
Lisa turun dari sepeda motor dengan muka masam,Ia menghentakkan langkah kakinya masuk ke dalam kamar kost nya.Lalu membanting pintu serta menguncinya dari dalam.
"Kenapa ??"Laras bertanya ingin tahu melihat sikap Lisa yang kekanak-kanakan.Lucy mengunci sepeda motornya lalu menghampiri Laras.
"Dia kencan dadakan sama Sad Boy disekolah"
"hmmmm"Laras geleng-geleng kepala "Tidak ada kapok- kapoknya tu anak"
"Lucy..Lisa dimana ??"Mbah Sukma muncul dari dalam warung.
"Udah masuk ke kamar Nek, Ngambek "
"Hmmmm anak itu selalu bikin orang khawatir "
"Bukan Lisa namanya kalau tidak kencan dengan sembarangan laki-laki, Hamil baru tahu rasa "Seloroh Laras.
"Huss Laras, jangan sembarangan kalau ngomong.Ucapan adalah doa "
"Habisnya Lisa selalu begitu Mbah"Laras membela diri.
__ADS_1
"Ya sebagai kakak tertua kamu harus bisa membimbingnya toh"
"Capek mulutku Mbah, masuk kuping kanan keluar Kupang kiri "
"Ya harus sabar dia masih belum dewasa, gimana nanti kalau aku sudah nggak ada?"
"Nek"Lucy cepat memotong kalimat Mbah Sukma"Jangan pernah katakan itu "
Mbah Sukma terdiam, Laras memandang Lucy dengan penuh haru.Lucy memanglah berbeda dengan Lisa, meskipun keduanya kembar.Tapi sifat mereka berbeda jauh.Lisa terlalu memperhatikan penampilan dan cuek dengan sekitarnya.Jarang membantu di warung, kecuali jin baik lagi menempel padanya.Kalau Lucy selalu dan selalu membantu di warung.Tidak pernah ia diam membiarkan Laras bekerja terlalu keras.Pasti Lucy akan senantiasa membantu.
__Sepulang dari nonton film bersama Lisa, Andrew membersihkan dirinya lalu pergi lagi ke warnet menghabiskan sisa hari dengan bermain game.Karena warnet tempatnya tidak begitu jauh, Andrew terbiasa jalan kaki saja.
Lucy menatap tajam ke arah Andrew tanpa sedikitpun senyuman.Ia terus memperhatikan gerak-gerik Andrew yang gelagapan melihatnya ada ditempat itu.
"Emangnya kalau aku tidak mau bayar kenapa ??"terjadi sebuah kekacauan dimeja kasir.Beberapa gerombolan anak muda mensabotase seorang gadis yang terlihat ketakutan.
"Tapi mas..."gadis itu gemetaran mengahadapi gerombolan itu.
"Apa??!!"
__ADS_1
"Mas maaf anda tidak boleh seperti itu"seorang laki-laki yang antri dibelakang gerombolan itu untuk membayar mencoba menengahi.
"Kenapa -?hah?? kenapa ??"laki-laki itu didorong hingga tersungkur ke lantai.Beberapa dari pelanggan dicafe itu memilih keluar ada juga yang ingin melawan tapi ciut seketika sewaktu melihat gerombolan itu mengeluarkan senjata tajam.
"Siapa yang berani ayo maju?!"mereka membusungkan dada menyombongkan diri.Andrew sendiri memilih diam ditempat tak berkutik."Hey kamu! cepat keluar sebelum aku bunuh"seseorang diantaranya menunjuk Andrew dengan parangnya.Andrew cepat-cepat mengemasi barang-barangnya lalu segera ngacir keluar.Kini didalam cafe hanya tinggal beberapa staf karyawan dan Lucy yang duduk diam dipojokkan.
Para penjahat itu tertawa ngakak.Mereka puas karena tidak ada yang berani melawan mereka.Seseorang diantaranya melihat Lucy.
"Eh ada lagi satu orang yang belum keluar nih"Ia datang menghampiri meja Lucy "Cewek bos kayaknya cakep"
"Udah biarin aja,ayok kita rampok mereka sekarang"Laki-laki yang tertarik akan keberadaan Lucy tidak mengindahkan perintah atasannya.Ia terus saja dengan santainya mendekati Lucy.
"Brak"sebuah suara bantingan keras membuat meja terbelah menjadi dua.Para gerombolan itu menoleh kearah suara.Mereka terperangah melihat rekan satu timnya sudah sekarat menimpa meja yang berserakan.Mulutnya keluar busa sambil nafasnya tersengal-sengal.Semua mata langsung tertuju kearah Lucy berada.
Lucy bangkit ia membentangkan kedua tangannya, Angin berhembus kencang memutar.Semua benda tajam yang berada ditempat itu termasuk yang dipegang para penjahat seperti tertarik oleh magnet.Benda-benda itu berputar mengelilingi Lucy namun semua ujung benda tajam itu tertuju ke arah para penjahat itu.
Gerombolan penjahat itu terbelalak,wajah mereka pias memucat.Langkah mereka berundur perlahan disaat Lucy maju pelan.Kalau mereka tetap bertahan pastilah mereka akan menjadi sate bila ditebas oleh benda tajam yang siap menembus jantung mereka.Tidak ada jalan lain selain KABUR.Meraka kocar-kacir tunggang langgang menghindari kematian.
Lucy menurunkan kedua tangannya, bersamaan dengan itu semua benda tajam yang mengelilinginya berjatuhan ke lantai.Lucy melangkah pergi tanpa memperdulikan para staf cafe yang menatapnya kagum.
__ADS_1