SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
BABY VIRGOU


__ADS_3

"Siapa?" tanya Adiba seperti tak mendengar jawaban dua bayinya.


"Namana Baby Vildo Ata'," jawab Bariana.


"Baby Virgou?"


Virgou yang baru saja datang mendengar ada yang menyebut namanya tetapi dengan embel-embel "Baby" bukan "Daddy,"


"Kau memanggilku sayang?" tanya pria itu setelah mendekati empat manusia berbagai usia.


"Daddy, ini Baby Virgou," ujar Adiba memperkenalkan bayi yang berwajah muram.


Dua mata berbeda bertemu. Mata hitam yang begitu dalam menatap mata biru yang begitu tegas.


"Hiks ... hiks," bayi itu terisak.


Bariana segera memeluknya. Mengelus punggung bayi yang menangis pilu. Virgou jadi tertarik.


"Dengan siapa dia datang?" tanya pria sejuta pesona itu.


Adiba menunjuk wanita yang duduk memakai baju khusus. Tampak kekhawatiran di wajah perempuan itu yang melihat bayi asuhannya menangis.


"Memang dia kenapa seperti ini?" tanya Virgou lagi.


"Papa syama Mamana beultental Daddy," jawab Bariana lirih.


"Biya, Paypi Vildo sadhi peupampisasan teumalahan wowan tuwana," sahut Della melengkapi.


"Tata Papa Paypi Vildo, piya eundat meunitahi Mama Paypi talo Paypi eundat lada pi peyut Mamana ... hiks!" lanjutnya lalu air bening itu mengalir di pipi halus Della.


"Hiks ... hdbebehdhdbduwusbsusuhwwuhsus ... huuuuu ... uuuu!" lanjut bayi itu bercerita lalu menangis pilu.


Virgou antara sedih dan lucu, karena bahasa yang digunakan bayi itu membuat ia harus mengerutkan keningnya.


"Janan pilan beudithu Paypi, Tuhan pidat muntin syalah," ujar Della yang nampaknya tak suka perkataan bayi itu.


"Apa katanya?" tanya Virgou seperti orang bodoh di sana.


"Tata Baby, meundin Tuhan eundat siptatan piya pi punia imi Daddy," jawab Bariana sedih.


"Hei ... hei ... Baby, lihat Daddy!" pinta Virgou lalu memilih mengambil kursi lain dan duduk di sana.


"Sini sayang, peluk Daddy," pinta pria itu mengalihkan bayi dan memeluknya.


Lama Baby Virgou menangis di dada pria yang sama namanya dengannya. Setelah tenang, baru Virgou mengusap jejak basah di pipi bayi yang berkisar seusia Aliya.


"Dengar sayang. Namamu sama dengan namaku. Jadi kau harus kuat!" ujar Virgou lalu menatap manik hitam jernih dan sembab.


"Daddy, Baby Vil pasih teusil!" protes Bariana.


Adiba memilih memanggil suster yang membawa bayi itu ke dalam. Lalu bertanya tentang kejadian sebenarnya. Suster bernama Susi itu menceritakan hal sama apa yang dikatakan Baby Virgou.

__ADS_1


"Kakek neneknya?" tanya Adiba.


"Masing-masing menolak kehadiran Baby Vir," jawab Susi dengan menyeka air matanya.


"Jika memang majikan saya bercerai, saya sangat yakin jika Baby akan terlunta-lunta, saya ingin membawany pulang ke kampung halaman ...."


"Bawa aja Mba!" potong Adiba cepat.


Susi menggeleng pelan. Ia tidak bisa melakukannya.


"Saya bisa kena masalah jika membawa anak itu pulang," ujarnya lirih.


Adiba terdiam, tetapi melihat kesedihan bayi yang tidak diinginkan siapapun membuat ia sedih.


"Lalu apa yang Mba lakukan?" tanya Adiba.


"Kemungkinan, jika hal itu terjadi, saya akan melihat pada siapa Baby Vir akan diberikan. Saya bertahan dengan siapa yang membawanya. Lalu, jika memungkinkan saya akan membawanya pergi jauh," ujarnya.


"Itu penculikan Mba," ujar Adiba.


"Nggak akan ada yang melaporkan itu," ujar Susi tertawa hambar.


"Buktinya dua jam saya di sini dengan Baby Vir. Baik ayah dan ibunya tak ada yang menelepon saya," lanjutnya sinis lalu memeriksa ponselnya yang memang sunyi.


Adiba tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu tentu tidak mau terlalu dalam mencampuri urusan Baby Vir.


Sementara di tempat lain, seorang wanita tampak begitu marah luar biasa. Ia membanting semua benda di atas meja.


"Bangsat!" makinya kasar.


"Baik lah jika itu mau mu. Kita akan bercerai!" monolognya.


Wanita itu menghapus cepat air mata. Lalu bergegas mengambil semua baju yang ia punya. Lalu diperetelinya perhiasan yang menempel pada tubuhnya dan terakhir cincin kawin sederhana yang menandakan dirinya wanita terikat.


"Baby!"


Wanita itu berjalan menuju kamar putranya. Putra pewaris yang tak diharapkan oleh semua orang termasuk ayah dari suaminya.


"Baby?" perempuan itu melihat kamar putranya kosong.


Ia segera melakukan panggilan kepada suster yany dibayar untuk menjaga putranya. Lama ia melakukan panggilan telepon.


"Halo ... kau di mana?!" teriaknya ketika sambungan telepon diangkat.


"......!"


"Aku akan ke sana!" ujar wanita itu lalu menutup sambungan telepon.


Denata, dua puluh delapan tahun. Seorang wanita yang tadinya pekerja kantoran. Tadinya hidup baik-baik saja sebelum satu malam membuat ia hamil di luar nikah.


Kedua orang tua mengusirnya dari rumah. Pria itu memang bertanggung jawab, tetapi tidak mau mengakui bayi dalam kandungan Denata. Bahkan ayah yang menjadi mertuanya menentang keras anak hasil di luar nikah.

__ADS_1


"Baik lah, mestinya aku tak meminta pertanggungjawaban Ando Sukmo untuk bayiku. Mestinya aku besarkan sendiri!" racaunya sambil memberesi pakaian bayinya.


Setelah merasa cukup, ia membawa dua tas besar dalam pundaknya. Tak dibawanya satu pun harta dari rumah yang belum satu tahun ia tempati.


"Good bye hell!" ujarnya ketika menatap rumah besar nan mewah itu.


Denata menuju kafe bayi di mana putra dan susternya menunggu.


"Sus," panggilnya ketika sampai.


Susi terkejut ketika melihat dua tas yang digembol oleh majikannya.


"Nyonya, mau kemana?" tanyanya.


"Aku mau bawa Baby Vir ke suatu tempat," jawab Denata.


"Ini gajimu. Jujur, aku tak bisa membayarmu selanjutnya, jadi kamu aku berhentikan ya," lanjutnya.


"Nyonya, jangan letakkan Baby Vir di panti asuhan. Biar saya saja yang merawatnya Nyonya," pinta Susi menghiba.


Pertunjukan itu jadi tontonan pengunjung kafe. Adiba kebingungan. Ia tak mau tempat usahanya jadi sorotan. Virgou sangat memahami kegelisahan Adiba, langsung mengkodekan Gomesh.


Pria raksasa itu langsung meminta para pelanggan lain untuk pergi dan membawa bayi mereka. Tak lama, tempat itu sepi dari pengunjung luar kecuali keluarga Dougher Young dan lainnya.


"Kau gila Susi!" sentak Denata kesal.


"Kau pikir aku segila itu meninggalkan anakku di panti!" lanjutnya marah.


"Tapi selama ini Nyonya tidak perhatian dengan Baby, Nyonya tidak pernah ...."


"Jangan sampai aku menamparmu Susi!" sentak Denata memotong perkataan susternya.


"Kau tidak tau sama sekali bagaimana aku membela putraku di depan ayah dan kakeknya. Di mana aku terus melindungi dia dari tangan-tangan kejam dua pria tak tau diri itu!" cerocosnya hingga terengah.


Susi terdiam, memang ia tak sepenuhnya jujur pada Adiba tentang kejadian sebenarnya. Ia ingin memiliki bayi itu karena ia tak memiliki anak.


"Nyonya ...."


"Cukup Susi. Maaf, kau kuberhentikan. Aku tak mau jika keberadaanmu tercium dua pria jahat itu!"


Denata pun masuk ke ruangan itu. Baby Vir tentu dengan mudah diambil oleh ibunya. Bayi itu menenggelamkan dirinya pada pelukan sang ibu.


"Baby ... jangan takut ya ... akan Mama lindungi kamu segenap jiwa Mama!" tekan wanita itu menenangkan bayinya.


"Kau bisa ikut denganku, jika mau aman!" sela Remario tiba-tiba menawarkan pertolongan.


Virgou dan lainnya menghela napas panjang. Remario hendak mengulurkan tangannya. Tetapi ....


"Denata! Serahkan putraku!" teriak seorang pria dari luar kafe.


Bersambung.

__ADS_1


Ah ...


next?


__ADS_2