SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
OPERASI SUMSUM TULANG BELAKANG


__ADS_3

Hari yang dinanti tiba. Keluarga Dougher Young akan bersiap pulang. Liburan telah usai. Semua tentu harus kembali sekolah untuk anak-anak dan bekerja untuk para pekerja.


"Jadi hari ini ibumu akan dioperasi Gom?" tanya Bart.


"Iya Grandpa," jawab pria itu.


"Satu jam lagi Mommy akan dibawa ke ruang operasi," jawab Gomesh.


"Lalu kenapa kau tidak menemaninya?" tanya Bram heran.


"Sebentar saya pergi Tuan. Tapi butuh satu hingga lima jam operasi," jawab Gomesh.


"Oh ya Tuan. Ini mengenai perkembangan kasus ibu dari Gino, Lilo, Seno, Verra dan Dita," lanjut pria raksasa itu.


"Apa perkembangannya?" tanya Bart.


"Dokter bilang kondisi ketiganya menurun drastis akibat trauma yang hebat," jawab Gomesh setengah berbisik.


Bram menatap lima anak yang seperti lupa dengan ayah dan ibunya.


"Kita juga mendapat sorotan dari pihak perlindungan anak," lanjut Gomesh.


"Ck!' decak Bram kesal bukan main.


"Biar Herman mengurus itu!" sahut Bart.


"Sepertinya kita harus mendukung Triatmodjo maju sebagai paslon legislatif dari pihak independen!" lanjut Bart lagi.


"Akan kudukung penuh! Sayang, darah campuranku tidak bisa maju ke politik!" dumal Bram kesal.


"Yah, padahal kita juga mau memajukan bangsa ini ya!' sahut Bart.


Herman mendatangi mereka bersama Andoro dan Remario. Ketiga pria itu ikut ngobrol. Gomesh pamit pergi. Ia akan menunggu hasil operasi itu.


"Baby Gino, sini sayang!" panggil Bart.


Balita lima tahun itu mendatangi pria tua yang ia panggil uyut itu. Gino dipangku oleh Remario.


"Sayang, ada kabar duka yang Uyut sampai kan padamu," ujar Bart lagi lalu menatap Gino yang memandangnya dengan tatapan polos.


"Ini tentang ibumu dan ibu keempat adikmu," lanjut pria itu.


"Yuyut eundat atan tasih pita te Mama pama Papa ladhi tan?" ujar balita itu takut.


Tampak jelas ketakutan dari wajah Gino jika ia akan dikembalikan pada ayah dan ibunya. Bart teringat bagaimana menderitanya Darren, Lidya dan Rion dulunya sebelum bertemu dengan Terra.


"Tamih tatut Yuyut. Polon janan teumbalitan tamih ... Ino atan sadhi anat yang menulut, Ino sanji!' ujar Gino lalu air mata balita itu menganak sungai.


Remario memeluk balita itu yang tiba-tiba tubuhnya gemetaran. Bart merasa bersalah.


"Baby Lid!" panggil Bram.


Lidya datang dan melihat tubuh Gino yang gemetaran di pelukan Remario. Wanita hamil itu langsung merengkuh Gino.


"Baby ... Baby ... tenang sayang. Mama ada di sini," ujarnya lembut.


"Ada apa sih?" tanya Haidar gusar.


Bart menceritakan kejadiannya. Haidar berdecak kesal.


"Dia harus tau sayang!" ujar Bart tak mau disalahkan.

__ADS_1


"Tapi Grandpa lihat sendiri dampaknya!" sungut pria itu.


Terra menenangkan suaminya. Ia juga membenarkan perbuatan kakeknya itu, tapi Terra memilih tak membelanya.


"Sialan! Bangsat!" maki Virgou begitu pelan.


Terra sampai berdecak kesal pada kakak tampannya itu.


"Kakak!"


"Ini baca!" suruh Virgou menyerahkan ponselnya pada adik sepupunya.


"Kau pasti akan mengumpat sama denganku!" lanjutnya bersungut.


Beruntung semua perusuh laling junior berada jauh dari para orang tua yang tengah berkerumun. Terra memastikan semua ada di satu tempat.


"Kenapa bisa begini sih Kak?" desisnya bertanya.


"Kamu nanya?" Virgou balik bertanya dengan seringai menyebalkan.


"Kurang ajar!' umpat Terra benar-benar tak habis pikir.


"Jadi tiga pria sialan itu hanya dihukum tujuh tahun penjara?" lanjutnya masih mengumpat.


"Iya, hakim menilik dari keberadaan lima anak ini. Mereka hendak mengambil alih kepengurusan Gino dan adik-adiknya," ujar Virgou lagi.


"Bangsat!" maki Terra kasar.


Al Bara saudara kembarnya El Bara yang berdiri tak jauh dari para orang tua. Duo Bara Starlight itu memang bayi paling kepo sedunia.


"Al ... Mama eh ... Nenet pilan pa'a padhi?" tanya El.


"Pansat!" jawab Al Bara berbisik.


"Tulan bajal, Nanat sisilan," jawab Al Bara lagi.


"Pati eundat lada Papa Domesh ... Mama eh ...Nenet pandhil spasa don?' tanya El Bara gusar.


"Pidat pahu?" jawab Al dengan menaikan kedua bahunya tanda tidak tahu.


"Seupultinya pita tasyih pahu pama pemuana!" ajak Al.


"Pundu pulu!' cegah El.


"Ipu Ata' Dhino teunapa benayis?" tanyanya.


"Wah ... pa'a Nenet meumalahi Ata'Dhino pampai pilan nanat sisilan, bansat pama tulanajal?" sahut Al.


"Imi pidat pisa pipial tan!' sungutnya tak terima.


Duo Bara Starlight itu dengan begitu berani mendatangi para orang dewasa.


"Janan balahin Ata'Dhino!"


"Biya ... Ata'butan nanat sisilan, butan pansyat, butan judha tulanajal!" lanjut El.


Perbuatan mereka membuat semua bayi dan lainnya mendekati duo Bara itu. Lidya menghela napas panjang. Ia menatap ibunya, Terra mati kutu di sana.


Virgou memilih menyingkir jauh, hingga membuat Terra kesal sekali. Bahkan Haidar sang suami juga angkat tangan jika para perusuh paling junior itu sudah memasang wajah tak bersahabat seperti itu.


"Paypis!" panggil Della. Selamatlah Terra.

__ADS_1


"Spasa yan pilan talo Ata' Phino nanat sisilan?" tanya bayi itu.


"Mama ... eh Nenet!" tunjuk duo Bara langsung pada Terra.


Khasya, Kanya, Luisa dan lainnya hanya tersenyum lebar. Beni, Leni, Sriani, Mia dan Fery terhibur dengan drama yang diciptakan semua keturunannya itu. Leon dan Frans membiarkan semuanya.


"Sayang, kasihan Terra. Dia seperti terdakwa di depan para bayi," ujar Najwa iba pada keponakan suaminya itu.


"Sudah kau lihat bagaimana ceritanya. Aku begitu terhibur," kekeh Leon.


"Paypi yatin talo Mama yan pilan beudithu?" tanya Della lembut.


Terra meleleh, ia melihat Lidya pada diri Della. Namun, Della jauh lebih bijak dibanding Lidya yang dulu masih usil pada semua orang.


"Putitna Ata' Dhino menayis!" sahut Al Bara lalu menunjuk Gino yang berada di pelukan Lidya.


"Biya Nenet pilan nanat sisilan, bansat pama tulanajal!' angguk Al Bara meyakinkan.


"Sansat mama junjal pa'a Ata'?" tanya Arsh penasaran.


"Pidat pahu. Pati Ata' meunayis ... basti ipu peultataan bulut!" jawab El yakin.


"Nanat sisilan? Pati Papa Dom eundat lada pisyimi Al Pala!' sahut Arraya. Bariana mengangguk setuju.


Virgou gemas bukan main, tapi ia senang melihat adik sepupunya yang tersudutkan itu. Della mendekati Terra.


"Della yatin talo Mama butan beulpatsut natain Ata' Phino," ujarnya membela Terra.


"Ipu basti buwat lolan lain. Beunel tan Mama?" tanyanya.


"Iya itu buat orang jahat!' jawab Terra meyakinkan.


"Nah ... beunel tan!" sahut Della.


"Pati nanat sisilan Papa Dom. Beulalti bansat pama tulanajal spasa don?" tanya Azha bingung.


Semua bayi menatap pada ayah dan ibu mereka. Arsh sangat menuntut jawaban. Bayi sepuluh bulan itu sangat marah karena semua membuang muka.


"Nan puan mutana!" sentak bayi itu galak.


"Pial saza Paypi!" sahut Aaima mencibir semua orang tua.


"Pial muta meleuta pibuan tlus eundat balit-balit ladhi!" sumpah bayi cantik itu.


Luisa sangat gemas mendengar sumpah dari mulut bayi belum dua tahun itu. Semua bayi mengangguk setuju.


"Janan doain yan pidat bait Paypi. Talo peunelan muta Mama, Mommy, Daddy, Papa, Mami, Papi peunelan lilan ... pita yan binun," terang Della memperingati semua bayinya.


"Ah ... beunel judha!" sahut Arion.


"Janan pampai tayat Bante Salah ya!' lanjut Arraya dengan mata membulat sempurna.


"Teunapa denan bantu bi lumah Mumi Layla?" tanya Fathiyya. "Pa'a mutana peulnah lilan?"


Terra dan lainnya tak tahan. Mereka mengangkat semua bayi hingga tergelak.


Berita didapatkan, operasi berjalan lancar. Semua diterima dengan baik di tubuh Anneth.


"Akhirnya kita bisa pulang!' seru Bart lega.


Bersambung.

__ADS_1


Ah ... bayi ... bayi kepo.


Next?


__ADS_2