SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KEGIATAN 2


__ADS_3

Nai begitu santai dengan apa yang barusan terjadi padanya. Ia menekan dadanya yang terasa nyeri. Tatapannya menerawang ke jendela besar di sana.


"Apa aku patah hati?" tanyanya bermonolog.


"Tidak ... laki-laki itu tak pantas kurenungi apa lagi sampai kuratapi!' lagi-lagi ia bermonolog.


Gadis itu kembali tersenyum ramah menyambut pasiennya yang datang.


Waktu pulang tiba, Nai bersenandung dengan senyuman manisnya. Andra, Deni dan Rahmat begitu tertegun memandang kecantikan nona mudanya.


"Cantik sekali," puji Deni takjub.


Dua insan yang baru jadian keluar dari ruangan. Ketiganya saling tatap. Andi terpana menatap Nai, gadis yang baru saja ia patahkan hatinya. Anindya juga terpukau menatap kecantikan Nai.


"Mari dok," sapa gadis itu pamit.


Nai kembali bersenandung riang. Hatinya seperti terasa lapang setelah mengikhlaskan apa yang terjadi padanya hari ini.


Sedang di tempat lain. Arimbi baru saja menampar Roni yang menyentuh bokongnya.


"Saya tidak sengaja!" teriak pria itu sambil mengelus pipinya yang memerah.


Arimbi begitu marah luar biasa. Ia sangat yakin jika pria itu menyentuh salah satu bagian tubuhnya dengan mengusap.


"Kau kira aku bodoh antara sengaja atau tidak!" teriaknya dengan air mata berderai.


Tiga pengawal begitu geram. Pintu yang sedikit menghalangi mereka membuat ketiganya tak leluasa mengamati. Roni sengaja menutup pintu setengah agar kegiatannya tak terlalu diamati oleh para pengawal.


"Nona!" panggil Reno.


"Apa yang terjadi?" tanyanya gusar.


Roni sedikit pucat, namun perlahan ia tersenyum pada gadis yang kini menatapnya penuh kebencian.


"Tak ada yang bisa membuktikan perbuatanku, Arimbi. Justru kau yang malu karena aku akan melaporkanmu atas penamparan ini!" kecam pria itu dengan kilatan mata licik.


"Saya mendakwa anda dalam pelecehan pada nona saya tuan!" tekan Reno datang.


"Ck ... dakwaan kalian hanya jadi perbincangan yang membuat nona kalian malu karena telah dilecehkan!" sahut Roni begitu berani.


"Setidaknya orang-orang tau ada pria busuk berprofesi dokter dengan otak cabul!" sahut Reno santai.


Pria itu membuka BraveSmart ponsel. Ia membaca data pria itu kuat-kuat.


"Dokter Roni Firmansyah, usia tiga puluh dua tahun. Punya satu istri dan satu wanita simpanan, saya juga punya data atas keterlibatan anda pada penyelewengan pembelian alat rumah sakit ...."


'Jangan menuduh sembarangan! Saya tuntut kamu dengan pencemaran nama baik!" teriak pria itu mengancam.


"Silahkan ... saya tunggu. Oh ya, segera lah pulang, istri anda telah mengetahui wanita simpanan anda!" ujar Reno santai.

__ADS_1


Roni menatap tak percaya. Pria itu meyakini jika perselingkuhan dirinya dengan salah satu mahasiswi di sebuah universitas tidak akan terbongkar. Ia sudah memberi banyak uang pada simpanannya itu.


Roni memilih pergi dan gegas pulang. Pria itu ingin membuktikan. perkataan Reno.


"Kak Ren?"


"Jangan khawatir nona, besok dia tak akan praktek lagi. Saya sudah mengirimkan kasus kecurangannya pada pihak rumah sakit!' jelas Reno.


Arimbi duduk dan menakup wajahnya di meja. Ia menangis dengan kejadian tadi, ia begitu merasa terpukul karena baru saja pria itu mengelus bokongnya. Ia sangat yakin itu.


"Nona tenanglah," ujar Reno.


Coki dan Rendra datang menghampiri rekan dan nona mudanya.


"Apa perlu kami laporkan pada Tuan Black Dougher Young, nona?" tanya Coki.


Arimbi menggeleng. Gadis itu memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, ia membenarkan perkataan dokter cabul itu barusan.


"Orang-orang hanya tertawa jika aku bilang barusan dicolek orang. Menganggapku berlebihan padahal jika dibiarkan akan jadi kebiasaan yang buruk bagi pelaku dan masyarakat tak lagi menganggap pelecehan itu serius," ujarnya panjang lebar.


Gadis itu memilih pulang dengan seribu kekesalan di dada. Entah benar atau salah apa yang baru saja ia putuskan. Tapi, ia memastikan Roni-Roni lain tak akan bisa lagi berbuat seenaknya.


Domesh dan Bomesh tiduran. Bekas khitannya belum sepenuhnya kering. Jadi dua anak itu tidak diperbolehkan bermain.


"Besok sudah kering kok, yang penting tidak digaruk dan membuat luka, nanti infeksi," terang Lidya.


Lidya mencium keduanya. Tadi ia juga menyambangi Sky di kediaman kedua orang tuanya. Salah satu perusuh itu malah sudah memakai celana, hingga membuat luka belum kering sempurna.


"Jangan pakai celana dulu baby!" larang Lidya waktu di rumah Budiman.


"Mau main mama!" rengek balita itu.


"Kalau sudah kering kan bisa main lagi!" ujar Lidya, "jadi harus sabar ya baby."


"Oteh mama," sahut Sky menurut.


Arimbi pulang dengan wajah muram. Khasya menatap sang putri yang tidak biasanya.


"Baby?" panggilnya.


"Rimbi langsung istirahat ya, Bun. Cape," ujarnya lelah.


Khasya mengangguk. Gadis itu sedang dalam masa siklusnya jadi Khasya tak melarangnya untuk istirahat cepat.


"Tapi nanti harus makan malam bareng sayang!" peringat Khasya.


"Iya bun," sahut gadis itu.


Reno menatap nona mudanya dengan hati gelisah. Pria itu menggenggam erat benda yang ada di tangannya. Tiga tahun pria itu mengabdi di keluarga ini. Memastikan jika apa yang ia pegang adalah milik gadis itu.

__ADS_1


"Reno!" lamunan pria itu buyar.


"Nyonya!"


"Apa yang terjadi?" tanya wanita itu menuntut.


Reno menceritakan kejadiannya. Khasya menutup mulutnya. Ia menatap lantai atas di mana kamar putrinya berada.


"Terima kasih Ren, kamu boleh kembali!"


"Terima kasih Nyonya!"


Reno pun pergi dari ruang tengah menuju paviliun. Khasya menaiki tangga menuju kamar gadisnya. Satrio belum pulang dari luar kota. Virgou menugaskan remaja itu menangani sebuah tender besar. Dimas tengah belajar di kamar begitu juga Dewa dan Dewi.


Khasya mengetuk pintu, tak ada jawaban. Perlahan ia menempelkan telinganya di pintu. Terdengar isakan lirih di sana.


"Sayang, bunda masuk ya!"


Wanita itu segera membuka pintu dan masuk. Arimbi langsung duduk di tengah ranjang dengan air mata berderai.


"Bunda ... huuuu ... bunda ... hiks ... hiks!"


"Oh ... sayangku, putriku,"


Khasya langsung mendekati Arimbi dan memeluknya. Gadis itu menangis di dada sang ibu. Khasya mengelus kepala sang putri penuh kasih sayang. Ia berusaha mengerti apa yang dialami putrinya.


Arimbi yang tak pernah disentuh oleh laki-laki lain kecuali para ayah dan saudara laki-lakinya. Arimbi yang polos dan tak tersentuh, baru saja dilecehkan oleh pria yang tak bertanggung jawab.


"Bunda ... hiks ... bunda ...," panggil gadis itu parau.


"Tidak apa-apa sayang ... tidak apa-apa. Kau sudah menamparnya, semoga itu menjadi pelajaran untuk pria berengsek itu!" ujar Khasya lembut.


"Bunda tidak marah?" Khasya menggeleng dan menghapus linangan air mata putrinya.


"Nggak, kamu nggak salah, kamu benar sayang," ujar wanita itu.


"Bunda ... huhuhu ... hiks ... hiks!'


Khasya kembali memeluk putrinya. Ia sedih dengan keadaan Arimbi yang seperti terpukul dengan kejadian yang ia dapatkan.


Sedang di tempat lain. Virgou menatap dingin pria yang tangannya nyaris patah. Pria itu sudah setengah tak sadar karena mendapat siksa luar biasa.


"Kau baru saja berbuat mesum pada putri seorang mafia Roni Firmansyah! Aku pastikan setelah ini ijin praktek dan gelar doktermu dicabut karena otak mesummu!' sahut Virgou datar.


bersambung.


itu lah akibatnya berurusan sama keluarga Dougher Young ...


next?

__ADS_1


__ADS_2