SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
KE KEBUN BINATANG


__ADS_3

Azizah sudah merencanakan liburan ke sebuah tempat wisata. Sasarannya kali ini adalah kebun binatang yang ada di pusat kota.


"Sudah siap belum?" tanya gadis itu.


"Sudah Kak!" sahut Adiba mewakili adik-adiknya.


Azizah sudah berada di panti. Ia pulang sore kemarin dari mansion Virgou. Gadis itu beralasan ingin menyiapkan beberapa berkas perusahaan yang terbengkalai.


Sebuah mobil daring berhenti di halaman panti. Azizah menaikan semua adiknya ke dalam, lalu ia duduk di depan.


Tak lama mobil itu bergerak. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai lokasi. Setelah semuanya turun, mereka bergandengan tangan.


"Ayo jangan lepas gandengannya ya!" titah Azizah.


"Iya Kak!" sahut semua.


Gadis itu berada di belakang adik-adiknya. Adiba menggandeng tangan Aminah dan Alim. Ajis menggandeng Lana dan Leno, Ahmad menggandeng Lino dan Amran. Azizah mengawasi dari belakang.


"Kak itu kandang burung!" tunjuk Leno.


"Ayo ke sana!" sahut Azizah.


Mereka menuju kandang burung kasuari. Burung asal propinsi Papua itu sudah langka.


"Kak ... foto dong!" pinta Adiba.


Azizah memfoto semua adiknya. Gambar itu ia jadikan status Wa-nya. Belum lima menit ia memasang statusnya. Ponsel gadis itu sudah berdering.


"Kau di mana!" teriak seorang pria di sana.


"Di ... di kebun bintang, Dad," jawabnya.


"Tunggu kami di sana. Mau pergi nggak bilang-bilang!" omel pria di sambungan telepon.


Azizah menggigit bibirnya. Ia pasti akan dimarahi habis-habisan oleh keluarga baik hati itu. Bermaksud tidak ingin merepotkan, malah membuat dia akan kena masalah.


"Kenapa Kak?" tanya Ajis khawatir melihat kakaknya gelisah.


"Daddy tadi telepon," jawab gadis itu.


"Tuh kan bener. Kakak sih nggak percaya Lana!" sahut balita itu.


"Habis Kakak kan bingung kalau semua ikut Dik," sahut Azizah.


"Siap-siap aja Kakak dimarahin!" omel Lana.


Balita itu sudah mengingatkan kakak perempuannya. Tetapi, Azizah tidak ingin merepotkan keluarga kaya itu. Padahal ia adalah calon istri seorang Dougher Young. Azizah masih belum percaya jika dirinya akan dipersunting oleh salah satu keturunan keluarga kaya itu. Termasuk Rion.


"Ya terpaksa kita nunggu," timpal Amran.


Mereka pun duduk di sebuah pendopo yang disewakan. Pendopo itu cukup luas dan nyaman. Azizah menyuruh semua anak duduk di sana, mereka menunggu kedatangan seluruh keluarga.


Hanya hitungan menit. Kawasan yang sedikit ramai itu mendadak sepi. Pria-pria berpakaian serba hitam masuk ke dalam dan mulai mencari keberadaan Azizah dan sembilan adiknya.

__ADS_1


'Azizah!" Rio mendatangi gadis itu.


"Kak," pria itu berdecak kesal.


"Maaf," cicit Azizah merasa bersalah.


Virgou dan rombongan masuk. Wajah pria dengan sejuta pesona itu benar-benar kesal dengan calon menantunya itu.


"Kamu ini ...!"


"Sayang, udah ah ... jangan marah-marah!' peringat Puspita menenangkan sang suami.


"Kasihan anak-anak akan takut padamu," lanjutnya.


"Ck ... kau menang saat ini ... awas nanti," ancam Virgou.


Tak lama pemuda yang kemarin ia tunggu kedatangannya datang dengan wajah kesal. Rion menatap tajam Azizah seakan-akan ingin memakan gadis itu bulat-bulat.


"Ayo!" ajak Virgou mengomandoi.


Semua anak keluar dari pendopo dan bergandengan seperti tadi. Para bayi dan perusuh didorong dengan kereta bayi mereka. Sky dan Bomesh digandeng oleh Reno dan Langit.


"Papa Dom ... ipu bulun pa'a?" tanya Al Bara menunjuk pada seekor burung yang panjang ekornya berwarna putih keemasan.


"Itu burung cendrawasih, Baby!" jawab pria raksasa itu.


Rion menggandeng Azizah, tak ada yang melarang. Gadis itu berusaha keras lepas dari genggaman tangan pemuda yang makin kuat menggengam tangannya.


"Jangan sampai aku merangkulmu Azizah!" desisnya setengah mengancam.


Rion melirik gadis yang tingginya hanya sebahu. Ia merindukan Azizah, kemarin ia begitu bangga dengan orasi sang gadis. Rion meraba jantungnya yang berdesir aneh. Pemuda itu hanya menunggu apa benar ia sudah jatuh cinta dengan Azizah.


Tubuh keduanya makin lama makin dekat. Rion menarik tangan Azizah dalam saku celananya. Wajah gadis itu memerah karena malu. Tak ada yang komplain karena semua fokus pada anak-anak yang berisik dengan pertanyaan.


"Tuan ... selamat datang di kebun bintang kami!" sambut manager kebun binatang sangat terlambat.


Pria itu baru tau jika seluruh karcis kebun binatang mereka habis diborong oleh keluarga kaya raya itu. Haidar dan David berdecih sebal. Bart mengusir pria itu.


"Sudah sana ... jangan ganggu kami!"


Pria itu pun hanya membungkuk hormat. Aaima ada di gendongan Adiba sedang El Bara ada di gendongan Azizah. Akhirnya Rion melepas gandengan tangan karena El Bara merengek minta gendong gadis itu.


"Ata' ... ni wewan pa'a?" tanyanya pada salah satu jenis primata.


"Oh ini orang utan Baby," jawab gadis itu.


"Olan utan ... patsudna olanna lada pi hutan?" tanya El Bara.


"Bukan Baby. Orang utan itu seperti sebutan saja," jawab Azizah.


El mengangguk tanda mengerti. bayi itu kembali menunjuk hewan primata lainnya.


"Tan meulata tela semua Mama ... tot eundat pi patuin laja?' tanya Harun pada Lidya.

__ADS_1


"Karena jenis mereka berbeda Baby," jawab Lidya.


"Benis na peda?"


"Iya sama dengan burung ... banyak jenis, begitu hewan lainnya,"


"Mama tandan macan peulum teulihatan?" tanya Bariana.


"Belum Baby, biasanya hewan buas ditempatkan di kandang paling belakang," jawab Lidya.


"Pa'a macan panyat pedana judha?" tanya Arraya.


"Iya Baby, macan juga banyak bedanya,"


Akhirnya mereka sampai di binatang pemakan daging itu. Sky dan Bomesh langsung berlari mendekati kandang hewan bersurai itu. Reno dan langit sampai berlari mengejar mereka.


"Baby!" teriak Herman.


Sky dan Bomesh hanya melirik pada pria tua itu. Herman berdecak kesal. Langit dan Reno langsung menggandeng dua raja perusuh.


"Wah singa!" sahut Bomesh antusias.


Binatang buas itu mengaum keras. Dua bocah itu bertepuk tangan meriah.


"Kak, nama latin singa apa?" Sky bertanya pada Langit.


Pria itu mengeluarkan ponselnya. Ia pun berbicara.


"Apa nama latin singa?"


"Nama latin singa adalah panthera Leo!" jawab aplikasi itu.


"Oh ... jadi semua kucing besar apa bernama latin Leo?"


"Nama Leo biasa dipakai oleh anak laki-laki berzodiak Leo!"


"Ck ... Jaka sembung bawa galon!" decih Bomesh.


Sedang lainnya melihat macan yang hendak menunggangi salah satu betinanya. Hal itu membuat Harun terpekik.


"Papa ... ipu wewanna bawu napain?"


Semua menoleh. Melihat hal mesum akan terjadi. Mereka mendorong menjauhi kandang agar mata suci para bayi tak ternoda.


"Teunapa pita bindah?" tanya Harun lagi.


Bayi itu masih penasaran dengan hewan yang hendak menunggangi kawannya.


"Alun mawu pihat hewan yan naitin temena padhi!" pekiknya kesal.


"Sudah, itu hewan hanya bercanda sama temannya ... kita lihat hewan lainnya ya," ajak Terra.


bersambung.

__ADS_1


et dah ... mestinya kasih tau aja kali ya?


next?


__ADS_2