SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
Sang Pewaris BAB 88 Untuk apa?


__ADS_3

POV Bu Lastri.


Sekian lama aku menginginkan suamiku mati,baru sekarang bisa tercapai.Hahahaha,aku tidak bisa berpura-pura sedih saat ini.Karena akhirnya aku bisa menikmati harta warisan peninggalan suamiku.


Untung aku bisa berjodoh dengan Nyai Roro,hingga dengan cuma-cuma dia mengajariku santet Voodoo.Dan aku bisa menghabisi nyawa suamiku tanpa harus takut ditangkap polisi.


"Ekhem"Terdengar suara orang berdehem,aku cepat menegakkan punggungku.Ternyata Nyai Roro baru saja keluar dari tempatnya beristirahat.Aku tersenyum lebar.


"Bagaimana tidurmu Nyai?"Tanyaku basa-basi.Nyai Roro tak merespon,ia duduk disofa bersebelahan denganku.


"Suamimu sudah mati?"ucapnya dengan dagu terangkat.


"Iya Nyai,aku sudah berhasil menggunakan boneka Voodoo untuk membunuhnya"Aku begitu bersemangat sekali.


"Bagus"Dia melempar sebuah gulungan benang ke atas meja."pasang benang ini mengitari halaman rumahmu.Jangan lupa baca mantra yang aku ajarkan"

__ADS_1


Aku meraih gulungan benang itu"Untuk apa ini Nyai"Tanyaku penasaran.


"Pertarungan yang sebenarnya akan segera terjadi setelah hari ini.Jadi kita harus menyambut kedatangannya"


"Kedatangan siapa maksud Nyai?"Aku tidak mengerti apa maksud dari ucapan Nyai Roro.Nyai Roro menyorotkan pandangan kepadaku.Aku jadi bergidik ngeri.


"Lakukan saja perintahku, kecuali kau ingin mati menyusul suamimu"Ucapan Nyai Roro kalem saja,tapi berhasil membuatku merinding seluruh badan.Ini perintah apa ancaman ?pikirku.


"Cepat lakukan sekarang!"Kali ini Nyai Roro sangat tegas menyuruhku.


Mungkin sudah diukur atau apa,benang itu pas ujung ketemu ujung mengelilingi halaman rumah.Segera aku ikat kuat agar tidak terlepas.Hmmm sudah selesai.Segera aku masuk lagi ke dalam.


Nyai Roro sudah tidak terlihat lagi diruang tamu, Mungkin kembali ke kamarnya.Aku bermonolog sendiri.Aku pun masuk ke kamarku, karena rasa ngantuk mulai menyerangku meskipun masih terlalu pagi untuk tidur siang.


Hari menjelang sore,aku berniat ingin menghubungi pengacara pribadi suamiku untuk bertanya kapan surat wasiat akan dibacakan.Tapi niatku tak terlaksana ketika melihat Nyai Roro menabur bunga disekitar halaman samping Paviliun.

__ADS_1


"Memang aneh ini orang"pikir ku,tapi dia sakti sih.Kemampuannya tak diragukan lagi.Dan aku termasuk beruntung karena Nyai Roro tidak meminta timpal balik yang aneh-aneh.Dia hanya meminta setelah keinginanku tercapai dia akan tinggal di Paviliun bersamaku beberapa hari.Dan aku menyanggupinya dengan senang hati.


Entah apa tujuannya asal tidak merugikanku,aku tidak masalah.Dan lebih anehnya lagi, setelah tadi aku tiba dari acara pemakaman dan Andika pergi.Mendadak dia datang tanpa tahu dia lewat mana.Dan meminta ijin untuk istirahat.


Hmmmm bingung,tapi itulah dia yang selalu tiba-tiba muncul disana muncul disini.Aku mendekati Nyai Roro,dia tak menggubris keberadaanku.


"Nyai mau makan apa untuk malam ini ?"Tanyaku sekedar basa-basi.


"Aku mutih, jadi aku tidak butuh apa-apa.Hanya saja"wanita itu menatapku lekat "Kau harus duduk disini nanti ba'da magrib"


Aku mengerutkan kening,"Duduk disini? nanti ? untuk apa Nyai?"


"Ikuti saja perintahku"Dia berucap garang.Aku tidak berani mengatakan apapun lagi.Segera aku masuk ke dalam.


"Apa yang akan ia lakukan padaku?Apa aku akan dijadikan tumbal?Ah masak iya?kayaknya nggak mungkin deh"Aku tak henti-hentinya bermonolog sendiri.Risau juga aku, takut Nyai Roro akan melakukan yang tidak-tidak.Tapi sebelumnya tidak ada perjanjian yang aneh-aneh jadi pasti nggak mungkin dia mau menumbalkan aku.

__ADS_1


__ADS_2