SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
LOMBA TUJUH BELASAN 3


__ADS_3

Rion datang bersama Lukman, Langit dan Ricky. Tiga pengawal turun dan langsung membukakan pintu untuk tuan muda mereka. Rion pun mendekati keramaian ternyata kini adu tarik tambang antar ibu-ibu Azizah ada di belakang. Istri Rion itu melawan ibu-ibu bertubuh tambun.


“Siap semuanya!” pekik panitia lomba di mik.


“Siap!” pekik para emak-emak.


“Mulai!”


Tali langsung ditarik. Kubu Azizah yang terdiri ibu-ibu muda sedikit ketarik oleh tim ibu-ibu sebelahnya. Rion dan para suami lainnya menyemangati istri-istri mereka. Azizah adalah yang paling kuat di sana, wanita itu berusaha menarik keras tali yang ia pegang.


“Ya ... gitu sayang!” pekik Rion.


“Kakak ... tarik Kak!” pekik Alim dan Ahmad.


Sementara Lana, Leno, Lino, Ari dan Aminah tengah bertanding lempar bola ke ember. Adiba, Ajis menemani adiknya itu sementara Amran tengah bertanding balap karung. Tim Azizah menang, rupanya kekuatan wanita itu tak bisa disepelekan.


“Bagus sayang!” seru Rion menyemangati istrinya.


Tim berganti tempat, wasit menginjak bagian tengah tali, lalu para ibu-ibu memegangnya. Begitu bersiap. Mereka kembali saling tarik menarik, Azizah setengah berlari untuk menarik lebih kuat tali itu.


“Cukup-cukup!” seru panitia. “Tim kanan menang!”


Azizah dan ibu-ibu setimnya langsung bersorak, mereka menang telak. Para suami memeluk istri mereka. Tentu saja semua malu terlebih ada beberapa yang tak ragu mencium kekasih halal mereka.


“Makanya yang jomlo segera menikah. Biar halal pegang-pegang!” seloroh panitia.


“Lah ... panitianya aja masih jomlo!” pekik salah satu ibu meledek.


Semua pun tertawa mendengar selorohan ibu itu, sedang panitia hanya mencebik kesal. Rion dan Azizah menyambangi adik-adiknya yang masih ikut berlomba. Rata-rata mereka memenangkan semua perlombaan.


“Ata’ pihat, Ali papat badiah panat woh!” pamer Air memperlihatkan hadiah-hadiahnya.


“Oh ... kamu hebat sekali Baby,” puji wanita itu lalu menggendongnya.


Aminah dan lainnya juga memperlihatkan hadiah mereka. Rion menggendong Aminah., Azizah mencari adiknya Ajis. Wanita yang baru menikah dua minggu lalu itu meminta Adiba mencari keberadaan adiknya.


“Tadi masih ada di sini,” ujar gadis kecil itu.


Tiba-tiba Amran berteriak jika kakak laki-lakinya itu tengah berkelahi dengan tiga anak lainnya. Azizah dan Rion begitu juga tiga pengawal pemuda itu berlari mendekati Ajis. Dua orang terguling di tanah akibat tendangan Ajis.


“Berhenti!” bentak Rion.


Langit dan dua rekan lainnya langsung mengamankan tiga anak yang menyerang adik ipar dari tuan mudanya itu. Rion tampak tak suka dengan apa yang terjadi. Matanya nyalang pada Ajis dan tiga anak lainnya.


“Bisa di jelaskan apa yang terjadi?” tanyanya dengan begitu tegas.

__ADS_1


“Ajis nggak tau, mereka menarik Ajis ke sini dan tiba-tiba mereka main pukul,” jawab Ajis.


“Bohong ... Ajis duluan yang cari perkara!” ujar salah satu anak yang meringis kesakitan. “kami hanya membela diri.”


“Cis ... ngapain aku mesti cari perkara. Kenal saja tidak!” sahut Ajis.


“Ajis!’ peringat Rion.


“Benar kak. Ajis nggak kenal sama sekali. Mereka siapa. Terlebih Ajis kan nggak lama tinggal di sini. Hanya dua bulanan saja,” ujar Ajis memberi alibi.


Tentu saja Azizah lebih percaya adiknya, ia sangat mengenal Ajis seperti apa.


“Lalu perkara apa yang dicari Ajis pada kalian?” tanya Rion ingin tau.


Ketiga anak itu saling pandang satu dengan lainnya. Memang Ajis tidak memiliki masalah dengan mereka. Ketiganya hanya mengajak Ajis untuk ikut mereka menyerang anak kampung sebelah, tetapi ditolak keras oleh Ajis tentunya.


“Kenapa diam?” tanya Rion.


“Biar Ajis yang jawab. Mereka tadi mengajak Ajis untuk ikut geng mereka menyerang anak kampung sebelah!”


“Benar itu?” ada yang mengangguk ada juga yang menggeleng.


“Sudah pulang sana!” titah Rion.


“Kalau enggak saya akan bawa kalian ke polisi!” ancamnya.


Sampai hunian mewah itu. Rion menyuruh semua adiknya mandi.


“Adiba, bantu Ari dan Aminah mandi ya,” suruh Azizah.


“Iya kak,” sahut Adiba.


Azizah menuju kamarnya, Rion sedang ada di dalam kamar mandi. Wanita itu menyiapkan semua keperluan suaminya, ketika meletakkan pakaian sang suami, Azizah tersenyum sambil mengelus pakaian Rion.


‘Nggak nyangka udah bersuami,’ gumamnya lirih.


Dua lengan besar melingkar di perut rata Azizah, Rion mencium tengkuk istrinya, sang wanita sampai mengangkat bahu karena kegelian.


“Sayang, kamu kok harum sih?” tanya sang suami menciumi leher jenjang istrinya.


“Mas Baby, geli ah,” rengek Azizah.


Rion membalik tubuh istrinya dan menatap netra pekat di sana, sesekali ia mencium bibir gempal sang istri yang telah membuatnya candu.


“Ternyata ciuman itu enak,” ujarnya lalu memagut mesra bibir sang istri.

__ADS_1


Ciuman itu makin lama makin dalam dan mulai menuntut. Rion memasukkan indera perasanya, menggoda lidah sang istri untuk bermain bersama. Tangan pemuda itu pun mulai bergerilya meremas gundukan indah di dada sang istri.


“Mas Baby,” panggil sang istri dengan suara lirih.


“Sayang ... istriku,” sahut Rion.


Buncahan bunga mekar di hati Azizah mendengar panggilan suaminya. Wanita itu mabuk dengan semua cumbu rayu pria yang masih asik memagut indera pengecapnya. Kegiatan itu terhenti karena panggilan sang adik.


“Kakak ... makan siang sudah siap!”


“Iya Baby!” sahut Azizah menghentikan pagutan mereka.


“Ini gimana nasibnya sayang?” tanya Rion yang memperlihatkan bagian bawah.


Rona merah langsung menyeruak di pipi Azizah, sudah dua minggu ini ia melihat benda suaminya yang tegak jika habis berciuman.


“Ditahan dulu ya, Mas Baby,” ujarnya dengan senyum.


“Kiss lagi,” pinta Rion dan langsung diberi kecupan oleh sang istri.


Akhirnya mereka berdua keluar setelah Rion memakai bajunya, ia hanya memakai celana sepanjang dengkul. Semua sudah menunggu di ruang makan. Rupanya mereka kelaparan. Mereka pun makan bersama.


Sedang di tempat lain. Empat laki-laki dijemput oleh kedubes RI untuk mengembalikan mereka ke tanah air. Razak, Tohir, Handi dan Ahid menangis setelah dua minggu berada di negara orang.


“Bang, kita pulang Bang,” ujar Tohir menangis.


“Iya, kita pulang. Setelah dari ini kita jangan lagi ganggu Azizah ya,” ujar Razak kapok.


“Iya Bang, kita nggak mau berurusan dengan Azizah lagi. Kapok!” sahut Ahid.


Mereka pun dibawa ke bandara dan berangkat naik pesawat pada malam hari. Pagi pukul 08.45. mereka sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta. Ada beberapa orang yang menjemput dan langsung mengantar mereka ke rumah.


“Bang ... Abang!” pekik para istri menangis.


Mereka berpelukan. Titin menciumi wajah suaminya, Tohir. Pria yang mengantar tersenyum lalu pamit pergi. Mereka semua mengucap terima kasih. Semuanya pun masuk ke dalam rumah.


“Bang ... kenapa baru pulang. Memang apa yang terjadi?” tanya Titin.


Razak menceritakan semuanya, akhirnya para istri memeluk suaminya. Anak-anak datang ketika ayah mereka kembali.


“Kan kemarin juga Abang bilang apa pak!” sahut anak tertua dari semuanya. “jangan makan harta anak yatim. Ini balasannya!”


Razak dan lainnya hanya diam membisu, mereka hanya ingin hidup mewah. Siapa sangka jika perbuatan mereka mendapat ganjaran langsung dari sang maha pencipta.


Bersambung.

__ADS_1


Dan berikanlah kepada anak-anak yatim harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu makan harta mereka bersama harta kamu. Sesungguhnya itu, adalah dosa yang besar. Q.S. An-Nisa : 2


Next?


__ADS_2