderkan ke sofa. Pria itu memejamkan matanya.
"Mas," panggil Karina lirih.
Ayah ibu dan semua sudah pulang dari tadi. Tinggal Raka dan Almira, sedang Raffhan, Zheinra, Setya dan Davina memilih ikut dengan kakek dan nenek juga uyut mereka.
"Pa," Raka dan Mira ikut duduk dan begitu khawatir pada ayah mereka.
"Pa," panggil Karina lagi.
"Apa maksud Papa?" tanya Mira bingung.
"Rupanya, ketidak berhasilan mereka membuat, Weni, Sania, Hapsa dan Sista dipukuli hingga babak belur. Mereka mengalami cacat otak hingga bisa membuat mereka jadi cacat mental dan hidup mereka hanya satu tahun paling lama," jelasnya panjang lebar.
"Lalu Gino, Lilo, Seno, Dita dan Verra mana?" tanya Karina. "Kok mereka nggak dibawa?"
Zhein membuka matanya lalu menatap istrinya. Raka juga menatap ayah dan ibunya bergantian.
"Apa yang bisa kita lakukan memangnya?" tanya pria itu.
"Astagfirullah Mas!" desis Karina tak habis pikir.
"Apa yang ada dipikiranmu?!" Raka dan Mira memilih diam dan menyimak.
"Ya memang apa yang bisa kita lakukan Ma?!" tanya Zhein meninggikan suaranya.
"Pa!" peringat Raka tak suka..
"Sayang ... maaf, bukan aku membentak ibumu," ujar Zhein membela diri.
"Tapi Raka nggak suka!" tekan Raka tegas.
"Iya sayang, maaf ya," sahut Zhein menyesal.
__ADS_1
"Mas ... begitu bencinya kah Mas pada mereka hingga tak mau peduli lagi?" tanya Karina.
"Ayah mereka masih hidup. Biar jadi urusan ayahnya," sahut Zhein merasa sepele.
Karina berdecak kecewa mendengar perkataan suaminya. Kini ia tau sifat masa bodoh semua keluarga Wijaya.
"Aku berharap semua putra dan putriku tak memiliki sifat sepertimu ini Mas!" ujarnya mengungkapkan kekecewaannya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Zhein tak habis pikir.
"Kau jadi sosok seperti mereka, mas!"
"Sayang, jika pun aku peduli dengan lima anak itu. Ayah mereka akan datang dan merongrongku!" kali ini Karina terdiam.
"Sekarang bagaimana, jika aku mengambil mereka..Lalu dengan alasan itu mereka minta uang tebusan atau memenjarakan aku karena merampas anak-anak mereka?" tanya Zhein lagi.
"Tak perlu pusing akan hal itu Zhein!" seru Bram tiba-tiba datang bersama Virgou.
Karina hendak berdiri dari kursi rodanya. Tetapi Virgou menahan wanita itu. Ia meminta Raka membawa ibu mereka ke kamar.
"Tapi Vir ...," Karina ingin mengelak.
"Kak, menurut ya untuk kali ini," pinta Virgou lembut.
Pria sejuta pesona itu mampu meluluhkan wanita manapun bahkan sosok keras kepala seperti Karina. Wanita itu mengangguk, Raka membawa ibu dan istrinya masuk ke kamar. Tak lama ia pun keluar lagi dan bergabung bersama ketiga pria itu.
"Aku sudah menangkap suami empat sepupumu," ujar Virgou memberitahu.
Zhein menatap kilatan sadis dari pria bermata biru itu. Raka sampai memeluknya.
"Daddy,"
"Tenang sayang, mereka hanya jadi sasaran latihan anak buahku," ujarnya menenangkan Raka.
Raka menghela napas panjang. Adanya dua anak perempuan, mengurungkan Virgou menghabisi keempat pria berengsek itu.
"Kak, mereka akan menyusahkan kita nantinya," ucap Zhein.
"Akan kulawan sampai maut menjemputku!" tekan Virgou begitu yakin.
"Papa akan mendukung Virgou!" sahut Bram.
Zhein terdiam. Mestinya ia sebagai kakak dari empat adik sepupunya lebih peka. Istilah darah lebih kental dari air tak berlaku padanya.
"Kau tau bagaimana kami bersatu Zhein?" tanya Virgou menyindir.
Zhein menunduk malu. Ia bukan apa-apa dibanding keluarga Dougher Young itu. Bahkan Hovert Pratama besar akibat menikah dengan salah satu keturunannya.
"Kami mengalahkan ego dan memaafkan kesalahan bahkan lebih fatal dari sekedar perebutan harta!" lanjut pria sejuta pesona itu.
Bersambung.
Bravo Daddy!
__ADS_1
Next?