SANG PEWARIS

SANG PEWARIS
IKUT LOMBA


__ADS_3

Adiba sudah rapi dengan baju yang ia padu padankan. Gadis tanggung itu mengikuti kata salah satu iparnya, yakni Rasya agar ia berpenampilan berbeda dari lainnya.


"Eummm ... apa iya, seorang penceramah bergaya trendi?" tanyanya mulai ragu.


"Yang penting kan menutupi aurat dan tidak keluar dari tuntunan Al-Qur'an," lanjutnya yakin.


Kali ini Adiba mengenakan kaos oversize warna beigge crop. Lalu bawahannya ia kenakan rok kembang bahan jeans hitam. Tak lupa kakinya ia tutup kaus kaki dan sepatu kets warna senada dengan bajunya. Sedang hijabnya ia memakai pasmina warna hitam.


"Sudah siap sayang?" tanya Azizah ketika mendatangi kamar adiknya itu.


Azizah terpana melihat gaya yang dipakai oleh Adiba. Ia tersenyum dan yakin apa yang dikenakan oleh sang adik akan mencuri perhatian juri.


"Insyaallah siap Kak!" ujarnya yakin.


"Bismillah ya Dik!" Adiba mengangguk dan mengucap basmalah.


Rion dan semua adik-adik siap mereka akan mengantarkan Adiba ke tempat lomba. Hanya satu hari, lomba antar pesantren itu. Tiga besar akan diikutkan sebagai peserta acara lomba salah satu siaran televisi swasta.


"Ayo!' ajak Rion.


Kini mereka berangkat menggunakan bus sedang yang dibeli Rion. Pemuda itu memasang kursi khusus untuk Ari dan Amina. Mereka duduk di tempatnya masing-masing. Mobil berukuran sedang itu pun bergerak menuju lokasi di mana lomba itu berada. Enam pengawal ikut mereka semua termasuk Juno.


Adiba terkejut ketika semua saudara iparnya juga hadir di sana. Rion menyambangi Terra, sang ibu.


"Mama," panggilnya.


Bayi besar itu langsung memeluk Terra, seperti biasa ia memang sangat manja jika bertemu wanita yang mengurus dan merawatnya sedari kecil itu.


"Baby," Terra mengecup sayang bayi besarnya itu.


"Assalamualaikum!" semua menoleh. Layla mendatangi Adiba.


"Wa'alaikumusalam!" sahut semuanya.


"Maaf ya, Adiba nya saya bawa masuk dulu. Ini Ibu Fatma, beliau akan mengantar semuanya menuju ruang vvip," lanjutnya.


Seorang wanita berhijab mengajak semua orang untuk masuk Juno menatap Layla dengan penuh kelembutan. Gadis itu mengangguk dan memberikan senyum yang indah pada pria yang berjanji akan menikahinya itu.


"Dik, kapan kau siap Mas lamar?" tanyanya.

__ADS_1


"Habis ini ya Mas ... minta pengertiannya," jawab gadis itu.


Harun melihat dua insan yang tengah saling berbisik satu dan lainnya. Balita itu menyenggol saudaranya Azha.


"Om Puno pama Bustasah Layla napain?' tanyanya.


"Pemana teunapa?" tanya Azha.


"Meuleta pisit-pisit!' jawab Harun.


"Oh .. buntin Om Puno bawu panya teunapa Bustasah syantit!" jawab Azha.


"Biya ... Bustasah syantit ya!" angguk Harun setuju.


"Ayo Babies!" Nai menggandeng dua bayi itu.


Sebuah tempat paling depan. Bart duduk di sebelah Virgou dan berderet di sana Bram, Kanya, Herman dan Khasya. Lalu Rion dan Azizah, Gabe dan David mengapit semua adik-adiknya. Barisan tengah penuh dengan keluarga Dougher Young, Pratama, Triatmodjo dan Starlight. Budiman juga hadir bersama istri dan semua anak-anak.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!" seorang pembawa acara sedikit terkejut dengan gerombolan bule yang duduk di baris tengah. Mereka semua mengenakan baju gamis dan Koko sesuai syarat untuk ikut menonton acara lomba.


Sedang dibelakang panggung, tampak perdebatan terjadi. Adiba menolak mengganti bajunya.


"Kamu kan mau ceramah bukan mau nongkrong!" seru panitia.


"Apa ceramah hanya ada di masjid-masjid atau di pengajian?" lanjutnya bertanya.


Panitia itu terdiam, pria itu akhirnya membiarkan Adiba dengan pakaiannya. Acara dimulai, beberapa sponsor disebutkan. Virgou agak kesal mendengar beberapa calon anggota legislatif yang ikut maju ke pemilihan umum.


"Ck ... keliatan sekali sih mau pamer dan ngambil simpati warga," dengkus pria itu sebal.


"Grandpa, gimana kalau aku ikut jadi dewan DPR pusat?" bisiknya pada Bart.


"Mana bisa!" sahut pria gaek itu mencibir. "Ganti matamu dengan mata orang Indonesia baru bisa!"


"Ck diskriminatif sekali. Aku juga orang Indonesia yang taat bayar pajak dan taat hukum!" sahut pria sejuta pesona itu.


Virgou mengenakan baju koko warna hitam yang begitu pas di tubuhnya, ia juga menutup kepalanya dengan peci. Pria itu tampan sekali, banyak para wanita tak mau berpaling dari pria itu. Puspita ingin sekali mencongkel semua mata perempuan yang memandangi suaminya.


"Ish .. dasar emak-emak!" gerutunya sebal.

__ADS_1


"Baik acara kita mulai dengan peserta pertama yang berasal dari pesantren Al-Huda. Peserta dengan nomor urut nol satu. Ananda Hafid Fuad Hasan, beri tepuk tangan semuanya!"


Semua bertepuk tangan meriah. Seorang anak laki-laki maju, kakinya bengkok, hal itu membuat semua perusuh kaget dan hendak bertanya, beruntung Darren, Rion dan Lidya menenangkan mereka.


"Kita nonton saja ya," ujar Lidya. "Tanyanya nanti."


Akhirnya perusuh diam. Arraya sedih melihat kakak laki-laki yang di atas panggung tampak kesulitan berdiri.


"Halo sobat semua, saya Hafid usia saya sepuluh tahun!" ujar bocah itu memperkenalkan diri dengan begitu percaya diri.


"Tema yang saya bawakan hari ini adalah tentang rasa syukur ...."


Bocah itu menerangkan apa kata arti bersyukur. Begitu lancar dan tenang. Ia juga memasukkan unsur komedi di dalamnya yang membuat semua penonton tertawa.


"Jadi sobat semua, apapun dan bagaimanapun kondisi kita. Jangan pernah bersu'udzon dengan Allah, karena apa yang Dia tetapkan itu jadi ujian untuk kita!" ujarnya mengakhiri ceramahnya.


"Saya akan mengatakan satu petuah yang selalu saya dengar dari almarhumah ibu saya tercinta, semoga Allah melimpahkan rahmat dan melapangkan kuburnya ... aamiin," semua mengamini doa bocah itu.


"Allah mengurangi kesempurnaan kita sebagai manusia hanya untuk membuat kita sadar, jika yang maha sempurna itu adalah Allah azza wajalla, saya Hafid Fuad Hasan Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas semua penonton lalu bertepuk tangan.


Virgou melakukan salut pada bocah sepuluh tahun itu. Ia mengacungkan dua ibu jarinya pada Hafid. Bocah itu tersenyum melihatnya. Pemandu acara masuk dan meminta pendapat dari para juri.


"Ya silahkan kembali dan perbaiki lagi apa yang tadi menurut juri kurang ya," ujar pembawa acara.


Satu demi satu peserta masuk dan berceramah. Semua menampilkan persembahan yang terbaik, hingga membuat para juri makin bingung. Kini tiba penampil juri kunci, Adiba.


"Ya ... kita akan hadirkan satu penampil terakhir. Peserta dengan nomor dua satu dua dari Yayasan Pondok Pesantren Al-Hikmah. Adiba Zahra Sabeni!'


Adiba keluar dengan baju ala dia. Gadis itu mengucap salam dan mulai berceramah.


"Guys ... kan tau sendiri jika berbohong itu paling sering kita lakukan untuk mengelabui ayah dan ibu kita. Bener kan?" rata-rata anak remaja yang ikut nonton mengangguk.


Gaya bicara Adiba yang santai dan sederhana, mampu dicerna para remaja bahkan anak diusia Harun mampu menangkap apa yang dikatakan Adiba.


"Kebohongan itu laksana candu. Jika kita memulainya, maka akan sulit bagi kita untuk lepas dari kebohongan itu sendiri. Akhirulkalam Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh!"


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" seru semua penonton sambil bertepuk tangan bahkan para juri melakukan salut pada gadis itu.

__ADS_1


Bersambung.


Next?


__ADS_2