
Harun duduk dan tengah memakan pastel buatan salah satu ibunya itu.
Maryam, Aisya, Fatih, Fathiyya, Al Bara, El Bara, Arsyad dan Aaima tampak tengah mengobrol dengan bahasa mereka. Bariana mendengarkan apa yang dibicarakan oleh adik-adiknya, sesekali ia menimpali perkataan adiknya.
"Butan dhitu baby. Beustina tamu pilan mama pulu!" timpal Bariana.
"Nenehhejeiwugsgsnwhsbsndhhdksj!" sahut Fatih keras.
"Baby ... pemua-pemua ipu halus peulpetujuan Mama pulu ... balu pisa!" sahut Bariana lagi menjelaskan.
"Imi lada pa'a libut-libut?" tanya Azha heran.
"Imi woh, Baby Fatih pilan talo teumalin pia bawu banjat bots pempat pidulna!" adu Bariana.
"Pa'a beunal bedhitu Baby?" tanya Azha lagi.
"Jegdvbwjwjshsyshwnbsbha!" sahut Fatih sepertinya membela diri.
"Ipu pidat poleh Baby!" sahut Azha.
"Beunal tata Ata' Baliana, talo tamu jatuh badhaipana?" lanjutnya gusar.
"Tamu halus pandhil Uma pulu pataw Apah!" sahut Azha lagi.
Fatih hanya diam mencebik. Bayi itu hendak menjajal dirinya naik dan turun boks tempat ia tidur. Namun, sepertinya rencana itu tak akan dapat restu dari kakak-kakaknya.
"Talian tenapa syih?' tanya Arion kini.
"Pibut bulu, peuldenelan woh sualana pampai luan!" ketusnya lagi.
"Imi woh Baby Fatih pawu nait bots na!' adu Bariana.
"Pial pa'a, bawu padhi jadoan?" sahut Arion mulai memarahi adiknya itu.
"Eh ... pudah palahina ... padhi Baliana pudah palahin Baby Fatih, telus Ajha. Tamu janan palahin ladhi!" larang Harun.
"Biya mih ... pihat mama ... talo papa pudah malah, mama eundat palahin Palit tan?" sahut Arraya kini.
"Palin pilanin janan dithu ladhi ya Baby," timpal Arraya bijak.
"Janan dithu ladhi ya Baby!' sahut Arion lalu mengecup pipi adiknya itu.
"Baby Malyam judha tatana patai pistit Uma!" adu Bariana.
"Baby Paisya pa'a judha matal?" tanya Arion.
"No!" geleng Aisya.
"Polon!" sahut Fatih dan Maryam bersamaan.
"No ... taltal ... Ais no tal tal!" elaknya lalu menggerakkan telunjuknya.
"Talo Baby Al Pala pama El Pala padhaipana?" tanya Arraya.
"Hwjusnsilsosushahhwjahbsblekatabk!" jawab dua bayi tampan itu.
"Pa'a ... talian pembuniin pompet Papa Pemian?" tanya Arion tak percaya.
"Suuuhhh!" Al dan El Bara menempelkan semua jarinya ke bibir mereka yang mancus.
"Nan lan-lan!" bisik keduanya.
__ADS_1
Demian mendengar percakapan bayi itu. Ternyata dompetnya hilang karena ulah dua putra kembarnya.
"Pemanan pispimpen pi mana?" tanya Azha juga berbisik.
"Jwuwjbshwjjsjshh!" jawab El Bara.
"Oh ... tolon pempat pidul pamu?" sahut Bariana.
"Sssuuuuuhhh!"
Kini bukan Al dan El Bara saja yang menempelkan telunjuknya di bibir, tapi semua bayi melakukannya.
"Astaga mereka melakukan konspirasi menghilangkan dompetku!" desis Demian gemas bukan main.
Pria itu terus mendengarkan pada bayi. Ia sudah merekam dan menyiarkan secara langsung percakapan pada bayi via chat secara live.
Bart dan lainnya penasaran dengan percakapan para bayi itu. Mereka sengaja duduk agak jauh agar semua bayi kembali bercakap-cakap.
"Baby Alsyad, tamu pi mumah napain?" tanya Harun pada Arsyad.
Bayi sebelas bulan itu belum begitu lancar bicara. Ia memasukkan makanan ke mulutnya.
"Nda papain!" jawabnya dengan mulut penuh.
"Baby talo matan janan peulsuala!" tegur Azha.
"Pi jat nomnom!" ujarnya membela diri masih mulut penuh makanan.
"Pudah janan panya Baby Alsyad ladhi. Pita panya pama Baby Paima!"
"Tuh no tal tal!' sahut Aaima langsung bersuara.
"Pita peulum panya woh!" sahut Harun.
"Pita pahu, Tate Heyan payan pamu banet!" sahut Harun dengan memutar mata malas.
"Baby Paima pi lumah napain laja?" tanya Azha.
"Bain ... popo!' jawab bayi cantik itu.
"Pasih nen pama Bibu?" tanya Arraya.
"Syih ... Bibu ... nen!" tiba-tiba bayi itu berteriak minta susu ibunya.
Putri belum pulang. Beruntung ia telah menyiapkan susunya dalam storage. Maka Terra tinggal menghangatkannya lalu memberikan susu itu pada Aaima.
"Ndon ... po'po'!" pintanya Bossy.
Terra gemas sekali pada bayi cantik itu. Ia menggendongnya dan menepuk bokongnya seperti permintaan Aaima.
Al dan El Bara rewel, keduanya juga ingin ditidurkan seperti Aaima. Demian dan Jac menidurkan mereka dan memberi susu ibu mereka. Maryam dan dua saudara kembar lainnya juga ikut-ikutan. Akhirnya Bart, Maria dan Ani yang menggendong tiga bayi kembar itu. Setelah semuanya terlelap, mereka dipindahkan ke kamar dan diletakkan dalam boks.
"Babies nggak bobo juga?" tanya Ani.
"Peulum nantut pi," jawab Harun tapi sambil menguap.
"Heh ... ayo bobo, udah siang!' titah Terra.
Semua bayi akhirnya masuk ke kamar dan tidur di sana. Demian dan Jac yang memang sedang pulang sebentar ke rumah Terra karena mengantar Aaima dan Arsyad untuk di titipkan.
"Ma, titip anak-anak ya," ujarnya lalu mencium kening mertuanya.
__ADS_1
Jac juga mencium punggung tangan wanita itu. Pria itu sangat terbantu dengan adanya mertua dari atasannya itu.
"Jangan sungkan nak," ujar Terra tak keberatan.
Jac sebenarnya bisa menitipkan Aaima pada mertuanya, tapi baik Sapto dan Nania sudah terlalu tua untuk menjaga anak bayi yang seaktif Aaima.
Mereka pun pergi ke perusahaan. Gio berterima kasih pada suami nonanya yang mau membawa bayinya untuk dititipkan di rumah Terra.
Sementara itu Azizah tengah bersiap pulang. Gadis itu dipanggil ke Jepang untuk membuat program anjing cyber-nya.
"Azizah!' panggil Darren.
"Saya Tuan!' sahut gadis itu.
"Jadi kau bisa kan ke Jepang? Nggak lama kok, hanya dua mingguan saja," ujar pria itu.
Azizah sedikit berat, enam adiknya ada di sini.
"Jangan khawatirkan mereka. Semua adikmu aman di tangan kami," ujar Darren mengetahui kegelisahan gadis itu.
"Baik Tuan," sahutnya kemudian.
"Kalau begitu, ayo kita pulang!" ajak pria itu.
Azizah mengikuti tuannya. Ia akan ke rumah sakit untuk menjemput Safitri. Kini mereka sudah pindah rumah. Darren menempati kembali rumahnya yang dulu dia gambar dan diwujudkan Terra. Saf memilih menjual rumah yang ia beli di perumahan berdekatan dengan Aini.
Azizah kini bersama enam adiknya yang sedih karena ditinggal lama oleh kakaknya.
"Kak, pulang cepat ya," pinta Adiba.
"Kak, Besok ulang tahun Apak," ujar Ajis mengingatkan kakaknya.
"Kalau begitu, kita ngaji yuk buat Apak dan Amak!" ajak gadis itu.
Semua mengangguk. Azizah mengambil wudhu di luar kamar beserta adik-adiknya. Gadis itu memangku Aminah.
"Kita baca surah Keluarga Luqman yuk!" ajak Azizah.
Mereka pun memulai bacaan. Dinar yang tengah menuju dapur mendengar suara Azizah yang mengaji.
"Suaranya merdu sekali," pujinya.
"Assalamualaikum, Bibu boleh gabung?' ujarnya membuka pintu.
"Wa'alaikumussalam, mari Bibu!" sahut Azizah.
Kini semuanya mengaji. Herman yang datang untuk mengambil Lana, Leno dan Lino beserta enam adik Azizah tersenyum mendengar gadis itu mengaji.
Pria itu mengetuk pintu dan masuk ke kamar, memilih merekam mereka yang mengaji. Suara Azizah dan Dinar sama-sama merdu.
"Dua bidadari surga!" tulis Herman ketika mengirim isi rekamannya di chat grup keluarga.
Sepasang mata begitu gelisah menonton rekaman itu. Di sana Azizah memakai hijab begitu sangat cantik, pemuda itu gusar dengan komentar adik-adiknya yang seakan berebutan gadis itu.
(Kak Azizah, tunggu Satrio pantas menjadi Imammu ya!) tulis remaja itu diakhiri emoticon love.
(Ini kah suara bidadari?) tulis Kean diakhiri emoticon mata cinta.
"Ck ... genit sekali mereka!' dumalnya pelan sekali.
bersambung.
__ADS_1
jikalau kau cinta ... benar-benar cinta ... jangan katakan ... kamu tidak ... cinta!
next?